Floriana

Floriana
Bab 24: Mengikhlaskan


__ADS_3

sebelum mulai baca cerita ini, aku mau berterima kasih banget buat kalian yang udah baca dan menyembatkan diri buat komen. seneng banget aku tuh, sampe terharu.


dan aku mau kasih warning dulu kalo bab ini mungkin akan sengat membosankan. tapi bab ini perting buat memulai babak baru kisa Farrell sama Flo.


oke segitu aja.


selamat membaca.


dan mari awali bab ini dengan ke-boyfriend-able-an Genta Ghiffari kita.



***


"Flo!"


Flo baru saja akan membuka pintu pagar rumahnya ketika Arina berseru, menghentikannya. Membuatnya yang super lelah dan ingin segera mengganti seragam sekolah dengan kaos longgar, mendesah pasrah.


Semoga apa pun urusan Arina dengannya segera selesai agar ia bisa masuk rumah untuk rebahan. Karena bukan hanya tubuhnya yang lelah, otaknya juga. Namun jangan salah, bukan perkara pelajaran yang membuat otaknya letih, tapi karena pikiran tentang Farrell yang terus merongrongnya.


"Kenapa?" tanya Flo.


Arina berhenti di hadapannya, jelas sekali tengah bersemangat. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan sekarang.


"Temani gue, yuk?"


Oh gosh... Flo membatin.


"Ke mana?"


"Toko bunga depan," jawab Arina ceria. "Januar mau ngajak gue ke acara makan malam ulang tahun nyokapnya. Jadi gue mau bawa bunga buat nyokapnya Januar."


"Kapan mau ke toko bunganya?"


"Sekarang dong, Flo, masa besok."


"Harus sekarang banget?"


"Iya." Arina mengangguk dengan antusias. "Soalnya gue mau siap-siap juga. Lo tahu kan gue kalo siap-siap itu lama banget."


Nah, Flo sering heran dengan kebiasaan Arina itu. Padahal Arina sudah sangat cantik tanpa memakai riasan apa pun, tapi kenapa dia tetap lama sekali bila berdandan untuk pergi keluar?


"Ya udah, aku ganti baju dulu," pamit Chilla, melanjutkan niatnya membuka pintu pagar yang sempat tertunda.


"Oke," sahut Arina. "Gue tunggu di rumah ya. Bawa sepeda, Flo," tambahnya.


"Mmm," gumam Flo, diiringi anggukan lemah.


Dan di sinilah Flo sekarang. Membonceng Arina di atas sepedanya menuju toko bunga.


Sepanjang perjalanan Flo hanya diam, mendengarkan Arina mengoceh tentang segala macam hal. Sesekali ia hanya menyahut singkat, menunjukkan bahwa ia mendengarkan—walau sebenarnya tidak.


Kurang dari sepuluh menit, Flo sudah memarkirkan sepedanya di depan toko bunga kecil di sudut jalan. Syukurlah tempat itu lengang, sehingga ia tak perlu khawatir mengantri lama.


Lonceng di atas pintu berbunyi ketika Arina mendorong pintu kaca terbuka. Lantas mereka disambut senyuman ramah seorang wanita paruh baya di belakang konter penjualan.


Flo membiarkan Arina mendekati penjaga toko atau mungkin pemilihnya—entahlah ia tak ambil pusing—seorang diri. Sementara ia berbalik, menjelajahi toko itu, melihat-lihat bunga yang dipajang dalam vas-vas kaca besar. Di sana ada mawar merah, putih, merah muda, dan kuning. Ada pula bunga tulip, bunga peony, bunga lili, bunga gandenia, bunga hydrangea, bunga anyelir, bunga matahari, dan... bunga krisan dengan berbagai warna.


Lama pandanganya berlabuh pada bunga krisan berwarna kuning di sana. Krisan kuning itu pengingatkannya pada Genta. Sebab Genta pernah memberinya sebuket besar bunga itu pada akhir petunjukan baletnya yang lalu. Itu adalah bunga pertama yang ia terima dari seorang teman. Meski sudah mengering, ia masih menyimpan bunga itu dalan sebuah vas di atas meja riasnya. Ia merasa itu bunga yang berharga.


"Krisan kuning?" suara asing bertanya, membuat Flo berpaling. Dan ia menemukan seraut wajah asing nenek tua yang penuh gurat kehidupan berdiri di sisinya. Wajah nenek itu punya kemiripan dengan wanita penjaga konter yang pertama ia temui ketika masuk tadi.


Hanya senyum tipis yang Flo berikan sebagai balasan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh nenek itu.


"Kamu suka bunga ini?" Si Nenek bertanya. Dihelanya setangkai bunga krisan kuning dari vasnya.

__ADS_1


"Ya..." jawab Flo ragu. "Sebenarnya saya pernah dikasih teman sekali."


"Laki-laki?" nenek tua itu bertanya lagi, sembari mengulurkannya setangkai bunga di tangannya pada Flo—yang menerimanya diiringi anggukan kecil.


"Dia pasti pernah menganggap kamu lebih dari teman."


Ucapan yang baru saja didengarnya membuat Flo menatap lama wajah nenet tua yang tersenyum penuh pemahaman tersebut. Seolah-olah beliau tahu benar apa yang terjadi di antara Flo dan Genta.


"Karena bunga krisan kuning artinya mengikhlaskan."


Sekali ini Flo betul-betul tertegun. Fakusnya pun seketika jatuh pada setangkai bunga di tangannya.


Krisan kuning.


Mengikhlaskan?


Genta?


"Dia pasti teman yang baik," ujar Si Nenek sebelum berlalu.


Ya... pikir Flo. Genta memang sangat baik. Genta juga memahaminya dengan baik.


***


Sama seperti kemarin, Farrell menunggu Flo di seberang jalan untuk berangkat sekolah bersama, masih dengan jarak yang sama. Serupa dengan hari-hari sebelumnya, Flo menemukan sebotol minuman tinggi vitamin C di mejanya. Namun tak seperti hari-hari yang lalu, Flo kini merasa sudah mendapat sedikit pencerahan. Jadi hari ini pikirannya jauh lebih tenang dan terkendali.


Ponsel Flo bergetar tak berapa lama setelah guru yang baru mengajar keluar ruang kelas. Segera ia menarik benda itu dari dalam laci. Dan terlihat sebuah pesan dari Pak Firza yang memintanya ke ruang OSIS. Akan ada rapat bersama para penanggung jawab dan pengisi acara ulang tahun sekolah bulan depan.


Flo mendesah lelah, namun ia berangkat jua. Ia tak suka berada di keramian yang asing, tapi ia suka balet.


Langkah Flo terhenti saat akan menuruni tangga. Ramai sekali anak laki-laki yang sedang nongkrong disepanjang jajaran undakan menuju lantai satu.


Dalam sekali pindai, mata Flo menemukan sosok Farrell dan Genta di sana. Keduanya duduk di undakan yang berbeda, namun tampaknya tertawa karena lelucon yang sama.


Farrell menoleh ketika Flo memandang sisi wajahnya. Untuk sesaat, pandangan mereka bersirobok, sebelum Flo terburu mengalihkan fokusnya.


Serentak, semua orang yang ada di tangga memandang Flo. Membuatnya sungguh risih. Rasanya seperti berada di bawah lampu sorat dalam ruangan yang minim cahaya.


Setelah melihat Flo, segerombol besar teman Farrell dan Genta itu menepi, menempel ke dinding atau pegangan tangga. Lucu. Ternyata mereka tak semenyeramkan penampilannya yang mirip berandalan.


Flo menguatkan diri, lantas menuruni tangga. Ia sungguh berhati-hati agar tak menyentuh atau menginjak siapa pun.


Rasanya lama sekali waktu yang dibutuhkan untuk menuruni sederet anak tangga satu lantai itu. Padahal biasanya hanya dibutuhkan waktu beberapa detik.


"Anak mana, sih?"


"IPA kayaknya."


"Vibe anak IPA banget."


Flo mendengar orang-orang yang sudah ia lewati membicarakannya. Mereka pasti merasa asing pada dirinya.


"Mau ke mana, Flo?" sapa Genta ketika Flo melangkah di hadapannya.


"Ruang OSIS," cicit Flo, diiringi senyum tipis. Senang punya alasan untuk tak menatap Farrell yang duduk dua anak tangga di bawah Genta, di sisi seberang.


"Sok kenal lo, Ta!" salah seorang siswa di tangga mengejek Genta.


"Kenallah!" sahut Genta sewot. "Temen gue tuh. Anak IPA."


Teman...


Flo tersenyum lega ketika sudah melewati tangga penuh tekanan itu. Ia senang sudah tiba di lantai pertama. Namun ia lebih senang lagi dengan jawaban Genta tentang dirinya.


Teman.

__ADS_1


Kata yang menyenangkan.


***


Seperti biasanya setelah sekolah bubar, Flo tak seketika pulang ke rumah. Ia akan mengerjakan PR terlebih dahulu—yang membuatnya terkesan kelewat rajin, padahal ada alasan tersendiri untuk hal itu. Kebiasaan itu ada hubungannya dengan kakak tirinya.


Semenjak ibunya menikah lagi dan mereka harus tinggal dengan ayah serta kakak baru, Flo merasa sedikit tertekan bila ada di rumah. Alasannya karena Fabian, tentu saja. Rasanya sungguh tak menyenangkan serumah dengan seseorang yang membencimu. Jadi ia selalu menunda kepulangannya ke rumah dengan dalih mengerjakan tugas. Dan meski kini Fabian sudah kuliah di luar kota, kebiasaannya pulang terlambat masih terjaga. Ya... karena itu sudah menjadi kebiasaan.


"Duluan ya, Flo," pamit seorang teman sekelas yang baru saja menyelesikan tugas piketnya.


"Iya," balas Flo. Menyunggingkan senyum tipis.


Maka tinggalah ia seorang diri bersama suara detak jarum jam yang terdengar kian lantang.


Demi mengenyahkan keheningan, Flo mulai menyalakan musik dan memakai earphone. Kemudian ia kembali sibuk menghitung sejumlah angka di kertas bekas guna menyelesaikan soal matematika, sebelum lanjut mengerjakan tugas lainnya.


Selama berkutat dengan angka, otaknya bekerja penuh. Sebetul-betulnya terjaga. Sayang, fokus itu tak bertahan ketika ia mulai membaca teks panjang mengenai virus H5N1 di buku cetak bahasa Inggris. Kelopak matanya mulai berat. Belum lagi musik mendayu-dayu yang mengisi rungunya menyumbang kenyamanan yang membuat kian mengantuk. Hingga akhirnya ia tak kuat lagi dan berakhir merebahkan pipi.


Entah berapa lama ia terlelap, Flo tak yakin. Yang jelas, ia mendadak terjaga karena lagu yang baru saja bermain, meraung-raung di telinganya. Membuatnya spontan menarik lepas earphone dan mematikan lagu. Saat itu, layar ponselnya menunjukkan pukul 16.54.


Astaga!


Ia kesorean. Seraya memasukkan barang-barangnya ke dalam dengan terburu. Ia mengutuki keteledorannya sampai bisa tertidur di kelas begini. Mana tugas bahasa Inggrisnya belum dikerjakan sama sekali. Bisa-bisanya...


Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah melenggang cepat menuju pintu. Tangannya masih sibuk menyampirkan kedua tali ransel di pundak dengan pas. Tapi ketergesaannya segera reda saat ia melewati ambang pintu.


Ada Farrell di sana.


Duduk bersila di samping pintu dengan ransel dipangku. Kepalanya tertunduk. Barangkali tertidur.


Tapi kenapa Farrell tidur di depan kelasnya? Apa dia menunggunya? Jika iya, seharusnya laki-laki itu masuk saja dari pada terlelap di sini seorang diri dan terlihat menyedihkan.


Jangan katakan itu karena jarak yang ia minta!


Aishh...


Flo benar-benar dihadapkan dalam dilema besar antara harus lanjut bungkam dan meninggalkan Farrell hingga terjaga dengan sendirinya, atau ia harus membangunkan laki-laki itu dan merusak jarak yang sudah ia bentangkan?


Ah, masa bodohlah. Flo akhirnya memutuskan. Ia memilih terus melangkah tanpa membangunkan Farrell lebih dulu.


Namun rasa teganya menguap dengan cepat. Baru tiga langkah, ia sudah kelewat resah, dan akhirnya berhenti melangkah.


Mana mungkin ia bisa meninggalkan orang yang sampai ketiduran hanya karena menunggunya. Hatinya tak sebeku itu.


Maka Flo berputar, kembali melangkah mendekati Farrell. Setelah menghela napas pajang, ia berkata, "Farrell," dengan lembut. Bermaksud membangunkan, tapi tampaknya suaranya terlalu pelan. Dan ia pun mencoba lagi. "Farrell... Rell..."


Masih tak ada jawaban.


Mulai tak sabar, Flo memutuskan untuk membungkuk, mengetuk pundak Farrell diiringi panggilan yang lebih keras.


Akhirnya usahanya menunjukkan hasil. Farrell mulai bergerak. Sehingga Flo kembali menegakkan tubuhnya, meski kepalanya masih menunduk, menanti Farrell sepenuhnya sadar.


"Flo?" sebut Farrell, suaranya serak, khas orang baru bangun tidur. Ada keterkejutan di mata laki-laki itu ketika matanya bersirobok dengan mata Flo.


"Mm," gumam Flo, mengulurkan tangannya.


***


heyyy... how are you today?


ada yang nunguin enggak? kalo ada, boleh dilike, komen, vote, kasih bintang lima dan share cerita ini ke teman-teman kalian.


dan mari akhiri bab ini dengan gantengnya wajah Farrell yang bikin pangen khilaf


__ADS_1


ok, see you next chapter!


bye!


__ADS_2