Floriana

Floriana
Bab 15: Pemilik Dasi yang Menghindari


__ADS_3

Tok, tok, tok!


Terdengar suara ketukan di pintu kamar, menyadarkan Flo yang sedang duduk melamun di belakang meja belajarnya, memandang ke luar.


"Flo, makan dulu, Nak," terdengar suara Papa memanggil.


Flo tak menyahut, membiarkannya saja. Hal sama yang juga ia lakukan ketika mamanya memanggil lima menit yang lalu. Hal sama yang telah ia lakukan semenjak pulang ke rumah. Ia mendadak tuli setiap kali orang tuanya mau bicara juga minta maaf. Ia tak menghiraukan segala ajakkan yang diserukan Papa dan Mama. Ia juga tak berbicara pada siapa pun di rumah. Ia sepenuhnya menghindari mereka. Tak main-main, ia sampai berangkat sekolah jauh lebih pagi, makan malam sendiri saat semua sudah tidur, dan pergi ke rumah Arina atau mengurung diri di kamar ketika sedang di rumah.


Kali ini, Flo tidak ingin menyembunyikan kecewanya lagi. Ia lelah. Ia pun tak tahu kapan perasaannya akan membaik. Tapi untuk saat ini, ia ingin sendiri, menikmati orang-orang di rumah merasa bersalah padanya. Itu tidak salah, kan?


Setelah terdengar bunyi langkah menjauh, Flo sekali lagi menatap ke luar jendela. Mengamati pohon dan semak bunga bergoyang diembus angin malam untuk beberapa waktu. Kemudian fokusnya beralih pada pagar putih setinggi dada. Teringat sesuatu.


Ia rindu.


Ia mengakui bahwa ia rindu pada Farrell.


Sudah beberapa hari Flo tak bertemu dengannya, sejak pulang dari rumah Kak Taala. Farrell juga tak lagi menjemputnya atau menghubunginya. Hanya sesekali ia melihatnya sekilas di sekolah—dari jendela, ketika ia lewat depan kelas laki-laki itu; atau ketika upacara bendera. Selain itu, tidak ada temu sama sekali. Mendadak kontak mereka seolah terputus.


Ia tak yakin ini sebuah kesengajaan atau Farrell memang sedang sibuk. Apa pun alasannya, kenyataan bila Farrell yang telah terasa jauh kembali membuatnya menerka-nerka segala kemungkinan untuk dihubungkan dengan kesenjangan temu ini. Mulai dari kebenaran ucapan Kak Farah sampai dengan hadirnya Arina lagi. Yang jelas, semua kemungkinan itu memenuhi kepalanya, membuatnya merasa buruk. Dan insecurity-nya menguasai.


Flo memainkan ujung telunjuknya di permukaan toples berisi ikan ****** berwarna biru. Melihat ikan itu membuatnya semakin merindukan Farrell. Ia benar-benar ingin bertemu laki-laki itu.


"Kamu tahu, aku kangen kamu..." lirih Flo.


Lama ia hanya duduk diam di situ. Menatap ikan yang berenang anggun atau gambar tak kasat mata di punggung tangan kanannya yang terluka atau gelang hijau zamrud di pegelangan tangannya atau status online di bawah nama Farrell di layar ponselnya.


Kadang-kadang terlintas di benak Flo untuk menghubungi Farrell lebih dulu. Tapi saat sudah di depan ponsel ia selalu hilang nyali, mempertanyakan alasannya menghubungi.


Pada akhirnya, Flo jatuh tertidur di kursi. Dan terbangun dengan mendadak keesokan harinya karena dering alarm ponsel.


Masih pukul enam pagi ketika Flo hendak berangkat sekolah. Padahal waktu yang ia butuhkan untuk sampai sekolah dengan berjalan kaki hanya beberapa menit saja.


"Flo."


Suara Mama mengejutkan Flo. Membuat jantungnya bertalu-talu, seolah baru bertemu hantu. Namun ia tak menoleh, meneruskan langkahnya menuju pintu depan.


"Sampai kapan kamu mau marah Mama, Papa, dan Kakak kamu?"


Flo terus saja berjalan, seakan tak mendengar.


"Mama minta maaf, Flo. Kasih tahu Mama apa yang bisa bikin kamu maafin Mama."


Kali ini Flo berhenti. Ia berbalik, menatap wajah sengsara ibunya dari jarak tiga meter.

__ADS_1


"Aku gak marah sama Papa. Aku cuma anak tirinya dan Fabian anak kandungnya, jelas siapa yang dia lebih percaya. Aku juga gak marah sama Fabian, karena dari dulu aku udah benci sama dia dan sekarang makin benci. Aku juga udah gak marah sama Mama, tapi aku belum bisa ngehilangin rasa kecewaku. Rasa sakit dituduh dengan tuduhan menjijikan oleh ibu kandung sendiri itu rasanya menyikitkan, Ma."


"Maafin Mama, Flo..." lirik Mama. Beliau melangkah maju, mencoba mendekati Flo yang seketika mundur. Maka ia berhenti mencoba mendekat.


"Rasa sakitnya gak bisa hilang cuma karena Mama merasa bersalah. Aku butuh waktu buat nyembuhin rasa sakit itu," lanjut Flo. Suaranya tenang, matanya kuyu. "Jadi tolong berhenti desak aku buat maafin Mama. Dan jangan sebuat-sebut soal Fabian di depanku."


Flo berbalik, lalu pergi, menghilang di balik pintu yang ia banting cukup keras. Meninggalkan Mama yang tampak lebih menderita dari sebelumnya.


***


"Flo bisa tolong ambilin buku paket di meja Ibu, di kantor?" tanya Bu Asti, guru pelajaran sejarah.


"Iya, Bu," suhut Flo. Ia pun langsung beranjak keluar kelas. Meniti koridor yang lengang dengan wajah tertunduk lesu.


Saat terdengar bunyi langkah lain selain miliknya, Flo mengangkat muka. Dan di ujung koridor ia melihat Farrell yang melangkah menuju ke arahnya.


Rasa senang terbit begitu saja dari dalam diri Flo, bersamaan dengan riuh kepak kupu-kupu yang biasa menggelitik perutnya. Senyum terkulum di bibir kala jaraknya dan Farrell kian dekat. Tanpa sadar, ia menyelipkan rambutnya yang terurai di belakang telinga. Rambut yang ia urai karena Farrell menyukainya.


Namun sapa dan senyum yang dinanti Flo tak pernah datang. Ketika ia menoleh, Farrell begitu saja melewati sisinya seolah tak melihat apa-apa. Meninggalkan aroma akrab yang mengendap. Dan perasaan hampa bersama sejuta tanya menggerogotinya.


Ada apa sebenarnya?


Apa ia punya salah?


Ia tak mengerti sama sekali.


Ada apa dengan Farrell? Di mana Farrell yang selalu tersenyum dan menyapa ketika jumpa? Mana Farrell yang rela menyusulnya keluar kota bahkan tanpa sempat minta izin pada kakaknya? Mana Farrell yang beberapa hari yang lalu selalu ada di sisi? Mana Farrell yang selalu mengerti dirinya?


Pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu membuat Flo merasa tercekat. Matanya panas. Sumpah, ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.


Dan pertanyaan-pertanyaan itu terjawab begitu saja kemudian. Ketika ia hendak pulang seorang diri setelah sekolah makin sepi. Ia melihat Farrell yang masih menggunakan seragam karatenya membonceng seorang gadis cantik berambut panjang dan bergelombang dengan skuter birunya, keluar dari parkiran. Gadis populer yang sangat cocok bersama Farrell, tak seperti dirinya.


Jadi itulah jawabannya. Satu jawaban yang bisa membungkam segala pertanyaan di benak Flo. Jawaban yang memuaskan, namun menyakitkan.


"Dor!"


Sekejap tubuh Flo bergetar karena terkejut. Ia pun menoleh, menemukan wajah Genta yang tersenyum riang.


"Kenapa?" tanya Flo, pelan.


"Lo yang kenapa?" Genta bertanya balik. "Berdiri bengong di sini?"


Flo menggeleng. "Enggak pa-pa. Aku cuma mau pulang."

__ADS_1


"Lemes banget," ucap Genta. "Sakit?" Ia menyentuh kening Flo dengan punggung tangannya.


Flo menepis tangan Genta, lembut. "Enggak. Cuma capek aja."


"Pulang bareng, yuk," ajak Genta.


"Memangnya kita searah?"


"Enggak, sih. Tapi gue mau ngasih buku Arina yang ketinggalan."


"Mana bukunya? Biar aku aja yang ngasih ke Arina. Dari pada kamu repot."


"Gak repot, kok," sahut Genta cepat. "Gue juga ada urusan lain sama Arina."


"Oh... Ya udah." ujar Flo setengah melamun.


"Ayo jalan," ajak Genta.


Mereka melenggang dalam diam. Flo terlalu malas mendesak otaknya mencari bahan obrolan. Genta juga tampaknya tak keberatan tanpa perbicaraan. Keduanya khusuk dalam kebungkaman. Hanya angin yang terus mengusik ketenangan Flo, tak henti-henti meniup rambutnya, menghalangi pandang.


Di tengah jalan, langkah Flo terhenti mendadak. Sebab sepasang tangan mendarat di pundaknya, menahannya untuk terus melangkah serta berbalik. Ia tahu bahwa itu tangan milik Genta.


"Kenapa, Ta?" tanya Flo, bingung.


"Diam dulu. Sebentar aja."


Flo menurut. Menunggu apa yang mau dilakukan Genta di tengah trotoar di bawah matahari seterik ini. Ia tak lagi bertanya atau berkomentar.


Lalu tangan di pundaknya terangkat, beralih ke rambut. Mengumpulkan helai-helai yang sejak tadi mengganggu. Ia sedikit terkejut mengetahui bahwa ternyata Genta memperhatikan ketidak-nyamanannya, sebab sejak tadi Flo hanya mengabaikannya saja.


"Pakai apa kamu ngikatnya?" tanya Flo, menyentuh simpul di rambutnya, ketika Genta sudah kembali ke sampingnya.


Genta menunjuk dadanya sendiri, tempat dasi seharusnya berada, namun tak lagi ada.


Refleks, Flo mengepalkan tangan yang nyaris sembuh. Mengingat sensasi ketika seutas dasi pernah melilit telapak tangannya agar darah berhenti menitik.


Dan perasaan hampa yang telah coba ia hilangkan kembali lagi.


"Makasih," ujar Flo dengan suara serak.


***


Coba hujat-hujat dia dulu sampe puas karena mendadak hilang dan mengabaikan.

__ADS_1



__ADS_2