Floriana

Floriana
Bab 25: Dialog Ketika Hujan


__ADS_3

"Aku antarin kamu pulang, ya?" pinta Farrell, setelah ia dan Flo tiba di depan gerbang sekolah.


"Gak—"


"Kita gak perlu jalan bareng kok," Farrell buru-buru menambahkan. "Kamu bisa jalan duluan, aku ngikutin jauh dari belakang. Aku cuma gak mau kamu pulang sendirian. Udah sore, sebentar lagi juga mau hujan kayaknya."


Lama Flo terdiam. Menimbang-nimbang. Ia sungguh tersentuh dengan keteguhan hati Farrell untuk mengantarnya. Memang benar cuaca mendung, mungkin sebentar lagi akan hujan, tapi hari belum terlalu sore.


"Gak usah, aku pulang sendiri aja. Belum terlalu sore juga. Dan kalo nanti hujan, malah kamu yang susah pulangnya."


Flo sudah akan berbalik pergi saat Farrell berkata, "Aku mau ambil Flo."


"Eh?" Flo mengernyit. Apa katanya?


"Flo..." Farrell mengulangi, "ikan pasangan Farrell."


"Ah... itu," Flo langsung mengerti. Maklum, terkadang otaknya agak lambat bila sedang gugup.


"Flo udah baik-baik aja, kan?"


Flo mengangguk. "Dia udah mau makan."


"Boleh aku ambil sekarang?"


Sekali lagi Flo mengangguk.


"Ya udah, kamu bisa jalan duluan, aku jalan di belakang. Atau di seberang aja? Kamu lebih nyaman aku di mana?"


Flo sangat mengapresiasi sikap Farrell yang tak memaksanya untuk melangkah seiring. Laki-laki itu betul-betul berusaha memberikan jarak yang ia minta.


"It's ok. Kita bisa jalan bareng."


Flo tak bohong, ia melihat Farrell terperangah mendengar apa yang ia sampaikan. Memangnya semengejutkan itu kata-katanya?


"Serius?" tanya Farrell, seakan tak percaya dengan kalimat yang didengarnya.


"Iya. Lagian nanti aku juga harus ketemu kamu lagi pas ngasih si Flo," terang Flo. Kan aneh bila ia menjaga jarak sekarang padahal di rumah nanti harus kembali berhadapan.


Dan akhirnya, Flo kembali melangkah bersisian dengan Farrell setelah sekian lama. Kekakuan yang pernah sirna di antara mereka kini kembali hadir lagi. Menyebabkan kebungkaman yang tampaknya akan abadi.


Meski bibir membeku, pikiran Flo seramai lalu lintas sore itu. Bising dan sibuk. Di satu sisi pikirannya mengajaknya bernostalgia akan setiap momen manis saat ia dan Farrell berdua, sedang bagian lain mendesaknya membuka percakapan seperti dahulu kala. Dan yang tak kalah memangganggu adalah sejumput instruksi yang menuntutnya menarik permintaannya akan jarak di antara mereka. Berada di dekat Farrell sungguh menguras tenaga.


Di atas sana langit kian kelabu. Kilat mulai menggapai-gapai dari balik awan, diiringi gelegar petir yang mencoba menyaingi suara lalu lintas yang menderu.

__ADS_1


Flo mempercepat langkahnya, begitu pula Farrell di sisinya. Namun rintik hujan mulai berjatuhan. Terpaksa keduanya berlari menyerbu rumah berpagar putih yang sudah ada dalam jaungkauan mata.


Huh. Untung saja mereka sampai di teras tepat sebelum hujan menjadi lebat, pikir Flo saat memandangi air yang mengucur deras dari atap beranda. Kemudian ia menoleh ke samping, mendapati Farrell sedang menepis bulir-bulir air dari seragamnya.


"Tunggu sebentar," ujarnya, "aku ambilin Flo." Sebenarnya ia ingin menyuruh Farrell masuk dan menunggu di dalam karena, toh hujan deras sekali, namun lidahnya kelu, dan yang mampu terucap hanya kata-kata itu.


Farrell mengangguk, dan Flo segera berbalik mendekati pintu. Tak lupa ia mengucap salam sebelum menekan kenop pintu.


Seperti salamnya yang tak bersahut, pintu itu juga tak mau terbuka. Sehingga ia pun mencoba memanggil ibunya lagi, dan kembali tak ada balasan dari dalam sana.


Ibunya sedang tidur atau memang tak ada di rumah?


Entahlah, ia tak punya gambaran.


Akhirnya ia menyerah memanggil ibunya atau pun menekan-nekan kenop pintu.


"Gak ada orang?" tanya Farrell.


Flo menoleh sekilas dan berkata, "Kayaknya."


Entah sedang sial atau apa, Flo sama sekali tak mengerti, ia tak menemukan kunci rumah cadangan—yang mungkin tertinggal di kamar—dan ketika ia menelepon ibunya, beliau mengonfirmasi bahwa beliau sedang ada urusan di luar.


Ingin rasanya mengumpat, tapi takut dosa.


Sekarang apa yang harus ia lakukan? Tak punya kunci, hujan deras, dan ada Farrell.


Saat Flo menatap hujan, ia tahu Farrell sedang menatapinya. Hal itu sungguh membuatnya rikuh. Akan baik sekali bila ada kunci dan hujan segera reda agar Farrell dapat pulang secepatnya.



Terdengar suara dering ponsel yang teredam. Flo tahu itu bukan bunyi ponsel miliknya, jadi itu pasti milik Farrell.


"Kenapa, Ta?" sapa Farrell pada si penelepon, membuat Flo seketika menajamkan pendengaran. "Gue lagi di rumah Flo... Mau ngambil ikan ****** gue... Tergantung... Hujan deres gini... Iya, nanti gue kabarin."


Percakapan Farrell dan seseorang yang Flo duga adalah Genta itu menimbulkan kembali pertanyaan yang pernah hadir di kepala Flo namun belum sempat ditanyakannya. Dan ia tergoda untuk menanyakannya sekarang.


"Ehem," ia berdehem, membersihkan tenggorokan sekaligus mengumpulkan keberanian.


"Rell," panggil Flo. Pelan. Ia bahkan sampai kaget melihat Farrell yang langsung menoleh mengingat hujan keras sekali menghujam tanah.


"Kenapa?" sahut Farrell. Sangat responsif.


"Aku mau nanya."

__ADS_1


"Apa? Tanya aja."


"Kamu kan udah kenal Genta lama benget." Flo melirik Farrell, melihat reaksi laki-laki itu yang datar-datar saja. Padahal ia susah payah menyebut nama Genta di antara mereka berdua. "Dan kamu bilang Genta pernah suka sama aku, kamu juga gitu."


"Masih," sela Farrell.


"Mm?" Flo mengernyit.


"Aku bukan pernah suka sama kamu, aku masih suka sama kamu."


Dusta bila sanggahan Farrell tak bereaksi apa pun padanya. Karena untuk sesaat, napasnya tertahan, jantung berpacu di luar aturan.


Butuh waktu beberapa lama bagi Flo untuk mengatur diri, mengatur pikirannya, sebelum mulai bertutur lagi.


"Itu kenapa kamu pernah ngejauhin aku." Sejenak ia berhenti. Mendadak ingat betapa sedihnya ia ketika Farrell tanpa alasan menjauh serta menghindarinya, membuatnya saat itu bertanya-tanya apa yang salah. "Tapi sekarang kamu..." Ia bingung apa pilihan kata yang tepat.


"Hadir lagi?" Farrell menyarankan.


Flo mengangguk, menyetujui penggunaan kata itu. " Sekarang kamu hadir lagi, karena kamu bilang Genta udah nyerah. Tapi nyerah bukan berarti perasaannya hilang kan?" tanyanya. "Bukannya aku geer atau apa, cuma seandainya, seandainya Genta masih suka sama aku, kamu gak takut Genta sakit hati karena kamu dekat sama aku? Dia kan teman kamu."


Farrell tersenyum tipis. "Aku rasa Genta masih suka sama kamu. Tapi dia lagi belajar buat lupain perasaannya sama kamu. Dan itu butuh waktu, gak bisa instan. Dia butuh waktu lebih dari sehari-dua hari."


Benar kan, pikir Flo. Ia tak salah berpikir bahwa mungkin Genta masih menyukainya.


"Terus kenapa kamu terus berusaha memperbaiki hubungan kita? Kenapa harus buru-buru? Kenapa gak nunggu sampai Genta lupa dulu?"


"Karena kalo aku nunggu, mungkin butuh waktu yang terlalu lama dan kita mungkin udah terlalu jauh dari satu sama lain. Karena mungkin kalo nunggu, kamu udah sama orang lain."


Flo mengalihkan pandang dari mata Farrell yang teduh. Ditatapnya kembali hujan yang mulai berkurang intensitas debit airnya. Ia kehabisan kata-kata untuk diucapkan.


"Flo, kayaknya kamu salah paham sama alasan aku ngejauhi kamu."


Flo diam saja. Tak menoleh atau pun bersuara.


"Aku gak ngejauhin kamu karena Genta suka sama kamu, tapi karena janji **** yang pernah aku sepakati sama Genta," Farrell meneruskan kata-katanya. "Seandainya gak ada janji itu, aku juga gak akan ngejauhin kamu walau pun tahu Genta suka sama kamu. Karena aku sama Genta bukan anak kecil lagi yang akan berantem buat rebutan cewek. Kita berdua udah sama-sama cukup dewasa buat bersaing secara sehat. Tapi karena udah terlanjur janji, aku terpaksa ngelepasin kamu sekali, Flo. Karena janji harus ditepati, kan?"


Flo mengangguk kecil. Lantas ia menoleh dan bertanya, "Kalo kalian saingan, berarti bakal ada yang sakit hati kan?"


"Suka sama seseorang harus siap sakit hati, kan?" Farrell balik bertanya. "Lagi pula, sakit hati itu hak segala umat manusia. Semua orang berhak ngejar orang yang dia suka, semua orang berhak buat sakit hati, dan gak ada yang perlu dikasihani. Itu fase. Yang sakit hati nanti juga akan sembuh. Perasaan yang pernah ada nanti juga akan hilang. Semua butuh waktu. Genta sekarang juga gitu. Jadi, aku atau kamu gak perlu merasa bersalah sama dia. Ini bukan kayak kita berkhianat di belakang dia atau apa, karena kamu juga gak punya hubungan apa pun sama dia. Biarin Genta ngurusin masalah hatinya sendiri, jangan malah kamu ngerasa gak enak, karena kalo Genta sampai tahu kamu ngerasa gak enak sama dia, dia bisa ngerasa terhina."


***


jangan lupa vote, like, komen, kasih bintang lima dan share ya. dan terima kasih buat yang udah nunggu dan kasih semangat aku buat nulia cerita itu. aku benar-benar berterima kasih kali kalian suka dan menikmati cerita ini. dan maaf kalo ada typo atau feel-nya kurang dapat.

__ADS_1


c u next chapter


bye all.


__ADS_2