Floriana

Floriana
Bab 21: LDR


__ADS_3

Kriuk, kriuk.


Suara garing emping melinjo rasa balado yang dimamah Flo dan Arina memenuhi udara. Keduanya tengah duduk santai di beranda rumah Flo pada sore yang berangin. Sama-sama sibuk pada ponsel masing-masing. Arina bersama aplikasi chatting-nya. Flo ditemani aplikasi baca novel gratisnya.


"Flo?" panggil Arina. Setelah sepuluh menit terakhir diam saja.


"Mm?" gumam Flo sekenanya.


"Lo gak ada niat pacaran, Flo?"


Flo mengernyit. Ia pun menoleh ke sisinya. Didapatinya Arina sudah tak lagi menekuri ponselnya. Pantas saja.


"Udahan chatting-annya?" Flo balik bertanya.


"Dia lagi mandi," jawab Arina sambil lalu. "Lo gak ada niat pacaran, Flo?" ulangnya.


"Gak," ujar Flo. Ia sudah kembali membaca cerita fanfiction salah satu idolanya di layar ponsel.


"Serius? Gak penarasan 'gitu rasanya?"


"Enggak," jawab Flo. Jemarinya sibuk merogoh ke kantong plastik transparan besar di antara dirinya dan Arina. Dihelanya beberapa keping emping berwarna merah untuk kemudian dilahapnya satu persatu.


"Enak tahu, Flo. Ada yang care, ada yang nganterin ke mana-mana, ada yang bikin semangat bangun pagi buat sekolah."


"Mamaku yang cukup care," sahut Flo.


"Itu mah bedah atuh."


"Kalo butuh driver buat anganter ke mana-mana 'kan ada abang ojol."


"Yeee, abang ojol mah gak bisa bikin nyaman. Gak bisa bersandar di punggungnya."


"Bisa kalo mau," tukas Flo. Memang benar, kan?


"Dih." Arina bergidik. "Amit-amit dah."


"Terus," Flo melanjutkan bantahannya akan banefit berpacaran yang dipaparkan Arina, "aku udah cukup semangat bangun pagi buat berangkat sekolah tanpa perlu bikin siapa pun jadi alasan."


"Iya sih yang anak IPA," ejek Arina. Didorongnya pipi Flo dengan ujung jari telunjuknya.


"Gak gitu, Rin." Flo tertawa tanpa merasa lucu. "Gak ada hubungan semangat berangkat sekolah sama anak IPA atau IPS."


"Iya, iya," kata Arina.


Selang beberapa waktu mereka hanya berhening ria, membiarkan suara renyah emping meraja. Hingga kemudian, Flo yang sudah tak fokus lagi membaca berujar, "Menurutku pacaran itu lebih banyak gak enaknya."


"Apa gak enaknya?" tantang Arina.


"Galau..." walau pun gak pacaran aku juga galau, Flo mengakui dalam hati. "Galau mulu. Abis itu nangis-nangis kalo putus, padahal mah dia yang mutusin."


"Nyindir, nih?"


Flo nyengir. "Tapi benar, kan?"


"Iya benar. Tapi itu kan resiko. Segala hal pasti ada resikonya. Kamu belajar terus aja tetap ada resiko gagal di ujian atau dapat nilai tugas jelek. Pacaran juga 'gitu, ada resiko galau, ada resiko sakit hati."


Flo melirik Arina yang jarang-jaramg bijak seperti ini. Tapi gadis itu sudah kembali asik pada ponselnya. Tampaknya Januar sudah selesai mandi.


"Tumben kamu bijak banget."


Menoleh Arina mendengar pujian Flo. Wajahnya menampilkan cengiran yang membuat kecantikannya bertambah bukan malah berkurang.


"Iya dong," kata Arina penuh kebanggaan. Tangannya pun ia ulurkan, menggapai kepala Flo untuk menepuknya sekilas. "Gue kan jadi kakak-kakak ber-KTP sebentar lagi."

__ADS_1


"Masih November nanti. Masih lama."


"Sebentar lagi itu Flo."


Sementara Arina membalas pesan-pesan Januar, Flo mencoba kembali fokus pada bacaannya. Namun ia sekali lagi gagal. Otaknya masih memikirkan topik pembicaraannya dengan Arina.


"Rin?" kali ini Flo yang memanggil. Mengabulkan desakan benaknya untuk bertanya.


"Apa?" sahut Arina tanpa menoleh.


"Aku heran deh."


"Heran kenapa?" Arina menoleh sekejap dengan sepasang alisnya yang menukik indah terangkat samar.


"Kan kalo kamu putus, kamu yang mutusin buat mengakhiri hubungan. Tapi kenapa kamu yang nangis? Kenapa kamu yang move on-nya paling lama?"


"Karena..." Arina sepenuhnya berpaling pada Flo kini, "siapa yang paling sakit hati atau siapa yang paling lama move on itu gak ditentuin sama siapa yang mutusin. Itu mah tergantung siapa yang perasaanya paling dalam."


"Terus kalo perasaannya dalam kenapa memilih buat mutusin? Kenapa gak coba bertahan?"


"Biasanya sih pasti udah pernah nyoba bertahan Flo, tapi kesalahannya terlalu besar untuk ditolerir atau udah capek aja. Jadi mending udahan, walau pun sebenarnya masih sayang banget. Walau pun sakit banget."


"Ribet."


"Tapi nagih," timpal Arina. "Makanya pacaran Flo. Pasti nanti bakal paham deh."


"Kapan-kapan deh," ujar Flo tanpa minat.


Arina tertawa.


"Sama siapa rencana?"


"Belum kepikiran."


Mendengar nama itu, mendadak angin rasanya tak lagi bermain; dedahan pohon tak lagi bergoyang. Mendadak Flo yang tadinya santai jadi siaga.


"Apaan, sih," keluh Flo. "Gak usah ngomongin dialah."


"Kenapa?" tanya Arina, wajahnya kepo sekali.


"Gak pengen aja."


"Tapi gue pengen. Soalnya gue ngerasa Farrell itu jadi agak beda semenjak dekat sama lo."


"Kita gak dekat," bantah Flo.


"Sekarang enggak, tapi dulu pernah, kan?"


Flo tak menjawab.


"Gue ngerasa Farrell kayak berusaha jadi lebih baik semenjak dulu dekat sama lo. Dia udah jarang banget berangkat kesiangan. Udah gak sering ngebujukin Genta buat skip pelajaran lagi. Gue juga gak pernah dengar atau pun tahu dia dekat sama siapa pun setelah dekat sama lo."


Flo mengernyit. Jadi Farrell tak bohong? Tak ada apa-apa antara dia dan Karina.


"Bukannya dia dekat sama Karina?" tanya Flo, berusaha sesantai mungkin, seolah ia tak peduli.


"Karina mana?"


"Karina teman kamulah."


"Enggak. Si Karina mah pacaran sama Alby setahu gue. Udah dari jaman MOS mereka mah. Lo tahu dari mana Karina dekat sama Farrell?"


"Dengar-dengar aja. Gak tahu dari siapa."

__ADS_1


"Cieee," goda Arina. "Tumben banget seorang Flo dengarin desas-desus kehidupan orang lain. Cowok lagi. Bohong banget deh gak ada apa-apa antara lo sama Farrell. Kepo tahu gak sih gue."


"Aku gak sengaja dengar."


"Cieilah Flo," ucap Arina dengan tersenyum-senyum, "gak pa-pa kali kalo ada apa-apa juga. Sama-sama single ini."


Samar-sama rasanya Flo pernah mendengar Arina berkata begitu. Namun bukan perihal ia dan Farrell, tetapi... Genta—seingatnya. Tampaknya Arina lebih ngebet mencarikannya jodoh ketimbang Flo sendiri.


"Paket!"


Lega sekali Flo mendengar teriakan itu. Membuat Arina berhenti dengan ocehan tak jelasnya. Dan bersama-sama mereka memanjangkan leher memandang ke arah pagar rumah—dari mana suara berasal.


Melihat jaket parasut bercorak hujau-hitam, Flo segera beranjak dari duduknya. Ia melangkah seraya berjinjit-jinjit di atas batu-batu datar karena tak memakai alas kaki.


Paket siapa itu gerangan? Flo merasa ia tak belanja apa pun.


"Ada paket atas nama Floriana," ujar tukang ojek di balik pagar setinggi dada.


"Saya Floriana," aku Flo. "Paket dari siapa, ya?"


"Dari Mas Farrell, Mbak."


Mendengar nama Farrell, organ-organ di tubuh Flo otomatis bereaksi. Menggeliat dan mengkeriut.


Si tukang ojek mengulurkan sebuah kantung plastik hitam. Menerbitkan kerut di antara alis Flo.


"Ini Mbak barangnya."


Flo menerimanya. Berat.


"Makasih," ujarnya.


Tanpa menunggu si tukang ojek pergi, Flo sudah mengintip isi plastik. Didapatinya seekor ikan ****** berwarna merah terbungkus plastik bening berukuran satu kilogram berisi air.


Itu Flo! Tapi kenapa Farrell mengirimkan ikan ini padanya?


Mata Flo juga menangkap sehelai kertas bersama ikan ****** itu. Mencolok di dalam plastik hitam. Segera ia menghelanya, membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca.


Udah beberapa hari ini Flo gak mau makan. Mungkin dia kangen sama Farrell. Jadi tolong diketemuin dulu mereka berdua ya, Flo. Maklum, udah lama LDR.


Maaf kalo ngerepotin.


Farrell.


Nb: kamu benar, gak mungkin buat pura-pura amnesia setelah semua yang pernah ada.


Tercenung Flo membaca pesan itu. Bukan pada bagian absurd tentang LDR kedua ikan ****** mereka, tapi pesan tambahan di ujung kertas itu.


Andai Farrell mau terus terang memaparkan alasannya menjauh, barangkali mereka bisa kembali seperti dulu. Barangkali... jika itu tak ada hubungannya dengan seorang gadis seperti yang coba laki-laki itu yakinkan.


"Paket apa, Flo?!" teriak Arina, membuyarkan lamunan Flo.


"Flo!"


***


Dear para membaca,


tolonglah bantu author dengan like, vote, komen, kasih bintang lima, dan share. tolonglah.


terima kasih


laf ya ol 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2