
Berkat arahan dari Arina, Flo tahu kelas baru dan posisi tempat duduk Farrell. Ya, meski Arina tidak sekelas lagi dengan Farrell di kelas sebelas ini, gadis itu masih berteman dengan Farrell. Karena toh di kelas yang baru Arina menjadi teman sebangku Genta yang notabenenya sahabat super dekat Farrell. Jadi tetap ada lem yang menghubungkan Arina dan Farrell, lem bernama Genta.
Sesampainya di depan kelas XI IPA 4, Flo mendapati ruang itu kosong seperti dugaan dan harapannya. Ia pun masuk, mulai menghitung deretan kursi, mencoba menentukan di mana Farrell seharusnya duduk.
Khusuk sekali Flo mengira-ngira, hingga ia nyaris terjengkang karena terkejut ketika sebuah suara menyapa gendang telinganya.
"Nyariin kursiku?"
Flo menoleh dengan jantung berdebar-debar oleh keterkejutan yang baru menderanya. Tak ada hantu ditemui netranya, hanya sesosok manusia—yang tidak ia sadari dan harapkan berada di sini sepagi ini. Namun, alih-alih reda, kepak jantungnya kian menggila, diiringi mulas yang biasa.
Kini sudah lebih dari tiga bulan lamanya ia tak melihat mata itu berbinar padanya. Lebih dari tiga bulan ia tak mendapati senyum itu tertuju untuknya. Lebih dari tiga bulan ia tak disapa lekuk lesung pipi memikat dari lelaki bernama Farrell itu. Dan ia sama sekali tak menyangka bila di bawah amarah dan kecewanya, masih ada perasaan rindu yang begitu menggebu pada laki-laki itu.
Dua hari yang lalu, saat mereka berjumpa di depan sekolah, Farrell tak tampak seperti ini. Ketika itu Farrell seperti pesakitan yang mengakui kejahatannya, namun sekarang dia tampak seperti teman lama yang tak pernah menoreh luka.
Farrell bergerak ke hadapan Flo. Kemudian ia bertanya, "Mau balikin ini, kan?" Lalu ia pun mengambil alih dua benda miliknya dari tangan Flo. "Makasih," tambahnya.
"Makasih," ucap Flo, bersuara jua. "Maaf lama balikinnya."
"Gak pa-pa," balas Farrell, dengan senyum yang kian lebar. "Aku juga minta maaf."
Sebagian diri Flo yang dirasuki amarah meneriakinya agar segera minggat dari sana, tapi separuh dirinya yang kemarin cukup terjamah catatan permintaan maaf Farrell mencegah dirinya untuk melarikan diri. Sesudut dirinya itu memerintahkannya berbicara, meminta penjelasan atas alasan Farrell kembali mencoba menginvasi hari-harinya.
"Enggak ada yang perlu dimaafin," ujar Flo, menunduk, tak berani menatap mata lawan bicaranya.
"Ada."
Flo diam saja, menunggu.
"Maaf aku pernah menghilang dan menghindar. Aku gak ada maksud buat bikin kamu baper dan ninggalin kamu gitu aja."
Ingin rasanya Flo membantah bahwa ia tak terbawa perasaan demi egonya, tapi ia tahu itu percuma. Dengan membaca catatan-catatan yang ia tempelkan pada permukaan toples ikan ****** kemarin, Farrell pasti sudah mendapatkan verifikasi atas ucapannya barusan.
"Aku terpaksa."
Farrell terpaksa meninggalkannya demi mantannya? Flo meragukan hal itu.
"Aku benar-benar suka sama kamu saat itu, Flo..."
__ADS_1
Flo membeku. Jantungnya melompat kian laju. Diperutnya, kupu-kupu menari kian menggebu-gebu. Seluruh darah di tubuhnya pun ikut bereaksi, mereka berlari menyerbu wajahnya tanpa terkecuali.
"Juga saat ini."
Setelah sekeras mungkin mencoba menenangkan diri, Flo mengangkat wajah. Dan seketika matanya bersirobok dengan tatapan Farrell yang terhunus dalam. Dalam kegugupan dan kebingungan, Flo nemerka-nerka apakah Farrell sekali lagi mempermainkannya. Namun hanya ditemuinya ketulusan di sana. Membuat Flo bergidik ngeri ketika mendadak sosok Karina terbayang dibenaknya. Kenapa ia sering sekali lupa pada fakta bahwa Farrell kini dimiliki seorang gadis sempurna?
"Cuma waktunya yang gak tepat saat itu."
"Karena kamu balikan sama mantan kamu?" tanya Flo, spontan. Tergorokannya terasa tercekat kala melontarkan tanya itu.
"Balikan?" tanya Farrell, dia tampak bingung dan terkejut sekaligus. "Sama siapa?"
Flo diam. Ia tak ingin menjawab pertanyaan yang sudah jelas.
"Flo?"
"Karina," cicit Flo. Kemudian ia memalingkan wajahnya.
"Aku gak balikan sama Karina, Flo. Aku memang pernah pacaran sama dia pas SMP, tapi itu udah berakhir lama," tutur Farrell. "Karina juga udah punya cowok, dan cowoknya teman aku—Alby. Kamu bisa tanya sendiri ke Karina kalo gak percaya."
Jangan bilang ia salah paham selama ini?
"Kamu tahu dari siapa aku balikan sama Karina?"
Dari siapa?
Flo melihatnya sendiri. Hari itu, di lahan parkir. Ia melihat Farrell membonceng Karina dan kemudian mengetahui kisah lama tentang mereka berdua. Saat itu—saat ia butuh alasan atas sikap Farrell, ia langsung menyimpulkan bila the-most-wanted-couple itu kembali bersama. Ia tak salah, kan? Alasan apa coba yang lebih bagus dari itu?
"Aku lihat sendiri."
"Ngeliat apa?" tanya Farrell, serius.
"Ngeliat kamu sama Karina di parkiran, terus kamu pergi sama dia." Setelah diucapkan, Flo menyadari betapa konyol jawabannya itu.
Jelas tergambar pergolakan batin di wajah Farrell, antara kasihan dan ingin tertawa. Membuat Flo yang menyaksikannya malu luar biasa.
"Berapa kali kamu lihat aku pergi sama Karina?" tanya Farrell, mengulum senyum.
__ADS_1
"Sekali," jawab Flo.
"Kalo pergi bareng sekali artinya pacaran, terus hubungan aku sama kamu itu apa? Kita sering pergi bareng, bahkan aku pernah nyusulin kamu ke luar kota. Berarti kita harusnya lebih dari pacaran, dong?"
Flo terdiam. Logikanya, itu benar.
"Tapi hubungan kamu sama Karina dan hubungan kamu sama aku itu beda. Kamu sama Karina pernah lebih dari teman."
"Dan aku sama kamu akan lebih dari teman," ucap Farrell, menegaskan kata 'akan'.
Lagi, Flo terdiam. Kebingungan. Lantas, bila ia salah paham, apa alasan Farrell menghindarinya? Mengapa tadi dia mengatakan waktu mereka tak tepat?
"Terus kenapa kamu menghindar kalo bukan karena Karina?" tanya Flo, memberanikan diri.
Kali ini, gantian Farrell yang terdiam. Dia tampak terjebak dalam dilema berat.
"Aku gak bisa bilang," ujar Farrell, berat. "Aku harus jaga rahasia."
Flo menatap Farrell dingin. Jadi maksud Farrell, dia mengharapkan Flo memaafkannya begitu saja tanpa perlu mendapatkan alasan dan penjelasan yang layak atas tindakannya?
"Tapi percaya, Flo, alasanku menjauh dari kami sebelumnya bukan karena Karina atau cewek mana pun. Aku cuma terjebak janji yang harus aku tepati, cuma itu."
"Janji apa?" tanya Flo, lebih bingung lagi.
"Aku gak bisa bilang, Flo."
"Sama siapa?" desak Flo.
"Maaf, Flo... aku gak bisa bilang." Farrell menggeleng dengan putus asa.
"Kalo 'gitu maaf, aku juga gak bisa maafin kamu tanpa ada alasan dan penjelasan yang layak, Rell."
"Oke, kalo gitu, gak usah maafin aku. Kita lupain aja semuanya, kita mulai dari awal."
Lebih dingin lagi Flo membalas, "Aku gak bisa pura-pura amnesia." Kemudian ia berpaling dan melenggang pergi meninggalkan Farrell yang tak bergeming.
***
__ADS_1