
Dalam balutan blouse dan rok tutu, Flo berdiri diam, menatap pantulan sosoknya di permukaan kaca. Lama ia dalam posisi begitu. Lalu dengan cara yang tak natural, ia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum terpaksa. Berulang kali ia mengulangi, mencoba menemukan senyuman terbaik untuk ditampilkan.
"Lo keliatan manis kalo senyum..." ucapan Farrell terngiang di kepalanya.
Kedua tangan Flo menangkup wajahnya yang memanas. Padahal ia yakin demamnya sudah turun sejak dua hari yang lalu.
Angin sore menyelinap masuk dari jendela yang terbuka. Menggoyang rambutnya yang masih tergerai panjang.
"Rambut lo lebih bagus kalo di urai," sekali lagi suara Farrell terdengar.
Kalimat-kalimat itu menggema dalam kepalanya. Terus mengusik sejak hari itu. Membuatnya tidak keruan. Senyum-senyum sendiri, berguling-guling dikasur, bahkan terkadang membuat jantungnya berdenyut dua kali lebih cepat.
Astaga, astaga! Ia pasti sudah kehilangan akal. Flo menepuk-nepuk pipinya.
Sadar, Flo, sadar. Farrell itu terlalu luar biasa buat kamu yang terlalu biasa, ia mengingatkan diri. Farrell berkata begitu hanya karena dia... baik? Ah, bukan, mungkin tepatnya untuk mencairkan suasana. Itu cuma pujian tak berarti. Basa-basi!
Sadar!
Sekali lagi Flo menepuk pipinya. Kali ini lebih keras, meninggalkan jejak memerah.
Flo meraih ikat rambut beserta ranselnya. Bergegas ia melangkah keluar seraya mengikat rambut. Jauh dari kata bagus, ia terlihat seperti orang gila dengan rambut panjang yang terurai. Persis.
Jadi lupakan semua tentang ucapan Farrell kemarin. Sekali lagi, itu hanya kebaikan hati laki-laki itu. Jangan sampai baper untuk hal sepele semacam itu. Nanti ia sendiri yang akan susah. Ia bukan orang yang berpengalaman dalam hal asmara, tapi ia paham akan repot urusannya jika ia jatuh hati pada makhluk seperti Farrell. Mereka terlalu berbeda. Dunia Farrell terlalu bising dan berwarna dibanding dunia Flo yang hening dan monoton. Mereka terlalu tak cocok dalam banyak hal. Dan lagi, ia bagai sebutir kentang sementara Farrell pangeran tampan. Berbeda. Jauh.
Jadi sadarkan diri. Floriana cuma teman Arina.
***
Mata Floriana terpejam khusuk, menyesapi setiap melodi yang menggema. Melakukan serangkaian gerakan yang ia hafal di luar kepala. Melompat ringan pada ujung-ujung jemari kaki, berputar dengan terkendali, merapal gerak yang ia pelajari bertahun-tahun ini.
Napasnya memburu bersama tempo musik yang kian terburu. Adrenalinnya terpacu. Ia berputar begitu cepat. Hingga beberapa kali hela napas terlewat. Ikatan rambutnya terasa mengendur sampai kemudian jatuh sama sekali, membuat rambunya berkibaran, menampar wajahnya.
Lalu... stop. Flo berhenti tepat ketika musik reda seketika. Ia membuka mata, dan riuh rendah tepuk tangan menyambutnya. Lima orang di studio latihan yang berpakaian serupa meski berbeda warna, tersenyum seraya memuji betapa sempurna gerakannya. Bahkan pelatihnya yang begitu gembira datang untuk memberinya sebuah pelukan bangga. Ia senang, walau belum lama pindah ke akademi balet ini, mereka sangat menghargainya dan tak menganggapnya anak baru.
Flo mengucapkan terima kasih, masih dengan senyum yang terpatri pasti. Senyum tulus yang tak dapat ia saksikan di cermin sore tadi.
"Kamu pasti bisa jadi balerina terkenal suatu saat nanti, Flo," puji Kak Riani, sang pelatih. Usai melepaskan pelukannya.
"Semoga, Kak," balas Flo.
"Pasti," yakin Kak Riani.
Setelah Kak Riani menjauh dan sisa beberapa teman menghampiri untuk sekedar menepuk pundaknya, Flo menoleh. Sejak tadi ia dapat merasakan ada yang memperhatikannya dari luar.
Dan benar saja. Di sana, di ambang pintu, ada Farrell yang terpaku. Pandangan keduanya bertemu. Kali ini, tak seperti biasa, Flo lebih dulu melongkarkan simpul pada bibirnya. Ia tersenyum, menampakkan dua lesung pipi dengan sepasang mata yang berbinar. Butuh tiga detik sebelum Farrell ikut tersenyum dengan cara serupa. Lesung pipi dan binar di mata.
Aneh, Flo merasa ada gerumuh dalam dirinya. Sesuatu yang asing saat ia menatap Farrell tersenyum begitu. Aneh, Flo merasa ada yang berbeda dengan cara Farrell menatapnya kali ini. Seolah Farrell baru melihat ia dengan benar setelah beberapa kali berjumpa.
Aneh.
__ADS_1
***
Genta Ghiffari: Flo.
Kening Flo mengernyit. Agak heran dengan kebiasaan baru Genta menghubunginya setiap malam di sekitar jam segini.
Flo menghempaskan tubuh di kasur. Belum ada niat bertukar pakaian dengan yang lebih nyaman.
Me: Kenapa?
Flo membalas, sederhana.
Genta Ghiffari: Lagi ngapain?
Genta Ghiffari: Sibuk gak?
Selalu sama. Pertanyaan Genta itu. Sudah beberapa hari ini urutannya belum berubah, tak tergoyahkan. Pertama menyapa nama. Flo. Kedua menanyakan apa yang sedang ia kerjakan. Ketiga mempertegas pertanyaan kedua.
Me: Baru pulang latihan. Gak sibuk kok.
Genta Ghiffari: Latihan apa?
Me: Balet.
Genta Ghiffari: Gue baru tahu kalo lo balet juga, sama kayak kakaknya Farrell berarti.
Me: Iya. Aku kenal sama kakaknya Farrell. Kita satu akademi.
Me: Aku baru sebulan yang lalu pindah ke akademi balet itu.
Genta Ghiffari: Oh, pantas. Gue udah lama gak pernah jemput Kak Farah.
Flo tak menanggapi pesan itu. Ia bingung harus membalas apa.
Genta Ghiffari: Ya udah kalo gitu, istirahat gih, pasti capek abis latihan.
Benar. Ia lelah sekali. Untung Genta pengertian. Jika tidak, Flo tak tahu harus berkata apa untuk mengusaikan percakapan ini.
Me: oke.
Meletakkan ponsel di sisi tubuhnya, Flo lalu memandang ke atas. Menghitung sisa-sisa stiker bintang glow in the dark di langit-langit kamar. Hanya tersisa beberapa buah.
Ayah tirinya yang menempelkan stiker-stiker itu, mencoba membuatnya yang ketika itu masih berusia delapan tahun mau tidur sendiri. Sulit sekali melakukannya dulu. Tidur sendiri. Flo masih ingat kenapa ia begitu takut tidur sendiri dulu. Ia takut ada kebakaran lagi, seperti yang pernah pernah terjadi. Kebakaran yang menewaskan Papa—ayah kandungnya.
Anak-anak biasanya melupakan kejadian yang membuatnya trauma. Tapi Flo tak bisa. Bagaimana ia dapat lupa Papa meninggal untuk menyelamatkannya. Beliau membungkusnya dalam selimut basah lalu memeluknya erat. Erat sekali. Sampai selimut basah itu terasa hangat, sampai aroma asap leyap oleh bau khas Papa. Dan hal terakhir yang diingatnya pada malam naas itu adalah suara sirine pemadam kebakaran. Suara itu menghantuinya untuk waktu yang lama.
Flo masih sering merindukan Papa. Bukan karena ayah tirinya jahat. Malah beliau sangat baik. Ayah tirinya tak pernah membedakan ia dan kakak tirinya, Fabian. Tapi tetap saja ada yang berbeda antara ayah kandung dan tiri. Kendati begitu dengan ayah tiri sebaik miliknya, seharusnya mereka bisa menjadi keluarga bahagia.
Sayangnya, 'keluarga bahagia' harus ditunda entah sampai kapan. Karena Fabian tak pernah menerima ia dan ibunya. Tak pernah, dan tak akan pernah tampaknya.
__ADS_1
Ponsel Flo berdenting. Menandakan pesan baru saja masuk. Ia mengambilnya dengan ogah-ogahan. Siapa lagi yang menggangunya
bersiap istirahat?
+62 821-67xx-xxxx: Flo.
Dahi Flo mengernyit. Nomor tak di kenal. Tak ada foto. Baru Flo mau mengetuk bagian foto profil untuk memeriksa deskripsi, namun chat selanjutnya sudah lebih dulu memberi kejelasan.
+62 821-67xx-xxxx: Ini Farrell.
Flo duduk bersila seketika. Wajahnya melongo. Ia ingat Arina pernah berkata bila Farrell meminta nomornya sekitar beberapa hari yang lalu. Tapi ia tak menyangka Farrell akan menge-chat-nya. Ya, setidaknya bukan pada waktu seperti ini. Sebab menurut Arina, Farrell meminta nomornya perihal penjemputan Kak Farah. Dan seperti yang sudah diketahuinya, Farrell sudah menjemput Kak Farah tadi. Mereka bahkan sempat berjumpa dan bertukar sapa sederhana.
Me: Kenapa?
Flo menggigit bibirnya. Mengetik tiga suku kata saja membuatnya gugup. Lucu ya?
+62 821-67xx-xxxx: Arina ke mana ya? WA sama nomornya gak aktif.
Sementara status Farrell masih 'typing...', Flo keluar dari room chat-nya dan laki-laki itu. Ganti mengetuk ruang obrolnya dengan Arina.
Dan untuk kesekian kalinya malam ini, keningnya mengernyit.
Arina online.
Farrell berbohong? Tidak mungkin. Buat apa coba?
+62 821-67xx-xxxx: Gue mau nanya tugas geo Senin kemarin.
Besok Senin dan Farrell belum mengerjakan tugas Senin yang lalu? Wah, apa memang semua anak populer hobi menunda PR? Karena Arina pun melakukan hal serupa.
Namun itu tak penting sekarang.
Me: Tapi Arina online kok, Rell.
Lima detik berlalu tak ada jawaban dari Farrell. Barangkali sudah mulai chatting-an dengan Arina. Kan memang itu tujuan Farrell.
Baru saja Flo mau menutup aplikasi ketika 'typing...' kembali muncul di bawah nomor Farrell.
+62 821-67xx-xxxx: Oh, iya. Baru online kayaknya.
+62 821-67xx-xxxx: Wkwkwk.
***
There's something suspicius about 'wkwkwk', right?
yuk spam love dulu buat Kakak Wkwkwk kita yang gantengnya overload ❤️❤️❤️❤️❤️
kalian baper gak kalo di puji sama orang kayak gini?
__ADS_1