Floriana

Floriana
Bab 22: Seseorang di antara Kita


__ADS_3

Dengan luwes Flo meraup rambut panjangnya, mengikatnya jadi satu di belakang kepala. Menyisakan poni yang sudah memanjang mencapai garis rahang. Seragam dan sepatu sudah melekat pas di tubuhnya. Bersama dasi yang melingkari leher, menyempurnakan look siswi sekolahnya.


Dari arah rumah tetangga sebelah, terdengar kicau burung yang antusias pada pagi cerah di akhir Juli ini. Mengiringi derap langkah Flo yang menyadang ranselnya keluar rumah, siap berangkat sekolah.


Pagi ini Flo bangun dengan perasaan riang, entah mengapa. Mungkin karena tidurnya cukup, atau barangkali ia memimpikan sesuatu yang baik—walau ia tak ingat apa itu. Yang jelas ia merasa senang. Seolah ini adalah awal hari yang sempurna. Ia hanya berharap mood baik ini terus bertahan hingga ujung senja.


Hangat sinar mentari langsung menyiram Flo begitu ia menginjakkan kakinya di atas batu-batu bulat yang menciptakan jalur membelah halaman.


"Pagi," sebuah suara menyapa. Mengejutkan Flo yang sedang khusuk menutup pintu pagar.


Ketika menoleh, Flo menemukan Farrell bersama senyum berlesung pipinya, mengulurkan sebotol minuman tinggi vitamin C. Minuman serupa yang kemarin pagi—sekembaliknya dari kelas Farrell—ia temukan di atas mejanya. Yang berbeda, hanya kali ini minuman itu berperisa apel setelah kemarin lemon.


Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat Farrell di sini. Di depan rumahnya. Dan dengan keberadaan Farrell di sini, membuatnya terkenang akan masa-masa menyenangkan yang penuh harap, yang telah berlalu.


Tapi mengingat percakapan mereka kemarin, atas keengganan Farrell untuk beralasan, Flo yakin bahwa masa-masa yang lalu tak akan pernah terulang lagi. Seingin apa pun ia itu terjadi.


"Aku cuma mau ngasih ini." Farrell menggoyang tangannya pelan, mencoba menarik perhatian Flo atas minuman yang ia bawa. "Aku gak akan bikin mood kamu berantakan lagi pagi-pagi gini dengan permintaan maafku, kok."


Flo berdehem, membersihkan terggorokan dan pikirannya.


"Gak usah."


"Please..."


Flo tak bergeming. Masih menimbang-nimbang keputusan apa yang lebih baik. Menerima atau menolak permberian Farrell.


Sebelum Flo sempat memutuskan, Farrell sudah lebih dulu ambil kesempatan. Dalam kebungkaman Flo, ia melangkah mendekat, pergi ke belakang Flo dan menyelipkan minuman yang diberikannya di salah satu saku ransel Flo.


Baru saja Flo hendak protes, Farrell lebih dulu berkata, "Kamu keberatan aku jalan ke sekolah bareng kamu?"


Seketika Flo langsung siaga. Melihat sekitar, tak menemukan skuter biru Farrell dalam jangkauan mata. Hal itu membuatnya khawatir. Jangan bilang ia harus berjalan bersisian dengan Farrell sepanjang jalan menuju sekolah sekali pun ia menolak.


Apa-apaan ini?!


Inikah cara baru Farrell mencoba memperbaiki hubungannya dengan Flo tanpa harus repot menjelaskan apa pun? Tak lagi meminta Flo memaafkan tapi terus merongrongnya dengan sikap manis yang menimbukan perasaan? Menempel terus pada Flo tanpa menekannya, hingga akhirnya ia lupa pada masalah yang menjauhkan mereka berdua?


Tapi Flo tak akan tertipu atau juga lupa. Ia tak sebodoh itu.


Maka, tanpa menjawab pertanyaan Farrell, Flo melenggang pergi, meninggalkan Farrell di belakangnya.


***


"Flo, lo yang buang sampah, ya?" pinta salah seorang teman piket Flo.


"Iya," Flo menyanggupi.


Dengan langkah gontai ia membawa keranjang sampah keluar kelas, melintasi koridor-koridor, menuruni tangga untuk nanti akhirnya dikosongkan ke tempat sampah besar di halaman belakang. Semangat awal harinya sudah luruh seiring berlalunya pagi. Menyisakan Flo yang lusuh didera dua jam olahraga lari rintang, dua jam pelajaran fisika, dua jam ceramah agama, dua jam menekuri mikroskop pada praktek biologi, dan berakhir dengan piket kelas. Sungguh melelahkan.


Begitu keluar dari gedung sekolah, Flo berlajan memutar, menjumpai halaman rumput yang dirindangi pohon-pohon besar mahoni itu lengang, damai diembus angin sepoi-sepoi. Menenangkan.


Entah mengapa, setiap berada di antara pepohonan, ia merasakan perbaikan mood yang signifikan. Mungkin ini ada hubungannya dengan dilahirkan di pedesaan asri dan menghabiskan separuh hidupnya di sana. Mungkin.


Dari kejauhan Flo sudah dapat melihat tempat sampah yang di cat hijau agar menyatu dengan panorama halaman belakang. Ia pun terus mendekat, hingga jarak kian singkat. Sampai kemudian disadarinya ada seseorang di sisi bak sampah itu. Seseorang yang membuat langkahnya terhenti penuh antisipasi. Tiap kali netranya menjumpai laki-laki itu, ia merasa harus mangambil waktu untuk menata dan mengontrol diri sepenuhnya.


Setelah siap, Flo kembali melangkah, lebih pelan kali ini. Matanya ia tundukan, mencegah adanya kontak mata meski ia tahu di sana Farrell memunggunginya.


Krekk!


Pada langkah kelima, dengan tak sengaja Flo menginjak sebuah ranting tua hingga rekah jadi dua, menimbulkan suara yang mengejutkan dirinya sendiri dan Farrell di sisi lain bak sampah.

__ADS_1


"Astaga!" seru Farrell, membuat Flo mengangkat mata, mau tak mau merasa jadi tersangka.


Sekarang Farrell sudah tak lagi memunggungi. Membuat Flo seketika mendapatkan gambaran jelas wajah penuh terornya. Namun, fokus Flo tak bertahan lama di sana, segera teralih pada satu titik membara di antara jemari laki-laki itu.


Farrell merokok.


Sadar dari kekagetan, Farrell refleks menjatuhkan rokok di tangannya dan menginjaknya hingga padam. Sementara itu, Flo melanjutkan sisa beberapa langkah panjang-panjang dan mengosongkan keranjang sampah yang dibawanya.


"Aku gak sering ngerokok, kok, Flo," terang Farrell, terdengar kalut. "Cuma sesekali kalo lagi stres aja."


"Itu hak kamu, gak perlu ngejelasin, apalagi sama aku. Dan aku gak akan ngadu ke guru. Tenang aja," sahut Flo, sudah tak lagi membiarkan matanya menyentuh wujud Farrell.


Usai memastikan tak ada sampah tertinggal di keranjang sampahnya, Flo berbalik, melenggang menjauh. Ada rasa kecewa memberati perutnya. Perasaan yang tak pantas untuk hadir.


"Flo!" panggil Farrell.


Flo terus berjalan. Tak ingin memperpanjang urusan.


"Kamu mau kita 'gini terus?" suara itu terdengar lelah, putus asa.


Langkah Flo reda. Egonya tersentil mendengar tanya yang terlontar untuknya. Apa hak Farrell bertanya seperti itu? Padahal dia yang mulai mengulur jarak dan membungkam sapa di antara mereka.


"Selama ini kita baik-baik aja," ujar Flo kering.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Farrell, suaranya terdengar terluka.


Enggak. "Mm," gumam Flo, bertolak belakang dengan hatinya.


"Aku enggak, Flo," ujar Farrell lirih. "Susah banget buat aku ngejauhin kamu selama beberapa bulan belakang. Berat banget buat gak natap kamu, gak nyapa kamu, gak lihat senyum kamu, gak dengar kamu manggil namaku. I really like the way you call my name, sejak pertama kali kamu sebut namaku di depan sekolah. Aku bahkan gak ngerti 'gimana bisa aku sesuka ini sama seseorang."


Hampir saja Flo luruh akan rayuan Farrell itu jika saja ia tak ingat akan harga dirinya—atau ego, ia tak terlalu peduli yang mana. Karena yang jelas, terasa salah bila ia tak mendapat penjelasan yang layak.


"Kalo sesuka itu, kenapa kamu menghindar?" tanya Flo, meski ia tahu jawabannya tak akan berbeda dengan kemarin.


"Aku punya—"


"Janji," potong Flo, geram. "Then explain," pintanya.


"I can't." Wajah Farrell lebih sengsara lagi, membuat Flo makin keras menguatkan diri. "It's—"


"Secret?" Lagi, Flo menyela.


Dengan pasrahnya Farrell mengangguk, seperti seorang anak kecil yang sedang diintrogasi setelah ketahuan mencuri permen.


"Selesai," ujar Flo pelan, namun terdengar jelas dalam keheningan halaman belakang.


"Ini kesalahan pertamaku sama kamu, Flo. Gak bisakah kamu tolerir tanpa harus tahu alasannya?"


Flo menggeleng. "Kalo aku gak tahu alasannya, 'gimana aku bisa yakin lain kali gak akan ada kesalahan yang sama?" tanyanya. Jujur saja, ia tak suka berdebat dan sering kali diam dan mengalah, tapi kali ini—sekali lagi ia tegaskan—ia merasa tak benar untuk begitu saja memaafkan Farrell tanpa penjelasan.


"Kamu enggak tahu betapa gak enaknya tiba-tiba dihindari dan dijauhi tanpa alasan yang jelas, Rell. Menduga-duga apa yang salah, apa aku yang salah, apa kesalahanku, apa aku harus minta maaf. Semua pikiran itu benar-benar bikin aku ngerasa insecure. Padahal nyatanya kamu yang—"


"Brengsek," sela Farrell. Ia mengangguk-angguk kecil, seolah kini paham sepenuhnya akan keengganan Flo memaafkan tanpa alasan.


Sama sekali Flo tak ada niatan menggunakan kata yang digunakan Farrell. Tadinya ia berniat mengatakan bahwa laki-laki itu yang bersalah. Kendati begitu, ia tak keberatan dengan kata pilihan Farrell, tak ada niat juga mengoreksinya.


"Aku benar-benar minta maaf, Flo."


Farrell mendekat, menepis jarak yang memisahkan dirinya dan Flo. Keduanya saling memadang, memahami betapa rumitnya perihal perasaan.

__ADS_1


"Tapi aku kira kamu gak akan nyaman sama alasan yang aku punya," ucap Farrell, berhenti selangkah di depan Flo.


"Jelasin dulu, baru nanti aku yang tentuin sendiri nyaman atau enggak."


"But it's a secret."


Flo sudah akan berbalik pergi saking kesalnya, tapi Farrell menahan penggelangan tangannya. Membuatnya bertahan di tempat.


"Kamu harus janji gak akan bilang ke siapa pun, termasuk orang yang bersangkutan."


Flo mengangguk.


"Kamu harus janji gak akan ngejauhin dia."


Hampir saja Flo memutar matanya seraya berkata bahwa ia bukanlah Farrell. Namun ia masih bisa menahan desakan itu dan hanya mengangguk sebagai balasan.


"Genta."


Flo mengernyit. Apa maksudnya dengan 'Genta'?


"Genta juga suka sama kamu, Flo."


Mencelos hati Flo. Bagaimana itu mungkin? Tidak mungkin Genta menyukainya. Genta menyukai gadis lain di sekolah ini. Dia pernah bercerita, kala hari pertama semester baru dimulai.


Ia teringat kembali percakapan mereka di bawah pohon beringin kelas X. 5 itu. Jelas-jelas waktu itu Genta menyukai seorang gadis, walau dia bilang sudah menyerah... Jangan bilang itu dirinya!


Tidak... tidak mungkin. Ia tak mau terima sebagai seseorang yang menghadirkan tatapan terluka yang pernah ia lihat berkelebat di mata Genta. Tidak pada seseorang sebaik Genta.


Lagipula siapa ia? Apa bagusnya seorang Floriana Adinda hingga bisa menyakiti seorang Genta Ghiffari dan disukai Farrell Fadillah? Ia pasti sedang bermimpi. Atau, ia pasti sedang berhalusinasi.


"Dulu, aku sama Genta pernah sekali suka sama cewek yang sama. Dan kami berantem, sebelum akhirnya Genta ngalah dan kita buat perjanjian di mana kalo seandainya kejadian kayak gitu terulang lagi, giliran aku yang harus ngalah. Itu kenapa aku ngejauhin kamu, Flo. Karena aku ada janji."


"Terus kenapa kamu gak nepatin janji kamu lagi?" tanya Flo, masih agak linglung.


"Karena Genta nyerah. Dia bilang, dia ngerasa kamu suka sama aku dan gak ada tanda-tanda kamu akan tertarik sama dia lebih dari teman. Jadi dia batalin perjanjian konyol kami."


Flo tertegun. Bagaiman bisa Genta sebijaksana itu? Padahal bila Genta benar-benar suka padanya, akan lebih mudah bila Genta tetap mempertahkan perjanjian mereka dan melarang Farrell kembali dekat dengannya. Setidaknya, itu akan meminimalkan rasa sakit.


"Jadi, sekarang kamu bisa maafin aku kan, Flo? Kita bisa kembali kayak dulu kan? Kayak biasa?"


Flo melepaskan tangannya dari genggaman Farrell.


"Aku maafin kamu, Rell."


Farrell tersenyum.


"Tapi soal kembali kayak dulu... enggak sekarang," ucap Flo, ditingkahi lunturnya senyum Farrell.


Flo kira ia butuh waktu berpikir dan mencerna pengetahuan yang baru diterimanya dengan lebih sempurna. Ia butuh memikirkan perasaan Genta bila ada kemungkinan laki-laki itu masih menyukainya. Ia tak bisa mengabaikan Genta begitu saja. Sebab Genta adalah temannya, sahabat terdekat Farrell. Orang yang akan selalu ada di sisinya dan Farrell.


"Tapi Flo—"


"Aku butuh waktu, Rell," kata Flo. "Dan jarak. Tolong..."


***


as always guys, please support karyaku dengan like, komen, vote, kasih bintang lima, dan share supaya lebih banyak yang bisa baca cerita ini juga.


aku benar-benar berharap kalian mau bantu aku mewujudkan cita-citaku jadi novelis sukses.

__ADS_1


i luv u buat kalian yang udah mampir dan baca. terimakasih.


__ADS_2