
Sekolah sudah mulai sepi ketika Flo melintasi halaman untuk pulang. Ini memang kebiasaannya. Pulang ketika sebagian besar murid mungkin sudah sampai di rumah. Ini karena Flo suka lebih dulu mengerjakan PR selepas kelas berakhir. Hal ini sering kali membuat Arina kesal. Menurut sahabatnya, ia kelewat rajin dan jatuhnya jadi menyebalkan. Maka dari itu Arina tak pernah pulang bersamanya meski sedang jomblo (jika punya pacar Arina selalu di antar-jemput). Flo tak masalah, toh memang ia yang selalu menyuruh Arina pulang duluan.
"Flo!"
Flo menghentikan langkah, menoleh ke belakang. Ia menjumpai Genta setengah berlari menghampirinya.
"Mau balik bareng, gak?" tanya Genta, begitu tiba dihadapan Flo. Keduanya pun melangkah seiring.
"Gak usah deh, ngerepotin," balas Flo.
"Enggak ngerepotin kok," sanggah Genta, cepat. "Lo tinggal dekat rumah Arina, kan?"
Flo mengangguk.
"Gue mau lewat sana, jadi sekalian. Gak ngerepotin sama sekali," Genta meyakinkan. "Mau, kan?"
"Ya... udah, deh," Flo mengiyakan. Ia tak punya alasan menolak lagi. Kan malah jadi tak enak kalau ia keukeuh menghindari ajakan Genta.
Genta tertawa. "Jangan kayak terpaksa gitu dong, Flo. Gue gak bakal macem-macem kok."
Wajah Flo memerah. Ia mengibas-ngibaskan tangannyam "Gak—gak gitu."
"Iya, iya."
Flo mengeluh dalam hati. Ia punya alasan kenapa mau menolak ajakan Genta. Nanti di jalan harus membicarakan apa coba? Masalahnya Genta bukan abang gojek yang bisa Flo anggurkan karena memang tugasnya untuk mengantar pelanggan. Nah, Genta perkara lain, laki-laki itu dengan baik hati mengantarkannya pulang, kan tidak enak bila Flo anggurkan.
"Lo ngapain baru pulang?" tanya Genta. "Piket?"
"Enggak," jawab Flo. "Ngerjain tugas."
"Rajiiiin," ejek Genta.
"Bukan gitu. Takut gak sempat kalo udah pulang."
"Sibuk ya..." sindir Genta.
"Sibuk rebahan."
Genta tertawa. Flo menduga laki-laki itu mengira ia bercanda, padahal itu memang kenyataan. Kalau sudah di rumah Flo spesialis rebahan jika tidak latihan balet.
"Kamu sendiri ngapain kok baru pulang?"
"Tadi mau latihan padus cuma batal gara-gara pelatihnya mendadak ada urusan."
"Oh."
Sesampainya di parkiran cuma tersisa beberapa motor, dan salah satunya Flo kenali sebagai milik Farrell. Jadi laki-laki itu belum pulang? Apa ada kegiatan ekskurikuler?
"Ini motornya Farrell, kan?" tanya Flo.
__ADS_1
Genta mengangguk. "Iya," tambahnya. Diambilnya helm yang menggantung pada spion skuter Farrell untuk kemudian disuluhkan pada Flo.
"Eh," Flo tak mengambil helm yang diulurkan Genta, "Emang gak pa-pa?"
"Apanya?" tanya Genta bingung.
"Helmnya," jawab Flo polos. "Kalo dia mau pulang gimana?"
Dua kali. Sudah dua kali Flo hitung Genta tertawa karena ucapannya. Ia mengerti yang tadi mungkin terdengar bagai gurauan, tapi yang barusan apa yang menggelitik coba?
"Farrell udah pulang, dari jam pelajaran kedua malah."
"Bolos?" tebak Flo.
Genta mengangguk. "Biasa kalo hari Senin." Ia menggoyangkan helm di tangannya, memberi tanda pada Flo agar segera menerimanya. "Hari Senin terlalu berat buat mental dan otak Farrell."
Akhirnya Flo menerima helm itu. "Emangnya kenapa?" tanyanya seraya mengenakan helm.
"Kerena pelajaran hari ini itu matematika, kimia, agama, sama geografi," jelas Genta. Ia menaiki motornya lalu memutarnya ke arah keluar.
"Oh kimia," ujar Flo sedih. Kimia kan menyenangkan.
Flo naik di belakang Genta, memegang kedua pundak laki-laik itu sebagai tumpuan. Soalnya motor Genta bukan skuter seperti milik Farrell. Motor ninja Genta membuatnya agak kesulitan untuk naik. Belum lagi roknya yang pendek jadi sedikit terangkat.
Flo tak paham apa Genta memang sudah terbiasa dengan situasi macam ini atau dia memang tipe yang peka, sebab laki-laki itu tak langsung melajukan motor, alih-alih ia malah melepas jaket yang dikenakannya. Lantas menoleh ke belakang sembari menyuluhkan jaket itu.
"Pakek nih buat nutupin rok lo."
Genta tersenyum. "Gue yang makasih."
Flo mengernyit. "Buat?"
Genta kembali menghadap ke depan. "Mau gue anterin," ucapnya. Dan motor pun melaju mendadak, Flo yang belum siap tersentak dan refleks meraih pinggang Genta.
Begitu tersadar, Flo buru-buru mengurai cengkramannya. Lalu ia terdiam, mendadak mulas. Refleksnya tidak bagus.
"Flo," Genta bersuara setelah mereka melaju di jalan raya yang ramai.
"Iya?"
"Minggu depan gue sama Arina diajak pergi sama Farrell, lo mau ikut?" tanya Genta. Ia terdengar sangsi.
Flo tak langsung menjawab. Dalam satu hari ia sudah dua kali diajak dalam acara ini. Ia tahu ia tak pantas merasa begini, tapi tak bisa ia pungkiri ada rasa tak menyenangkan menghampirinya saat diajak hanya agar Arina senang, seperti sebuah keterpaksaan untuk mengajaknya.
"Kenapa?" Mengantisipasi jawaban serupa dengan Farrell siang tadi.
"Apanya?" Genta kebingungan.
"Kenapa kamu ngajak aku?"
__ADS_1
"Karena kita temanan... kan?"
Tertegun Flo. Genta menganggapnya teman. Temannya, bukan teman Arina.
"Kalo lo gak keberatan gue anggap teman," Genta menambahkan buru-buru.
Flo tersenyum. "Kenapa aku harus keberatan?"
"Ya... lo kan anak X.1, sedangkan gue X.5. Hierarki kecerdasan."
"Aku gak sepinter yang kamu bayangin," Flo menanggapi dengan rikuh. Hanya karena ia berada di kelas favorit, orang-orang sering salah paham menganggap ia pandai, padahal ia biasa saja. Sungguh.
"Tapi pasti lebih pintar dari gue."
Flo tak membalas. Ini benar-benar canggung untuk dibicarakan.
"Jadi... 'gimana?" tanya Genta, memastikan.
"Aku gak keberatan jadi teman kamu."
Kecepatan motor mereda. Mereka berhenti saat lambu lalu lintas berubah merah.
Flo melihat Genta memandangnya lewat kaca spion. Lalu laki-laki itu berkata, "Itu artinya 'iya', kan?"
Flo mengangguk.
***
Dengan earphone terpasang di telinga sementara ponsel di tangan, Flo duduk di sebuah kursi di beranda rumah. Berleha-leha. Ibu jarinya bergerak dalam frekuensi dan kecepatan yang tetap, menggeser layar ponsel. Tak ada yang betul-betul ia lihat. Hanya tak punya kerjaan saja. Mau berlajar juga suntuk.
Flo mengangkat matanya ketika melihat pergerakan. Dan didapatinya Fabian—kakak tirinya—melenggang santai. Laki-laki itu tampak berantakkan. Dia sama sekali tak menegur Flo yang memandangnya kebingungan, terus saja masuk ke rumah.
Flo tahu sekarang masih liburan semester para mahasiswa/mahasiswi, tapi baru akhir bulan kemarin Fabian berangkat kembali ke Malang dan tak ada tanda-tanda akan pulang dalam waktu dekat. Apalagi Fabian bukannya suka pulang ke rumah jika itu tak betul-betul mendesak. Alasannya sederhana, Fabian tidak menyukai ibu dan saudari tirinya. Lantas, kenapa sekarang Fabian pulang? Dan semburadul ini? Arina yang sempat naksir Fabian, jika melihat penampilannya sekarang mungkin akan syukuran sebab ia sudah bisa move on.
Terperanjat Flo ketika earphone yang masih menggantung ditelinganya ditarik dengan kasar. Dan sebuah tanya yang menuntut menyerangnya, "Nyokap lo ke mana?"
"Belanja." Flo membenahi posisi duduknya. Menatap khawatir pada kakaknya.
"Ngabisin uang aja kerjaan," omel Fabian.
"Kakak kok tumben pulang?"
"Suka-suka guelah! Ini rumah gue—kalo lo lupa. Dan gak usah sok manggil-manggil 'kakak'. Gue bukan kakak lo!"
Flo terdiam. Seharusnya dia memang tak usah berusaha bersikap ramah. Tujuh tahun semestinya mengajarkannya bahwa itu percuma. Sekeras apapun ia meyakini bahwa suatu saat kakak tirinya akan mau menganggapnya adik, sekeras itu juga kenyataan meyakinkan bahwa itu tak akan terjadi.
"Bilangin ke nyokap lo nanti, transferin gue uang. Gak usah ngadu ke Papa," ujar Fabian, kemudian berlalu begitu saja.
Flo menghembuskan napas. Sejauh ini ia masih sabar. Walau dulu sebelum Fabian kuliah dan masih tinggal di rumah, ingin sekali ia pergi minggat saja. Kakak tirinya itu selalu bersikap kasar padanya dan ibunya. Tak hanya itu, ketika masa nakal-nakalnya, Fabian pernah sangat mengerikan. Mencuri uang tabungannya dan Mama, mengata-ngatai ia dan Mama, serta segala perlakuan buruk lainnya. Sampai rasanya Flo ingin melakukan sesuatu terhadap Fabian, atau setidaknya mengajak ibunya pergi. Tapi pada akhirnya semua itu berlalu ketika Fabian pergi kuliah di luar kota. Dan rumah menjadi lebih tenang.
__ADS_1
Baru saja Flo mau menyandarkan punggungnya kembali, namun bunyi klakson asing mengusiknya. Ia memandang ke arah pintu gerbang, mendapati sesosok lelaki yang menunggangi skuter biru menatap padanya. Ia pikir, laki-laki itu cukup sering mampir di hidupnya yang membosankan belakangan ini.
***