
Untuk lebih mendramatisasi adegan jatuh dalam pelukan itu, hujan bunga pun ikut serta. Membuat jantung Flo menggedor tulang iga dengan menggila. Dan gelenyar ringan di perutnya pun turut ambil bagian.
"Farrell...?" lirih Flo.
Farrell tersenyum kecil. Dengan lembut dan santai ia menurunkan Flo, memastikannya sudah berdiri dengan sempurna. Sedang Flo sendiri merasa benar-benar malu mengingat di mana ia berada sedetik yang lalu.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Flo, berusaha menyembunyikan kegugupannyanya dihadapan laki-laki berseragam putih-abu berlapis jaket denim itu.
"Karena kamu," Farrell berujar sederhana, seraya mengambil kelopak bunga yang jatuh di rambut Flo.
Jawaban Farrell sama sekali tak membuat usaha Flo untuk terlihat biasa saja berjalan mudah.
"Maksudku..." Flo mencoba memperjelas keadaan. Sayangnya, ucapannya disela oleh suara Aksaf, yang menyadarkannya bahwa ia tak hanya berdua dengan Farrel tapi ada dua orang lainnya.
"Farrell, kan?" tanya Aksaf. Membuat Flo menoleh.
Farrell berpaling mengikuti sumber tanya. "Iya. Sia... Kak Aksaf?" tanyanya, ragu.
Aksaf mengangguk. Kemudian ia melompat menuruni beranda, tiba di sisi Farrell.
"Apa kabar? Farah apa kabar?"
"Baik. Farah makin sering jadi bucin."
Keduanya tertawa dengan ejekan tentang Kak Farah. Flo sendiri terkejut mereka saling mengenal. Bahkan tampak akrab.
Flo mengerling Kak Taala yang diam dengan wajah masam. Ia nyaris lupa mengenalkannya pada Farrell.
"Rell," Flo menyela obrolan seru Aksaf dan Farrell yang bagai teman lama.
"Iya?"
"Ini kakak sepupuku. Anataala." Flo mengarahkan tangannya pada Kak Taala.
Farrell mengulurkan tangannya diiringi senyum manis. Namun Kak Taala tak bergeming. Dia hanya memandang tangan Farrell dingin sebelum melengos dan masuk dalam rumah.
Flo sungguh merasa tidak enak hati pada Farrell perihal pengabaian Kak Taala. Tapi ia tak buru-buru berkata apa pun, melainkan menunggu Kak Taala pergi dulu.
"Sorry ya, Rell," cicit Flo.
"Kakak sepupu kamu kayaknya gak suka aku, ya?"
"Dia gak suka semua orang," Aksaf menanggapi. "Santai aja."
"Oh..." Farrell mengangguk-angguk. Entah mengerti atau tidak.
"Mampir ke rumah gue, Rell. Di depan." Aksaf menunjuk rumahnya dengan jempol.
"Siap."
"Ya udah, gue balik dulu," Aksaf berpamitan, "Rell, Flo. Mau makan siang."
"Oke," sahut Farrell. Sementara Flo hanya mengangguk kecil.
"ANATAALA AKU PULANG, YAAA!!!" seru Aksaf. Tampaknya kekasaran Kak Taala sama sekali tak berdampak.
Dengan kepergian Aksaf, kini Flo dan Farrell tinggal berdua. Berdiam diri menatap tempat Aksaf menghilang.
"Kamu kenal Aksaf?" tanya Flo, menoleh pada Farrell.
Farrell berpaling padanya, mengangguk. "Dia kakak kelasku pas SMP. Pernah pacaran sama Farah."
"Kebetulan banget."
"Iya. Aku udah lama gak dengar kabarnya. Ternyata dia pindah ke sini..." suara Farrell semakin rendah. Dia memandang Flo lekat-lekat. "Aku haus. Boleh minta minum?"
"Oh iya!" Flo mengutuki kebodohannya. Saking bingungnya dengan kehadiran Farrell yang tiba-tiba membuat pikirannya kacau. "Yuk," ajaknya.
Flo meminta Farrell untuk duduk di sebuah bangku panjang tua di teras. Sementara ia masuk ke dalam, mencari minuman. Namun yang dapat dijumpainya hanya air putih. Di rumah Kak Taala betul-betul tak ada apa-apa. Sepupunya itu hidup dalam kekurangan.
"Maaf ya cuma air putih." Flo meletakkan segelas air di tengah bangku. Lalu ia duduk di ujung lain dari sisi yang dihuni Farrell.
"Gak pa-pa." Farrell langsung menyambar minuman yang disuguhkan Flo dan menenggaknya hingga tandas.
"Mau aku ambilin lagi?"
"Gak usah. Cukup." Farrell meletakkan gelas.
"Kakak sepupu kamu mana?" tanya Farrell.
"Di kamar mungkin."
"Dia memang kurang ramah 'gitu biasanya? Aku takut kalo kedatangan aku bikin dia ngerasa terganggu."
Flo mengangguk. Ia agak ragu-ragu ketika menambahkan, "Dia punya trauma sama orang asing."
"Oh, sorry."
"It's ok."
Angin sepoi-sepoi menyapu teras. Mengembus rambut Flo yang terurai bebas.
"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Flo, melanjutkan interogasinya yang sempat tertunda tadi.
"Arina," jawab Farrell singkat.
Benar-benar Si Arina, pikir Flo. Padahal ia sudah melarangnya memberi tahu orang lain tentang keberadaannya.
"Tadi pagi aku nungguin kamu di depan rumah kamu. Tapi kamu gak keluar-keluar. Jadi aku ketuk pintu rumah kamu, dan Mama kamu yang bukain pintu. Ngeliat aku, Mama kamu langsung ngajak masuk buat ketemu Papa sama Kakak kamu. Dan... mereka nanya banyak hal, termasuk kenapa kamu bisa luka."
__ADS_1
Flo dapat membayangkan apa saja pertanyaan yang diterima Farrell. Hal itu benar-benar membuat malu.
"Aku jelasin semua yang aku tahu dan Mama kamu kayaknya terpukul banget, Papa kamu juga. Terus Mama kamu bilang kamu kemarin pergi dari rumah dan dia gak tahu kamu ke mana."
Flo diam saja. Ia masih marah pada mamanya. Penyesalan beliau sama sekali tak menyembuhkan sakit hatinya.
"Terus aku coba nanya Arina kamu ada di mana. Dia bilang kamu di tempat sepupu kamu, tapi gak tahu alamatnya di mana. Jadi aku nanya Mama kamu, sekalian minta ijin buat jemput kamu—tadinya dia yang mau langsung jemput."
Flo sama sekali belum buka suara. Bingung mau menanggapi apa. Ia juga khawatir Farrell menganggapnya konyol karena lari dari rumah.
"Maaf ya Flo. Karena aku, kamu jadi dapat masalah."
Permohonan Farrell barusan membuat Flo mendapatkan jawaban atas pertanyaan pertamanya tadi. Jawaban yang lebih jujur daripada jawaban yang terlontar sebelumnya. Perihal alasan keberadaan laki-laki itu di sini.
Farrell merasa bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi.
"Jangan minta maaf. Kamu gak salah apa-apa," ujar Flo. "Dan seharusnya kamu gak perlu datang ke sini."
"Kamu gak suka aku ke sini?"
Flo diam sebentar sebelum menjawab. Menatap ranting-ranting pohon rambutan bergoyang liar diterpa angin. Jauh menerbangkan daun-daunnya yang telah layu.
"Aku gak suka kamu merasa bersalah."
"Kalo pun aku gak ngerasa bersalah, aku bakal tetap datang ke sini, Flo."
"Kenapa?" tanya Flo, berpaling pada Farrell.
"Karena aku khawatir sama kamu."
Alis Flo bertaut. "Aku gak ngerti... kenapa kamu harus khawatir?"
Tiba-tiba Farrell beringsut mendekat. Ujung jari telunjuk dan tengahnya bergerak mengurai tautan alis Flo. Ada senyum di bibirnya.
"Kalo aku bilang kamu cantik hari ini, ngerti?"
"Apaan sih, Rell..." Flo membuang muka. Malu.
"Nanti kamu bakal ngerti kenapa aku khawatir. Kamu bakal tahu jawabannya sendiri."
Sekeras-kerasnya Flo berteriak di dalam benaknya agak tak menerka yang tidak-tidak. Jangan terlalu berharap, ia mengigatkan dirinya sendiri, ingat nasihat Kak Farah, ingat Arina yang sempurna.
"Ehem!" Flo berdehem. "Kamu ke sini naik apa?" Mendadak ia mengubah topik perbicaraan, membuat Farrell terkekeh.
"Bus. Motorku mati di tengah jalan. Jadi aku tinggalin di bengkel."
***
Flo bersandar pada kepala tempat tidur. Di tangannya ada ponsel yang baru ia nyalakan. Semenjak pergi dari rumah ia memang selalu menyalakan ponsel larut malam agar tak terganggu oleh telepon dan pesan mamanya.
Ada banyak pesan dan telepon tak dijawab yang masuk. Dari orang rumah, Arina, Genta, juga... Farrell.
Ujung telunjuk Flo mengetuk pesan dari Farrell. Laki-laki yang sedang bermalam di rumah tetangga depan itu mengirim pesan hanya beberapa menit yang lalu.
Farrell Fadillah: Udah tidur?
Me: Belum. Kenapa?
Farrell tak langsung membaca dan membalas pesannya. Flo pun memilih untuk membaca pesan-pesan Arina dan Genta, membalas pesan-pesan mereka walau sudah sangat terlambat.
Ting!
Farrell Fadillah: Bisa keluar sebentar?
Flo mengernyit. Ada apa? Sudah nyaris tengah malam begini.
Me: Buat?
Farrell Fadillah: Ngobrol.
Me: Gak bisa lewat chat aja?
Farrell Fadillah: Gak bisa. Harus ketemu.
Flo melirik jam di sudut layar ponselnya. Nyaris tengah malam. Kemudian ia melirik Kak Taala yang duduk telungkup di atas meja belajar. Nampaknya tertidur.
Untuk lebih memastikan, Flo bangkit dari kasur yang berderit. Berjingkat-jingkat mendekati Kak Taala. Dan benar saja, sepupunya itu tertidur sesuai dugaan. Wajahnya menempel pada kertas sketsa yang gambarnya setengah jadi. Bekas rautan pensil yang berserakkan sama sekali tak tampak mengganggunya. Di antara jemarinya, masih tersemat sebatang pensil yang telah berkurang setengah.
Sejak ia datang kemarin, baru kali ini ia melihat wajah Kak Taala seperti ini. Tak ada tatapan dingin, ekspresi masam, atau sikap defensif. Ia terlihat damai. Nyaris seperti Kak Taala umur sembilan tahun yang diingatnya.
Hati-hati Flo melepaskan pensil dari tangan Kak Taala dan menyelimutinya dengan selembar selimut bulu yang sudah sedemikian tipis dan kusamnya. Baru setelah itu ia mengambil ponselnya lagi.
Me: Ok.
Farrell Fadillah: Aku tunggu di depan.
Flo menyibakkan gorden sedikit, mengintip situasi di luar. Matanya pun langsung menangkap siluet Farrell yang melangkah keluar dari halaman rumah Aksaf.
Tanpa sadar sebelum pergi Flo mengecek penampilannya di kaca lemari. Memastikan rambutnya yang digelung asal tak terlihat seperti orang gila. Ia juga merapikan gaun longgar setengah betis berwarna putih yang dikenakannya. Setelah selesai, ia langsung keluar kamar pelan-pelan.
Sesampainya di luar, suara serangga malam yang saling menyanyi terdengar kian lantang ditingkahi deras angin malam. Kendati begitu, menenangkan.
"Farrell," panggil Flo, pada Farrell yang berdiri membelakanginya di tengah halaman rumput.
Farrell berputar menghadapi Flo. Ia tersenyum, memamerkan lesung pipinya. Senyum yang sekarang jadi favorit Flo.
"Everything's ok?"
"Maksud kamu Kak Taala marah atau enggak aku keluar?"
__ADS_1
"Iya... semacam itu."
"Dia udah tidur."
Farrell mengangguk-angguk. "Mau duduk?"
Melihat rumput di bawah kakinya membuat Flo ragu untuk lesehan. Ia cukup yakin rumput itu lembab.
Lalu, tanpa terduga Farrell melepas jaketnya dan menghamparkannya di atar rumput. Menjadikannya alas untuk duduk.
"Duduk." Farrell yang telah lebih dulu ambil posisi, menepuk ruang di sebelahnya.
Flo menuruti. Ia berdesakkan dengan Farrell dalam terbatasnya lindungan tikar darurat. Sejenak nereka hanya saling diam, menikmati tenangnya malam di tengah halaman, menatap bintang-bintang.
"Aku ganggu kamu gak, nyuruh keluar malam-malam gini?"
"Enggak. Enggak pa-pa kok," jawab Flo, jujur. Toh ia memang belum tidur dan belum mengantuk sama sekali. "Tapi kamu mau ngobrolin apa sampe gak bisa lewat chat?"
"Mm..." Farrell memeriksa arlojinya. "Coba hitung sampe sepuluh."
"Buat?"
"Hitung dulu."
"Satu, dua, tiga—" Flo berhitung.
"Jangan buru-buru," sela Farrell.
"Satu... dua... tiga... empat..." Flo mengulangi, lebih perlahan, "lima... enam... tujuh... delapan... sembilan... sepuluh...."
"Say happy birthday to me," pinta Farrell.
Mata Flo membulat. Tercengang. "Kamu ulang tahun?"
Farrell mengangguk.
"Happy birthday," ucap Flo.
"Thank you."
"Gak ada kue sama lilin buat make a wish. Aku gak tahu kamu ulang tahun."
"Make a wish..." Farrell merogoh sesuatu dari saku celananya. "Kita bisa pakek ini!" Ia mengeluarkan sebatang korek api—yang tak bisa Flo mengerti untuk apa dibawa-bawa.
"Cepat kamu make a wish," kata Farrell.
"Kan kamu yang ulang tahun," sanggah Flo.
"Aku mau kamu yang do'ain."
"Tapi..." Flo ragu, hendak menolak. Ia merasa ini aneh.
"Please..."
"Oke." Flo mengalah. Ia menutup matanya tepat ketika Farrell menyalakan korek api.
Aku harap Farrell selalu bahagia. Aku harap Farrelll... benar-benar suka sama aku.
Begitu membuka mata, Flo meniup korek api itu hingga padam.
"Aamiin," Farrell melengkapi doa Flo.
Keduanya saling melempar senyum kecil. Menampilkankan lesung pipi masing-masing.
"Boleh aku minta dua hadiah dari kamu?" tanya Farrell, sembari menyimpan kembali korek apinya.
"Boleh sih... tapi kayaknya gak bisa sekarang. Mau beli hadiah di mana tengah malam 'gini?" kata Flo, polos.
"Hadiahnya gak perlu beli."
"Kamu mau hadiah apa?"
"Pertama, kita pulang besok, ya?" Farrell meminta.
Flo tak langsung menjawab. Ia belum ingin pulang ke rumah... tapi ia tak mampu menolak permintaan Farrell. Dan pada akhirnya, ia memilih mengangguk, perlahan.
"Makasih," ucap Farrell.
Flo hanya mengangguk.
"Kedua, boleh aku lihat kamu nari balet sekarang?"
Sungguh terkejut Flo akan permintaan Farrell barusan. Lebih mengejutkan daripada mengetahui bahwa laki-laki itu tengah berulang tahun.
"Di sini?" Flo memastikan.
"Iya." Farrell mengangguk. "Di sini."
"Bukannya kamu gak suka balet?"
"Aku suka kalo kamu yang nari."
Setelah bimbang sejenak, Flo bangkit berdiri. Ia melepaskan sandal lalu menyalakan salah satu lagu pengiring balet favoritnya. Diam-diam ia bersyukur mereka sedang ada di desa sekarang. Karena tak ada lagi orang yang berlalu di jalanan.
Flo bersiap. Menghela napas dalam, menghilangkan gugup. Sejenak ia terpejam sebelum mengambil langkah-langkah kecil. Melompat-lompat ringan. Kemudian berputar, pelan lalu kencang. Menguraikan gelungan rambut panjangnya.
Ternyata menari di udara terbuka tak seburuk yang Flo kira. Bahkan rasanya menyenangkan. Disiram temaram cahaya lampu teras. Dengan rumput yang berembun di bawah kaki telanjangnya. Disorot cahaya bulan yang tak membutakan. Disaksikan jutaan bintang yang berkelap-kelip. Dan melebihi semua keistimewaan itu, menari untuk Farrell. Hanya Farrell.
***
__ADS_1
Bayangin aja Flo pakek gaun kayak gini