
"Rin!"
Flo tahu yang dipanggil itu Arina. Namun sebagai teman seperjalanan Arina, ia mau tak mau refleks ikut menoleh ke sumber suara. Netranya pun menemukan Genta di tempat biasa, ditemani—kening Flo berkerut samar—Farrell? Wah, ini sungguh tak biasa. Satu semester berlalu, tak pernah sekali pun Flo melihat Farrell sepagi ini sudah ada di sekolah. Jadi penjelasan bahwa hari ini upacara hari Senin sama sekali tak bisa dipakai.
Arina melambai pada kedua temannya sebelum beralih pada Flo dan berkata, "Sana yuk, Flo?"
Flo menggeleng. "Gak deh."
"Ayoklah..." Arina menggandeng tangan Flo, menghelanya ikut menyongsong Genta dan Farrell.
Arina memang suka sekali memaksakan kehendaknya. Sering sekali kejadian seperti ini terjadi, tapi sebelumnya Flo selalu berhasil menolak. Namun kali ini ada sesuatu yang tak Flo pahami hingga ia tak ada niatan untuk benar-benar menolak. Tadi ia menolak hanya karena kebiasaan, namun kemudian ia membiarkan saja dirinya ditarik Arina.
"Ngapain sih Flo, di kelas mulu?" omel Arina di tengah perjalanan. "Sekolah kan gak cuma tentang belajar di kelas."
Menoleh Flo mendengar petuah sahabatnya itu. Ia tahu itu benar. Hanya saja Flo selalu merasa kesulitan berinteraksi dengan orang asing dan di tempat yang ramai. Menurutnya orang-orang menganggap ia terlalu kaku dan membosakan. Tidak asik. Jadi ya, lebih baik menarik diri kan, daripada membuat orang merasa tak nyaman?
"Kesambet apa lo berangkat sepagi ini, Rell?" Begitu sampai di bawah pohon beringin depan kelas X.5, Arina langsung menodong Farrell dengan tanya.
"Gue kesiangan lo sama Genta ngomel mulu, gue berangkat pagi malah dikata-katain kesambet," sungut Farrell. "Kalian sebenarnya mau gue 'gimana?"
"Geser," ucap Genta sederhana seraya mendorong Farrell hingga terjatuh dari kursi ke tanah.
"Genta! Gila ya lo?!" protes Farrell.
Sementara Arina tertawa keras, Flo meringis menyaksikan kejadian itu.
"Duduk Flo." Genta menepuk ruang kosong yang baru ditinggalkan Farrell dengan paksa.
"Gila banget punya teman," omel Farrell seraya beranjak berdiri, menepuk bagian bokongnya untuk membersihkan kotoran yang menempel.
Flo menggeleng. "Gak usah, makasih," tolaknya.
"Dih," Arina mendorong Flo untuk duduk. "Gak usah gak enakan Flo. Farrell gak keberatan kok terusir." Ia sendiri juga ikut duduk, membuat Flo mau tak mau bergeser lebih rapat ke arah Genta.
Flo tersenyum tak enak, menutupi rasa kurang nyamannya karena duduk begitu rapat dengan Genta dan karena Farrell yang bersungut-sungut. Apa sebaiknya ia kabur saja?
"Rin..." Flo memulai, namun langsung terhenti sebab suaranya tenggelam oleh bunyi yang terdengar dari pengeras sekolah.
"Untuk seluruh petugas upacara hari ini, silakan bersiap-siap."
Genta menghembuskan napas lelah. "Padahal kan upacara masih dua puluh menit lagi. Kerajinan banget, sih!" keluhnya. Kendati begitu ia tetap berdiri, hendak pergi memenuhi panggilan.
Secepat kilat, Farrell mendorong Genta menjauh untuk merebut tempatnya. Kerusuhan Farrell membuatnya menabrak lengan Flo cukup kencang ketika ia mendudukan diri. Dan saat Flo menoleh untuk melihat pada laki-laki itu, dia sama sekali tak teranggu seperti Flo. Farrell masih sibuk dengan Genta, mengejeknya soal keikutsertaan Genta dalam ekskul paduan suara. Bahkan ketika yang diejek sudah menjauh, masih saja Farrell terus berteriak-teriak.
"Oh iya, astaga!" Arina terlompat berdiri. Ia melepas satu tali ranselnya. Dibukanya benda itu lalu mengeluarkan kain yang terlipat rapi. "Gue lupa Airin pinjam rok."
"Titip tas bentar, ya, Flo." Arina melemparkan tasnya begitu saja ke pangkuan Flo. "Jangan ke mana-mana," himbaunya, " gue pergi sebentar." Dan ia pun berlari pergi.
Sepeninggal Arina, Flo bergeser, memberi jarak lebih lebar antara dirinya dan Farrell. Ia merasa bingung ditinggal berdua saja dengan Farrell, persis separti saat ia diantar pulang waktu itu.
"Arina suka agak seenaknya, ya?" Farrell melirik tas di pangkuan Flo.
"Sedikit," cicit Flo.
Gelisah, Flo memainkan sepatunya. Menepuk-nepuknya pelan pada permukaan tanah. Ketika ia menunduk, didapatinya ternyata Farrell melakukan hal serupa.
Angin pagi yang sejuk berhembus lembut. Menggoyang ranting-ranting pohon yang meneduhi Flo dan Farrell. Menghujani mereka dengan dedaunan kering.
"Kemarin," Farrell kembali bersuara, "gue lihat lo nari di studio latihan balet."
Flo mengingat kejadian itu. Momen ketika ia dan Farrell bertemu tatap. Merasakan kembali perasaan aneh yang menjalarinya.
Mengangguk Flo, menunjukan bahwa ia mendengarkan Farrell berbicara.
"Gue gak pernah suka balet. Gak pernah ngerti bagusnya di mana. Loncat-loncat, terus muter-muter gak jelas bikin pusing. Belum lagi musiknya ngebosenin."
Oke. Farrell baru saja mengolok-olok hal yang paling Flo sukai. Haruskah ia menunjukan sedikit kemarahan dan protes?
__ADS_1
"Tapi pas lihat lo kemaren, gue baru sadar kalo balet itu keren," lanjut Farrell. "Sebenernya sih lo yang keren."
Tertegun Flo mendengar itu. Bukannya ia tak pernah dipuji untuk tariannya. Hanya saja, kali ini rasanya lain. Keterus-terangan itu membuat perutnya mulas. Dan ia kebingungan harus merespon apa.
"Lo beda banget pas nari. Gak kayak lo yang sekarang duduk di sini."
Flo menoleh, menjumpai Farrell yang tengah menatapnya lekat. Dan perutnya terasa makin bergejolak. Maka buru-buru ia kembali hadap depan.
"Lo kelihatan yakin, percaya diri. Kelihatan nyaman. Gak kayak Floriana yang duduk di sebelah gue sekarang." Farrell berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Segitu gak nyamannya ya, lo dekat gue?"
Terkejut Flo mendengar itu. Ia tak menyangka Farrell berpikir begitu.
"Bukan," bantah Flo, "bukan gitu."
Alis Farrell terangkat. Menanti.
"Aku bukan gak nyaman sama kamu. Aku memang sering gak nyaman sama orang asing. Aku... aku—" ujar Flo berantakan. Ia panik.
Farrell tertawa. "Iya, iya. Tahu kok. Gue cuma bercanda."
Bercanda? Hati Flo mencelos. Jadi semua ini cuma gurauan? Termasuk pujian tadi?
"Tapi soal lo keren, itu serius. Gue gak bercanda. Itu pertama kalinya gue menikmati pertunjukan balet setelah lebih dari sepuluh tahun dijejali pertunjukan payah kakak gue."
Tanpa dapat Flo tahan, senyumnya terkembang lebar.
"Kak Farah juga keren kok," belanya untuk sang senior.
Serius. Kakak Farrell memang bagus. Farrell mungkin hanya memperolok saja karena itu kakaknya. Hubungan kakak-adik kan memang seperti itu.
"Gue udah pernah bilang belum sih?"
"Apa?" tanya Flo polos.
"Lo kelihatan cantik kalo senyum."
***
Tanahku negeriku yang kucinta..."
Lagu Indonesia Raya yang dibawakan oleh kelompok paduan suara berkumandang mengiringi pengerekan bendera merah putih menuju puncak tiang. Semua peserta upacara melakukan sikap hormat, tak terkecuali Flo.
Walau sikap hormatnya benar, pandangan Flo melenceng dari objek seharusnya. Matanya tertuju pada satu sosok di barisan bagian barat. Sementara ia sendiri berada di ujung barisan sebelah utara. Flo tak sendiri, ada Farrell yang memulai acara saling tatap itu.
Bukan hanya menatap, sejak tadi Farrell terus menggumamkan kata yang sama tampa suara. Kata yang Flo tangkap sebagai 'senyum', yang tak ia hiraukan sama sekali, takut salah.
Flo tahu pagi ini memang panas, tapi keringatnya mengucur kelewat deras. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang begitu adanya, ia merasa bahwa tatapan Farrell membuat udara terasa jauh lebih panas. Hingga ia jadi berkeringat begini dahsyatnya. Seolah matahari jadi dua.
Lagipula kenapa Farrell melihatnya seperti itu sekali? Menumbuhkan berbagai asumsi dalam benaknya. Kalau Farrell seperti ini terus, Flo akan sulit mengendalikan perasaannya. Ia takut terjerat ekspektasi lalu jatuh hati, dan berakhir patah hati.
"Ssstt... Flo... Flo..."
Flo yang melamun segera tersadar kembali mendengar bisikan itu. Ia menoleh pada teman di sisinya. Sepasang alisnya terangkat.
"Tangan..." gumam temannya.
Tangan? Flo mengernyit. Ketika lebih memperhatikan lagi, ia melihat temannya sudah tak memasang sikap hormat. Ia pun berpaling, memandang sekitar.
Astaga!
Flo cepat-cepat menurunkan tangan. Bahkan lagu Indonesia Raya sudah tak terdengar. Kupingnya ia letakkan di mana sih?!
Saat Flo melihat ke arah Farrel lagi, didapatinya siswa itu terkikik geli. Flo mengatupkan matanya, berusaha menyembunyikan diri dari rasa malu.
Malu-maluin banget sih, ya Allah....
***
__ADS_1
Keringat belum kering pasca upacara, Flo sudah disuruh-suruh oleh ketua kelas mengambil buku latihan bahasa Inggris di kantor. Nasib menjadi sekretaris kelas. Padahal ia tak pernah mengajukan diri, seluruh kelas dengan sengaja mengorbankannya karena tak ada yang mau bolak-balik ke ruang guru, mengurusi absen dan jurnal kelas, ataupun mencatat segala macam hal di papan tulis. Singkatnya tak ada yang mau menjadi kacung kelas, apalagi semuanya terlalu sibuk berlajar. Andai ia bukan seorang pemalu, mungkin Flo tak akan terlalu terbebani, tapi karena ia pemalu terkadang rasanya terlalu sulit. Apalagi jika ada saat-saat ia harus berdiri di depan kelas menyampai pesan guru atau memberikan tugas. Rasanya sangat tidak nyaman.
Flo berbelok di persimpangan menuju ruang guru, dan seketika berbalik belakang saat melihat Kak Varel berjalan menjauh dari arah tujuannya. Ia sejauh ini berhasil tak bertemu dengan siswa itu dan ia belum mau gagal hari ini. Rasanya masih sangat malu untuk berpapasan.
Karena terlalu sibuk menghindar, Flo hampir saja menabrak orang di depannya. Ia mendongak, mendapati Farrell berdiri sangat dekat dengannya. Gelagapan ia mundur.
Bruk!
Flo menoleh ketika punggungnya melanggar sesuatu yang kokoh. Dan, astaga, ia berhadapan langsung dengan orang yang dihindarinya.
"Sorry," cicit Flo.
"Gak pa-pa," Kak Varel menanggapi, santai. "Lain kali hati-hati," ia menambahkan. Dan begitu saja, ia berlalu sesudah menerima anggukan kecil Flo.
Alis Flo terangkat. Jadi selama ini ia berasumsi berlebihan? Bahkan Kak Varel mungkin tak mengingatnya, sama seperti murid lainnya.
Pundak Flo lemas. Ia terlalu percaya diri. Rasanya jadi malu pada diri sendiri.
"Lo gak suka sama Varel itu, kan?" tanya Farrell dengan nada mencela, mengikuti arah padangan Flo sambil menggedikkan dagu.
Flo terkejut. Ia mengerjap memandang Farrell. Memangnya ia memasang tampang jatuh cinta? Tidak mungkin.
"Nggak," Flo dengan tegas membatah.
Farrell mengangguk. "Bagus." Lalu tersenyum memesona, menampakan sepasang lesung pipi nan manis.
Flo mengernyit heran. "Bagus... Kenapa?"
"Ya... Bagus aja," jawab Farrell tak menjelaskan apapun. "Eh, lo bukannya mau ke ruang guru?"
"Iya."
"Ya, udah."
"Mmm..." Flo bergumam kikuk. "Ya, udah." Ia pun berbalik. Melenggang pergi ke arah tujuan semula.
Flo menghela napas, meredakan napasnya yang terasa kurang stabil. Mengaturnya perlahan, membuat detak jantungnya normal kembali.
"Flo," suara Farrell menyapa.
Langkah Flo terhenti. Detak jantungnya tak terkendali lagi. Napasnya memburu. Ia tak punya masalah perbapasan kan?
Flo menoleh. "Kenapa?"
"Minggu depan gue ada rencana hangout bareng Genta sama Arina, lo mau join?"
Terkesiap Flo. Ia tak pernah merasa berteman, apalagi cukup dekat dengan Farrell ataupun Genta, aneh rasanya tiba-tiba ia diajak hangout bersama mereka.
"Biar Arina ada temannya," tambah Farrell.
Oke. Sekarang anehnya dibatalkan. Ini untuk Arina, tak ada yang aneh soal itu. Demi Arina.
"Nanti aku bilangin ke Arina kalo aku mau." Dan Flo berlalu begitu saja. Ia tak kecewa, kan?
Flo menggelengkan kepala. Apa haknya merasa kecewa? Tak ada. Ini hanya persoalan bagaimana ia mengendalikan ekspektasi dan hati.
Jangan gampang baper Flo...
***
Flo yang dimodusin, aku yang baper.
Thank you buat yang udah baca. Please vote, comment, & share cerita ini kalo kalian suka.
Annyeong 👋
Pitara Lusiana
__ADS_1