Floriana

Floriana
Bab 10: Ikan Paus


__ADS_3

"Dengar-dengar Aqila hamil?" ujar Fabian begitu Flo memasuki dapur. Aqila adalah kakak Arina, tetangga sebelah. "Terus cowoknya kabur."


Flo santai saja. Barangkali hanya gosip. Meski pun ia heran sejak kapan Fabian peduli pada gosip di lingkungan ini.


"Iya," Mama menyahut sedih. "Kasihan. Keluarganya betul-betul terpukul."


Tertegun Flo mendengar verifikasi dari Mama. Gerakannya menarik kursi untuk diduduki terhenti sejenak.Ternyata bukan gosip.


Inikah alasan semalam Arina diminta cepat pulang?


"Segini cukup, Flo?" tanya Mama. Membubuhi nasi goreng ke piring Flo, sesudah putrinya itu mantap di kursinya.


"Iya," Flo menjawab singkat.


"Gak heran sih, keluyuran mulu. Pulang malam," Fabian melanjutkan.


"Udahlah," Papa angkat suara. "Gak usah ngurusin hidup orang."


"Gak maksud ngurusin hidup orang lain. Cuma mau ngasih contah aja biar anak gadis rumah ini bisa lebih hati-hati," ujar Fabian, begitu kentara ia menikmati ucapannya. "Eh!" Ia belagak seperti orang keceplosan. "Masih gadis kan, ya?"


"Fabian!" seru Papa. Beliau sudah bangkit dari kursinya. Wajahnya merah padam. Nyata sekali ia marah dan malu akan putra semata wayangnya. "Jaga mulut kamu!"


Sementara itu Flo tersentak, tenggorokannya tercekat. Ucapan itu jahat sekali. Hingga tanpa ia sadiri jemarinya mencengkram garpu erat-erat. Bagian tergelap dirinya meneriakkan perintah untuk bangkit dan menghujamkan garpu itu ke leher Fabian agar dia berhenti bicara. Ia sudah muak.


Sayangnya, ia masih cukup waras untuk mengendalikan emosinya agar tidak bertindak nekat. Diam-diam diaturnya napas agar kembali tenang sebelum bersuara membela diri. Namun mendadak ia menyadari bahwa tak seperti Papa, Mama sama sekali belum bereaksi.


"Ck!" Fabian berdecak, menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. "Floriana itu gak sekalem kelihatannya. Dia itu ****** kecil! Kerjaannya pulang malam sama cowok kalo rumah lagi kosong!"


Plak!


Papa menampar Fabian.


Terkejut, Fabian ikut berdiri. Bukannya berhenti bicara, ia malah menjadi-jadi.


"Papa gak tahu 'kan jam berapa dia pulang kalo semua orang lagi pergi?!"


"Jangan bicara seperti itu soal Flo!"


Flo, yang menjadi bahan pertengkaran itu, menoleh memandang Mama. Kebungkaman beliau berdengung di telinganya, mengaburkan teriakan Papa dan Fabian yang saling bersahutan. Seketika niat untuk membela diri sirna. Ia sudah tak lagi berminat.


Prang!


Siku Flo menyenggol gelas hingga jatuh. Menyebabkan susu memercik ke mana-mana, meninggalkan genangan di lantai. Pecahan kaca pun bertebaran, menanti untuk dibersihkan.


"Maaf," gumamnya, terdengar jauh. Tapi suara yang telah ia timbulkan dengan sengaja cukup untuk membungkam pertengkaran, membangunkan Mama dari lamunan.


Ia pun turun ke lantai, memungut serpihan gelas. Menggenggamnya erat-erat dalam diam. Mencoba memfokuskan pikiran serta menghalau tangis yang berusaha mendobrak pertahanan. Ia kebingungan menentukan manakah yang lebih menyakitkan: kebiadaban mulut Fabian atau kebungkaman mamanya.


"Ikut Papa!" tegas suara Papa memerintah, diikuti bunyi langkah menjauh.


"Udah, Flo, biar Mama aja yang beresin. Kamu pergi ke sekolah," akhirnya Mama bersuara, datar. "Nanti kita bicara setelah kamu pulang."


Tak perlu diminta dua kali, Flo beranjak berdiri, berlalu tanpa menoleh sama sekali. Pikirannya hanya satu: pergi.


"Pagi," sapa sebuah suara yang terdengar akrab. Menghentikan langkah Flo di depan pagar rumah.


Saat Flo mengangkat muka, ia menemukan senyum berlesung pipi tertuju padanya.


Flo kaku. Ia tak menduga hal semacam ini. Dan ia tak yakin bagaimana harus meresponnya.


"Flo?"


Mengerjap Flo mendengar namanya disebut. Lalu sekujur tubuhnya melunak ketika jemari hangat meraih tangannya, mengurai genggamannya. Memperlihatkan beling berlumur darah di telapak tangannya.


"Ya ampun, Flo!" Farrell terperanjat. "Lo gak pa-pa?" Ia pun dengan cekatan membuang beling itu lalu menyentakkan dasinya hingga terlepas, menggunakannya untuk membalut telapak tangan Flo yang menitikkan darah. "Tahan sebentar ya, kita ke klinik," ujarnya memangkan.


Flo membiarkan Farrell dalam kepanikannya melakukan segala hal terbaik yang bisa dilakukannya. Ia tak menolak saat dipakaikan helm atau saat tangannya ditahan melingkari pinggang laki-laki itu sepanjang perjalanan. Ia diam-diam menikmati kepanikan Farrell atas lukanya yang tak seberapa. Menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menemukan tempat untuk pergi dari kebusukan pagi ini.


Ia nyaman berada dekat Farrell. Rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan luka di telapak tangannya perlahan memudar. Ia tahu ini tak bertahan lama, tapi untuk saat ini ia bersyukur Farrell ada di sisinya.


Farrell tak melepaskan tangan Flo sampai mereka memasuki sebuah klinik. Ia bahkan tetap tinggal di samping Flo saat tangannya dijahit. Terus menemaninya. Meyakinkan Flo bahwa ia tak sendirian.


"Masih sakit?" tanya Farrell setelah mereka keluar dari ruang perawatan.


Flo menggeleng.


"Syukurlah. Gue tadi ngeri banget."


Sejak tadi Flo menunggu Farrell menanyakan kenapa ia bisa sampai menggenggam beling di tangannya. Tapi laki-laki itu tak juga bertanya, membuat Flo lega. Ia tak ingin mengingat kejadian di meja makan pagi ini. Mengingatnya membuat dadanya terasa sakit kembali.


"Jadi, sekarang kita mau ke mana? Udah telat banget kalo ke sekolah." Farrell mengecek arlojinya. "Yang ada kita disuruh keliling lapangan seratus kali."


"Terserah," Flo memutuskan. "Ke mana aja."


Flo tak pernah bolos sekolah seumur hidupnya. Ia benar-benar menghindari hal buruk itu. Tapi barangkali hari ini bisa jadi pengecualian.


"Atau mau pulang aja? Istirahat?"


Menggelang Flo. "Aku gak sakit."


Lama Farrell menatap Flo sebelum ia berkata, "Oke."


Mereka pun kembali naik motor. Berkendara lama sekali. Membuat Flo berpikir apakah mereka berencana pergi keluar kota.


"Kita mau ke mana?!" tanya Flo memecah kebungkaman.


"Ke tempat yang pasti lo suka!"


"Kalo aku gak suka?!" Flo coba-coba.


"Pasti suka! Tempat yang kita tuju sekarang enak buat nenangin diri!" seru Farrell, mengalahkan suara desau angin.


"Aku tenang!"


"Gue yang gak tenang lihat kamu sekarang!"


Flo bungkam.


Kurang dari dua puluh menit kemudian mereka berhenti di sebuah hutan kota yang asing bagi Flo. Ia sama sekali belum pernah kesini. Ia bukan tipe penjelajah yang tahu semua seluk beluk kota. Sebagian besar waktu luangnya ia habiskan dalam tembok rumah. Jadi tak mengherankan bila ia serba tak tahu perihal tempat rekreasi.

__ADS_1


Flo senang berjalan di bawah naungan pepohonan rindang, diterpa lembut oleh angin sepoi-sepoi, bersama Farrell di sisinya. Perasaannya jadi semakin damai. Seolah angin menerbangkan segala kemarahan dan kekecewaannya pagi ini.


Sepinya hutan itu sama sekali tak mengusik Flo. Aneh memang—tak seperti dirinya yang biasa, ia merasa aman bersama Farrell yang notabenenya baru ia kenal. Tapi begitulah, ia juga tak mengerti.


"Kita duduk di dekat danau sana, ya?" ujar Farrell.


Flo mengangguk.


Mereka mengambil tempat duduk di bawah sebuah pohon besar yang akarnya sudah menjalar masuk ke danau. Flo menempati ujung kiri bangku kayu, sementara Farrell memilih bagian kanan. Mereka tidak saling bicara. Hanya Farrell yang menggumamkan sebuah lagu yang pernah ia perdengarkan pada Flo.


Flo tahu bila Farrell sesekali mencuri pandang padanya. Mungkin rikuh. Hal itu mengingatkannya pada kenyataan betapa kepribadiannya sangat berbeda dengan Farrell beserta teman-temannya. Betapa membosankannya ia.


Sebetulnya Flo ingin mengajak Farrell mengobrol, tapi ia bingung mau bicara apa. Ia tidak tahu topik apa yang membuat Farrell tertarik. Mereka tak begitu saling kenal, lingkungan pertemanan mereka pun lain.


"Flo?" Seperti selalu, Farrell yang memecahkan kebungkaman di antara mereka. Flo sangat menghagai itu.


"Mm?" Flo berpaling.


"Lo udah gak pa-pa?"


"Udah. Kan tadi kamu udah nanya."


"Bukan tangan lo, perasaan lo."


Sejenak Flo terdiam sebelum menjawab, menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Memastikan apakah ia sudah betul baik-baik saja.


Akhirnya Flo mengangguk. "Makasih."


Alis Farrell terangkat. "Buat?"


Flo mengangkat bahunya. "Buat... semuanya. Semua yang udah kamu lakuin hari ini. Sampai kamu jadi bolos."


Mendengar ucapan Flo membuat Farrell tersenyum. "Gue gak pernah keberatan buat bolos sih."


Meski ragu, Flo balas tersenyum. Ia agak terganggu dengan pernyataan Farrell. Sebab ia sendiri keberatan bila harus bolos sekolah jika itu bukan keadaan darurat.


"Tapi Flo," Farrell lanjut berkata, "gue boleh minta sesuatu gak, sebagai ganti terima kasih lo?"


"Apa?" tanya Flo seketika. Ia tak keberatan Farrell minta sesuatu sebagai balasan. Selama itu mungkin untuk dilakukan, ia akan berusaha memenuhinya.


"Supaya kita gak canggung-canggung mulu kalo berdua, lo mau jadi teman gue?"


Flo mengernyit. Bingung.


"Bukan teman dari teman gue. Benar-benar teman."


"Bukan sebagai teman Arina?"


"Bukan sebagai teman Arina," Farrell mengamini. "Kayak gue sama Genta."


"Kayak kamu sama Arina?"


Farrell mengangguk. "Mau?"


Flo mengangguk.


Farell tersenyum, Flo membalas. Keduanya saling memamerkan lesung pipi.


"Jangan terima kasih."


"Okay," Farrell menyetujui. "So..." ia mengambil ranselnya, melepaskan sesuatu yang tergantung di salah satu ritsleting, "pas gue sama Genta masih SMP—pas masih alay, kita punya gelang persahabatnya."


Flo melipat bibirnya, menahan tawa. Diketahuinya bahwa benda yang Farrell lepaskan adalah sebuah gelang berwarna hijau zamrud dengan gantungan kecil berbetuk ikan berwarna metalik.


"Cringe memang. Tapi yah... Jangan ketawa!" Farrell menegur.


"Enggak." Flo memperbaiki ekspresinya.


"Lo mau pakai?" Farrell membuka tangannya, menampakkan gelang di atas telapak. "Arina juga pakai. Kita berempat bakal pakai."


Flo melirik pergelangan tangan Farrell. Melihat gelang berbentuk serupa berwarna coklat berdampingan dengan arloji hitam laki-laki itu.


Ia pun mengangkat tangannya sendiri— tangan yang tak terluka. Dibiarkannya Farrell memasangkan gelang itu di pergelangan tangannya.


Saat selesai, Flo mengangkat tangannya lebih tinggi. Melihat gantungan ikannya bergoyang-goyang.


"Kenapa lumba-lumba?" tanyanya.


Farrell ikut mengangkat tangannya, membuat gantungan ikan miliknya juga ikut bergoyang di sisi milik Flo. "Bukan lumba-lumba, paus."


"Kenapa paus?"


Keduanya menurunkan tangan mereka kembali.


"Karena gue sebenarnya pengin pelihara paus. Tapi karena gak bisa, gue pelihara gantungannya aja."


Tertawa Flo, entah itu lelucon atau bukan. Rasanya sekarang lebih mudah untuk tertawa di dekat Farrell. Barangkali karena sekarang mereka berteman. Teman sungguhan.


"Sama pelihara ikan ******."


"Kamu pelihara ikan ******?"


"Iya. Buat teman curhat. Kayaknya lo butuh satu."


"Buat apa?"


"Buat curhatlah."


***


Senyum masih setia singgah di bibir Flo setibanya ia di rumah, diantar Farrell. Tanpa sadar ia terus menggoyangkan tangan kirinya. Melakukan itu membuatnya senang.


"Assalamuaikum!" Flo mendorong pintu hingga terbuka. "Aku pulang!" ujarnya, melangkahkan kaki masuk, tak lupa menutup pintu di belakangnya.


Tak ada balasan untuk seruan Flo. Maka ia berlalu begitu saja menuju kamarnya. Menghempaskan diri ke kasur.


Baru saja matanya terkatup, sebuah ketukan di pintu membuatnya terjaga seketika.


"Flo, boleh Mama masuk?"

__ADS_1


Sebelum menyahut Flo berdehem lebih dulu, mencoba menghilangkan rasa senang dari suaranya.


"Iya."


Mama masuk dengan hati-hati. Wajahnya yang masih muda menggoreskan gurat resah. Seperti seorang pengunjung pasien yang sakit. Langkahnya bahkan hampir tak terdeteksi oleh indra pendengar Flo.


Melihat Mama mendekat membuat Flo bangun, duduk di tengah kasur. Mempersilahkan beliau untuk duduk di sisi mana saja. Tak lupa ia menutupi tangannya yang masih diperban dengan sebuah bantal bulu.


"'Gimana sekolah hari ini?" tanya Mama basa-basi. Sesuatu yang jarang terjadi.


Walau hanya berdua, Flo dan mamanya tak begitu akrab—bukan berarti tak saling menyayangi. Mereka hanya tak suka basa-basi dan tak banyak bicara. Hanya itu.


"Kayak biasa."


"Flo, Mama minta maaf ya soal tadi pagi. Mama gak bela kamu karena gak mau bikin keadaan jadi kacau."


Flo menunduk diam. Berpikir. Benarkah Mama bungkam hanya karena tak mau membuat keadaan lebih kacau? Atau sebenarnya Mama tak percaya padaya, seperti yang ia duga pagi tadi?


Ia ingin sekali memastikan. Tapi bila ternyata jawaban yang ia dapat seperti yang ia duga, itu akan sangat menyakitkan. Jadi ia memilih untuk menerima alasan itu. Sebab lebih mudah berada dalam ketidakpastian bersama secercah harapan daripada menuntut kejujuran dan di hadapkan pada kenyataan yang mengecewakan. Sudah cukup menyakitkan menduga bahwa satu-satunya orang yang ia punya tak percaya padanya, ia tak ingin menghadapi yang lebih menyakitkan lagi.


"Iya," balas Flo, datar.


"Maafin Kak Fabian juga. Dia cuma lagi banyak masalah di kampusnya


Jadi agak gak stabil emosinya."


Satu sudut bibit Flo naik sedikit. Sedikit sekali hingga nyaris tak terlihat. "Kayak dia pernah stabil aja."


"Hus!" tegur Mama.


"Jadi kapan dia balik ke Malang?"


"Besok. Sama Papa juga. Ada yang mau dibicarakan sama rektor."


Syukurlah. Makin cepat Fabian pergi, makin damai rumah ini. Makin tenang hidupnya.


"Oh," sahut Flo singkat. "Ya udah, kalo gak ada yang mau dibicarain lagi aku mau istirahat."


"Tadi Mama dengar dari Kak Fabian kamu pulang terlambat semalam dan gak sama Arina juga, benar?"


Flo mengangguk. "Arina pulang duluan karena ditelepon mamanya, disuruh pulang cepat. Terus motor temanku bannya bocor, jadi harus ke bengkel dulu. Pas jalan pulang, hujan deras banget. Kita takut ada apa-apa kalo lanjut terus. Jadi temanku ngajak mampir ke rumahnya dulu."


"Teman kamu cowok atau cewek?"


"Cowok." Flo jujur. Sebelum Mama kembali berkata, lebih dulu ia menambahkan, "Dirumahnya ada kakaknya kok, gak berdua aja. Mama kenal sama kakaknya. Kak Farah."


"Teman balet kamu?"


Flo mengangguk.


"Lain kali kabarin Mama kalo kamu pulang terlambat."


"Iya. Semalam aku cuma lupa kasih kabar, gak berniat buat gak kaaih kabar. Pas ingat, udah dekat rumah, jadi aku pikir percuma."


"Mama ngerti." Beliau bangkit dari tepi tempat tidur Flo. "Ya udah, makan siang dulu."


"Aku gak lapar. Mau tidur aja, capek."


Flo merebahkan tubuhnya, menarik selimut membelakangi Mama. Begitu mendengar suara pintu dibuka lalu ditutup, ia berguling, memilih telentang. Pikirannya melayang menatap sisa-sisa tempelan bintang di langit-langit kamarnya. Ia benci pagi ini, tapi suka jam-jam setelahnya. Waktu di mana ada Farrell di dalamnya.


Tok, tok, tok!


Flo mendesah, kesal. Kendati begitu ia kembali duduk seraya berkata, "Masuk."


Pintu dibuka sedikit. Kepala Papa menyembul dari celahnya.


"Kak Fabian mau minta maaf," Papa berkata. "Boleh?"


Ingin sekali Flo menolak, tapi ia tak bisa. Terasa tak benar menolak keinginan orang asing yang sudah begitu baik menerimanya seperti putri kandung.


"Boleh."


Papa menghilang, digantikan oleh putranya yang melenggang masuk dengan santai. Tak ada kesan bersalah terpatri di wajah kakak tiri Flo itu.


Ketika pintu tertutup di belakang Fabian, seketika Flo merasa tak aman. Terancam. Ia merasa terkurung bersama penjahat yang bisa berbuat nekat. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang, menunggu kakaknya mengatakan sesuatu.


"Lo gak berharap gue minta maaf, kan?" tanya Fabian, menendang kursi hingga menggelinding menabrak ranjang. Kemudian ia duduk di atas meja belajar, memainkan barang Flo, membuka-buka lacinya.


Flo diam saja.


"Tapi demi ketenangan hidup lo, mending lo gak usah ngadu ke Papa kalo gue gak minta maaf."


"Aku gak peduli kamu minta maaf atau enggak." Kali ini tak ada embel-embel 'kakak' lagi dalam kalimatnya untuk Fabian.


"Kerena sebenarnya gue memang gak salah, kan?" Alis Fabian terangkat. Membuat Flo jijik.


Ia yang sebelumnya masih berusaha bersikap baik dan ramah pada Fabian sudah tak berminat melakukan itu lagi sejak hari ini. Ia akan mulai membencinya sepenuh hati. Ia tak akan lupa bahwa Fabian tadi mengatainya '******'. Kata-kata itu masih berdenging di telinganya.


Flo melirik jam di dinding. Belum ada lima menit berlalu sejak Fabian berada di kamarnya, tapi ia sudah ingin laki-laki itu segera minggat.


"Udah cukup waktunya buat pura-pura minta maaf," kata Flo.


Fabian menjauh dari meja, melintasi ruangan. Sejenak berhenti sebelum membuka pintu. Matanya menjelajahi tubuh Flo.


"Gue heran apa yang dilihat cowok dari lo. Muka biasa, badan rata."


Ketika Fabian menyebut kata 'cowok', tanpa permisi otak Flo membayangkan sosok Farrell.  Membuatnya menduga bahwa semalam Fabian sempat melihat wajah Farrell ketika mengantarnya pulang.


"Masih bagus juga teman lo. Si Arina."


Pintu terbuka, lalu tertutup dengan agak kencang.


***


Sekali lagi, aku kepanjangan nulis bab ini. Sorry kalo bosan.


And, as usual please give your support if like this story, vote, comment, and share. I will appreciate it.


Ceritain dong kesan kalian terhadap Fabian di komen. Aku mau baca hujatan kalian. Aku pribadi sih pengen geprek itu mulut sampah Fabian.

__ADS_1


Bye.


__ADS_2