Floriana

Floriana
Bab 26: Unblock


__ADS_3

Percakapannya dengan Farrell sore tadi terus tinggal di kepala Flo hingga jauh malam menjelang. Pada akhirnya ia mengamini apa yang Farrell katakan. Ia seharusnya tak mengkhawatirkan perasaan orang yang sudah melepasnya. Bukan bermaksud apatis, tapi ya memang benar kata Farrell, itu perasaan Genta, itu sepenuhnya urusan Genta, tanggung jawab Genta. Seperti saat Genta berhak jatuh hati, dia juga berhak patah hati. Bila ia ikut campur, itu malah terkesan lancang. Pun jika ia yang ada di posisi Genta, ia juga tak ingin dikasihani, ia tak ingin orang lain terbebani oleh perasaan yang ia miliki.


Flo mengalihkan pandangnya dari jendela, melihat jam dinding sudah menunjukan pukul satu pagi. Saat semua orang sudah pergi bermimpi hingga menyentuh genre fantasi, ia masih terjaga pada dini hari, memikirkan perihal hati.



Flo melirik Farrell yang sudah kembali sendiri menghuni toplesnya. Ikannya itu tampak sepi. Ia janji akan sering mempertemukannya dengan Flo nanti.


Setelah puas melihat ikan cupangnya, ia beranjak dari kursi bersama ponsel di antara jemari. Desah puas keluar dari bibirnya tatkala punggungnya menyentuh empuknya kasur. Nyaman sekali. Ia yang tadi di kursi sepenuhnya terjaga, mendadak mengatuk sedetik setelah rebah. Namun ia tak buru-buru memejamkan mata. Ada hal yang akan ia lakukan sebelum berenang di alam mimpi.


Maka ibu jari Flo pergi memasuki sebuah aplikasi berkirim pesan di ponselnya. Dipilihnya label 'setting', kemudian 'account', lanjut 'privacy', lantas 'blocked contacts'. Lama jarinya bertahan pada sebuah nomor hingga tulisan 'unblock' muncul dan ia mengetuknya.


Nomor itu pun hilang.


***


Farrell Fadillah: Makasih.


Itu adalah pesan yang menyambut Flo ketika ia bangun di pagi hari. Pesan yang dikirim masuk hanya beberapa menit lalu.


Mau tak mau ia tersenyum membaca pesan itu. Ia penasaran, bagaimana Farrell dengan cepat menyadari bila nomornya sudah tak diblokir lagi. Apa Farrell mengecek nomornya secara berkala?


Aish... Itu tak mungkin. Mana mungkin Farrell setidak-punya pekerjaan itu.


Karena bangun di waktu yang biasa, Flo bersiap-siap ke sekolah dengan tempo santai. Tak ada keterburuan yang membuat panik. Ia bahkan bisa membantu Mama mengaduk nasi goreng di kompor juga menghidangkannya di meja.


"Gimana sekolah, Flo?" tanya Papa yang baru melipat korannya kembali.


"Baik," jawab Flo singkat, usai menelan makanan di mulutnya.


"Balet? Kapan ada pertunjukan lagi?" Papa lanjut bertanya.


"Mmm... belum tahu. Tapi kalo di akademi baletku yang lama biasanya akan ada pertunjukan akhir tahun, gak tahu kalo di akademiku yang sekarang."


"Papa kenapa tumben nanya soal pertunjukan balet, Flo?" tanya Mama.


Flo sendiri juga heran. Biasanya Papa tak pernah bertanya perihal balet, sekolah iya, tapi balet tak pernah. Bukannya Papa tak peduli padanya, hanya saja beliau memang tak punya ketertarikan pada balet.


Papa tersenyum. "Di kantor Papa rencananya mau ada charity dan bakal ngajak beberapa penyanyi dan penari buat memeriahkan acara. Jadi Papa mikir buat ajak kamu berpartisipasi kalo gak sibuk."


"Kapan acaranya?" tanya Flo.

__ADS_1


"Bulan depan."


"Kalo bulan depan kayaknya gak bisa," jawab Flo. "Bulan depan aku memang gak ada pertunjukan di akademi, tapi aku dipilih buat tampil di acara ulang tahun sekolah."


"Oh, ya udah kalo gitu, gak apa-apa."


"Tapi kalo tanggalnya gak bentrok, gak masalah sih," imbuh Flo. "Acaranya tanggal berapa di kantor Papa?"


"Tanggal 25."


"Ah," sahut Flo spontan. Ada senyum di bibirnya. "Sama."


Papa balas tersenyum. "Ya udahlah. Papa kurang cepat ngajak kamu."


Terkadang Flo merasa mereka bertiga adalah keluarga sungguhan saat sedang makan bersama seperti ini. Ia tak melupakan ayah kandungnya tentu saja. Namun ia berpikir bahwa Papa adalah ayah pengganti yang paling baik yang bisa diharapkannya. Beliau menerimanya, mencintai mamanya. Sayang, anak beliau tak bisa menerima keluarga ini sebagaimana Flo berusaha menerimanya.


Ia tahu ini salah, tak pantas, namun terkadang ia berandai bila Fabian tak ada. Hanya mereka bertiga; Flo, Mama, dan Papa. Mereka pasti akan jadi keluarga yang bahagia. Ia tahu itu jahat, namun terkadang harapan itu timbul begitu saja dalam benaknya, tanpa bisa ia cegah.


Setelah mengosongkan piringnya, Flo langsung pamit berangkat sekolah. Cepat-cepat ia menghilangkan pikiran tentang ketiadaan Fabian. Menerima Papa sebagai ayah, berarti harus menerima Fabian sebagai saudara.


Dalam langkahnya menuju pintu, dadanya berdegup agak lebih antusias dari semestinya, mengantisipasi kemungkinan hadirnya Farrell di depan pagar rumah.


Farrell masih ada di seberang jalan. Membuatnya bertanya-tanya, apakah kodenya kurang jelas bila ia sudah menanggalkan permintaannya perihal jarak? Apa ia harus berkata secara terang-terangan supaya Farrell paham?


Ponsel disaku Flo bergetar. Ia pun mengalihkan matanya dari sosok diseberang sana, tertuju pada ponsel yang baru ia ambil dari saku.


Farrell Fadillah: Boleh nyeberang, gak?


Astaga. Harus sekali Farrell bertanya? Kadang-kadang ia heran pada laki-laki ini. Satu waktu Farrell sangat angresif, lain kali sangat hati-hati. Sungguh membingungkan.


Me: Terserah.


Farrell Fadillah: 'Terserah' itu artinya boleh, kan?


Ish... Kenapa Farrell pagi-pagi sudah bermain-main begitu sih? Seharusnya laki-laki itu bisa menyimpulkan sendiri kan.


Me: Iya.


Usai mengirim pesan itu Flo langsung berpaling dan mulai berjalan tanpa menunggu Farrell. Entah kenapa ia merasa malu. Jantungnya pun kian berpacu.


Astaga, ia kenapa sih?!

__ADS_1


Ini hanya berjalan bersama menuju sekolah, bukan berjalan menuju tempat kencan. Pertanyaan yang ia iyakan pun hanya sebatas tanya tentang urusan menyeberang, bukan ajakan berpacaran.


Rileks Flo... rileks... Ia mengingatkan dirinya.


"Makasih, Flo," ujar Farrell, telah hadir di sisinya.


"Buat apa?" tanya Flo. Ia sama sekali tak menolehkan kepalanya.


"Buat gak blok nomorku lagi, buat gak kasih jarak di antara kita lagi, buat ngebolehin aku jalan di samping kamu lagi, buat ngasih aku kesempatan dekat kamu lagi. Makasih."


Flo hanya mengangguk kecil, seolah itu bukan sesuatu yang besar. Padahal kata-kata Farrell sudah membuat jantungnya melompat-lompat gila.


"Kamu gak pengen nanya motorku ke mana, Flo?" tanya Farrell tiba-tiba.


"Uh..." Flo agak terkejut ditanya begitu. Ia memang agak penasaran karena tak pernah melihat Farrell bersama motornya lagi. Tapi ditodong pertanyaan seperti itu rasanya jadi aneh.


"Motor kamu ke mana?" Akhirnya ia putuskan untuk memenuhi keinginan Farrell untuk bertanya.


"Aku kandangin," jawab Farrell dengan kepuasan yang tak Flo mengerti. "Ikut-ikut Genta. Tunggu cukup umur."


Ada senyum yang tertahan di bibir Flo kala mendengar alasan Farrell itu. Ia mengerti maksudnya. Genta berhenti naik motor untuk sementara karena mendengarkan ucapannya, dan Farrell melakukan hal serupa.


"Aku juga janji gak akan ngerokok lagi. Aku tahu kamu gak suka aku ngerokok."


"Enggak kok," dusta Flo. "Lagipula hak kamu kalo mau ngerokok atau bawa motor. Kamu gak perlu ngelakuin sesuatu cuma karena aku gak suka atau pun suka. Lakuin itu buat diri kamu sendiri."


"Aku ngelakuin itu buat diriku sendiri," sahut Farrell seketika. "Aku ngelakuin itu supaya aku bisa ngerasa pantas buat kamu."


"You already great," ujar Flo malu-malu.


"But you're greater."


Itu sangat hiperbolis, pikir Flo. Jangankan lebih luar biasa dari Farrell, ia bahkan sering merasa tak cukup pantas disukai laki-laki itu.


"Arrgh..." Farrell mengerang, membuat Flo menoleh memandangnya. Dilihatnya Farrell tengah mengusap wajahnya frustrasi.



"Aku suka banget sama kamu, Flo. Sampai susah buat ngontrol diri biar gak terlalu agresif, takut kamu malah risih."


***

__ADS_1


__ADS_2