Floriana

Floriana
Bab 17: Bunga Krisan Kuning


__ADS_3


***


Tiga bulan berlalu. Dalam waktu tiga bulan banyak yang berubah, tapi ada juga yang tetap sama. Di sekolah, yang terlihat paling berbeda adalah jajaran ruang kelas dua belas yang sepi, menanti diisi oleh murid kelas sebelas yang berhasil naik tingkat. Sedang di rumah... tak ada yang berubah. Semua hanya kembali seperti semula, senormsal sebelum konflik melanda. Ia sudah berdamai dengan orang tuanya, meski butuh waktu sebulan penuh. Sementara Farrell yang terlibat dalam konflik itu, telah kembali jadi orang asing, seasing yang bisa Flo usahakan, berbanding terbalik dengan Genta yang kini hampir seakrab Arina baginya.


Kendati telah berusaha begitu keras  mengasingkan Farrell—seperti yang telah laki-laki itu lakukan terhadapannya, Flo masih tak bisa menghilangkan perasaan tersentak pada perutnya setiap berpapasan atau bertemu Farrell. Jadi yang terbaik yang dapat ia lakukan hanyalah berada sejauh mungkin dari Farrell—yang mana bukan sesuatu yang sulit, seolah mereka berdua sudah sepakat untuk tak saling adu kontak dalam hal terkecil sekali pun. Contohnya saja ketika Arina mengajaknya untuk bergabung dengan Genta dan Farrell di bawah pohon beringin di depan kelasnya, ia akan selalu menolak, jika Genta juga ikut memaksa, Farrelllah yang akan minggat. Atau ketika ia sedang mengobrol di studio latihan balet dengan Kak Farah lalu Farrell datang menjemput, ia akan mendadak kebelet pipis dan melarikan diri ke toilet. Atau juga ketika ia melihat titik Farrell di ujung koridor yang berseberangan dengannya, ia akan berbalik arah dan menunda niat pergi ke mana pun itu. Semua ia lakukan hanya agar perutnya berhenti bereaksi konyol.


Namun, selalu ada saat di mana semua rencana tak bekerja. Dan satu-satunya pilihan adalah menerima. Seperti hari ini. Di antara riuh dan ramai yang gaduh, ia terjebak di antara lautan manusia yang berdesakan untuk mengambil nomor ujian akhir semester. Sialnya, ia terkepung bersama Farrell di sampingnya. Manusia yang setengah mati ia hindari. Dan sensasi di perutnya tak mengkhiati, juga jantung yang berdegup tak terkendali—tak punya harga diri.


Berkali-kali ia berupaya melarikan diri, tapi ia terdorong lagi ke tempat semula. Di sisi Farrell. Tubuhnya menegang ketika menabrak lengan laki-laki itu. Pada titik ini, ia memilih berhenti melarikan diri, stay di posisi.


Flo merasa gemuruh suara di sekelilingnya mengecil, dan bunyi paling terang yang ditangkap rungunya adalah degup jantungnya sendiri. Besar sekali godaan untuk berpaling, melihat apakah Farrell juga mengalami hal serupa dengan dirinya. Tapi benaknya tak mengijinkan. Ini adalah perang. Untuk apa ia ingin tahu mengenai orang yang sudah seenaknya mengabaikannya? Cukup jantung dan perutnya yang tak punya harga diri, pikirannya harus tetap memiliki konsistensi.


Maka ia tak bergeming, menatap lurus ke depan. Menjaga diri supaya tetap berdiri kokoh dirundung desakkan kanan-kiri agar tak lagi menyentuh Farrell. Membuat bulir-bulir keringat mengalir deras di punggungnya.


Akhirnya ketika ia berhasil mendapatkan nomor ujian, jalan keluar terbuka begitu saja, bermaksud mendepaknya dari kerumunan. Ia tak membuang waktu sedikit pun, segera berpaling hendak pergi. Namun tangannya ditahan. Ketika berbalik, ia melihat gantungan gelang miliknya tertaut pada gantung gelang milik orang lain. Tak perlu ia mengangkat mata untuk memastikan si empunya gelang, karena jelas-jelas ia tahu itu milik siapa.


Flo menyentakkan tangannya kencang. Tautan pun terurai. Menjatuhkan gantungan lumba-lumba—bukan, paus—dari gelang hijau zambrudnya. Namun itu sama sekali tak menghentikannya untuk tergesa minggat dari sana.


Karena setengah berlari, napas Flo memburu sesampainya ia di kelasnya yang sepi. Semua temannya masih sibuk dalam pertempuran demi secarik nomor ujian.


Flo mengangkat tangannya, melihat tak ada lagi replika metal paus dua dimensi tergantung di penggelangan tangan. Mau tak mau ia merasa sedih. Itu gelang pertemanannya yang pertama. Meski mengingatkan akan Farrell, ia selalu beralasan bahwa itu tak hanya menghubungakannya dengan Farrell tapi juga Genta dan Arina. Sebab mereka berdua juga punya gelang serupa.


"Lagi ngapain?"


Flo tersentak. Ia menjatuhkan tangannya seraya mendorong punggungnya ke belakang saat menyadari Genta membungkuk di depannya dengan kepala yang dimiringkan.


"Gak pa-pa," jawab Flo, gugup.


Genta meluruskan punggungnya, menghadapi Flo dalam posisi normal.


"Udah dapat nomor ujian?"


Flo mengangguk. "Kamu?"


Menyengir Genta. "Belum. Nanti aja kalo mau pulang. Sekarang masih ricuh."


"Gak ricuh kok, cuma ramai aja."


Satu tangan Genta bertumpu pada permukaan meja, sedangkan tangan yang lain terjulur, merapikan poni Flo yang sudah lebih panjang. "Kalo gak ricuh, gak mungkin lo jadi berantakan kayak gini."


Flo melarikan tangannya ke wajah, menggantikan tangan Genta yang membuatnya agak rikuh. Tampaknya Genta mengerti sebab ia langsung menarik tangannya untuk ikut bertumpu di atas meja.


Mendadak, seperti mendapat ilham entah dari mana, Flo bertanya setelah beberapa saat membiarkan keheningan menguasai. "Genta, boleh tanya sesuatu, gak?"


"Pasti boleh. Apa?"


"Mm..." Flo meragu, "kenapa kamu baik banget sama aku?"


"Menurut lo?" Genta balik bertanya.


"Karena kita teman?"

__ADS_1


Sejenak Genta terdiam. Nampak bimbang. Namun pada akhirnya ia membeo, "Karena kita teman."


Flo tersenyum lega. Sekarang ia tak perlu dihantui perasaan tak nyaman karena semua bualan Arina.


"Dan karena gue extremely baik," tambah Genta.


"Ria," ledek Flo.


"Bukan ria, bangga."


Lalu keduanya tertawa pada obrolan yang sebetulnya tak lucu itu.


"Temanin gue ke kantin, yuk?" ajak Genta.


Flo tak segera menjawab, bimbang. Keramaian tak pernah jadi tempat favoritnya. Ia biasanya selalu menghindari keramaian jika itu bukan sesuatu yang teramat penting.


"Ayolah, Flo. Mumpung kantin lagi sepi sekarang. Jangan tolak ajakan gue kali ini. Please..."


Flo jadi tidak enak bila Genta sudah memohon seperti itu. Apalagi yang dikatakan laki-laki itu benar adanya. Ia memang selalu menolak ajakan Genta. Mulai dari ajakan ke kantin hingga ajakan nonton yang sering sekali menghampiri. Selalu ia punya alasan untuk menolak. Mulai dari ia sibuk, sedang tak enak badan, tak suka keramaian, kelelahan, dan sebagainya. Padahal nyatanya itu hanya alasan kosong. Ia memang tak ingin pergi berdua dengan Genta, apalagi jika di luar sekolah.


"Ya udah, deh. Ayo!"


Flo beringsut berdiri, mengekori Genta ke luar kelas. Melewati koridor-koridor sepi karena semua penghuninya yang biasa masih sibuk mengantri nomor ujian.


"'Gimana persiapan baletnya?" Genta basa-basi.


"Lancar," ucap Flo.


"Abis ujian semester kan showcase-nya?"


"Mau!" seru Genta antusias, membuat Flo tersenyum. "Boleh memangnya?"


"Boleh dong. Nanti aku kasih tiketnya."


"Thank you, Flo."


"It's ok. We're friend."


"We're friend," Genta mengutip.


Entah pendengarannya menipu atau memang adanya, Flo merasa suara Genta terdenger getir.


***


Usai seminggu penuh melalui ketegangan dari ujian, kini Flo dihadapan pada ketegangan yang jauh lebih tinggi. Berdiri di atas panggung sebagai penampil penutup. Menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata.


Flo mengangkat wajahnya, sekelebat memandang sekeliling tribun. Lalu ia memejamkan mata dalam posisi siapa menari, menunggu musik bergema.


Ini apa yang paling aku inginkan, Flo membatin. Mencoba meredakan kegugupannya.


Begitu nada pertama terdengar, ajaib sekali, kegugupan Flo seketika luntur. Ia bergerak pasti, mengikuti alunan lagu yang sebulan terakhir ia latih. Seperti dirasuki. Sama sekali ia tak peduli pada audiens, sebab ini adalah waktunya. Ini tariannya. Ini panggungnya.


Ketika berjinjit Flo merasa terbang. Dalam setiap lompatan ia merasa ringan. Saat berputar ia merasa indah.  Bila ada waktu di mana ia merasa paling cantik dan percaya diri, inilah momennya.

__ADS_1


Flo mengakhiri performance-nya dengan membungkukkan badan, dan tepuk tangan pun bergemuruh. Ia melihat semua orang berdiri mengapresiasi aksinya. Satu penonton menarik perhatiannya. Orang yang sama yang selama ini ia hindari dan menghindarinya. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mata mereka bersirobok, menghujam iris satu sama lain.


Sebuah kenangan di bawah bintang-bintang bermain di benak Flo. Pada suatu malam yang larut, di atas rumput berembun, ketika ia menari untuk Farrell. Dan sebuah ucapan di lain waktu terlintas begitu saja.


"...gue baru sadar kalo balet itu keren. Sebenernya sih lo yang keren."


Lama keduanya saling pandang, hingga kemudian teman-teman Flo yang lain kembali naik ke panggung untuk bersama-sama memberikan penghormatan terakhir pada audiens dan mengakhir kompetisi saling tatap itu. Konfeti pun ditumpahkan, menghujani mereka yang berada di atas panggung, memberikan kemeriahan yang lebih lagi.


Setelah itu Flo dan rekan-rekannya turun, pergi ke belakang panggung. Bersama-sama mereka berpelukan dengan pelatih juga, saling melemparkan pujian dan mengucap rasa syukur.


Flo melepaskan dirinya dari kerumunan, menghampiri orang tuanya yang sudah menanti di sisi pintu bersama sebuket bunga mawar berwarna merah jambu favoritnya. Ia pun langsung memeluk mereka. Menyalurkan rasa senang dan leganya.


"Mama bangga sama kamu. Penampilan indah sekali," ucap Mama, setelah melonggarkan pelukannya. Beliau menyusut sudut matanya yang basah.


Flo tersenyum.


"Keren banget." Papa mengangkat dua jempolnya.


"Makasih, Pa."


Acara keluarga itu tak bertahan lama. Mamanya berkata akan menunggu di depan bersama Papa sementara ia berganti pakaian. Flo langsung menyetujuinya karena ruangan itu semakin ramai oleh para keluarga dan teman balerina yang ingin mengucapkan selamat.


Flo berbalik dan fokusnya menangkap punggung Farrell yang berdiri di sudut ruang bersama Kak Farrah dan pasangan paruh baya. Mereka tampak larut dalam suka cita.


"Ngeliatin apa?"


Flo terkejut mendengar suara di belakangnya. Ia pun berpaling, menemukan senyum Genta yang ramah bersama seikat bunga krisan kuning terulur kepadanya.


"Penampilan yang... indah banget," puji Genta, tulus.


"Makasih." Flo menerima bunga dari Genta. Mendekapnya bersama bunga pemberian Mama.


"Arina nitip maaf karena gak bisa datang," kata Genta. Meski berbicara pada Flo, tapi matanya memandang lurus melewati atas kepala Flo. "Katanya tadi udah siap-siap tapi mendadak ada urusan. Mau ngehubungin lo tapi nomor lo gak aktif."


"Iya, gak pa-pa."


Karena fokus Genta masih belum kembali padanya, Flo berbalik, mencari tahu apa yang menarik.


Ternyata Farrell. Tak lagi memamerkan punggungnya, tapi wajah yang balas memandang Genta. Cara keduanya saling menatap tak sama seperti yang Flo ingat. Ada yang lain di antara mereka hari ini.


"Flo," Genta menunduk memandang Flo, "gue tinggal, ya? Mau nyamperin Kak Farah."


Flo mengangguk, yang dibalas Genta dengan senyuman. Ia terus menatap Flo di mata. Lama. Lembut. Membuat Flo rikuh.


"Kenapa?" Flo bersuara.


Menggeleng Genta. "Nggak pa-pa." Suaranya serak. Kemudian ia menghela napas dalam dan berkata berat, "Bye." Ia pun melangkah pergi.


***


Kasihan Genta


Coba kasih support dulu

__ADS_1



__ADS_2