
Flo duduk bersandar ke kursi, di belakang meja belajarnya. Ia baru saja selesai menjilid makalah yang harus ia kumpulkan esok hari. Sesuatu yang jarang terjadi, karena biasanya ia selalu melenyesaikan tugas lebih awal.
Kepala Flo tengadah, memandang bulan bulat sempurna di balik jendela kaca yang terbuka. Angin malam yang sejuk mengalir masuk, meniup lembut wajahnya. Menghembuskan kenangan yang terus ia coba usir namun kembali datang.
Hubungannya dan Farrell sekarang jadi terasa rumit dengan fakta yang baru ia tahu siang tadi. Ia jadi setengah menyesal mendengarnya. Mendapati sekarang ia harus kebingungan bagaimana menghadapi Genta dan Farrell secara bersamaan.
Tadinya ia ingin menganggap ucapan Farrell tadi hanyalah guarauan. Namun air muka laki-laki itu sama sekali tak tampak bergurau. Malah, Farrell sangat serius, lebih serius dari saat mana pun yang pernah diingatnya. Lagi pula, bila semua ucapan Farrell hanya canda, sekali lagi ia terpaksa harus mengamini bila laki-laki itu menyukai gadis lain yang terlalu luar biasa untuk ia saingi—dan itu bukan perasaan yang menyenangkan.
Kenapa di antara banyaknya gadis yang ada di sekolah, di hidup Genta, laki-laki itu malah tertarik padanya? Dan pertanyaan itu juga berlaku untuk Farrell. Kenapa Farrell yang luar biasa menyukainya yang begitu biasa?
Ting!
Flo mengalihkan pandang. Pikirannya buyar. Fokusnya tertuju pada ponsel yang bercahaya di atas makalah berjilid biru. Lantas diambilnya benda tipis itu, yang menampakkan notifikasi pesan baru dari salah seorang yang memenuhi pikirannya.
Genta Ghiffari: Flo.
Genta Ghiffari: Kelas lo dikasih tugas bikin makalah gak?
Lama Flo tak bergeming, memandangi ponsel di tangannya dengan gamang. Padahal sebetulnya pesan seperti itu adalah pesan yang biasa, sederhana. Tapi setelah mengetahui bahwa Genta menyukainya, setiap interaksi mereka jadi menimbulkan banyak spekulasi di benaknya.
Ini Genta serius bertanya atau dia hanya mencoba membuka percakapan? Jadi, apa selama ini Genta rutin menghubunginya ada maksud lain? Dan semua perhatian dan kebaikan Genta padanya hanya karena dia menyukainya? Atau memang pada dasarnya Genta memang baik? Bila laki-laki itu memang baik, bagaimana caranya tahu bahwa laki-laki itu sudah move on?
Plak!
Flo menampar pipinya. Merebakkan rasa panas yang membikinnya meringis. Ia terlalu semangat menampar diri sendiri. Padahal niatnya hanya untuk menyadarkan pikirannya dan untuk kembali mengingat ucapan Farrell kemarin.
Genta udah nyerah.
Tapi menyerahkan bukan jaminan lupa, kan? Ia menyerah pada banyak hal, tapi ia tak lupa bahwa ia masih menyukai hal-hal itu. Jadi, meski Genta menyerah padanya, belum tentu laki-laki itu telah berhenti menyukainya, kan?
Plak!
Sekali lagi Flo menapar pipinya.
Sadar, Flo! Jangan berpikir terlalu berlebihan. Perasaan Genta belum terkonfimasi.
Flo menghela napas panjang. Jadi, sekarang fokus pada pesan. Genta menanyakan perihal tugas, jauhkan sejenak soal perasaan.
Cepat jemari Flo mengetik balasan untuk Genta. Dan seraya menarikan jemarinya, ia jadi ingat bahwa ini pertama kalinya Genta bertanya perihal tugas. Sebelumnya pesan-pesan Genta hanya berisi basa-basi yang tak ada isi.
Me: Iya dikasih. Kenapa, Ta?
Genta Ghiffari: Dikasih kerajaan apa?
Fast respond, pikir Flo.
Me: Kerajaan Sriwijaya.
Me: Kelas kamu juga dapat tugas makalah?
Genta Ghiffari: Iya. Kelompok gue kebagian Majapahit.
Genta Ghiffari: Gue browsing banyak banget artikelnya. Bingung mau pakek yang mana. Malas baca.
Genta Ghiffari: Tadinya gue mau minta rekomendasi lo, tapi materi kita beda.
Me: Kamu ngerjain makalahnya sendiri?
Genta Ghiffari: Iya. Gak ada yang bisa diandalin di kelompok gue, cowok semua.
__ADS_1
Me: Oh gitu.
Flo merasa iba. Ia sudah biasa mengerjakan tugas kelompok seorang diri. Karena memang ia lebih suka mengerjakan sendiri. Menurutnya semakin banyak kepala dan tangan malah membuat segalanya semakin pelik. Tapi hal itu pasti tak berlaku untuk Genta. Laki-laki itu pasti tak biasa mengerjakan tugas kelompok seorang diri.
Me: Ya udah nanti aku bantuin nyari materi. Aku kirim lewat email ya.
Me: Kirimin alamat email kamu.
Genta Ghiffari: Oke. Makasih, Flo. Terbaik memang.
Me: Sama-sama.
Done. Flo mendesah lega. Kembali dibaringkannya ponselnya di atas meja, di sisi toples ikan ****** yang masih dihiasi pesan-pesan Farrell.
Baru saja Flo menyadarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi, ponselnya kembali berdenting dan menyala.
Mendesah, ia kembali meraih benda tersebut.
Genta Ghiffari: Ada titipan pesan dari Farrell.
Flo tersedak. Jantungnya berpacu cepat. Gugup mulai menggelitik perutnya.
Ia dapat pesan dari orang yang ia sukai, disampaikan oleh teman yang menyukainya. Ribet sekali bukan?
Genta Ghiffari: Katanya, seenggaknya buka blokiran nomornya. Gak maksa tapi, seikhlasnya.
Seyakin itu Farrell bahwa Genta tak lagi menyukainya, hingga dia berani menitipkan pesan padanya lewat Genta?
Me: Kapan-kapan.
***
Ia butuh jarak.
Dan di sana, di seberang jalan, berdiri Farrell yang memandangnya dengan senyum selamat-pagi yang biasa. Merentang jarak yang ia minta. Meski sebetulnya jarak yang ia maksudkan lebih dari sekedar lebar jalan raya, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia merasa tersentuh alih-alih kesal.
Tak mau terlarut perasaan, Flo melengos dan memulai pejalanannya menuju sekolah. Sepanjang jalan, tak usai-usai ia mengingatkan diri agar tak menoleh untuk menemukan sosok Farrell, yang mana tak mudah. Besar sekali hasratnya untuk berpaling.
Flo amat lega begitu kakinya menapaki koridor lantai dua. Sebentar lagi ia dapat mendekam di kelasnya tanpa kemungkinan harus diresahkan dengan keberadaan Farrell. Ia bisa bersembunyi dalam kedamaian kelasnya, melarikan diri dari rumitnya pikiran tentang rasa dalam derasnya materi pelajaran hari ini.
"Eh, Flo!" Salah seorang teman sekelas Flo—Freeska—menghadang jalannya. Ia heran Freeska sudah berangkat sekolah, padahal biasanya ialah yang menjadi murid pertama di kelasnya yang tiba di sekolah.
"Kenapa?" tanya Flo. Mau tak mau ia mereda langkah untuk menghadapi Freeska.
"Makalahnya udah?"
"Udah." Flo mengangguk.
"Mana gue mau lihat?"
Flo melepas satu tali ranselnya untuk mengeluarkan makalah yang sudah ia selesaikan semalam. Dalam diamnya, Flo tahu Farrell masih ada di belakangnya, membuatnya ingin menoleh untuk memastikan. Tapi sekali lagi ia menahan diri. Memilih fokus pada teman di depannya dan makalah kelompok mereka.
"Sini, gue aja yang ambil," ujar Freeska, mengambil alih ransel Flo. "Mending lo ke kantor aja—gue hampir lupa mau bilangnya."
"Kenapa?" Sepasang alis Flo terangkat. Ada apa gerangan sepagi ini disuruh mengapel kantor? Seingatnya ia tak terlambat mengumpulkan tugas apa pun.
"Dipanggil kakak gue."
"Pak Firza?"
__ADS_1
"Iyalah, Flo," ucap Freeska diiringi senyum tipis. "Kakak gue yang kerja di sini kan cuma satu itu doang."
"Buat apa?" tanya Flo. Pak Firza tak mengajar pelajaran apapun di kelasnya, ia juga bukan anggota OSIS yang dibimbing beliau. Jadi apa alasan perintah ini?
Freeska menggedikkan pundaknya. "Soal peringatan ulang tahun sekolah mungkin. Mungkin lo disuruh ngisi acara. Dia pernah nonton pertunjukan balet lo sekali dan bilang lo bagus banget."
Setelah mendengar dugaan Freeska, Flo berbalik dan meninggalkan ranselnya bersama gadis itu. Dalam-dalam ia mrunundukkan kepala, berhati-hati menjaga matanya agar tak menyentuh sosok Farrell di sisi koridor. Kendati begitu, ia masih bisa merasakan tatapan laki-laki itu menyorot langkahnya hingga ia berbelok menuruni tangga. Dan sensasi lega pun meliputinya.
Sudah hampir bel masuk ketika Flo keluar dari ruangan Pak Firza dengan keputusan ia menerima permintaan guru itu untuk tampil di acara ulang tahun sekolah. Karena biasanya hanya anak-anak ektrakurikuler yang mengisi acara, sementara ia tak ikut ekstrakurikuler apa pun, itu merupakan sebuah permintaan yang cukup spesial. Sebetulnya ia senang-senang saja menari balet, hanya saja pasti sangat menegangkan menari di depan seluruh murid sekolah yang bukan peminat balet sungguhan. Mereka mungkin tak akan menghargai penampilannya.
Setibanya di kelas, Flo menemukan ranselnya tergeletak di atas meja, didampingi minuman tinggi vitamin C yang ia duga dari Farrell.
"Udah makalahnya, Frees?" Flo mengetuk pundak teman yang duduk di depan mejanya.
Yang ditanya menoleh, lantas berkata, "Gak ada." Santai sekali ia menjawab, seolah tak ada beban. Padahal bila makalah itu tak ada, mereka akan berada dalam masalah karena pelajaran sejarah adalah pelajaran di jam pertama dan guru mata pelajaran itu sama sekali tak punya belas kasih.
"Serius?" Flo mulai menggeledah ranselnya, sementara Freeskan hanya mengangguk sekilas sebelum kembali menghadap depan.
Usai mengubek tasnya, mengeluarkan segala buku dari dalamnya, Flo mengakui bahwa makalahnya memang tak ada.
Astaga. Flo mengusap wajahnya kasar. Ia ingat betul bila semalam ia meletakkan makalah itu di atas meja, dan dengan ceroboh tampaknya ia lupa memasukkannya ke dalam tas. Apa coba yang ia pikirkan hingga bisa lupa membawa tugas yang terpampang nyata di tempat strategis?
Dalam panik, ia melirik arlojinya. Sudah nyaris pukul setengah delapan. Benar-benar tak ada harapan. Tak mungkin ia bisa berlari pulang dan kembali ke sekolah sebelum bel bergaung.
Flo mendesah putus asa. Punggungnya ia istirahatkan ke sandaran kursi, sementara mata mengelilingi kelas dengan sapuan gelisah. Setiap kelompok ada bersama makalah mereka untuk dipresentasikan. Apa kabar dengan kelompoknya? Apa yang mau mereka presentasikan?
Perut Flo bergejolak ketika bel masuk berdering sesuai jadwal. Sensasi cemasnya makin menjadi-jadi kala guru sejarah mengucap salam memasuki kelas.
Pelajaran pun di mulai.
Kelas benar-benar kondusif sejak guru sejarah memasuki kelas, pun kini ketika kelompok pertama memulai presentasinya. Tak ada yang berani memulai kekisruhan selama pelajaran sejarah, sebab sang pembimbing bukan seseorang berhati lembut yang bisa diajak kompromi mengendurkan kedisiplinan. Semua siaga, hati-hati menjaga suara dan posisi tubuh, membuat Flo semakin tersiksa akan rasa khawatirnya.
Gemuruh tepuk tangan menandai akhir kata pemapar materi di depan. Membuat jantung Flo mencelos. Karena selanjutnya kelompok kedualah yang harus memulai presentasi—kelompoknya.
Tok, tok, tok!
"Permisi, Bu!"
Semua kepala terlempar ke sumber suara. Mendapati seorang laki-laki yang terengah napasnya berdiri di ambang pintu muka. Wajahnya berkilap basah oleh keringat, seragamnya tak rapi, keluar dari pinggang celana; matanya lurus menatap Flo yang mulai berdebar-debar jantungnya.
"Kenapa Farrell?" tanya sang guru sejarah.
"Nganterin makalah, Bu. Ada makalah yang ketinggalan di atas meja kantin."
"Makalah siapa yang ketinggalan di kantin?!" tanya Bu Sejarah dengan suara keras. "Kalian itu bisa-bisanya ninggalinya tugas di kantin," omelnya.
Flo menunggu Farrell menyebut namanya. Ia cukup yakin bila makalah biru di tangan laki-laki itu adalah miliknya yang tertinggal di rumah, bukan milik orang lain yang tertinggal di kantin. Bila makalah itu dari kantin, Farrell tak akan terengah kehabisan napas seperti habis berlari jauh begitu, Farrell tak akan berkeringat sebanyak itu, dan Farrell tak akan menatapnya seperti itu.
"Freeska," ujar Farrell, membaca sebuah nama di lembar pertama makalah, kemudian tatapnya sekali lagi melayang ke sosok Floriana Adinda.
Dan kembali, Flo teringat jarak yang ia minta.
***
hola guys, ada yang nungguin cerita ini? Kalo ada sori udah bikin lama nunggu. aku suka males ngedit. btw, aku mau ngingetin bahwa sekecil apapun apresiasi kalian terhadap karya ini akan sangat berarti buatku. jadi please, buat yang menikmati cerita ini, diharapkab untuk like, vote, komen, dan kasih bintang lima. thank you. lof you💕
__ADS_1