
Seminggu sudah berlalu sejak Flo makan mie ayam bersama Farrell. Kini ia sedang duduk di belakang Genta, melaju di atas motor menuju ujung utara Jakarta. Mengikuti skuter biru Farrell di depan sana, yang ditunggangi empunya bersama Arina.
Flo menggigit-gigit bibirnya. Ia heran baru kepikiran soal ini sekarang. Dan hal itu sungguh membuatnya cemas. Ia tak mau berurusan dengan polisi.
"Genta," panggil Flo, mengatasi deru angin.
"Iya?" sahut Genta keras. Kepala laki-laki itu menengok sebentar sebelum kembali terpancang ke jalanan di depan.
"Umur kamu sama Farrell berapa?"
"Gue enam belas, Farrell hampir enam belas. Kenapa?"
Flo tak langsung menjawab. Ia menimbang apakah pertanyaannya terdengar aneh, apakah keputusan yang benar ia menanyakan hal ini.
"Berarti kalian belum punya SIM?" Flo memutuskan lebih baik bertanya.
"Belum," jawab Genta santai.
"Gak takut ditilang?"
Terdengar suara Genta tertawa renyah. "Udah sering. Apalagi Farrell."
Sungguh heran Flo mendapati reaksi Genta. Ini memang ia yang terlalu takut pada polisi atau Genta yang kelewat berani sebetulnya?
"Lo gak suka, ya?" tanya Genta, menyadarkan Flo dari lamunannya.
"Mm..." gumam Flo. Ia bingung mau menjawab apa. Jujurnya sih, ia tak suka.
"Kalo lo gak suka juga gak pa-pa lagi."
"Kan lebih baik kalo nunggu cukup umur dulu biar bisa dapet SIM dan legal mengendarai motor."
"Iya."
Jelas jawaban Genta adalah upaya menghentikan Flo berkhotbah. Maka Flo langsung menyudahi topik itu. Ia hanya berdiam, menikmati panorama jalanan yang ramai lancar, bertanya-tanya apakah ia sudah jadi orang yang menyebalkan dengan memaparkan peraturan.
Setelah lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah pasar ikan yang begitu ramai. Flo turun mendahului Genta. Bau amis yang sungguh menyengat membuatnya mengernyitkan hidung tanpa sadar.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Flo, memberikan helm pada Genta yang berada di sisinya.
"Mau beli ikan, cumi, sama udang buat dibakar nanti," jelas Genta.
Flo mengangguk, memahami.
"Yuk ke sana," ajak Genta, menunjuk menggunakan dagunya ke arah Farrell dan Arina yang baru tiba.
Mengekor di belakang Genta, Flo mulai merasakan perutnya bergejolak. Wajar saja Arina dilihatnya buru-buru mengenakan masker yang diberikan Farrell. Bahkan sahabatnya itu menyemprotkan parfum untuk memperbaiki aroma. Hal itu membuatnya ingin tertawa.
"Nanti gue bau ikan," Flo mendengar Arina beralasan. "Makanya gue pakek parfum yang banyak."
"Gak akan mempan." Farrell menoyor kening Arina.
"Langsung masuk aja," Genta berkata, memberitahu Farrell, Arina juga Flo untuk mengikutinya menuju bangunan yang kian jadi momok untuk Flo.
Flo tak masalah dengan bau satu-dua kilo ikan atau cumi, tapi jumlah yang berlimpah ternyata bereaksi buruk pada perutnya.
Ogah-ogahan ia melangkahkan kaki menuju bangunan sumber aroma kurang bersahabat itu. Ia bahkan tertinggal jauh di belakang Genta, dan Arina yang masih asik sesekali menyemprotkan parfum.
"Flo," suara yang mulai familier di telinganya menyapa.
"Kenapa?" Ia menoleh. Langkahnya telah berhenti, menghadapi Farrell.
"Mau pakai ini?" Farrell mengangkat scarf biru di tangannya.
"Buat?"
"Ngurangin bau yang bikin lo kurang nyaman ini," terang Farrell.
Flo terkejut mengetahui Farrell menyadari kerisihannya. Padahal ia kira ia menyembunyikannya cukup baik.
"Gue cuma bawa satu masker, udah gue kasih ke Arina. Jadi, lo bisa pakek ini kalo mau."
Flo menatap scarf biru bermotif putih itu. Yakin bahwa secarik kain itulah yang tadi melingkari leher Farrell.
__ADS_1
"Bersih kok. Serius."
Walau canggung, toh Flo meraih scarf itu dari tangan Farrell. Tak lupa menyertakan kata terima kasih.
Sebetulnya Flo tak terlalu yakin bagaimana caranya menjadikan sehelai kain menjadi masker darurat. Sehingga ia mencoba melipatnya beberapa kali, mengira-ngira ukuran yang tepat untuk menutupi hidung dan mulutnya.
"Mau gue bantu?"
"Eh..." Flo bimbang.
Farrell langsung mengambil alih scarf-nya kembali. Flo membiarkannya saja, mau menolak juga ia sama sekali tak paham. Jadi menerima bantuan adalah pilihan terbaik.
Farrell mengulurkan langkah mendekat, membuat jaraknya dan Flo kian rapat. Laki-laki itu dengan terampil melingkarkan scarf beraroma lembut dan segar—maskulin—menutupi sebagian wajah Flo, lalu menyimpulnya di bawah ikatan rambut Flo. Untuk sesaat aroma amis terlupakan. Bahkan irama napas pun Flo tertinggal.
Spasi yang sempit di antara keduanya membuat Flo leluasa memperhatikan fitur wajah Farrell secara diam-diam. Mengingat-ingat di mana tepatnya posisi lesung pipi laki-laki itu berada ketika tersenyum. Mengagumi betapa sempurna garis rahangnya, bentuk alisnya, lentik bulu matanya, lengkung hidungnya, dan lekuk bibirnya.
"Lo lihatin begitu gue jadi deg-degan," bunyi Farrell.
Flo terbatuk. Ia ketahuan. Alangkah memalukannya.
Ia dapat merasakan rona panas menjalar dari leher ke wajahnya. Sangat-sangat bersyukur ada scarf yang menyembunyikan separuh mukanya.
"Gak nyaman?" tanya Farrell, setelah bergerak mundur.
Sepasang alis Flo terangkat.
"Scarf-nya?"
"Nyaman. Makasih."
Farrell mengangkat bahu. "It's ok," ia berkata seraya tersenyum.
Lalu keduanya diam. Saling berhadapan. Memecah gerombolan orang yang hendak masuk ke pasar.
"Yuk masuk," akhirnya Flo berinisiatif untuk buka suara karena Farrell bungkam saja.
Ia pun mengambil langkah pertama untuk memasuki pasar. Dibuntuti Farrell yang sepintas lalu berkata pelan, "Gue kira lo belum puas ngeliatin gue."
Di depan, Flo memejamkan matanya sekejap, merutuki kecerobohannya.
***
Berbeda dengan aroma amis yang menyiksa di tempat sebelumnya, tempat Flo dan ketiga kawannya kini berada mengembuskan aroma gurih yang nagih. Perutnya yang tadi mual kini malah keroncongan.
Farrell datang membagikan minuman pada setiap orang di meja mereka sebelum duduk di sisi Flo.
Saat Flo hendak mengambil minumannya, dua tangan lain ikut mendekat. Hal itu menghentikan gerakan Flo. Ia mengangkat wajah untuk melihat tangan milik siapa yang melayang di sekitar botol minumnya.
Genta dan Farrell.
Insiden kecil itu sempat menimbulkan kecanggungan hingga Flo mengambil botol di depannya dan membukanya sendiri. Sementara Genta menarik tangannya kembali, dan Farrell meraih botol Arina untuk membukakan tutupnya, kedua laki-laki itu bersikap santai seolah tak ada kejadian konyol yang terjadi.
"Aduh, kepala gue pusing banget," keluh Arina, yang sejak tiba di sini langsung merebahkan kepalanya di atas meja.
"Mabok parfum lo," cibir Genta. "Dikit-dikit semprot, dikit-dikit semprot." Ia menirukan cara Arina menyemprotkan parfum ke masker juga sekitarnya.
Hal itu membuat Flo tersenyum melihat betapa miripnya Genta menirukan Arina. Ia juga setuju dengan pendapat laki-laki itu: Arina mabuk parfum. Akan aneh bila Arina tak merasakan efek apa pun setelah berulang kali menyemprotkan parfum pada maskerya.
"Minum dulu," saran Farrell. Disorongkannya botol minuman dingin hingga menempel di kening Arina.
"Dingin, Rell," keluh Arina.
"Atau mau gue beliin obat?" tawar Farrell.
"Gak usah." Arina bangun, menahan tangan Farrell di atas meja, mencegahnya untuk pergi. Ia pun meraih minumannya, menenggaknya sampai tersisa setengah lagi.
Farrell menarik tangannya dari bawah tangan Arina. Kemudian ia mengambil tisu lalu menggunakannya untuk mengelap kening gadis di hadapannya. "Jidat lo basah," ujarnya
Flo memperhatikan interaksi Farrell dan Arina yang manis. Makin menyadari betapa cocoknya mereka berdua. Keduanya punya visual yang oke, juga popularitas yang mumpuni di sekolah dan lingkungan sekitar.
Kesadaran ini memberikan efek tak nyaman di dasar perut Flo. Bukan seperti yang ia rasakan di depan gedung pelelangan, yang ini lain. Alih-alih ingin muntah, ini malah membuatnya merasa sedih. Aneh, bukan?
"Pepet terooos!" sindir Genta.
__ADS_1
Farrell menoleh, berkata, "Apaan, sih lo!" seraya melemparkan segumpal tisu di tangannya ke arah Genta.
"Resek lo!" Arina berkomentar, menoyor pelipis Genta dengan main-main. "Pepet-pepet."
"Ya emang benar, kan?" Genta tertawa-tawa, meningkahi reaksi teman-temannya.
Selama serangan-serangan pada Genta, Flo pura-pura asik dengan ponselnya. Tiba-tiba merasa asing dalam lingkaran pertemanan Farrell-Arina-Genta yang akrab. Seolah ia tak seharusnya ada di antara mereka.
Flo sangat bersyukur makanan mereka memilih saat itu untuk datang. Sehingga ia tak perlu lagi sok sibuk. Mereka semua asik makan dan mengobrol—Flo hanya menyahuti sesekali, ia tak terlalu paham sebab tidak satu circle dengan mereka.
Saat Genta dan Arina sedang berdebat tentang siapa murid paling sok pintar di kelas mereka, Flo asyik memilih akan makan apa setelah menghabiskan dua buah cumi bakar dan sepotong ikan yang ia tak tahu apa namanya.
"Si Markonah itu lebih ngeselin," Arina keukeuh. "Lo gak lihat tingkahnya itu?"
"Si kampret Jepri lebih sok lagi, Rin. Pelit banget ngasih contekan, padahal belum tentu benar jawabannya," Genta tak mau kalah.
Ia agak terkejut ketika piringnya ditarik menjauh, lalu piring lain yang di penuhi berbagai jenis ikan, cumi, dan udang yang sudah dipisahkan dari tulang dan kulit serta telah dipotong-potong seukuran satu suapan menggantikannya. Pelakunya adalah Farrell.
Kebingungan, Flo memandang Farrell dengan sepasang alis terangkat. Yang dibalas laki-laki itu dengan senyuman dan sebuah perintah tanpa suara agar ia memakan isi piring itu.
Drrrt... drrrt....
Suara getar ponsel mengalihkan fokus Flo juga Farrell, menghentikan perdebatan Arina dan Genta. Mereka berempat menatap ponsel bersarung merah jambu yang terbaring di sisi siku Arina.
"Halo," Arina bersuara, ponsel terpakir di muka telingannya. "Kenapa, Ma?... Harus sekarang banget?... Iya-iya," gerutunya dengan wajah merengut.
"Gue disuruh Mama pulang sekarang," ujar Arina setelah mengakhiri panggilan. Matanya bergantian menatap teman-temannya.
"Kenapa?" tanya Flo.
"Gak tahu. Tapi gue disuruh pulang cepat."
"Ya udah, yuk pulang," Flo langsung memutuskan.
"Lo anterin Arina pulang, Ta," ucap Farrell, mengabaikan ucapan Flo.
"Lah, dia berangkat sama lo, kenapa pulang sama gue?" protes Genta.
"Ban motor gue kempes banget, bocor kayaknya. Mau 'gimana?"
"Terus gue pulang sama siapa? Gue buru-buru, nih..." Arina merengek. "Mama gue bisa marah-marah nanti."
"Kita pulang naik taksi online aja," ujar Flo. "Yuk," ajaknya, sudah berdiri dari duduk.
"Macet jam segini naik mobil," Farrell langsung memupuskan ide Flo.
Mendesah Arina. Wajahnya masam. Ia kelihatan kesal ketika menghela tasnya dari kursi.
"Udah, gue naik ojek online aja!" sungutnya, melengos pergi begitu saja.
Flo meraih tasnya, hendak menyusul Arina. Namun gerakannya langsung terhenti ketika sebuah tangan melingkari pergelangan tangannya di bawah meja. Ia tahu itu perbuatan siapa, tapi si empunya bersikap seakan tidak terjadi apa pun.
"Susulin sana Genta," ujar Farrell. "Tega banget lo biarin dia pulang sendiri."
"Lo ditinggal gak pa-pa kan, Flo?" Genta mengabaikan Farrell.
Flo menoleh pada Genta, mengangguk. Dilihatnya wajah laki-laki itu meragu. Mungkin tak enak meninggalkannya padahal tadi mereka pergi bersama.
"Ya udah, gue duluan ya, nganterin Arina."
"Iya," jawab Flo.
"Anterin Flo pulang nanti," Genta berpesan sebelum meninggalkan Flo berdua bersama Farrell.
Selepas kepergian Genta, Farrell berdehem, melepaskan genggamannya. Menengadah ia memandang Flo yang masih berdiri terpaku.
"Lo gak niat ninggalin gue sendiri, kan?"
Cara Farrell memandang, membuat Flo lemah. Ia pun duduk kembali. Sekali lagi kegugupan bila berdua saja dengan Farrell menggayuti. Menguarkan harap yang mati-matian ia coba usir belakangan ini.
***
Menurut kalian wajar gak Flo baper sama oknum ini?
__ADS_1