Floriana

Floriana
Bab 2: Menjadi Terlihat


__ADS_3

Flo bisa merasakan keringat dingin mengaliri punggungnya. Tangannya pun ia rasakan mulai dingin, seiring sakit kepala yang mendera kian parah.


Langkah Flo terhenti di trotoar dekat sekolah yang jalanannya cukup lengang. Ia melirik arloji merah jambu di pergelangan tangan kanannya. Sudah pasti ia telat. Pasti. Jika bukan karena ulangan kimia dadakan ia juga tak akan sekolah hari ini. Bahkan tadi ia sudah bersiap minta izin sakit pada wali kelas sebelum notifikasi dari grup kelas menginformasikan tentang ulangan dadakan.


Untungnya ulangan di jam pelajaran kedua, jadi jika terlambat itu tak akan mempengaruhi perjuangannya memaksa berangkat sekolah hari ini. Tapi masalahnya sekarang, bagaimana jika ia tak kuat lari keliling lapangan?


"Ekhem! Ekhem!"


Flo menoleh ke belakang mendengar suara dehem yang dibuat-buat itu. Menemukan Farrell mengendari skuternya dalam kecepatan yang kelewat rendah. Laki-laki itu pun menepi lalu berhenti ketika tepat berada di sisi Flo.


"Mau bareng gak?" tanya Farrell, canggung.


"Enggak," jawab Flo, suaranya lemah. "Makasih. Udah dekat kok."


"Iya, sih..."


Sekali lagi Flo melirik arlojinya. Sepuluh menit. Sudah selama itu ia terlambat. Astaga. Artinya ia harus berlari sepuluh kali mengitari sekolah. Ia bisa mati.


"Mau gue bantuin masuk tanpa ketahuan, gak?"


"Eh?" Flo menoleh. Terkejut. Ia tiba-tiba sadar bahwa kecemasannya mungkin kentara sekali.


Ketika tatapnya bersirobok dengan iris kelam Farrel, Flo menyadari jika ini kali pertamanya benar-benar berhadapan dengan salah seorang siswa paling populer satu sekolahan tanpa ditemani orang lain. Mereka hanya bertatapan sekejap, karena Flo langsung memandang ke arah lain. Gugup. Meski sebentar, ia jadi insaf bahwa ternyata Farrell memang setampan yang selama ini di gembar-gemborkan. Sebelumnya ia cuma pernah melihat Farrell dari jauh, karena memang tak punya urusan dan sama sekali tak tertarik.


"Lo telat, kan?"


Flo menggigit bibirnya, bentuk lain kegugupan sekaligus upaya mengenyahkan perasaan mual yang tiba-tiba melandanya. Kemudian ia mengangguk pelan. Lalu mengangkat wajahnya sedikit, supaya tak terlihat gugup. Kan malu bila ia ketahuan gugup karena sempat bertemu tatap dengan Farrell.


Tangan Flo terangkat menepis peluh yang bersarang di alisnya.


"Gue kasihan aja ngeliat lo harus lari keliling sekolah. Belum lari aja udah basah kuyup sama keringat gini," Farrell menerangkan motifnya.


Keterangan Farrell membuat Flo menyimpulkan satu fakta sederhana dalam benaknya: ia pasti kelihatan parah sekarang.


"Mau gak gue bantuin masuk tanpa ketahuan?" tawar Farrell lagi.


"'Gimana caranya?" tanya Flo, suaranya kian lemah. Rasanya ia ingin cepat-cepat duduk.


Dahi Farrell berkerut khawatir. "Lo sakit, ya?" tuduhnya.


Flo menggeleng kecil.


"Bawa sini tas lo," pinta Farrell. Satu tangannya tersuluh dalam posisi tengadah.


"Buat?" tanya Flo khawatir. Farrell tidak punya riwayat pencurian, kan?

__ADS_1


"Buat gue sembunyiin. Biar lo bisa masuk tanpa dihukum. Lo pura-pura udah berangkat dari tadi tapi disuruh guru ngapain gitu keluar," Farrell memaparkan rencananya. Dan Flo menyadari bahwa Farrell memang sudah pakar dalam persoalan telat begini. "Jadi lo harus keliatan gak bawa tas karena seharusnya tas lo udah di kelas."


Usai Farrell menjelaskan maksudnya, barulah Flo mau menyerahkan ransel yang menggembung penuh. Nyaris saja benda itu jatuh karena Farrell tak siap dengan beban yang dialihkan padanya.


Awalnya Farrell mau memasukkan ransel Flo ke dalam tasnya, namun hal itu berakhir sia-sia, maka ia melakukan yang sebaliknya.


"Kenapa kamu gak pakai alasan itu juga?" tanya Flo.


"Apa? Pura-pura disuruh keluar?"


Flo menangguk.


"Udah gak mempan kalo gue yang pakai alasan itu." Farrell tersenyum miring, menampilkan lesung pipinya. "Lagian harus ada yang bawa tas-tas ini ke dalam."


"Oh gitu..."


"Ya udah," ujar Farrell, "gue duluan. Lo udah punya alasan kenapa di luar?"


Flo mengangguk. Padahal ia belum terpikir alasan apapun.


"Oke," putus Farrell mengakhiri. Ia lalu menyalakan motornya.


Flo gelagapan mendengar suara mesin motor Farrell. Ia teringat ada satu hal yang belum sempat ia ungkapkan.


Farrell mengangkat alisnya, menanggapi.


"Makasih," Flo mencicit.


Senyum Farrell terkembang, menampakkan sepasang lesung pipi. Flo tadi sempat mengakui Farrell itu tampan, namun ternyata saat tersenyum tulus seperti ini bisa jauh lebih tampan lagi. Ok, itu cuma pujian, bukan berarti ia naksir seperti kebanyakan siswi lain di sekolah. Ini cuma ungkapan kekaguman saja. Tidak lebih.


"It's ok," balas Farrell ringan. "Lo kan teman Arina."


***


Rencana Farrell berhasil. Flo bisa masuk sekolah tanpa dihukum walau terlambat, meski hal itu tak berlaku untuk si pemilik rencana sendiri. Farrell tetap dihukum. Flo dapat mendengar suara teriakan Pak Jupri—guru piket hari ini—meneriakan segala macam cercaan. Itu hal biasa, sering terjadi. Hanya saja saat ini Flo merasa iba pada Farrell.


Flo bersandar begitu pelajaran pertama usai. Saat punggungnya menyentuh ransel, ia sekonyong-konyong teringat bahwa tas Farrell masih ada di dalam ranselnya.


Jadi tadi, ceritanya usai Flo berkata pada Pak Satpam bahwa ia disuruh Bu Karin—guru prakarya—membeli peralatan untuk praktek dan ternyata tokonya tutup jadi ia tak mendapatkan apa-apa, ia langsung di suruh masuk. Pak Satpam begitu saja mempercayainya. Sedang Farrell tetap ditahan di luar gerbang sampai guru piket datang. Peka Flo butuh tasnya, Farrell segera meminta Pak Satpam mengijinkannya menitipkan tas pada Flo. Seperti itulah hingga tas Farrell sekarang ada padanya.


Ya, ia akan mengembalikannya nanti di jam istirahat. Meski bingung bagaimana agar nanti tak menarik perhatian saat ke kelas laki-laki itu. Maksudnya bukan dirinya yang menarik perhatian, melainkan Farrell. Dan berada dan berurusan dengan Farrell akan membuatnya kecipratan pandang. Sedangkan bagi Flo menjadi bahan tontonan jika itu tidak betul-betul penting untuknya merupakan sebuah malapetaka.


Dalam-dalam Flo menghela napas. Memandang sekitar kelas yang tenang. Pikirkan nanti sajalah, putusnya. Kepalanya sudah cukup pening, padahal ulangan saja belum dimulai.


Flo merebahkan pelipisnya di atas meja. Sejenak berpikir, tadi Farrell bagaimana di kelas tanpa tasnya? Kelopak matanya perlahan terkatup. Lidah ia gigit guna menahan perut yang bergejolak. Rasanya seperti mau mati. Badan panas dingin, kepala sakit, perut mual, sendi-sendi nyeri. Cocok sekali.

__ADS_1


Tok, tok, tok!


Suara ketukan itu terdengar sangat nyaring. Membikin Flo seketika membuka mata lebar-lebar. Betapa terkejutnya ia saat bertatapan dengan Farrell yang menunduk padanya. Sementara satu tangan laki-laki itu terkepal di atas meja.


Flo segera menegakkan punggungnya. Melihat orang-orang di kelas menatap ingin tahu padanya. Melontarkan satu pertanyaan yang sama lewat mata mereka: seriusan—Flo?


Pasti aneh sekali bagi teman sekelasnya. Ia Floriana Adinda. Si gadis pemalu dan pendiam yang jarang sekali keluar kelas bila itu tak sangat mendesak. Yang jika keluar kelas pun tujuannya hanya sebatas pulang, kantor, perpustakaan. Serta sangat jarang bersosialisasi. Sedangkan sekarang si Floriana ini disamperi oleh salah satu siswa paling famous sekelas Farrell. Mengejutkan pastinya.


"Mau ambil tas," terang Farrell. Ia juga kelihatan kurang nyaman.


Saking gugupnya ditatapi banyak orang seperti itu tangan Flo sampai gemetar membuka retsleting tasnya.


"Ini." Flo meletakkan tas Farrell di atas meja. Benda itu kempes dan ringan, berbanding terbalik dengan milik Flo.


"Ok. Thank you."


Farrell mengenakan tasnya. Ia sudah berputar hendak pergi, ketika tiba-tiba berbalik lalu berkata, "Rambut lo lebih bagus kalo diurai," sambil membuat gestur yang sesuai.


Refleks Flo memegang rambut ekor kudanya. Memangnya Farrell pernah melihatnya dengan rambut terurai? Kapan? Ia tak pernah mengurai rambutnya di sekolah.


Ah iya, pasti kemarin di depan rumah Arina.


"Lo jadi... kelihatan."


Dahi Flo mengernyit. Maksudnya 'lo jadi keliatan' itu apa? Memangnya selama ini ia transparan?


"Jadi lebih mudah diingat."


***


"Flo tolong bawa lembar jawabannya ke meja Ibu di kantor," suruh Bu Riska setelah semua murid mengumpul lembar jawaban kimia.


Flo bangkit dari kursinya diiringi hembusan napas. Sangat bersyukur ulangan kimia berakhir dengan lancar. Dengan langkah yang agak goyah, Flo mengambil lembar dari meja dan mengekori Bu Riska yang telah lebih dulu melenggang keluar.


Di koridor yang belum terlalu ramai, berulang kali ia mengerjapkan mata, pandangannya terasa mengabur. Keringat dingin makin deras mengaliri tubuhnya. Suara-suara murid di sekelingnya juga terasa sangat mengganggu. Membuat kepalanya kian pening.


Perlahan semua makin blur. Dan mendadak seolah ada yang menarik tirai menutup matanya. Dan hal terhakhir yang disadari Flo, sisi tubuhnya menimpa sesuatu—atau seseorang.


***


Menurut kalian, Farrell itu human kayak apa? Komen dong, biar bisa kita bahas bareng-bareng.


Coba spam love dulu buat Farrell kita yang shining shimmering splendid ini ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2