Floriana

Floriana
Bab 19: Toples Farrell


__ADS_3

"Maaf butuh selama ini buat nyapa kamu lagi."


Flo masih terpaku.


"Flo," panggil Farrell.


Mengerjap Flo, sadar dari lamunannya. Dan mendadak ia merasa marah, lupa pada catatannya kemarin. Kemudian tanpa bicara apa pun ia melanggang pergi begitu saja. Melewati sisi Farrell, di mana aroma yang begitu akrab menguar demikian pekat. Aroma yang membangkitkan kenangan-kenangan yang membuatnya semakin tak keruan.


Hap!


Tangan Flo ditangkap Farrell. Menahannya untuk terus melangkah.


"Flo, ada yang mau aku omongin sebentar," pinta Farrell, lembut. Membujuk.


Flo menoleh. Dingin ia berujar, "Aku buru-buru." Kemudian ia pun menyentakkan tangannya hingga genggaman Farrell yang mengendur terlepas. Lalu ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Ketika memutuskan untuk meninggalkan Farrell, Flo waswas laki-laki itu akan mengejarnya. Namun setelah sepuluh langkah ia lemparkan, kekhawatirannya betul-betul mengkhianati. Farrell membiarkannya pergi begitu saja. Ada setitik rasa kecewa timbul dibenak Flo akan kenyataan itu. Ada apa dengannya coba?


Waktu yang Flo butuhkan untuk sampai di rumah lebih cepat dari biasanya. Ia memang memburu langkahnya. Ingin segera mencecar dirinya atas sikap dan pikirannya yang tak sinkron.


Setibanya di kamar, ia menghempaskan bokongnya di kursi belajar. Mengusap kasar wajahnya. Kemudian ganti menjambak rambutnya sendiri. Ia begitu frustrasi.


Aku kenapa sih?! Ia berteriak dalam benaknya, dengan tangan yang masih tersangkut di rambut panjangnya, serta mata yang memandang tanpa tujuan keluar jendela kaca. Kenapa aku marah? Karena Farrell ngejauhin aku buat cewek lain? Tapi itu kan haknya dia. Aku aja yang **** bisa sampe baper. Padahal Farrell cuma nganggep aku teman. Gak lebih.


Flo menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Mengetuk-ngetukkan keningnya pelan pada permukaan kayu yang keras. Di mana pada setiap ketukannya, ia mengumpat dirinya sendiri.


Tuk.


"****, cuma teman."


Tuk.


"****, cuma teman."


Tuk.


"****, cuma teman."


Begitu terus hingga sebuah kesadaran menghampirinya. Menerjangnya bagai badai. Membuat badannya kembali tegak.


Cuma teman.


Benar.


Tapi kalo kita berdua cuma teman, terus kenapa Farrell ngejauhin aku, sedangkan Arina enggak? Kenapa Farrell menghindari aku sejak balikan sama mantannya tapi masih bersikap biasa sama Arina? Padahal aku sama Arina kan statusnya sama. Cuma teman.


Benak Flo hening untuk sementara. Tak lagi bermonolog ria. Pikirannya bekerja keras, sibuk menerka-nerka. Hingga sebuah kesimpulan muncul di benaknya.


Farrell memang niat bikin aku baper... Cuma buat main-main. Dan begonya aku kemakan sama semua ucapan dan perlakuan manisnya.


Ia pun mau tak mau teringat pada peringatan Kak Farah.


"Hobinya itu ninggalin cewek yang udah baper banget sama dia. Jadi hati-hati."


Kemarahan Flo yang sempat padam kembali berkobar. Ia pun menjambret beberapa kertas yang menempel pada permukaan toples ikan sekaligus. Memperlihatnya sebidang kaca yang sudah lama tersembunyi. Menampilkan ikan ****** berwarna biru yang berenang tenang tanpa peduli pada chaos-nya perasaan Flo saat ini.


Melihat ikan itu, secercah perasaan sedih menyelinap memeluk amarahnya. Membuat matanya terasa ditusuk-tusuk bersama panas yang membuat kristal bening mulai menggenang di pelupuk mata. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri, marah pada perasaannya sendiri. Mengutuk hatinya yang terlalu mudah jatuh. Membeci saat sepenuhnya menyadari—setelah semua kekecewaan ini—bahwa perasaan sukanya tak serta-merta luruh begitu saja.


"Aku benci banget sama kamu," ujar Flo pada ikan ******. Menghapus sebulir air matanya yang menggoreskan jejak di pipinya.


***


"Mau nitip apa?" tanya Arina, setibanya di kamar Flo. Dia sudah berseragam lengkap, siap berangkat sekolah.


Tadi Flo memang meminta Arina mampir sebentar karena ada yang mau ia titipkan. Maka dari itu Arina kini ada di kamarnya.


Dengan tangannya yang lemas, Flo merogoh ransel sekolahnya. Wajahnya masih pias. Panasnya pun belum turun banyak. Itulah sebabnya ia tak berangkat sekolah hari ini. Ia demam dan asam lambungnya naik. Sejak semalam ia menggigil dan muntah-muntah hebat. Rasanya, sakitnya kali ini dadakan sekali, tanpa isyarat sama sekali.


"Ini," ucap Flo, lemah. Menunjukkan sehelai dasi dan selembar scarf biru yang bodohnya lupa ia kembalikan ketika dihadang laki-laki itu kemarin. Tapi mana sempat, sih, kemarin ia kan begitu tergesa pergi, antara benci atau takut hilang kendali.


Arina mengambil dua benda itu dari tangan Flo seraya menatapnya dengan menyelidik.


"Punya siapa?"


"Farrell," ujar Flo. Bersama dengan jawaban itu keluar dari mulutnya, perutnya bergejolak. Bukan karena ingin muntah, melainkan mulas. Seperti ada yang meremas lambungnya. Sensasi serupa yang dialaminya ketika bertemu dengan Farrell.


Alis Arina terangkat. "Gue kira kalian punya masalah apa gitu. Soalnya kalian kayak saling menghindari. Tapi kok barang Farrell ada di lo? Atau kalian backstreet?"

__ADS_1


"Backstreet apaan," bantah Flo. Ia bergerak kembali ke ranjangnya. Menenggelamkan diri dalam hangatnya kasur dan selimut. "Itu barang lamanya. Udah lama banget sama aku, lupa balikin."


"I see."


"Tolong ya, Rin," pinta Flo.


"It's ok." Arina mengangkat bahunya. "Ya udah kalo 'gitu gue berangkat sekolah dulu. Kasihan bebeb Januar nungguin." Ia menyengir. "GWS, Flo," tambahnya. Dicomotnya sepotong apel di atas nakas sebelum beranjak keluar.


"Thank you," balas Flo, parau.


Sepeninggal Arina, Flo melanjutkan lagi tidur ayamnya. Ia bergelung di bawah selimut, mencari posisi ternyaman bagi setiap sendinya yang pegal.


Hingga kemudian, tidur ayam itu jatuh ke fase tidur nyenyak. Membawakannya serangkum mimpi yang random dan melelahkan: mimpi berlari tanpa tujuan dan tanpa akhir, mimpi menangkap gumpal-gumpal cahaya yang tak mampu ia genggam, mimpi kakinya dibelit sulur hingga ia jatuh terjerembap tanpa bisa bangkit lagi, dan mimpi-mimpi setipe itu lainnya. Hanya ada satu mimpi yang berbeda, yang terasa nyata; ia bermimpi melihat Farrell, mengenggam tangannya. Aneh sekali kan? Itu satu-satunya mimpi yang tak membuatnya lelah dan putus asa. Malah, mimpi itu terasa menenangkan.


Ketika adzan zuhur berkumandang, Flo tersentak, ia terjaga dari mimpinya. Mendapati dirinya mandi keringat di bawah selimut pada pukul dua belas siang dengan keadaan AC mati. Ia pun menyingkapkan selimut kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang. Masih berupaya menenangkan diri dari kontrasnya dunia mimpi dan nyata.


Selewat benerapa waktu, Flo meraba keningnya. Sudah tak terlalu panas, tapi kepalanya masih pusing.


"Kamu udah bangun."


Flo menoleh ke sumber suara, melihat Mama melenggang melewati ambang pintu seraya membawa sebuah nampan di kedua tangannya.


"Udah mendingan?" tanya Mama, seusai beliau meletakkan nampan di atas nakas. Nampan berisi semangkuk sup ayam, sepiring nasi beserta segelas air putih. Melihatnya saja Flo mual.


Flo mengangguk.


"Biar Mama cek dulu."


Mama menusukkan termometer ke telinga Flo. Selang beberapa detik beliau mengeluarkannya lagi. Di sana tertera angka 37°. Hampir normal.


"Syukur udah turun," ucap Mama. "Ya udah, makan dulu. Habis itu minum obat."


Mendengar kata makan, asam lambung Flo langsung naik. Tak ada tanda-tanda bila acara makannya akan berjalan lancar tanpa diselingi pergi ke toilet untuk muntah.


"Aku mau mandi dulu aja," ucap Flo. "Gerah. Risih banget."


"Ya udah. Mama tinggal dulu kalo gitu. Habisin nanti makanannya," kata Mama, beranjak dari sisi tempat tidur.


"Iya," balas Flo.


Flo terpaku. Napasnya tertahan secara otomatis.


Farrell?


Apa yang dilakukannya di sini?


"Lama dia tadi nungguin kamu."


Tanpa diperintah, mata Flo bergerak melirik kursi kosong di dekat kakinya yang tadi ia abaikan.


"Nunggu di mana?" tanya Flo.


"Mama suruh dia nunggu di sini. Karena dia mau ketemu kamu, mau ngomong penting katanya."


"Mama... Bukanya Mama..." Flo mendadak ragu bertanya, ia tak ingin mengingat kembali kejadian tiga bulan yang lalu. Dadanya masih nyeri setiap kali mengingat kejadian itu.


"Kayak yang kamu bilang, Mama seharusnya percaya kamu, karena kamu anak Mama. Kamu belum pernah sekali pun mengecewakan. Selain itu, Mama juga percaya sama Farrell sejak dia pergi nyusul kamu. Mama yakin dia anak baik dan gak akan macam-macam. Lagi pula, pintu kamarnya tetap Mama buka."


Mata Flo terasa panas. Ia mengalami serangan rasa haru. Senang rasanya mendengar Mama memercayainya.


"Kapan Farrell datang?" tanya Flo.


"Sekitar jam sembilan. Katanya pulang cepat, ada rapat guru."


"Terus dia pulang jam berapa?"


"Satu jam-an yang lalu."


Dua jam. Dua jam Farrell hanya menungguinya tidur. Pikiran itu membuat perut Flo mulas dan degupnya jantungnya meliar penuh suka cita tanpa ia kehedaki.


"Mama suruh bangunin kamu, tapi dia gak mau. Katanya kamu kelihatan nyenyak banget."


Selepas Mama pergi, Flo melangkah menuju kamar mandi dengan pikiran penuh. Jika Farrell memang ada di sini sebelumnya, apa jangan-jangan mimpinya tetang Farrell tadi nyata? Jangan bilang ia betul-betul mengnggenggam erat tangan laki-laki itu.


Flo mengangkan tangan kanannya. Melihat telapak yang ia pakai untuk mendekap tangan Farrell dalam mimpinya tadi.


Wah...

__ADS_1


Ia menganggeleng-gelengkan kepalanya. Mana mungkin. Itu pasti cuma mimpi. Gila sekali bila ia benar-benar menganggam tangan Farrell setelah kemarin ia berlagak dingin pada laki-laki itu.


Lama Flo mengahabiskan waktu di kamar mandi. Setelah selesai, ia solat zuhur sebentar sebelum mulai menyiram lambungnya dengan semangkuk sup ayam dan minum obat.


Sudah hampir pukul dua ketika Arina merangsek masuk ke kamarnya, saat ia sedang menandaskan segelas air putih.


"Flo," ujar Arina, nadanya seperti orang mengadu. "Si Farrell gak mau gue yang balikin dasi sama scarf-nya. Dia mau nerima kalo lo yang balikin." Ia menempati kursi di mana Farrell pernah berada beberapa jam yang lalu. "Padahal gue udah bilang lo lagi gak sekolah karena sakit. Tapi dia tetap gak mau terima. Dia malah bilang balikinnya nunggu lo sembuh aja."


Flo mendesah. Kenapa Farrell jadi ribet sekali, sih?!


"Kayaknya, sih, itu cuma akal-akalannya aja biar bisa ketemu lo," Arina berspekulasi. "Lagian, gue heran, lo berdua punya masalah apa, sih, sampai saling menghindar?"


"Gak punya masalah apa-apa," ucap Flo, menerima dasi dan scarf yang diulurkan Arina. "Buktinya, kata kamu dia pengen aku sendiri yang balikin dasinya."


"Ck!" Arina berdecak. "Iya memang, tapi itu baru sekarang—hari ini. Sebelumnya kalian saling menghindari, kan?"


Flo diam saja. Ia tak ingin bercerita tentang sesuatu yang sudah berlalu.


"Ya udahlah kalo gak mau cerita." Arina berdiri. "Gue pulang aja, tidur. Capek."


"Makasih, Rin," ucap Flo. Ia merasa agak bersalah.


"Iya," ujar Arina, melangkah menjauh.


Flo memperhatikan Arina yang berjalan gontai memunggunginya. Ujung kemeja putihnya separuh keluar dari pinggang rok yang mekar. Dia betul-betul tampak kelelahan, padahal tadi pulang cepat.


"Eh, Rin!" panggil Flo.


"Mm?" Arina menoleh.


"Tadi guru rapat apa?"


"Rapat?"


Flo mengangguk.


"Gak ada rapat. Sujud syukur gue kalo ada rapat guru tadi."


"Gak pulang cepat?"


"Boro-boro," keluh Arina. Ia pun pergi melanjutkan langkahnya.


Farrell bohong, pikir Flo. Dia bolos sekolah untuk menjenguknya.


Tapi kenapa dia harus melakukan itu?


Apa mau Farrell sebenarnya?


Tiga bulan lalu dia mendadak hilang, kita mendadak datang seolah tidak ada jeda waktu yang panjang menjauhkan mereka.


Flo menatap dasi dan scarf di tangannya. Lantas ia bangkit berdiri, menuju ranselnya di atas meja.


Entahlah, ia tak mengerti Farrell, ia juga akan berusaha untuk tak peduli. Besok ia akan berusaha mengembalikan barang-barang laki-laki itu tanpa melakukan banyak interaksi, lalu sudah, itu saja. Ia akan kembali ke sudutnya, lanjut menjauh dari riuh Farrell yang pernah membuatnya luruh.


Sayangnya, rencana itu sudah mendapat cobaan saat matanya bersirobok dengan toples Farrell yang nampak lain dari kemarin. Di sana—menutupi kekosongan yang ia ciptakan kemarin—ada catatan-catatan dalam tulisan tangan yang beda dari tulisannya tertempel pada toples kaca.


Flo mencabut salah satu note, lalu terus bergantian mecabut kertas lainnya. Membuat matanya panas. Membuat dadanya terasa sesak.


Kamu gak ****, Flo. Aku yang ****.


Kamu gak konyol.


Semua itu nyata.


Jangan lupain aku dulu.


Jangan lepasin lagi lumba-lumbanya.


Spontan Flo mengangkat tangan kanannya ketika membaca pesan tentang mamalia laut itu. Dan benar saja, di sana, tergantung pada gelang hijau zamrud yang melingkari pergelangan tangannya, sebuah gantungan metalik berbentuk ikan paus—yang pernah ia kira lumba-lumba.


Ia terhenyak di kursinya. Tak menyangka Farrell masih mengingat memori remeh itu. Ia lebih tak menyangka lagi atas kenyataan bahwa beberapa saat yang lalu Farrell ada di kamarnya ini, memasangkan gantungan gelang yang ia jatuhkan berminggu-minggu yang lalu.


Flo meraih lembar terakhir catatan yang ditinggalkan Farrell, lantas membacanya. Sebuah kalimat singkat, hanya tiga kata, yang membuat hujan kembali luruh dari pelupuk mata.


Maaf, pernah hilang.


***

__ADS_1


__ADS_2