Floriana

Floriana
Bab 16: Bukan Farrell, tapi Varel


__ADS_3

Mata Flo terpejam. Dirasuki irama dengan tempo yang cepat, ia pun berputar tak kalah cepat. Makin cepat. Kian cepat. Begitu cepat. Lalu...


Brukk!


Flo jatuh terduduk. Saat membuka mata, ia menemukan sepasang irisnya menatap balik dari cermin besar di studio balet yang kosong. Napasnya menderu, menerpa kaca, menimbulkan embun yang cepat menghilang.


Kemudian Flo membenahi posisinya. Ia duduk meluruskan kaki, bersandar pada dinding kaca. Lelah sekali.


Sudah lebih dari setengah jam lalu kelas berakhir, tapi ia masih memilih tinggal. Berlatih sedikit lebih lama untuk melepaskan pikiran yang tak mau tanggal hingga ia merasa begitu kesal.


Kenapa sih sosok Farrell tak mau meninggalkan pikirannya?! Padahal ia sudah letih hati memikirkan Farrell sambil merutuki kebodohannya karena terbawa perasaan akan perhatian laki-laki itu beberapa waktu yang lalu.


"Eh, Flo," kata sebuah suara, membuat Flo mendongak. Dijumpainya Kak Farah di ambang pintu.


"Ada yang datang nanyain Kakak, gak?" lanjut Kak Farah. Ia sudah tak lagi mengenakan pakaian balet, telah berganti dengan celana jeans dan crop top berwarna hitam. Di tangannya tergantung tote bag besar, mungkin berisi setelan baletnya.


"Gak ada," jawab Flo.


Kak Farah mendesah. Ia pun masuk, duduk di sisi Flo.


"Kesel banget nungguin Farrell gak datang-datang."


Flo mendengar Kak Farah mengomel. Sepenuhnya menyadari sebuah nama disebut. Nama yang menimbulkan sentakan yang tak asing di perutnya. Menyebalkan sekali.


"Macet mungkin," Flo menanggapi, demi sopan santun.


"Gak mungkin. Emang dia aja yang sok sibuk." Kak Farrah menolak alternatif penjelasan dari Flo.


"Kamu kenapa belum pulang, Flo?" tanya Kak Farrah kemudian, setelah hening beberapa waktu.


"Mm..." Flo bingung mau menjawab apa. Ia sama sekali tak memikirkan alasan yang akan ia lontarkan ketika ada yang bertanya mengapa ia belum pulang. Tak mungkin ia jujur berkata bila sedang galau.


"Lagi pengen di sini aja," akhirnya ia menyahut asal.


Kak Farah mencondongkan tubuhnya, mengamati wajah Flo dengan saksama.


"Lagi galau, ya?" terka Kak Farah.


"Enggak!" bantah Flo cepat. Terlalu cepat.


Kembali Kak Farah bersandar ke belakang. Tampak puas dengan jawaban Flo.


"Galau pasti," ujar Kak Farah, yakin. "Sama kayak Farrell. Dia juga lagi galau belakangan ini. Kalem benar dia. Gak bacot kayak biasanya. Ngurung diri di kamar mulu sejak pulang minggat entah ke mana minggu kemarin."


Farrell galau? Bukannya seharusnya dia senang karena baru saja mendapatkan gabetan baru?


"Kalian putus?"


"Kita gak pacaran," ujar Flo lemah. Tapi aku yang baper sama dia. Ia meringis dalam hati.


"Berantem?"


"Enggak. Gak kenapa-kenapa." Ia jujur. Memang mereka baik-baik saja. Farrell saja yang kelihatannya mendadak sadar bahwa Flo ada di bawah standarnya.


"Terus kenapa kalian galau?"


"Aku cuma lagi ada masalah di rumah."


"Oh..." Kak Farah manggut-manggut. "Terus si Farrell kenapa galau kalo gak galauin kamu? Setahu Kakak dia cuma lagi dekat sama kamu."


Flo hanya mengangkat bahunya sedikit. Ia sama sekali tak punya gambaran.


"Jangan-jangan kamu nolak Farrell, ya?"


"Enggak, Kak." Malah aku yang ngerasa ditolak, batin Flo. "Dia galau gak mungkin ada hubungan sama aku."


"'Gitu?" Kak Farah tampak sangsi.


Flo mengangguk.


"Terus Farrell galau kenapa? Apa dia abis berantem sama Genta? Soalnya Genta udah lama gak main ke rumah. Padahal biasanya setiap malam jum'at mereka berdua mabar PS sampai lupa waktu."


"Kak Farah kayaknya khawatir banget ya kalo Farrell galau," ucap Flo. Menarik kesempatan menjauhkan nama Farrell dari namanya.


"Iya. Soalnya di kalo lagi galau bisa sampai masuk rumah sakit."


"Kok bisa?"


"Dia itu gak bisa banyak pikiran. Kalo banyak pikiran pasti sakit."


Flo sama sekali tak menyangka Farrell orang yang seperti itu. Dia sama sekali tak terlihat seperti sosok yang sensitif.


"Syukurnya dia jarang galau. Jarang banget malah. Bahkan biasanya kalo habis putus dia kelihatan santai-santai aja. Cuma sekali dia galau karena diputusin. Pas putus sama pacar pertamanya. Cewek yang sama, yang bikin dia sama Genta pernah berantem parah."

__ADS_1


"Mereka suka sama cewek yang sama?" tebak Flo.


Kak Farah mengangguk. "Gue dulu ngerasa mereka berdua menggelikan banget."


"Terus 'gimana akhirnya Farrell bisa pacaran sama cewek itu?" Flo mulai merasa penasaran.


"Gak tahu deh, musyawarah kali. Pokoknya gak ada seminggu setelah berantem, Farrell sama Genta baikan. Terus Farrell juga jadian sama cewek itu."


"Cantik ya ceweknya?" Flo bertanya, impulsif.


"Cantik, pinter juga. Kamu kayaknya kenal deh, soalnya dia satu angkatan sama Farrell."


"Dia sekolah di tempat kita?"


"Iya. Namanya Karina. Anak X.2 kalo gak salah."


Karina... Nama itu akrab di telinga Flo. Dia salah satu gadis yang banyak mendapat atensi dari kakak kelas laki-laki ketika masa orientasi. Gadis pemenang lomba puisi antar sekolah semester yang lalu. Tak kalah cantik dari Arina. Dia tinggi semampai, berambut panjang-bergelombang yang selalu terurai. Gadis yang ia lihat di atas boncengan skuter biru Farrell kemarin.


Karina. Mantan pacar pertama Farrell. Salah satu siswi paling populer seantero sekolah. Seperti Arina, sangat cocok dipasangkan dengan Farrell. Mereka seperti pemeran utama dalam sebuah film romantis remaja atau novel teenlit. The most wanted couple. Serasi.


"Tapi kamu juga cantik, Flo."


Suara Kak Farah mengejutkan Flo. Membuatnya tersadar bahwa ternyata tanpa dikehendakinya, ia melamun.


Flo tersenyum kecil. Hanya bentuk respon bahwa ia mendengarkan. Walau sebenarnya pikiranya berkecamuk karena informasi yang baru didapat. Ia benci sekali tak bisa mengendalikan perasaan sedih dan tak nyaman ini.


"Cantik, pinter, baik, dan berbakat. Makanya Kakak gak terlalu sreg kamu sama Farrell. Kamu terlalu baik buat dia."


"Aku gak sebaik itu." Dan Farrell gak akan pernah sama aku.


Kak Farah bangkit berdiri. Ia mengusap pelan kepala Flo. Membuat Flo berpikir betapa baik kakak dari laki-laki yang baru membuatnya patah hati.


"Nanti kalo ada Farrell, bilangin Kakak ke toilet ya."


Flo mengangguk. "Iya."


Maka Kak Farah pun beranjak pergi sambil mengomel tentang Farrell yang tak kunjung datang. Meninggalkan Flo kembali sendiri, bersama hati yang tak mampu ia bohongi.


"Floriana?" Sekali lagi sebuah suara menyapa. Suara yang berbeda dari milik Kak Farrah. Suara yang lebih mainly. Membuat Flo kembali mengangkat wajah. Menemukan sesosok laki-laki di batas pintu sana.


Ternyata bukan Farrell, tapi Varel.


***


"Telat banget baliknya," ujar Arina, mengerling jam dinding.


Flo menghempaskan tubuh di sisi Arina. "Latihan ekstra," keluhnya. Sakit hati ekstra.


Flo menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, bersamaan dengan mata yang terpejam. Dan seketika wajah Farrell berenang-renang dalam pikirannya. Mengacaukan ketenangan yang ingin ia capai.


"'Gimana, Flo?"


"'Gimana apanya?" tanya Flo, malas.


"Hubungan lo sama Farrell."


"Biasa aja."


"Gak ada kemajuan?"


"Emang pertemanan harus ada kemajuan?" Flo balik bertanya.


"Ck!" Arina berdecak. "Teman apaan?! Lo sama Farrell cuma teman? Gak percaya gue. Mana mungkin kalo teman doang dia bakal segitu marahnya waktu gue gak mau ngasih tahu lo di mana. Gila serem banget dia. Cuma lewat telepon aja gue ngeri."


Sudah didengar Flo cerita itu sebelumnya. Saat Arina menjelaskan padanya bagaimana ia terpaksa buka mulut. Cerita itulah yang benar-benar membuat harapan Flo membucah, sebelum hancur menjadi serpih-serpih menyakitkan.


"Kalo kamu ada di posisi aku, dia juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama."


"Enggak akan Flo. Gue tahu Farrell itu beda sikapnya sama lo. Kalo lo udah berpengalaman kayak gue, lo pasti ngerti."


"Aku udah cukup berpengalaman buat tahu Farrell gak suka sama aku." Mengatakan itu secara terang-terangan membuat Flo ingin menangis.


"Farrell itu suka sama lo, Flo. Percaya sama gue."


"Aku percaya dia pernah suka sama kamu."


Arina seperti kehilangan arah sejenak sebelum lanjut bicara. Ucapan Flo berdampak padanya.


"Mungkin. Dan kalo pun iya, kan cuma pernah. Pernah gak ada artinya. Yang jelas itu, dia sekarang suka sama lo."


Andai ada sesuatu yang bisa membuat Arina berhenti membicarakan topik ini. Ia akan sangat bersyukur. Ia sudah sangat lelah membicarakan, mendengar, dan memikirkan Farrell.


Ponsel Flo bergetar. Segera ia merogoh tasnya, mengambil benda persegi panjang yang bersinar. Didapatinya nama Genta muncul di layar.

__ADS_1


"Halo?" sapa Flo, setelah menerima sambungan.


Arina berpaling dari layar yang sedang menampilkan adegan—yang Flo tahu selalu menjadi favoritnya. Jelas dia penasaran sekali.


"Farrell?" gumam Arina, tanpa suara.


"Genta," balas Flo, juga tanpa suara.


Mata Arina membulat. Terkejut. Ia pun bergeser, mendekatkan telinganya ke ponsel Flo, ikut mendengarkan.


"Halo. Udah pulang?" tanya Genta, nadanya ringan.


"Udah. Baru pulang."


Flo melirik Arina yang terlihat khusuk sekali. Ada dengan sahabatnya ini coba? Kenapa jadi kepo sekali.


"Capek banget ya? Suara kamu kedengaran gak semangat."


"Gak, kok. Cuma ngantuk."


"Udah makan belum?"


"Belum. Mau tidur dulu."


"Makan dulu baru tidur. Kalo tidur dulu nanti malah lupa makan."


"Iya," Flo langsung menyetujui, supaya cepat.


"Ya udah, makan sana, biar bisa cepat istirahat."


"Iya."


"Udah dulu kalo 'gitu. Sampai ketemu besok."


"Iya."


Sambungan usai. Flo pun meletakkan ponsel di atas nakas di sisi tempat tidur.


"Wow..." Arina berujar takjub setelah menarik dirinya dari posisi yang terlalu rapat. "Genta nelepon! Keajaiban dunia banget."


Flo mendengus mendengar kelebayan Arina. Kendati begitu, reaksi Arina mengingatkannya pada ucapan Farrell di bus yang lalu. Walau dengan antusiasme yang berbeda, isinya sama: Genta jarang sekali menelepon seseorang.


"Serius gue, Flo," Arina meyakinkan. Drama Korea tampaknya sudah tak lagi menarik baginya. "Gue dan anak-anak kelas gue sering banget ngeluhin ini. Jangankan ditelepon, dia ngangkat telepon aja gak pernah. Sok ngartis dia itu. Dan dia barusan sukarela nelepon lo, cuma buat nanya udah makan belum lagi. *****... Kayaknya lo terjebak di antara dua sahabat karib nih, Flo."


Flo bergerak ke tepi, memunggungi Arina. Kembali memejamkan matanya. Sungguh meragukan bualan Arina. Siapa ia sih sampai bisa disukai oleh Genta dan Farrell sekaligus. Itu tak mungkin. Hanya manusia-manusia sempurna seperti Karina atau Arina yang pantas untuk itu. Genta dan Farrell hanya ingin berteman dengannya—meski ia tak yakin teman macam apa yang mendadak mengabaikan. Oke, awalnya ia memang merasa—mengharap—intensi Farrell berbeda untuknya, yang mana sesuatu yang sangat salah sekarang. Sementara Genta sendiri, Flo sama sekali tak menangkap sinyal-sinyal lain selain pertemanan dari laki-laki itu. Bila memang benar Genta jarang menelepon seseorang dan kini sering menghubunginya, itu cuma karena Genta khawatir belakangan ini ia terlihat lelah dan lesu.


"Apaan sih, Rin. Gak usah halu."


"Gue gak halu. Ini berdasarkan hipotesis gue."


"Halu."


"Jadi lo pilih siapa? Genta atau Farrell."


"Gak ada alasan buat aku milih."


"Seandainya aja. Seandainya, Flo. Lo pilih siapa? Genta atau Farrell."


"Aku sama Genta cuma temanan."


"Terus sama Farrell?"


Sampai beberapa waktu yang lalu  mereka masih berteman. Tapi sekarang ia ragu apa itu masih, dengan Farrell yang menganggapnya transparan.


"Lo suka sama Farrell?" desak Arina


Mata Flo terbuka. Ia pun menyahut dengan suara datar dan terkesan jauh.


"Aku suka atau pun enggak, gak akan ada bedanya."


Menyusul kata-katanya, Flo kembali mendengar suara dari drama yang tadi sempat Arina tinggalkan. Itu berarti Arina sudah lelah membahas perihal tak penting.


Setelah lama berdiam diri memandangi ekor ikan ****** yang bergerak anggun di dalam toples di atas meja belajar, akhirnya Flo bergerak. Ia berpaling pada Arina.


"Rin?"


"Mm?" Arina menoleh sekilas dari adegan favorit sejuta umat.


"Jangan ngomongin Farrell lagi, ya?"


"Kenapa?" Kali ini Arina sepenuhnya memandang Flo.


"Please..."

__ADS_1


***


__ADS_2