
"Bosen, ya?"
Flo menggeleng. Sebenarnya ia bosan, tapi tak enak untuk jujur. Ia sama sekali tak tahu bila menambal ban itu membutuhkan waktu cukup lama.
"Mau dengarin, gak?" Farrell mengangkat sebelah earphone-nya ke arah Flo.
"Eung..." Flo bergumam. Bingung mau menerimanya atau tidak.
Barangkali karena Flo terlalu lama menjawab, Farrell bergerak lebih dulu. Ia bergeser di banggu panjang itu, mempersempit jarak antara dirinya dan Flo. Lalu dipasangkannya sebelah earphone putih itu ke telinga Flo.
Farrell tak tahu, bahwa dampak gerakkannya itu membuat Flo kaku di tempatnya. Pikirannya beku, jantungnya bertalu-tahu, perutnya penuh kepak kupu-kupu. Ia bahkan butuh waktu untuk memahami apa yang diucapkan sang penyanyi, seolah yang digunakannya adalah bahasa asing, padahal nyatanya itu bahasa ibu. Kedati begitu, ia pun menikmati lagu itu setelah beberapa lama kemudian. Suara jernih sang penyanyi, lirik lagu yang puitis, juga melodi yang sederhana, menjadi kesatuan yang apik.
"Tahu lagunya, gak?"
Flo menggeleng.
"Emang gak terkenal sih lagunya. Penyanyinya juga penyanyi indie underrate gitu. Gak banyak yang tahu. Gue juga tahu lagu ini gak sengaja waktu liburan di Jogja, terus jadi suka. Favorit malah," terang Farrell.
"Lagunya bagus," Flo menimpali dengan singkat.
Baik Farrell mau pun Flo hening, sedang bunyi alat-alat di bengkel itu cukup bising, melatarbelakangi lagu yang bermain. Kedunya tenggelam, menikmati sebait lagu bersama sejuknya angin malam.
"Kayaknya mau hujan," ujar Flo setelah beberapa lama kemudian. Matanya terpancang ke langit yang hitam, sesekali dihiasi kilat yang menyambar.
"Iya," sahut Farrell. Ia pun berdiri, melangkah menghampiri pria paruh baya yang memperbaiki ban motornya.
Sementara itu, Flo melepas earphone di telinganya. Diletakkannya benda itu di sisi ponsel Farrell yang tergeletak di atas bangku.
Tak lama, terdengar suara Farrell menyapa telinga," Ayo, Flo." Ia sudah duduk di atas motor. "Tolong sekalian HP gue."
Flo meraih ponsel milik Farrell, membawanya pada si empunya.
"Gue ngebut ya, biar gak kehujanan," Farrell minta ijin kala memberikan helm pada Flo.
"Jangan," cegah Flo. "Bahaya. Nanti kalo ada apa-apa gimana..."
Farrell nyengir. "Ya udah." Ia tampak geli. "Tapi kalo kehujanan gak pa-pa, ya?"
Flo mengangguk sebelum naik ke boncengan. Berhati-hati untuk tak banyak menyentuh Farrell.
"Oke."
Maka kendaraan mereka pun turun ke jalanan. Melaju stabil membelah jalanan yang cukup lengang.
"Flo!" panggil Farrell agak kencang, mengatasi deru angin dan bising mesin di kanan-kiri. Setelah kebungkaman yang terasa satu milenium lamanya.
"Apa?"
"Bisa tolong bukain permen di kantong gue?!" pintanya setengah berteriak, mengatasi deru angin. "Gue ngantuk."
"Iya," balas Flo pelan, ragu-ragu. Ia bahkan tak yakin apa Farrell mendengar jawabannya.
Tangan Flo gemetar saat merayap ke dalam kantong jaket Farrell. Sekali lagi jantungnya berpacu, mengetuk keras barisan tulang rusuk.
Dapat!
Tergesa Flo menarik tangannya kembali begitu menyentuh barang yang dicari. Permen karet rasa blackcurrant.
"Mana, Flo?!" tanya Farrell ketika Flo berkutat membuka permen dengan susah payah, tangannya masih bergetar.
Setelah menghela napas panjang serta berdehem lebih dulu, Flo pun mengulurkan tangan ke depan melewati bawah lengan Farrell. Semula ia berpikir bahwa permen ditangannya akan langsung diambil alih oleh tangan Farrell, nyatanya tidak. Pergelangan tangannya malah diraih, lalu di bawah ke atas hingga ujung jemarinya menyentuh sesuatu yang lembut dan dingin. Permen pun ditarik lepas.
"Tangan lo dingin," komentar Farrell sebelum melepaskan tangan dalam genggamannya.
Flo menarik tangannya mundur. Menyembunyikannya di dalam saku. Ya, tangannya dingin, tapi ia merasa wajahnya panas.
Saat semua mulai reda (degup jantung, panas di pipi, juga gemetar), ganti rintik hujan yang mulai jatuh. Pelan. Awalnya dalam interval yang berjauhan. Namun kemudian jaraknya kian rapat. Sehingga Flo dan Farrell pun mulai kuyup, menerjang hujan yang terus bertambah lebat.
"Flo, kita mampir dulu, ya?!" seru Farrell. "Hujannya deras banget, susah lihat jalan!"
Flo bimbang, mimpir tidak ada dalam rencananya. Tapi ia tahu Farrell benar. Hujan terlalu deras, berbahaya untuk nekat jalan terus.
"Iya!"
"Kita mampir di rumah gue aja, ya?! Dekat dari sini!"
Mampir ke rumah Farrell lebih tak terencana lagi. Ia kira meraka akan mampir di halte atau teras bangunan terdekat, nyatanya tidak. Masalahnya ia bingung, bilang bertemu orang tua Farrell mau bicara apa? Kan canggung sekali.
"Ada Kak Farah di rumah, kok!"
"Iya!" Akhirnya Flo menyetujui.
***
Farrell tak bohong. Rumah laki-laki itu memang dekat sekali dengan lokasi tadi dia minta ijin mampir. Sebuah rumah putih di sudut jalan.
"Kak!" di antara gigil Farrell memanggil. Sayang jawaban tak segera menyahut. "Kak!"
Ujung-ujung jemari Farrell tak sabaran mengetuk pintu. Sesekali dia melirik Flo yang berdiri kaku, kedua tangan terkepal erat.
"Farah!" Kali ini tak ada lagi embel-embel kehormatan dalam seruan Farrell. Mungkin kesal.
"Iya sebentar." Jauh suara jawaban terdengar, teredam pintu dan gemericik hujan.
__ADS_1
"Maaf ya, Flo," ucap Farrell, berpaling pada Flo yang mengangguk memaklumi. "Kakak gue emang rada budek. Keseringan pakai earphone buat belajar bahasa Korea. Pintar enggak, budek iya."
Flo tersenyum tipis sebagai respon. Hujan sederas ini, wajar sih mendadak tuli.
Ceklek...
Pintu terbuka. Tampaklah seorang gadis yang mirip sekali dengan Farrell, hanya saja versi perempuan. Kak Farah—begitu Flo biasa memanggilnya bila di tempat latihan balet.
"Eh, Flo!" Jelas sekali keterkejutan di wajah Kak Farah. Bahkan, alih-alih adiknya yang berdiri tepat di hadapannya, ia lebih dulu menyapa Flo. "Kok, kamu bisa sama Si Monyet ini." Ia mendelik pada Farrell.
"Dasar budek lo. Lama banget bukain pintu," omel Farrell. "Kasihan anak orang kedinginan. Dasar gak punya hati nurani lo."
"Diam bacot lo!" Kak Farah menepis mulut pedas Farrell. Kemudian ia menarik tangan Flo, mengajaknya masuk. "Masuk sini, Flo."
Farrell mengekor di belakang. Bertugas menutup pintu.
"Pinjamin Flo baju lo," ucap Farrell.
"Tahu gue!" balas Kak Farah sewot. Terus menarik Flo menjauh, mendaki tangga.
Flo sendiri memandang kedua kakak-adik itu heran. Bukan tak akur macam ia dan Fabian, bukan pula akur macam Arina dan kakaknya—Aqila. Aneh. Bertengkar, tapi kelihatan saling sayang.
"Santai aja, Flo!" ujar Farrell, membuat Flo menoleh. "Farah baik kok kalo sama orang lain. Cuma sama adek sendiri jahat. Nenek sihir aja berasa ibu peri kalo dibandingin sama dia."
"Jangan dengarin," kata Kak Farah. "Sakit jiwa dia itu."
Flo tersenyum. Tahu itu bercanda.
Setibanya di kamar, Kak Farah langsung menyuruh Flo berganti menggunakan hoodie terusan berwarna coklat. Setelah itu keduanya pun duduk di tepi kasur, dengan tangan Flo yang sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Kakak gak tahu kamu dekat sama Farrell," Kak Farah memulai.
"Gak dekat kok. Farrell temannya, temanku," jelas Flo. "Ini juga gak sengaja pulang bareng Farrell, karena temanku tadi harus pulang duluan."
"Oh..." Kak Farah mengangguk-angguk. "Baguslah. Jangan mau sama Farrell. Gak pantas dia sama kamu. Kamu baik, pintar, berbakat, manis lagi."
Flo tersenyum kaku. Bingung mau menanggapi apa. Walau pun kenal, ia tak terlalu dekat dengan Kak Farah. Terkadang mereka mengobrol di tempat latihan, tapi sangat jarang. Dan mereka tak pernah betul-betul menjadikan Farrell topik pembicaraan. Hanya sepintas lalu, dulu saat ia ditanya bersekolah di mana.
"Sedangkan Farrell apa? Kerjaan motoran mulu. Keliling-keliling. Udah kayak abang ojek online, mending kalo dapat duit."
Flo sih tak masalah dengan hobi motor Farrel, yang mengganggunya hanyalah bahwa dia belum punya SIM.
"Pokoknya Flo, jangan sampai takluk sama rayuan Farrell. Dia mulut doang kayak Dilan, kelakuan sialan. Serius."
Wow. Flo takjub dengan pemilihan diksi Kak Farah. Separah itukah Farrell? Ia sebagai anak MIA kelas favorit tak banyak mendengar gosip semacam hubungan asmara kelas lainnya. Anak-anak kelasnya merasa itu agak... tak penting.
"Hobinya itu ninggalin cewek yang udah baper banget sama dia. Jadi hati-hati."
"Gak perlu hati-hati kok, Kak. Karena Farrell gak suka aku. Kita cuma teman sekolah biasa."
"Nebak aja."
"Kalo pun belum suka sekarang, bisa aja nanti. Kan semua berawal dari teman. Dan kalo nanti jadinya demen, jangan terima dia. Kecuali ada hal yang benar-benar bisa bikin kamu yakin. Oke?"
Meski tak yakin apakah akan ada periode di mana Farrell akan menyukainya, Flo tetap mengangguk.
Siapa dia coba? Ia tak populer, cantik, atau pun menyenangkan. Bila ada Arina di sebelahnya, untuk apa Farrell memandangnya?
"Emang kalian dari mana?" tanya Kak Farah.
Flo menjelaskan ke mana mereka pergi. Cerita singkat sebenarnya, hanya saja karena Kak Farah tipe talkactive, jadi terasa panjang dengan setiap komentarnya per satu kalimat Flo. Dan yang lucu adalah ketika ia menyebut nama Genta, Kak Farah langsung berkata, "Kakak lebih prefer Genta jadi adik dari pada Farrell. Lebih saudara-able dia."
Dengung hairdrayer reda tak lama usai cerita selesai. Ia pun segera berdiri, mengucapkan terima kasih seraya membawa pakaian basahnya pergi. Kak Farah minta maaf tak bisa menemani mengobrol, katanya dia sedang banyak tugas perbaikan nilai dan besok ada ujian. Wajar, sudah kelas dua belas, ia maklum.
Sampai di anak tangga terakhir, Flo bingung mau ke mana. Tak melihat seorang pun. Di mana Farrell berada.
"Di dapur, Flo!" terdengar suara yang diyakini Flo milik Farrel.
Flo mengambil langkah ke kanan, mengikuti sumber suara. Berakhir di sebuah dapur serba putih yang bersih berkilau. Menjumpai Farrell berdiri di belakang konter dapur, menyesap minuman dari gelas bercuping. ujung rmbutnya masih tampak lembab. Meski begitu, laki-laki itu nampak bergaya.
"Duduk," ujar Farrell, menggeser segelas minuman yang berbau coklat.
Flo berdehem sebelum menarik kursi di seberang Farrell. Menunduk. Menyesap sedikit minumannya.
"Dari tadi gue nungguin lo, lama banget. Bolak-balik ngelihatin tangga. Sampai sakit leher." Farrell menyentuh tengkuknya. "Diajakin Kak Farah ngejelek-jelekin gue, ya?"
"Enggak, kok!" balas Flo cepat.
Farrell tersenyum. "Gak pa-pa lagi. Udah biasa. Setiap ada teman yang main ke sini pasti dia semangat banget ngejelekin gue. Genta tuh udah sohib banget sama dia."
"Aku ngeringin rambut dulu makanya lama." Flo memandang Farrell hati-hati. Ia jadi sadar bahwa rambutnya masih terurai, mengingatkannya akan sebuah dialog tentang rambutnya. Membuat kerikuhannya semakin menjadi-jadi.
"Kelihatan. Bagus."
Untuk kedua kalinya Flo berdehem. Ujung kuku telunjuk dan jempolnya saling beradu di bawah konter. "Jadi..."
"Apa?" Farrell menyeringai, menampilkan satu lesung pipi. Menunduk menatapnya dalam-dalam.
"Orang tua kamu ke mana?"
"Kerja. Mereka jarang pulang. Bapak marinir..."
Ah, pikir Flo, itu menjelaskan foto lelaki berwajah galak berbalut seragam yang sekilas ia lihat di ruang tamu tadi.
__ADS_1
"Ibu dokter. Rumah sakitnya jauh dari sini, jadi dia gak bisa pulang ke sini setiap hari."
"Jadi kamu cuma tinggal berdua sama Kak Farah?"
"Sama ada Mbak juga sebenarnya. Cuma dia lagi pulang kampung. Ada urusan. Genta juga kemarin nginap."
"Genta sering ke sini?"
"Sering. Kita udah temanan sejak SD. Jadi udah akrab banget. Dia bahkan udah kayak anggota keluarga. Sekurangnya, Kak Farah lebih berharap Genta yang jadi adiknya."
"Arina juga?"
Sepasang alis Farrell yang tebal namun rapi terangkat.
"Arina sering ke sini?"
"Mm..." Farrell menggaruk sudut rahangnya, matanya melirik ke kiri. Mengingat-ingat. "Gak sering, cuma pernah aja. Waktu gue ulang tahun."
"Oh..." Flo mangut-mangut.
"Ramai-ramai, kok," tambah Farrell cepat. "Sama teman-teman sekelas."
Bingung mau merespon apa, Flo cuma mengangguk. Ia bahkan merasa tak pantas menerima penjelasan itu.
"Mau pulang sekarang? Kayaknya hujan mulai reda. Takut kemalaman. Terus lo malah jadi dimarahin nanti."
Lagi-lagi Flo hanya mengangguk.
"Ya udah, tunggu di depan dulu. Gue pinjam mobil sama Kak Farah."
"Kamu dibolehin bawa mobil?"
"Gak boleh sih, tapi ini kan darurat."
Flo berdiri. "Aku naik taksi aja," putusnya.
"Oke," Farrell menyetujui, setelah beberapa saat tampak bimbang. "Gue pesanin."
"Aku pamit sama Kak Farah dulu, ya?"
"Gue tunggu di depan."
Sayang Flo tidak bisa melakukan niatnya. Ternyata Kak Farah sudah terlelap di kursi meja belajar. Kelihatan lelah. Flo tak enak untuk membagunkannya. Sehingga ia kembali turun, menemui Farrell di luar.
"Masih lama?" tanya Flo, berdiri di sisi Farrell yang sudah mengenakan jaket.
"Sebentar lagi."
Benar saja, tak lama kemudian taksi yang di pesan datang. Farrell seketika membukakan pintu, mempersilahkan Flo lebih dulu sebelum ikut masuk.
"Gak usah dintar, aku bisa pulang sendiri."
"Tahu. Tapi gue mau ngantar. Kan tadi Genta nitipin lo sama gue. Jalan, Pak!" tambahnya pada sopir.
Udara dingin, kelelahan, juga waktu yang kian larut membuat Flo tertidur selama perjalanan. Ketika ia terbangun, mereka sudah tiba di depan rumahnya.
Mengerjap Flo menghilangkan kantuk. Baru menyadari ada jaket coklat menutupi kakinya.
"Udah sampe," ujar Farrell.
Flo memberikan jaket Farrell pada sang empunya, tak lupa menggumamkan terima kasih. Lalu laki-laki itu mengikutinya turun dari mobil. Betul-betul mengantar sampai depan pintu.
"Lo gak akan kena marah, kan?" tanya Farrell pelan.
"Orang tuaku lagi gak di rumah. Ada acara makan malam perusahaan gitu."
"Oh... Syukur deh kalo gak dimaraharin." Farrell kelihatan lega sekali. "Ya udah masuk sana. Istirahat."
"Kamu juga pulang."
Farrell mengangguk mengiyakan. "Gue pulang. Sampai ketemu besok di sekolah."
"Iya. Hati-hati."
Tersenyum Farrell menanggapi ucapan Flo. Ia kemudian berbalik pergi. Tak lama, menghilang tertutup semak bunga.
Flo pun masuk ke rumah. Tidak lupa kembali mengunci pintu.
"Wah... the good girl baru pulang."
Tersentak Flo mendengar kalimat itu. Begitu berputar, didapatinya Kak Fabian berbaring santai di atas sofa. Wajahnya dihiasi seringai puas.
"Kak Fabian..." gumam Flo.
Kenapa Fabian ada di sini? Dia kan seharusnya berada di Malang.
***
Part ini agak terlalu panjang dari yang diharapkan. Semoga gak bosan.
As usual, aku mau ngingetin bahwa setiap komen, vote, ataupun share akan sangat diapresiasi.
Terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu membaca cerita ini. Semoga bisa lebih menarik dan baper lagi ke depannya.
__ADS_1
See u next chapter.
Annyeong!