Floriana

Floriana
Bab 14: Di Atas Bus


__ADS_3

Mari mulai bab ini dengan dimples Farrell dan Flo.



 



 


***


Flo menurunkan tangannya yang semula melambai keluar jendela, ketika bus bergerak kian jauh meninggalkan stasiun di belakang. Kak Taala dan Aksaf yang mengantar mereka tak tampak lagi sosoknya.


"Aksaf tadi minta nomor handphone kamu sama aku, terus aku kasih. Gak pa-pa, kan?" tanya Farrell, di sisinya.


Flo mengangguk saja. Pikirannya masih tertinggal di desa bersama Kak Taala yang tak tega ia biarkan sendirian. Namun ia juga tak berdaya untuk membawanya pulang karena ia tinggal di rumah ayah tirinya, bukan milik sendiri.


"Sebenarnya aku yang keberatan."


"Kenapa?" Flo mengernyit pada Farrell.


"Takutnya nanti dia dekatin kamu."


"Ya gak mungkinlah," bantah Flo. "Aksaf kayaknya suka sama Kak Taala."


"Ngomong-ngomong soal Kak Taala kamu itu," ujar Farrell, "dia itu... bisu?" tanyanya hati-hati. Wajar, mengingat itu topik yang sensitif.


"Dia fobia bicara karena trauma masa kecilnya."


"Separah itu?"


Mengangguk Flo. "Dia ngelihat waktu orang tuanya dibunuh."


Farrell ternganga, tak bisa berkata-kata. Flo tahu Farrell tak menyukai Kak Taala karena suatu alasan tertentu. Mungkin karena sikap dingin Kak Taala atau mungkin yang lainnya. Tapi mengetahui fakta ini barangkali bisa membuat Farrell mau lebih mengerti.


"Fobianya bisa disembuhin? Ada kemungkinan dia bisa ngomong lagi?"


"Mungkin. Setahu aku dia pernah ditangini sama psikolog selama setahun penuh, tapi karena gak ada kemajuan, pengobatannya dihentikan."


Pembicaraan mereka mengenai Kak Taala berhenti di sana. Dalam kebungkaman, mereka sama-sama merasa topik itu terlalu kelam. Cukup di luar bus saja yang kelabu, tak perlu mereka membawanya masuk.


Kembali Flo berpaling ke jendela. Mengamati awan-awan gelap berarak. Menyembunyikan matahari yang belum lama naik. Ia menduga tak lama lagi awan-awan itu akan ambyar, luruh menjadi hujan.


"Flo, lihat deh," ucap Farrell, sekali lagi menarik perhatian Flo.


Flo melihat ke mana arah Farrell memandang. Tak sulit menemukannya. Sebab objek itu bergerak ke arah mereka.


"Lima ribu tiga! Lima ribu tiga!" penjual asongan yang belum lama naik bus berteriak menjajakan jualannya.


"Mau itu gak?" tanya Farrell, sumringah. Seolah melihat untaian tahu, telor puyuh, kacang goreng, rujak buah, manisan, keripik, dan sejumlah camilan lain begitu menggiurkan.


Flo mengangguk, senang melihat antusiasme di wajah Farrell.


"Bang, Bang!" Farrell memanggil si pedagang yang langsung mendekat.


"Flo, mau apa?"


"Dipilih Neng, yang banyak. Mumpung di bayarin si Aa," ujar si pedagang.


Seraya mengulum senyum karena panggilan tukang asongan itu untuk Farrell, Flo mendekat ke arah laki-laki di sisinya agar dapat meraih jajanan yang diiiginkannya.


"Ini semua harganya sama?" Flo memastikan.


"Iya, Neng. Pukul rata, lima ribu tiga."


Flo pun menarik sebungkus manisan mangga, telur puyuh, dan tahu goreng. Hanya lima ribu.


"Itu aja?" Farrell bertanya.


"Iya."


Lain dari Flo, Farrell tak main-main memborong dagangan penjual asongan itu. Dia mengambil segala macam, menghabiskan uang lima puluh ribu. Bayangkan, dua puluh tujuh bungkus (tak termasuk milik Flo)!


Flo tak yakin Farrell memang mau memakan semuanya atau ia hanya excited melihat semua jajanan itu. Yang jelas matanya berbinar-binar.


"Bolos sekolah ya, Neng?" tanya si penjual kala Farrell mengambil uang di dompetnya.


Flo mengerling rok abunya dan celana abu Farrell. Mereka sekarang memakai seragam sekolah, hari juga masih belum terlalu siang, wajar kalau orang-orang mengira mereka bolos.


Sebelum Flo bisa menjawab, Farrell lebih dulu menyahut, "Enggak, Bang. Mau study tour tapi ketinggalan bus, makanya ini mau nyusul."


Lacar sekali Farrell berbohong, pikir Flo. Ekspresinya santai, seolah memang begitulah keadaanya. Walau benar mereka tidak membolos, tapi mereka juga tidak study tour.


"Oh gitu."


"Ini uangnya." Farrell memberikan uang pas.


"Yak! Terima kasih."


Sepeninggal si penjual asongan yang mulai berkeliling bus menawarkan dagangannya pada penumpang lain, Farrell menoleh pada Flo, nyengir.


"Kenapa kamu bilang kita mau study tour?" tanya Flo.


"Tiba-tiba kepikiran aja. Daripada kamu dikira bolos."


"Aku gak peduli dikira bolos, gak kenal ini."


"Iya juga, sih..." suara Farrell menghilang di ujung kalimat. Ia mulai asik mengupas sebungkus telur puyuh seraya sesekali mengunyah tahu goreng.


Flo pun mulai menikmati jajanannya. Memilih manisan mangga untuk disantap pertama.

__ADS_1


"Ini enak," ujar Flo, spontan, pada gigitan pertama.


"Masa?" tanya Farrell.


"Iy..." Jawaban Flo tak pernah usai. Ia begitu terkejut oleh gerakan Farrell yang mendadak mendekatkan wajahnya, menyambar setengah iris mangga sisa gigitannya.


"Eh-hm," Farrell mengangguk setuju pada pujian Flo, di antara kunyahannya. "Enak."


Flo berdehem, menghilangkan sekat yang tersangkut ditenggorokannya hingga ia sulit bernapas. Ujung jarinya yang sempat bersentuhan dengan pipi Farrell pun masih bergetar. Untuk menyamarkan kegugupannya, Flo lanjut makan, berpura-pura menikmati mangga yang kini sudah terasa hambar. Sementara itu Farrell tampak santai-santai saja, sama sekali tak menyadari ia baru saja membuat Flo hampir kena serangan jantung.


"Kamu mau tahu gak kenapa aku suka banget sama jajanan di bus 'gini?" Farrell bertanya.


Flo hanya mengangguk.


"Dulu aku juga pernah kabur dari rumah," kenang Farrell.


"Oh, ya?" Flo tertarik.


"Iya. Waktu umur 9 tahun. Jauh lebih kecil dari kamu sekarang." Farrell menukar telur puyuh yang sudah ia kupas dengan milik Flo yang masih bercangkang. Gerakannya ringan, seakan itu hal yang lumrah—jelas untuk Flo tidak. Seraya melakukan itu, ia tetap bercerita. "Aku naik bus sendirian, gak tahu bus yang tujuannya ke mana. Pikiranku dulu yang penting naik bus supaya bisa pergi yang jauh. Terus pas dimintain ongkos, aku gak punya uang lagi. Uangku habis buat naik taksi ke terminal. Aku dimarahin habis-habisan sama kernetnya."


Flo sulit membayangkan anak umur sembilan tahun naik bus sendiri tanpa tujuan. Memikirkan kemungkinan bila Farrell kecil diculik membuatnya ngeri.


"Terus 'gimana?"


"Ada pedagang asongan kayak tadi yang bayarin ongkosku dan ngasih aku banyak jajanan begini." Farrell menunjuk sekantong belanjaan di pangkuannya. "Dia juga nanyain aku mau pergi ke mana dan ngasih tahu kalo ada apa-apa aku disuruh pergi ke kantor polisi soalnya dia gak bisa nemenin karena harus jualan."


"Baik banget," sahut Flo.


"Iya. Makanya sejak itu aku jadi suka banget jajanan bus kayak gini."


"Jadi kamu turun di mana waktu itu?"


"Di terminal terakhir. Abis itu aku luntang-lantung dua hari dijalanan, cuma makan sisa jajanan dari bus. Dan akhirnya terdampar di kantor polisi. Setelah nunggu lama banget sambil ditanyain ini-itu, aku dijemput sama orang tuaku."


Sungguh tak disangka, Farrell punya pengalaman seperti itu. Jelas itu kenangan yang buruk, tapi ada garis senyum samar di wajah Farrel ketika bercerita. Dia tampaknya tak berpikir serupa dengan Flo.


"Itu pasti kenangan yang buruk banget."


"Ya... memang gak bagus," ucap Farrell. Ia berpaling pada Flo. "Apalagi pas luntang-lantung di jalanan. Kelaparan, kehausan. Gak akan pernah aku ngelakuin itu lagi. Tapi aku gak nyesel sama apa yang udah aku lakuin."


"Sebenarnya kenapa kamu kabur dari rumah?"


"Karena benci sama orang tuaku. Dulu waktu masih tinggal bareng—gak kayak sekarang, mereka itu protektif banget sama aku juga Farah. Kita berdua gak boleh ini, gak boleh itu. Rasanya sesak. Jadi aku kabur aja. Dan ternyata rencanaku berhasil. Sejak itu mereka gak pernah ngehalang-halangin aku mau ngelakuin apa pun."


"Tapi mereka ngelakuin itu karena sayang sama kamu dan Kak Farah, kan?"


"Iya, aku tahu. Cuma aku kan butuh ruang buat bisa berkembang. Aku juga benci banget selalu diejekin anak mama karena ke mana-mana selalu ditemani sama pengasuh kayak balita."


Flo tersenyum melihat kekesalan di wajah Farrell. Bahkan saat kesal pun dia tetap terlihat menawan.


"Flo," ucap Farrell, kini tampak serius.


"Jangan kabur dari rumah lagi, ya?"


"Aku bukan anak sembilan tahun, Rell. Aku tahu alamat tujuan dan gak akan luntang-lantung dijalanan." Flo langsung mengerti alasan Farrell bercerita tentang pengalaman masa kecilnya. Menunjukan betapa mengerikannya kabur dari rumah.


"Tetap aja. Aku takut kamu kenapa-napa di tengah jalan."


Jujur saja, Flo senang Farrell khawatir padanya. Itu membuatnya merasa berharga bagi laki-laki itu. Namun ia juga tak ingin dicemaskan seolah ia tak mengerti apa-apa.


"Tapi aku gak kenapa-napa."


"Belum tentu lain kali."


"Aku belum ada rencana pergi dari rumah lagi," ujar Flo, membuat Farrell tersenyum.


"Oke," Farrell mengalah. "Tapi kalo kamu ada rencana pergi dari rumah, jangan pergi sendirian, ajak aku, ya?"


Tertegun Flo mendengar permintaan Farrell. Ia tersentuh. Walau ia tahu bila ada situasi seperti yang baru ia lalui, kabur bersama akan membuat situasi makin runyam.


Flo mengangguk, mengiyakan permintaan Farrell. Terasa salah bila ia menolak, sedang Farrell sudah setulus itu.


"Janji?" Farrell mengangkat kelingkingnya.


"Janji." Namun Flo tak memberikan kelingkinhnya.


"Ayolah..." Farrell menggerak-gerakkan kelingkinganya guna menarik perhatian Flo. "Ini buat meresmikan. Karena di sini gak ada stempel sama materai."


Mengalah, Flo memberikan kelingkingnya meski ia merasa itu kekanakkan. Dan jari mereka pun bertaut bersamaan dengan janji yang terikat.


"Cap," ujar Farrell saat ibu jari mereka bersatu.


Entah ini hanya ilusi, atau memang benar adanya, Flo merasa tatapan Farrell yang lurus ke matanya menjadi lembut. Jenis tatapan yang sering ia lihat di film-film romantis. Dan tepat saat itu, lagu dangdut yang bergema di bus berganti dengan lagu pop romantis yang sedang populer saat ini. Seolah-olah semua terencanakan.


Uhuk!


Di suatu tempat, seseorang terbatuk. Membuyarkan acara tatap-menatap. Memutus segala imajinasi yang bermain di benak. Membuat Flo segera menarik jarinya dari tautan lalu berpaling ke depan. Dari sudut mata, ia melihat Farrell tampak kecewa.


Setelah itu, lama keduanya tak saling bicara. Memamah dalam bungkam. Hingga kemudian hujan mulai menghujam, membuat Flo kelimpungan menutup jendela. Untung saja Farrell sigap membantunya.


Flo menggertakkan gigi. menahan denyut menyakitkan yang timbul di telapak tangannya. Ia tadi lupa bila tangannya terluka dan memaksakannya menarik jendela yang macet agar terkatup.


"Tangan kamu sakit lagi?"


"Enggak." Flo menggeleng, menjauhkan tangannya dari pandangan Farrell.


"Bohong," ujar Farrell. "Mana coba aku mau lihat."


"Cuma sakit sedikit," kata Flo, jujur pada akhirnya.


"Makanya tangannya jangan terlalu banyak digerakin dulu."

__ADS_1


"Tadi lupa kalo tanganku luka."


Farrell mengambil tangan Flo ke hadapannya. Mengamati telapak tangan yang masih di tutupi plester luka yang lebar. Kemudian ia membalik tangan dalam genggamannya, ganti memandangi bagian punggung tangan. Selama melakukan kegiatan itu, Farrell sama sekali tak memperhatikan wajah Flo yang menegang, atau pun sadar bila jantung Flo mendadak berdegup kencang.


Ketika Flo hendak menarik tangannya, Farrell menahan dengan menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Flo. Membuat jantung Flo makin gila. Namun tampang Farrell santai saja ketika menoleh menghadapi Flo.


"Aku punya ide biar kamu gak lupa lagi."


"Apa?" tanya Flo, susah payah mengeluarkan suara sementara ternggorokannya tercekat.


"Sebentar..." Farrell melepaskan tangan Flo untuk membuka tasnya. Ia pun mengeluarkan sebatang pena merah.


"Mana tangan kamu?" Farrell meminta kembali tangan Flo yang telah minggat dari pangkuannya dalam waktu singkat.


Dengan berat hati—lebih karena efek bersentuhan dengan Farrell yang tak baik untuk jantungnya—Flo memberikan tangannya. Kemudian ia melihat Farrell berkonsentrasi untuk menggambar luka yang sudah dijahit di punggung tangannya. Dibubuhi keterangan 'ini sakit' di dalam bubble seperti yang biasa ditemui dalam komik. Hal itu membuat Flo tersenyum. Sangat manis. Apalagi ketika Farrell meniup punggung tangannya agar tinta merah itu cepat kering.


"Harusnya gak akan lupa lagi," ucap Farrell.


"Harusnya," ujar Flo, masih menatap tangannya yang nyaman bersarang dalam hangat genggaman Farrell.


Flo mengalihkan fokus pada wajah laki-laki yang dudui di sebelahnya.


"Makasih," ujanya.


Bersamaan dengan anggukan Farrell, ponsel Flo berdering. Suaranya agak redam karena berada di dalam tas. Saat ia mau menghela tangannya, sekali lagi Farrell menahan.


"Mau lupa lagi kayaknya," tegur Farrell.


Flo menyengir. Maka ia pun mengambil ponselnya menggunakan tangan kiri, dan melihat nama Genta menghiasi layar.


"Halo, Genta. Kenapa?" tanya Flo.


Tepat ketika ia menyebut nama si penelepon, genggaman di jemarinya mengendur, entah mengapa. Ketika Flo melirik Farrell, wajah laki-laki itu terlihat gelisah.


"Gak pa-pa. Khawatir aja karena lo gak sekolah. Susah banget dihubungin beberapa hari ini."


"Iya, maaf," ujar Flo pada ponselnya. "Handphone-ku sering aku matiin."


Karena tak lagi merasa Farrell akan menahan, Flo benar-benar menarik tangannya kali ini. Dan berhasil.


"Lo sakit?" Suara di seberang sana terdengar cemas.


"Enggak."


"Terus kenapa gak sekolah?"


"Aku ke tempat sepupuku. Ini juga udah di jalan mau pulang."


"Oh... Ada acara keluarga? Gak ada masalah apa-apa, kan?"


"Enggak. Bukan acara keluarga. Cuma main aja."


"Syukur deh, kalo gak ada masalah. Lo pergi sendiri? Atau sama Arina? Soalnya dia juga gak masuk beberapa hari ini."


"Enggak sama Arina."


"Oh. Sama keluarga berarti?"


"Bukan."


"Sendirian dong?"


"Enggak. Sama..." sejenak Flo ragu, mengerling Farrell yang masih membisu, "sama Farrell."


Hening.


Masih hening.


"Genta?" Flo memeriksa apakah sambungan masih terhubung.


Genta menyahut. Suaranya terdengar jauh.


"Udah dulu ya, Flo. Udah bel masuk. Bye."


Sebelum Flo bisa menyahut, Genta telah lebih dulu memutuskan sambungan.


"Genta?" Farrell bertanya, setelah Flo menurunkan ponsel dari depan telinganya.


"Iya."


"Kamu dekat ya sama Genta?"


Flo menimang. Apa ia dekat dengan Genta? Ya... kelihatnya begitu. Beberapa waktu belakang mereka cukup intens berkomunikasi. Genta sering menghubunginya di malam hari, menghampirinya di perpustakaan saat jam istirahat. Seharusnya itu bisa dikatakan cukup dekat. Sebagai teman.


"Lumayan."


"Pasti dekat. Genta itu tipe orang yang jarang banget nelepon orang—apalagi cewek—kalo gak urusannya benar-benar penting, atau orang yang ditelepon itu yang penting."


Itu informasi baru untuk Flo. Ia tak yakin apa ia senang mendengarnya. Tapi yang jelas, baginya itu menjadi bukti bahwa mereka sudah benar-benar jadi teman sekarang.


Farrell tersentak, seperti seseorang yang tiba-tiba menyadari sesuatu yang penting.


"Kamu yang nasihatin Genta supaya gak bawa motor lagi?"


Flo mengangguk. "Kenapa?"


***


Kenapa ya kira-kira?


Menurut kalian kenapa yeorobun?

__ADS_1


__ADS_2