
Keesokan paginya Flo bangun agak kesiangan karena semalam mengobrol di telepon dengan Arina hingga larut malam. Arina bercerita bahwa ia akan izin sekolah untuk beberapa hari, terhitung sejak kemarin. Gadis itu sedang berada di rumah neneknya karena masalah Kak Aqila. Katanya Kak Aqila mungkin akan menikah dalam minggu ini bila semua berjalan lancar. Setelah itu baru ia baru bisa pulang dan kembali masuk sekolah.
Karena kelewat buru-buru, Flo tak terlalu memperhatikan jalan. Saat berbalik setelah menutup pagar, ia nyaris menambrak seseorang.
"Pagi," dalam dua hari, kata dan orang yang menyapa, sama.
Flo berkedip. Ia mundur selangkah menyadari jarak yang terlalu rapat.
"Gak ada darah," Farrell mengabsen kedua belah tangan Flo. "Good." Ia tersenyum. "Lo kenapa bengong?"
"Kamu kenapa ada di sini? Gak dikabarin Arina?"
"Eh..." Farrell menggaruk sudut rahangnya, tampak bingung. "Apa yang harus dikabarin Arina?"
"Kalo dia masih gak sekolah hari ini."
"Terus?"
"Ya... terus kenapa kamu di sini?"
Farrell diam, menatap Flo. Butuh beberapa waktu sebelum dia kembali bicara.
"Jangan bilang lo dari kemarin ngira gue mau jemput Arina?"
"Memangnya enggak?" tanya Flo dengan polosnya.
Farrell memalingkan wajahnya untuk tertawa. Ia terlihat gemas dan frustasi disaat bersamaan.
"Gue tahu yang mana rumah lo dan yang mana rumah Arina, Flo," terang Farrell. "Kalo mau jemput Arina gue gak akan berhenti di sini."
"Ya... aku kira kamu mau jemput Arina terus karena dia gak sekolah jadi mampir ke rumahku. Biar gak sia-sia 'gitu kerena udah ke sini."
"Lucu banget sih lo," ujar Farrell. Tangannya melayang ke atas kepala Flo, mengacak rambutnya lembut. "Ribet mikirnya."
Bersama sentuhan Farrell itu, napas Flo absen beberapa helaan. Kupu-kupu mulai berkepak riuh di dalam perutnya. Mendadak lupa bahwa ia tadi sedang buru-buru berangkat sekolah.
Tettot... tettot... tettot!
Suara terompet tukang roti menyadarkan Flo kembali.
"Sekolah!" ujarnya panik.
***
Flo bersyukur ia tak terlambat masuk sekolah. Walau ia harus tetap berlari-lari ke kelas karena bel berbunyi tepat ketika skuter biru Farrell melewati gerbang. Kendati kelelahan ia tetap riang. Bahkan mood baiknya terus bertahan hingga pelajaran berakhir.
Rasanya hari ini sangat menyenangkan. Semuanya—selain fakta ia bangun kesiangan—terasa berjalan baik. Farrell menjemputnya. Hasil ulangan kimianya pada pelajaran yang lalu mendapat hasil memuaskan. Istirahat pertama yang ia habiskan di perpustakaan ditemani oleh Genta yang membawa banyak jajanan.
"Udah official teman?" tanya Genta ketika melihat gelang yang melingkari pergelangan tangan Flo. Dia pun memperlihatkan miliknya yang berwarna biru gelap.
"Iya." Flo tersenyum
Selain gelang, Genta juga menyadari tangan Flo yang terluka. Padahal ia sudah melepas perbannya dan diganti menggunakan plester agar tak menarik perhatian.
"Tangan kamu kenapa?"
"Jatuh pas latihan balet," Flo menerangkan pasal lukanya. Dan diterima Genta juga sebagai alasan absennya Flo kemarin.
Saat istirahat kedua Flo naik ke lantai dua untuk menemui Kak Farah. Ia berniat mengembalikan baju yang dipinjamnya. Sayang, yang ingin ia jumpai tak dapat ditemui. Kak Farah tak berangkat sekolah.
Maka ia menunggu di depan kelas Farrell, bermaksud untuk menitipkan baju Kak Farah padanya.
"Floriana..." ujar Genta yang baru keluar kelas dengan ransel tersandang. "Ngapain di sini?"
"Mau nitipin baju Kak Farah ke Farrell."
"Oh—Gak usah nabrak-nabrak, Rel!" protes Genta pada Farrell yang menabraknya.
"Salah siapa lo di pintu?!"
"Gue di pinggir!"
Orang-orang yang lalu lalang hanya melirik sekilas pada Farrell dan Genta yang menjadi sumber keributan.
"Eh, Flo," Farrell berkata, mengakhiri perdebatan. Ia seolah baru menyadari keberadaan Flo. "Mau pulang bareng?"
"Flo mau nitip bajunya Kak Farah sama lo," Genta menjawab untuk Flo.
"Balikin sendiri ajalah," tolak Farrell.
"Lo sama Kak Farah udah pisah rumah? Dimintain tolong 'gitu doang gak mau."
"Gue lagi gak ngomong sama Farah," Farrell menjelaskan. "Jadi mending Flo ikut pulang sama gue."
"Barantem mulu lo berdua," cibir Genta. Ia melirik ponselnya sekilas. "Ya udahlah, gue mau balik duluan. Ojek gue udah datang. Bye, Flo," pamitnya.
"Bye," sahut Flo.
"Hati-hati bawa anak orang!" seru Genta pada Farrell, seraya melangkah pergi.
"Genta gak bawa motor?" tanya Flo, menoleh pada Farrell.
"Enggak. Katanya udah insyaf, abis dinasehatin sama malaikat. Mau nunggu dapat SIM dulu."
Diluar kehendak Flo, ia tersenyum. Tak menduga bahwa Genta mendengarkannya.
Farrell diam sejenak, tampak berpikir, sebelum menyeletuk, "Jangan-jangan malaikat maut lagi?"
__ADS_1
"Ya gak mungkin malaikat mau juga," sahut Flo.
Farrell terkekeh.
"Jadi 'gimana, mau ke rumah gue?"
Flo mengangguk menyetujui. Kali ini tak lupa mengabari Mama bahwa ia akan pulang terlambat.
Waktu tempuh ke rumah Farrell sekitar dua puluh menit. Cukup jauh. Berbeda dengan Flo yang hanya butuh lima belas menit untuk menempuh perjalanan antara rumah dan sekolah. Itu pun jalan kaki.
Sesampainya di tujuan, Flo menjumpai Kak Farah sedang duduk di ruang tamu bersama beberapa orang temannya.
"Hai!" sapa Kak Farah. Masih dengan keterkejutan yang sama dengan saat menemukan Flo di depan rumahnya malam yang lalu bersama adiknya.
"Mau balikin baju, Kak." Flo mengeluarkan hoodie coklat dari dalam tasnya. "Makasih."
Kak Farah menerimanya sambil berkata, "Sama-sama."
Setelah itu Farrell mengajaknya meninggalkan Kak Farah bersama temannya. Menuju halaman kecil di belakang rumah yang diramaikan siulan burung-burung di dalam sangkar. Angin sejuk pun terus berhembus, menggoyangkan pohon-pohon bambu hias dan warna-warni anggrek yang di tata di atas rak kayu sederhana.
"Tunggu di sini sebentar ya," pinta Farrell. "Gue mau ambil sesuatu. Abis itu baru gue anterin pulang."
Setelah anggukan singkat Flo, dia pun berlalu. Meninggalkan Flo sendiri.
Selepas kepergian Farrell, datanglah seorang wanita sekitar akhir dua-puluh-an yang membawakan segelas air putih dan setoples kukis coklat.
"Katanya Mas Farrell air putih aja, biar gak tambah manis Mbaknya," ujar wanita yang Flo duga sebagai asister rumah tangga, saat menurunkan segelas air pun dari nampannya.
Flo merasa wajahnya memanas. Ia hanya bisa tersenyum diiringi ucapan terima kasih. Lalu wanita itu pun pergi. Kembali ia sendiri.
"Gak lama, kan?" ujar Farrell, hadir di sisi kursi rotan yang diduduki Flo. Ada fish bowl di tangannya.
"Enggak," sahut Flo.
Farrell menempati kursi di seberang Flo, meletakkan fish bowl yang dibawanya ke atas meja.
"Ikan paus gue."
Tak ada ikan paus. Yang Flo lihat hanya dua ikan ****** berwarna merah dan biru. Ini jelas ikan yang Farrell maksud kemarin.
Flo sedikit menunduk, mengamati dua ikan berekor cantik berenang dengan anggun. Gemulai. Melihat mereka membuatnya terhanyut dalam kedamaian.
"Lo suka ya mana?"
Flo mengangkat muka, memandang Farrell dengan sepasang alis meninggi.
"Satu buat lo. Buat teman curhat. Kan gue udah bilang kemarin," terang Farrell. "Kalo lo gak bisa curhat sama manusia, lo bisa curhat sama ikan. Dia gak bakal sebarin rahasia lo. Karena sejauh yang gue tahu, belum ada yang bisa ngerti bahasa ikan."
"Kalo 'gitu ikannya juga gak bakal ngerti apa yang aku omongin, dong?"
Farrell benar. Ia seringkali merasa begitu. Tapi terlalu takut untuk berbagi, karena ia tak yakin apa ada yang tertarik mendengar keluhannya. Selain itu, rasanya juga sulit mempercayakan rahasia pada orang lain.
"Tapi kalo lo mau yang ngerti omongan lo dan bisa ngasih feedback, lo bisa ambil gue. Gue ikhlas," canda Farrell, membuat Flo tertawa.
"Tapi memangnya gak pa-pa aku ambil satu?" tanya Flo, kembali mengamati dua ikan di dalam fish bowl itu. "Mereka sepasang, kan?"
"Gak pa-pa. Kan kalo mereka kangen, nanti gue anterin ke rumah lo."
Bibir Flo mengkerut, menahan senyum. Percakapan ini sungguh lucu.
"Yang biru namanya Farrell. Yang merah, Floriana."
Terkesiap Flo mendengar keterangan itu. Ia pun menatap Farrell yang ternyata telah lebih dulu menatapnya, dalam. Membuat perutnya jumpalitan.
"Sejak kapan nama mereka 'gitu?"
"Sejak sekarang."
Flo ingin menampar pipinya agar segera sadar dari perasaan tak menentu yang dirasakannya kala tenggelam dalam sepasang kelam di wajah Farrell. Tapi ia tak mungkin melakukan itu, karena apa yang akan dipikirkan Farrell terhadapnya.
"Jadi kamu mau Farrell atau Flo?"
Mustahil bagi Flo untuk tak menyadari perubahan kata ganti yang digunakan Farrell. Dari 'lo' jadi 'kamu'.
"Farrell."
"Nice choice!" Farrell memamerkan lesung pipinya. Dan secara tak terduga, ia menumpahkan kukis coklat dari toplesnya dengan serampangan.
"Rell!" Flo terkejut.
***
Flo pulang bersama toples berisi ikan di antara kedua tangannya. Keheningan rumah—seperti biasa—menyambutnya. Ia melangkah dengan sedikit berjinjit, seolah ingin menari balet.
"Flo," suara Mama memanggil.
Flo menoleh ke ruang duduk. Sama sekali tadi tak menyadari bahwa ada orang di sana. Ada Mama, Papa, dan—dengan sentakan kecewa—Fabian. Padahal sejak berangkat sekolah tadi ia sudah berharap tak akan bertemu Fabian sepulang sekolah.
Kapan sih dia kembali ke Malang?
"Duduk sini," Papa ikut bersuara.
Flo menuruti. Ia meletakkan toples ikannya—yang masih punya aroma kukis coklat—ke atas meja sebelum duduk di seberang Mama.
Ia melirik Fabian yang tampaknya dalam suasana hati baik. Dan ia baru sadar bila atmosfer di ruangan ini tegang sekali. Seperti baru ada yang kena musibah.
"Mama mau ngomong, kamu jawab sejujurnya," ucap Papa, tampak serius. "Duduk sini." Beliau berdiri dari sisi Mama, memberikan tempatnya.
__ADS_1
Flo mengerling Mama yang wajahnya merah padam, sebelum ia berpindah tempat duduk. Ia yakin sekali bahwa sekarang ia sedang dalam masalah.
"Kenapa, Ma?" tanyanya, sebab Mama tak kunjung bicara.
"Kamu udah punya pacar?" tanya Mama dengan tangan terkepal dan wajah seperti orang menahan amarah juga malu.
Flo sama sekali tak menduga pertanyaan semacam itu. Topik seperti ini belum pernah jadi pembahasan keluarga sama sekali. Dan ternyata hal itu membuatnya merasa malu, entah kenapa.
"Enggak punya."
"Terus cowok yanga ngantar kamu kemarin malam siapa?"
Mengernyit Flo. Apalagi sih ini? Masalah kemarin belum selesai?
"Aku udah bilang itu teman, kan? Aku juga baru kenal."
"Tapi Kak Fabian bilang dia pernah mampir ke rumah sekitar seminggu yang lalu, waktu gak ada orang di rumah."
Sekali lagi Flo melirik Fabian. Ia ingat betul kepulangan laki-laki itu sepekan yang lalu. Tapi ia kira Fabian tak tahu perihal kedatangan Farrell mengingat dia telah pergi ketika Farrell mampir. Apa Fabian memata-matainya?
"Dia gak masuk. Dia cuma mau nanyain Arina," jawab Flo, tak sepenuhnya bohong.
"Kamu yakin kamu jujur?"
"Maksud Mama apa?" Tiba-tiba darah rasanya menyerbu kepala Flo. Ia mulai merasa panas.
Mama menghempaskan tangannya yang terkepal ke atas meja. "Ini apa?"
Terkesiap Flo melihat alat kontrasepsi berbungkus hitam tergeletak tepat di tempat tangan Mama jatuh sekejap yang lalu. Jantungnya seperti melompat ke kepala, berdentang-dentang di kedua telinga.
"Mama nemuin ini terselip di laci kamar kamu."
"Ma... Aku..." Flo bingung mau berkata apa. Matanya mulai panas, menusuk-nusuk. Belum pernah ia merasa sebegini malu dan terpojoknya.
"Kamu sudah ngapain aja, Flooo?!" tanya Mama frustasi, ia hampir menangis.
"Itu bukan punya aku... Aku gak tahu 'gimana itu ada di kamarku..." lirih Flo. Bersamaan dengan ucapan itu keluar, ia teringat kejadian kemarin saat Fabian berada di kamarnya, membuka laci-lacinya...
"Terus punya siapa? Kalo bukan punya kamu, kenapa ada di kamar kamu? Hah?!"
"Kak Fabian..." Flo berpaling pada Fabian yang buru-buru menyembunyikan seringaiannya. "Itu pasti punya dia—Kemarin Mama tahu kan dia ke kamarku? Dia buka-buka laciku..." ujarnya panik.
"Kak Fabian gak mungkin melakukan itu, Flo," bela Papa.
"Kenapa gak mungkin? Baru kemarin dia nuduh-nuduh aku."
"Tuduhan yang berdasar," ujar Mama, dingin.
Seketika Flo mati rasa.
Ia berdiri, berkata dengan terluka, "Aku bisa ngerti kalo Papa lebih percaya dan ngebela Fabian dari pada aku. Tapi aku sama sekali gak ngerti kenapa Mama gak percaya sama anak kandung Mama sendiri."
Mama ikut berdiri. Ia memperlihatkan layar ponselnya tepat di depan wajah Flo. Layar yang menampilkan sosok Flo bersama seorang laki-laki—Farrell. Kemarin. Di klinik.
"Kenapa kamu ke klinik bersalin?"
Flo tak bergeming. Kemarin Farrell membawanya ke klinik bersalin karena klinik itu yang paling dekat dari rumahnya. Dan mereka juga bersedia menjahit lukanya.
"Flo?!"
Walau tanpa frontal bicara, Flo tahu bahwa ia sedang dituduh hamil. Dan secara tak terduga sebuah kenangan masa kecil menghampirinya. Kenangan di rumah sebuah teman, saat ia tak sengaja mendengar para ibu-ibu sedang menggosipkan mamanya. Mereka mengatakan bahwa Mama hamil sebelum menikah, ketika masih SMA.
Kini ia mengerti kenapa Mama tak mempercayainya. Tapi itu sama sekali tak menghapus rasa marah dan kecewanya yang jauh lebih besar dari pagi kemarin.
"Aku bukan Mama," bisik Flo.
Kali ini Mama yang terdiam.
"Aku gak akan hamil sebelum menikah!" Untuk pertama kali seumur hidupnya, Flo berteriak pada orang tua.
"Flo!" tegur Papa.
Plakk!
"Ma!" seru Papa.
Rasa panas menjalari pipi Flo, di tempat tangan Mama sempat singgah.
"Terus kenapa kamu ke klinik sama laki-laki?!"
"Karena ini!" Bersamaan dengan frasa itu, Flo menarik lepas plester di telapak tangannya secara sembarangan. Ia sama sekali tak menghiraukan rasa sakit yang menggigit juga kenyataan bahwa darah mengalir kembali dari lukanya.
Flo sempat melihat sekilas keterkejutan di mata Mama sebelum ia berlalu pergi. Berlari menjauhi rumah dengan air mata yang tak mampu lagi dibendungnya.
Tetes-tetes darah mengiringi langkahnya menjelajah jalanan di bawah teriknya matahari. Ia terus melaju, mendaki tangga menuju halte bus terdekat.
Ia baru berhenti setelah duduk di salah satu kursi bus yang nyaris kosong. Melihat segala yang telah ditinggalkannya berlari menjauh, hingga tak lagi terlihat lagi dari jendela kaca.
***
Ini Floriana
Ini Farrell
__ADS_1