
Malam sudah larut ketika Flo tiba di depan sebuah rumah yang tampak terbengkalai. Dengan tanaman liar telah merambati sebagian dinding kusamnya. Rumah itu akan dikira tak berpenghuni jika tak ada lampu yang bersinar redup di balik sebuah jendela buram.
Flo melangkah ragu. Ia sudah pergi sejauh ini, tak mungkin berbalik arah lagi.
Awalnya Flo mengetuk dengan pelan, namun karena tak ada sahutan dan suasana kian mencekam, ia pun mengeraskan hantaman buku jemarinya pada pintu kayu tua.
"Assalamualikum!" seru Flo. "Kak Taala! Kak!"
Ceklek...
Pintu berderit terbuka. Menampilkan sosok berambut panjang berantakan membelakangi lampu LED yang temaram.
"Kak Taala?" tanya Flo takut-takut. Ia sudah lama tak bertemu Kak Taala, mereka juga putus komunikasi.
Sosok itu mengangguk. Dan Flo langsung menyerangnya dengan sebuah pelukan erat. Lega sekali. Ia bahkan setengah menangis.
"Syukurlah..." desah Flo. "Aku Flo."
Butuh beberapa waktu sebelum Kak Taala balas memeluknya. Kakak sepupunya itu kemudian menariknya ke dalam rumah. Mengisyaratnya untuk duduk di sebuah kursi berbau apak sementara dia sendiri pergi entah ke mana.
Kak Taala tak pergi lama, hanya satu atau dua menit. Dia kembali bersama sebuah buku catatan kecil dan mengambil tempat di sisi Flo.
Kenapa kamu bisa sampai ke sini?
Kak Taala menunjukkan tulisan itu pada Flo. Memandangnya dengan pandangan bertanya.
"Aku pergi dari rumah."
Kenapa?
Karena menulis dengan tergesa, tulisan Kak Taala jadi tak rapi.
"Aku berantem sama Mama."
Dan Flo mulai menceritakan segalanya. Apa yang terjadi di rumah, bagaimana perjuangannya bisa sampai ke sini, hingga sempat tersasar tadi. Ia mengeluarkan semua unek-unek yang dipendamnya, yang tak berani ia ceritakan pada siapa pun sebelumnya.
"Kakak apa kabar?" tanya Flo, setelah mengosongkan sejuta keluh-kesah. Akhirnya ia menanyakan sesuatu yang normalnya ada di depan sebuah percakapan.
Kak Taala hanya mengangguk, lalu mengangkat dagunya ke arah Flo.
"Selain masalah di rumah, aku juga baik," ucap Flo.
Diam-diam, ia mengamati wajah Kak Taala yang datar, yang tak pernah lagi tersenyum sejak bertahun-tahun yang Lalu. Bekas-bekas duka tinggal abadi di matanya, menghapus sama sekali garis ceria yang dulu selalu membuat Flo iri.
"Kenapa Kakak gak tinggal sama Om atau Tante Kakak lagi?" tanyanya, mendadak. Pengamatannya kepergok si objek.
Gak mau ngerepotin mereka, tulis Kak Taala.
"Mm..." Flo mengangguk-angguk, seraya menggaruk ringan lehernya dengan salah satu ujung jari. Ia betul-betul terkejut saat Kak Taala tiba-tiba menangkap lengannya.
"Kenapa?" tanya Flo, gugup.
Kemudian tangannya diputar oleh Kak Taala dan di hadapankan ke wajahnya. Membuatnya dapat melihat luka dengan darah yang sudah mengering di telapak tangannya. Ia sama sekali lupa soal lukanya.
"Oh iya..." lirih Flo. Setelah melihat luka itu, ia mulai merasakan sakitnya lagi.
Kak Taala melepaskan tangan Flo. Sebagai ganti, ia mengambil pena dan buku kembali.
Sakit?
'Gimana kamu bisa luka?
Di rumah gak ada P3K, besok pagi Kakak antar ke Puskesmas, ya?
Flo tersenyum membaca sederet pertanyaan Kak Taala itu. Senang masih ada yang tersisa dari sepupu favoritnya.
__ADS_1
"Cuma sakit sedikit. Aku gak pa-pa," ia meyakinkan. Walau begitu, gurat cemas tak serta merta hilang dari wajah Kak Taala. Membuatnya tampak lebih hidup dan nyata.
Tunggu di sini sebentar, Kakak mau beresin tempat tidur dulu.
Kak Taala pamit, meninggalkan Flo sendiri. Ia beranjak pergi, menghilang di balik sebuah pintu dekat aquarium besar yang kosong.
Dengan letih, Flo bersandar pada punggung sofa yang keras. Matanya bergerak memindai rumah yang nyaris tak dikenalnya lagi. Sama seperti penampakan luar, semua tampak kusam dan terabaikan. Mendadak ia merasa malu. Tadinya ia mengira hidupnya sudah sangat buruk karena tinggal dengan ibu yang tak perhatian dan skeptis, bersama kakak tiri yang jahat. Tapi kini bila dibandingkan dengan Kak Taala yang tinggal sendiri tanpa perlindungan orang tua di rumah seperti ini, tanpa ada yang bisa diandalkan, kesulitanya terasa bukan apa-apa.
Melamun membuat Flo kembali memgingat kegundahannya. Maka ia pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan menyalakannya, sekedar memgalihkan pikiran. Lalu rentetan notifikasi panggilan tak terjawab dan puluhan pesan singkat dari orang tuanya menyerbu. Ia mengabaikannya begitu saja. Fokusnya tertuju pada bilah pesan lain. Dikirim empat jam yang Lalu.
Farrell Fadillah: Farrell udah dikasih makan, Flo?
Farrell Fadillah: Flo yang di rumah kayaknya udah kangen deh sama Farrell. Aku kasih makan gak mau.
Sudut-sudut bibir Flo terangkat, membentuk senyum kecil. Ia merasa persoalan ikan ****** ini manis sekali.
Farrell dan Flo.
Drrtt... drrtt...
Getar ponsel di tangannya mengejutkan Flo yang tanpa sadar melamun. Ia melihat nama sang penelepon.
Arina.
***
Pagi-pagi sekali Kak Taala sudah membangunkan Flo. Mengajaknya naik sepeda untuk pergi ke Puskesmas. Mereka melintasi jalan tanah yang lengang, menyeberangi jembatan yang membelah sungai kecil berhias bunga-bunga wedelia di kedua tepinya, bahkan melewati rumah lamanya yang sudah dikelilingin ilalang.
Untuk hari ini, Kak Taala izin tak masuk sekolah agar ia tak sendirian di rumah. Sebab kata Kak Taala, tetangga yang baru pindah di seberang rumah itu anak lelakinya agak tertanggu akalnya.
Selama setengah hari mereka berkeliling desa, Kak Taala sama sekali tak ada mengungkit masalah Flo. Sikapnya ini mengingatkannya pada Farrell.
Selain itu, Kak Taala juga tidak membujuknya pulang. Itu mungkin salah satu alasan kenapa ia bisa dekat dan sangat nyaman bercerita pada Kak Taala—bahkan ketika mereka sudah lama tak jumpa dan hilang kontak. Sebab kakak sepupunya itu tak pernah berlagak paling tahu dan paling benar. Kak Taala selalu membiarkannya menentukan pilihannya sendiri, memberinya hak penuh menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi bila ia butuh bantuan, Kak Taala akan selalu ada untuknya.
Flo bersila di atas sebuah akar pohon rambutan yang menonjol, di halaman rumah. Gaun floral yang panjang dan lebar milik Kak Taala—mungkin dulu milik ibunya—memudahkannya dalam posisi duduk ini.
Ia baru saja bersandar ke pohon dan merasa rileks saat sebuah suara asing menyapa.
"Hai."
Flo berpaling. Menemukan sesosok laki-laki berseragam putih-abu, masih dengan ransel yang tersampir di pundaknya. Ditangannya ada seikat bunga wedelia yang sempat dilihatnya dalam penjelajahan kampung tadi.
"Cari Anataala?" tanya Flo, mengira bahwa itu teman sekolah Kak Taala.
"Iya sebenarnya," laki-laki itu ikut bersila di sebelah Flo, "tapi gak pa-pa gak usah dipanggilin."
"Oke." Flo mengangguk-angguk walau bingung. Sebenarnya ia merasa canggung dengan keberadaan laki-laki asing itu di sisinya.
"Ada yang mau disampain?" Ia melirik bunga dipangkuan laki-laki itu.
Laki-laki itu mengikuti arah pandangan Flo. Lalu ia pun menjawab, "Ada. Tapi nanti aku sampain sendiri."
"Kamu dari Jakarta?" tanya orang asing itu.
"Iya," jawab Flo. "Tahu dari mana?"
"Nebak aja," ujar orang asing itu sambil lalu. "Kamu siapanya Taala?"
"Sepupu," balas Flo singkat. "Kamu teman sekolah Kak Taala?" tanyanya.
"Iya. Tetangganya juga. Aku tinggal di depan." Laki-laki itu menunjuk rumah di seberang jalan menggunakan jempolnya. "Baru pindah dari Jakarta."
Jadi ini orang kurang waras itu, batin Flo. Tapi kelihatannya sehat-sehat saja. Apa Kak Taala tadi hanya bergurau? Ia tak yakin. Ekspresi Kak Taala kan minim sekali.
"Aku Akasaf. Nama kamu siapa?"
__ADS_1
"Floriana. Flo."
"Nama kamu bagus."
"Makasih," jawab Flo, kikuk.
"Akhlak juga bagus kayaknya. Gak kayak Anataala, nama bagus akhlak jelek. Galak banget dia, gak kayak kamu, kalem."
Flo memperhatikan, bahwa Aksaf tersenyum saat mengeluhkan sifat Kak Taala. Jelas tak keberatan akan keluhannya itu.
"Tapi kamu suka?" tanya Flo, pelan, spontan.
"Suka? Mm..." Aksaf nampak berpikir. "Mungkin. Yang jelas aku maklum. Setiap orang punya caranya sendiri buat terlihat kuat dan baik-baik aja. Ada yang jadi pendiam dan apatis. Ada yang jadi banyak bercanda dan ketawa, seolah semua cuma lelucon. Ada juga yang jadi galak dan bersikap defensif, kayak Taala."
Mendengar itu Flo yakin bahwa Aksaf sudah tahu perihal tragedi yang menimpa hidup Kak Taala. Memang sulit untuk tak tahu, kejadian itu sangat terkenal. Semua orang di desa tahu, bahkan peristiwa itu diberitakan di radio dan televisi. Setiap Kak Taala lewat di depan gerombolah orang desa, mereka akan mulai membicarakan kejadian itu lagi. Mereka berkata kasihan, tapi berulang kali membuka luka itu tanpa perasaan.
"Kamu tahu... soal..." Flo ragu, bahkan hanya untuk memastikan Aksaf tahu atau tidak mengenai tragedi yang mengguncang hidup Kak Taala terasa sulit. Bagaimana bisa orang-orang desa lidahnya begitu ringan?
"Tahu." Aksaf mengerti. "Orang-orang desa kayaknya ngira itu kejadian yang menarik."
Flo tersenyum kecut. Itu benar. Tragedi hidup orang itu menarik selama tak menyinggung hidup diri sendiri.
Setelah itu keduanya terdiam. Hanya gemerisik angin yang terdengar.
"Taala..." gumam Aksaf.
Flo juga melihatnya. Kak Taala berdiri di teras. Ada handuk tersampir di atas kepalanya, mengerudungi rambutnya masih basah.
Flo mengikuti Aksaf bangkit, menghampiri Kak Taala. Di ujung jemari laki-laki itu seikat bunga tergantung. Akasaf tampaknya sama sekali tak keberatan memamerkan barang bawaaannya seperti yang kerap kali Flo temui di dalam drama Korea.
Dari posisinya, Flo dapat melihat Kak Taala telah mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan sesuatu. Kemudian, ketika Aksaf sampai di hadapan Kak Taala, sebuah kata menyambut tetangga depan itu.
PERGI!!!
Tak tanggung-tanggung, Kak Taala memakai huruf kapital sepenuhnya dan membubuhkan tiga tanda seru. Sungguh sebuah penolakan yang keras.
Flo salut sekali dengan Aksaf yang tetap tenang memberikan bungannya. Padahal wajah Kak Taala sudah sangar seperti itu.
"Aku cuma mau ngasih ini aja."
Kamu do'a-in aku mati, hah?! tulis Kak Taala.
"Mana mungkin."
Aksaf berlutut, mengangkat bungannya. Seperti sesorang yang mengajukan lamaran.
Anehnya Flo merasa malu melihat adegan itu. Maka ia memalingkan wajah. Mengambil langkah menjauh di serambi dengan fondasi cukup tinggi itu. Membiarkan Kak Taala mengambil bunga dari Aksaf. Lalu dengan kejamnya dia merenggut kelopak bunga liar berwarna kuning itu dari batangnya secara kasar.
Terlalu asik menyaksikan drama hate-love relationship membuat Flo tak memperhatikan bahwa ia sudah ada di bibir teras. Dan tanpa peringatan sama sekali, saat mundur sedikit lagi, ia tergelincir. Tubuhnya oleng. Spontan ia berteriak dan menggapai-gapai udara kosong. Hal itu menarik perhatian Kak Taala. Sepupunya itu pun segera berlari mendekat, mengulurkan tangannya mencoba menyambut tangan Flo.
Sayang, semua sudah terlambat. Ketika tangan Kak Taala terlempar ke depan bersama serbuan kelopak bunga, Flo sudah terjatuh...
Jatuh yang tak sakit.
Jatuh yang hangat.
Jatuh yang beraroma akrab.
Flo membuka mata. Seketika iris coklat kopinya berpapasan dengan sepasang netra yang sekelam langit malam.
***
Ini bunga wedelia kalo ada yang gak tahu.
__ADS_1