Floriana

Floriana
Bab 18: Di Bawah Pohon Bungur


__ADS_3

Hal luar biasa yang bisa dilakukan ketika libur sekolah adalah saingan tidur dengan koala. Seperti yang dilakukan Flo. Bukannya ia tidur mania, hanya saja malam panjangnya semalam ia habisnya maraton drama Korea sampai subuh. Jadi ia butuh jam tidur ekstra. Ia tak sering melakukan hal ini, hanya saat libur saja, itu pun tak setiap hari.


Saat turun dari tempat tidur, jam dinding menunjukan pukul 11.05 siang. Lalu Flo pergi ke dapur untuk membasahi kerongkongan. Di pintu kulkas, ditemukannya selembar pesan dari Mama yang menerangkan bahwa beliau sedang pergi ke supermarket. Sementara Papa, tak perlu diterangkan Flo tahu beliau ada di kantor, bekerja.


Setelah menghabiskan sebotol air dingin berkapasitas satu setengah liter, Flo kembali ke kamar untuk mandi. Ketika selesai, sudah nyaris tengah hari dan perutnya keroncongan.


Flo menyibak gorden dan membuka jendela seraya mengeringkan rambutnya dengan satu tangan. Ia menghirup aroma siang yang cerah. Memandangi jalanan komplek yang lengang. Sampai sebuah kerutan hadir di antara alisnya kala melihat sesuatu yang familiar baru hilang dari jangakauan mata. Seperti sebuah skuter biru milik seseorang yang namanya terlarang untuk diucap.


Tapi mana mungkin, pikir Flo. Lagipula jika memang itu Farrell, apa urusannya? Jalanan di depan rumahnya adalah jalan umum, dan alasannya berada di sini bisa apa saja, yang jelas bukan dirinya.


Flo duduk di belakang meja belajarnya. Menghadapi toples ikan yang seluruh permukaannya sudah ditempeli sticky notes yang berisi berbagai saran hingga hujatan untuk dirinya sendiri.


Sadar!


Semua udah lewat, Flo.


Jangan konyol!


Dia bukan apa-apa.


Hampir pun kalian enggak.


Udahlah. Itu cuma mimpi yang gak berarti.


Bangun!


Jangan ****, Flo!


Flo meraih sebuah sticky notes dan menulis pesan baru atas perasaan terusik yang selalu mengganggunya ketika Farrell mampir dalam ingatan. Dan catatan di toples itu bertambah satu lagi. Menambah pelindung mata si ikan ****** dari dunia.


Lepasin Flo,


amarah, kecewa, dan semua perasaan yang pernah ada.


Flo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menatap langit biru dengan sedikit awan. Merutuki perasaannya. Padahal ia tadi lapar, tapi setelah melihat orang yang ia duga Farrell langsung sirna hasratnya untuk makan. Menyedihkan sekali, bukan?


Dan hal ini bukan pertama kalinya terjadi selama dua minggu belakangan. Sudah pernah lima kali sebelumnya hal semacam ini terjadi. Sekali Flo sangat yakin bahwa itu adalah Farrell. Namun seperti yang ia pikirkan sebelumnya,  jika itu memang Farrell, apa masalahnya? Ia saja yang ***** baper hingga sumsum tulang.


Bersama desah lelah, Flo bangkit mendekati lemari, menyiapkan seragam dan atribut sekolah untuk besok. Tak sulit mencari kemeja dan rok abunya, sepatunya pun sudah ia tali, yang jadi masalah itu, di mana dasi dan topinya?


Ia menyilakan semua baju yang tergantung di dalam lemari, mengira barangkali dasinya terselip di sana, namun nihil.


"Mama taro dasi di mana lagi?" gerutu Flo.


Lalu ia mencari di meja belajarnya. Membuka laci-laci. Dan ditemukannya di sana. Ketika ia menarik dasinya keluar, benda lain ikut terangkat. Scarf dan dasi lainnya.


Mendadak bekas luka di telapak tangan Flo terasa gatal. Sesuatu di dadanya juga tergelitik.


Dasi dan scarf itu milik Farrell. Sudah lama ada padanya. Dan sudah lama pulaia ingin mengembalikannya tapi bingung bagaimana, sampai-sampai ia lupa.


Memegang dasi itu membuat Flo kembali teringat saat Farrell membebat lukanya. Menggenggam tangannya sepanjang perjalanan. Mengkhawatirkannya. Menghiburnya.


Flo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang. Bermaksud menepis banjir kenang.


"Please, please, please..."


Kemudian ia pun menjejalkan dua benda pembangkit ingatan itu ke dalam tas. Ia akan menitipkannya pada Arina atau Genta besok untuk diberikan pada Farrell.


"Jangan ingat lagi, jangan ingat lagi..."

__ADS_1


***


"Flo!"


Flo menoleh. Memandang ke sumber suara. Ada Genta di sana, duduk sendiri di bawah sebatang pohon beringin tua. Kebetulan sekali karena ia memang punya urusan dengan laki-laki itu hari ini.


"Sini!"


Celingak-celinguk Flo memastikan situasi. Objek berbahaya tak terdeteksi. Jelas saja, hari masih terlalu pagi dan hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah dua minggu libur. Jadi sekolah masih sepi, semua orang belum rela cepat-cepat meninggalkan rumah dan masa libur yang menyenangkan.


Maka Flo pun menghampiri Genta yang gaya rambutnya sudah berubah. Ia duduk di sisi laki-laki itu seraya membalas senyum yang sudah lama tak ia jumpa.


"Gak berangkat sama Arina?" tanya Genta.


"Gak. Dia nanti dijemput sama pacar barunya."


"Baru?" Genta tampak terkejut. "Siapa?"


"Ja..." Flo mencoba mengingat-ingat, "Januar... kalo gak salah."


"Arina mau sama si Januar? Masyaallah. Gak ada istilah tebang pilih banget dia. Babat semua. Sampai makhluk abstrak aja diembat."


Fli tertawa mendengar ucapan Genta. "Makhluk abstrak? Memang dia seburuk itu?"


"Parah." Genta mengangguk-angguk. "Jauh lebih baik gue ke mana-mana."


"Terus kenapa gak kamu aja yang sama Arina?"


"Karena Arina bukan tipe gue. Dia terlalu biasa."


"Arina kan cantik." Flo membela sahabatnya.


"Memang yang spesial 'gimana?"


"Kayak..." Genta menggantung ucapannya. Seperti selalu, matanya tak lepas kontak dengan mata Flo ketika berbicara. "Ada pokoknya."


"Kalo ada, terus kenapa kamu masih jomblo?"


"Karena dia gak suka sama gue. Dan gue udah nyerah buat dapatin dia."


Walau terdengar santai, Flo tahu Genta tak merasa seperti itu. Dari matanya, terlihat sekali bahwa dia terluka.


"Siapa, sih?" tanya Flo. Ia jadi penasaran.


"Kepo!" Genta menowel hidung Flo.


Flo menggosok hidungnya sebelum lanjut bertanya. Ia sama sekali tak menghiraukan penolakkan kecil Genta. Ia betul-betul penasaran gadis macam apa yang tega menolak laki-laki baik macam Genta.


"Dia sekolah di sini?"


Genta mengangguk.


"Aku kenal?"


Genta sekali lagi mengangguk.


"Ciri-cirinya?"


"Rahasialah! Nanti lo tahu lagi. Kan gue jadi malu."

__ADS_1


"Aku gak akan cerita ke siapa-siapa," janji Flo. "Serius."


Alih-alih menowel, kali ini Genta ganti mencubit hidung Flo pelan. "Flo sekarang jadi kepo."


"Gak kepo," ujar Flo, setelah Genta melepaskan hidungnya.


"Terus apa?"


"Mm..." Flo berpikir keras. Ia tahu kenyataannya ia memang kepo, tapi kepo kok kesannya agak kurang bagus.


Genta tertawa. Mengacak pelan poni Flo yang dibelah dua. Flo tak lagi rikuh dengan setiap kontak fisik yang tercipta di antara ia dan Genta. Itu hanya bukti pertemanan mereka yang kian kental. Flo tak pernah berpikir sesuatu yang lebih dari itu, ia kira Genta juga begitu.


"Iya, deh. Nanti gue kasih tahu. Kapan-kapan."


"Gak pa-pa kok kalo kamu gak mau kasih tahu juga. Itu kan privasi," kata Flo. Ia jadi merasa tak enak ketika Genta sudah membuat sebuah janji begini. Apa ia sudah melewati batas? Apa ia seharusnya tadi tak bertanya?


"Gue mau. Gue bakal bilang. Suatu saat nanti."


"Kesannya bakal butuh waktu lama, ya," celetuk Flo, membuat tawa renyah Genta kembali pecah.


Matahari makin beranjak dari horizon, berbanding lurus dengan kehadiran siswa dan siswi. Mereka semua berlalu lalang di koridor. Ada yang terburu, ada yang perlahan. Semua saling sapa, memamerkan perubahan yang terjadi dalam rentang waktu dua minggu belakangan.


Dari sudut matanya, Flo menemukan Farrell di antara arus para manusia. Masih tetap dengan penampilannya yang sama. Senyum yang sama. Lesung pipi yang sama.


Tersentak ia ketika orang yang dipandangi menoleh. Bisa-bisanya ia lupa bahwa Farrell itu terlarang untuk ditatapi.


Segera saja Flo melepaskan sebelah tali ranselnya. Membuka ritsleting dan merogoh sesuatu di dalam sana. Tak sulit mendapatkannya.


"Genta tolong kasihin ini sama Farrell ya," pintanya, memberikan sebuah dasi dan scarf.


Genta tak mengambilnya. Ia malah berkata, "Sorry gue gak bisa. Kasih sendiri aja. Dia pasti lebih senang kalo lo yang ngasih."


Apa?


Ada apa dengan Genta? Biasanya ia tak pernah menolak ketika Flo meminta bantuan.


Flo menoleh ke arah di mana tadi ia melihat Farrell. Laki-laki itu sudah tak lagi di sana, melainkan menuju ke arah Flo dan Genta berada.


Ia harus pergi.


Flo terlompat berdiri. Lalu ia berujar, "Ya-udah-gak-pa-pa-aku-ke-kelas-dulu-bye," tanpa jeda, tak memedulikan tanda baca.


Tak menunggu respon dari Genta, Flo langsung minggat dari tempat. Setengah berlari menuju kelas lamanya.


Ia sangat bersyukur tak ada ketengangan lain selama sisa hari pertamanya sebagai sisiwi kelas sebelas selain insiden pagi tadi. Semua berjalan lancar dan normal. Upacara, pembagian kelas, dan segala ***** bengek lainnya. Sehingga pada perjalanan pulang sekolah, diiringi lagu balet favoritnya, Flo dapat melenggang dengan santai. Semua aman terkendali, pikirnya.


Kemudian langkah Flo terpaksa berhenti di bawah sebatang pohon bungur yang sedang berbunga, tak jauh dari gerbang sekolah. Alasannya, karena tiba-tiba sepasang kaki berbalut sneakers hitam bertali, menghadangnya. Ia pun mengangkat muka. Ia setengah tak percaya pada matanya saat menemukan laki-laki yang ia hindari tengah berdiri di hadapannya, terengah kehabisan napas.


Flo melepas sebelah earphone-nya. Menunggu si penghadang bersuara.


"Hai."


Angin berembus. Menggoyang pepohonan di sisi trotoar tempat Flo terpaku. Menerbangkan kelopak-kelopak bunga bungur yang telah rapuh.


Perasaan Flo berkecamuk. Ia tak yakin apa yang harus ia rasakan sekarang. Haruskah ia senang? Atau ia mesti marah dan mempertanyakan alasan laki-laki itu menjauh dan mendadak datang lagi?


Entahlah. Flo bingung. Hanya satu hal yang pasti, ia terkejut akan sapaan mendadak ini.


"Maaf butuh selama ini buat nyapa kamu lagi."

__ADS_1


***


__ADS_2