
"Kenapa?" tanya Flo dari balik pagar, membelakangi pohon kenanga yang sedang berbunga lebat. Sore yang berangin membuat rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai berterbangan ke sana kemari, membuatnya berkali-kali menyelipkannya di belakang telinga.
"Mm... Tadi gue ke tempat Arina, tapi dia-nya gak ada," Farrell menjawab, dari atas motornya.
"Masa sih?" Flo menanggapi, sangsi. Perasaan belum lama ia mendengar suara Arina dari rumah sebelah. "Mau coba aku panggilin lagi?"
Gelagapan Farrell berkata, "Enggak usah, enggak usah." Ia mengibaskan tangannya. "Dia gak ada, kok," tambahnya, terkesan meyakinkan.
"Oh... ya udah." Flo bingung mau berkata apalagi. Berkomunikasi dua arah bukanlah keahliannya. Pikirnya yang terbaik adalah mengakhiri percakapan singkat ini. "Kamu mau pulang, kan? Kalo 'gitu aku masuk duluan ya."
Flo sudah berbalik memunggungi Farrell, siap masuk ke rumah, ketika laki-laki itu berujar, "Flo, mau temanin gue?"
Tertegun Flo mendengar ajakan Farrell. Separuh dirinya ingin memenuhi ajakan itu, sebagian lain menolak—mengingat bahwa kemungkinan besar Farrell mengajaknya sebagai ganti Arina. Menjadi pilihan kedua atau rencana cadangan tidak akan pernah menyenangkan.
Flo memutar tubuhnya, dilihatnya Farrell sudah turun dari motor. Ragu ia memanggil, "Rell?"
Farrell tersenyum mendengar Flo mengucap namanya. "Please... Muter-muter deket sini doang kok, cari makan."
"Rell, biar aku panggilin Arina lagi, ya. Soalnya tadi aku—"
"Flo," Farrell menyela ucapan Flo. Wajahnya terlihat frustrasi. "Flo—gue bohong."
"Eh?" Flo bingung.
"Sebenernya gue gak mau ketemu Arina. Gue tahu dia di rumah," aku Farrell. "Gue mau ketemu lo."
"Buat apa?" cicit Flo.
Buat apa Farrell mau menemuinya? Mereka tak punya urusan apapun.
"Cuma... mau ketemu aja." Farrell menggaruk tengkuknya. "Gue bingung mau pakai alasan apa buat ketemu lo, jadi gue bohong bilang mau ketemu Arina."
Flo hanya diam saja. Belum pernah ia dalam situasi begini. Dan ia tak yakin apakah pilihan Farrell untuk jujur itu tepat, sebab ia malah merasa tak keruan.
"Gue konyol, ya?"
Flo menggeleng.
"Gue selalu bingung dan ngerasa gak percaya diri dekat lo, walaupun selalu gue tutupi."
__ADS_1
"Aku bikin kamu gak nyaman dan takut karena aku terlalu pendiam?" Flo membantu Farrell menjelaskan perasaan yang sering dialamin orang-orang di sekitarnya.
"Bukan—bukan gitu. Gue ngerasa gak pantas dekat lo yang pintar dan murid teladan."
"Tapi kamu terkenal."
"Karena sering dihukum lari keliling sekolahan." Farrell tersenyum lemah. "Jadi... lo mau temanin gue?"
Entah dapat keberanian dari mana, Flo menyahut, "Aku bukan teman jalan yang menyenangkan. Aku gak bisa bikin obrolan yang menarik."
"Gue cuma mau lo temanin. Gak perlu jadi orang yang menyenangkan atau terbebani buat bikin obrolan yang menarik. Gue cuma mau minta lo temanin doang Floriana."
***
Disinilah Flo sekarang, duduk di boncengan skuter biru Farrell untuk kedua kalinya. Pikirannya berkecamuk, segala macam ekspektasi manis menyerbu benaknya. Kejujuran Farrell tadi memutus kekang yang ia pancangkan agar tetap berpijak di bumi. Farrell benar-benar sesuatu, menarik-ulur harap, membuatnya tak menentu.
Tak jauh setelah keluar komplek, Farrell menepikan motornya di depan sebuah warung bakso dan mie ayam yang ramai sekali. Aroma daging yang gurih menguar, membuat Flo lapar.
"Makan di sini gak pa-pa kan, Flo?"
Flo turun dari motor, lebih dulu melepas helmnya sebelum menjawab. "Enggak pa-pa." Ia kemudian melirik sandal jepitnya dan celana pendek Farrell, kemudian banner kusam yang menggantung di depan warung. Cocok sekali.
Flo tersenyum diiringi anggukan. Memang benar Farrell tadi melarangnya ganti pakaian.
"Mau mie ayam atau bakso, Mbak, Mas?" tanya seorang pria begitu Flo dan Farrell berdiri di sisi etalase. Logat Jawa pria itu kental sekali.
Suara desis api, denting sumpit maupun sendok pada mangkung, juga dengung obrolan membuat Flo sedikit lebih rileks dibanding hanya berdua di atas motor dengan Farrell tadi.
"Saya bakso, gak paket bihun," pesan Farrell. Ia menoleh pada Flo dan bertanya, "Flo?"
"Mie ayam," jawab Flo. "Mienya agak lembek ya."
"Minumnya?"
"Cola," keduanya kompak menjawab.
"Oke," jawab pria yang sibuk menyiramkan kuah bakso di dalam mangkuk-mangkuk ayam yang berjajar ramai. "Ditunggu ya, Mbak, Mas."
Flo memandang jajaran bangku dan meja, mencari-cari di mana yang masih kosong. Ia begitu terkejut ketika ada yang menghela tangannya, membimbingnya melewati sela di antara meja.
__ADS_1
Mata Flo nyaris tak lepas melihat tautan tangannya dan Farrell, hingga genggaman itu terurai di samping meja kosong di barisan paling belakang. Flo tahu Farrell tak bermaksud lebih, hanya saja denyut jantungnya yang mendadak memburu tidak dapat ia kendalikan.
Melihat Farrell yang tak langsung duduk Flo mengerti bila ia dipersilahkan duduk lebih dulu.
"Gue sering ke sini loh bareng Genta," jelas Farrell, setelah menduduki bangku plastik yang nampak ditumpuk dua—mungkin karena kondisi kursi sudah tak telalu prima.
"Arina?" tanya Flo. Entah mengapa ia ingin memastikan, walau sejujurnya ia sudah yakin apa jawabannya. Arina sensitif terhadap bau, dia tak akan tahan dengan aroma daging di sini.
"Enggak. Gue gak sedekat itu sama Arina."
"Oh...." Flo sama sekali tak menduga bahwa Farrell akan menjawab begitu. Ia kira mereka dekat.
"Gue sama Arina cuma kayak teman kelas biasa, baru belakangan ini lumayan dekat," lanjut Farrell.
"Sejak Arina... putus?" tanya Flo hati-hati.
Farrell terkekeh. Hanya terkekeh. Tak mengamini atau membantah. Reaksi itu membuat hati Flo mencelos, bersama harap dan ekspektasinya yang sempat membumbung tinggi tadi.
Ya, pikir Flo, wajar kan, Arina cantik dan populer sementara Farrell tampan dan terkenal. Mereka akan jadi couple goals. Mungkin Farrell mendekatinya karena Arina, untuk mendekati Arina, karena ia adalah sahabat Arina.
Pesanan datang. Mie ayam yang masih mengepulkan uap dan menguarkan aroma sedap seketika tak lagi membuatnya berminat. Mendadak ia mual dengan kenyataan yang menenggelamkan harapnya. Inilah realita dari orang yang mudah baper.
Flo melirik sepasang sumpit merah yang sudah di lap Farrell menggunakan tisu bertengger di atas mangkuk mie ayamnya. Makin enggan rasanya ia makan.
Saat Flo mau meraih botol soda, Farrell lebih dulu meraihnya, lalu membuka dan menuangkan isinya ke dalam gelas berisi es batu. Bahkan Farrell memasangkan sedotan yang sudah dipilihnya secara cermat.
Flo merasa perhatian Farrell itu tak perlu. Ia bisa melakukan semua itu sendiri. Tapi ia lebih memilih diam, jika memprotes mungkin akan membuat Farrell tersinggung.
"Flo?"
"Mm?" Flo mengaduk malas mienya.
"Sini gue adukin." Farrell merebut mangkuk Flo. Flo mau melarang, namun sudah karena terlanjur ia membiarkannya saja.
"Katanya Arina... lo belum pernah pacaran ya, Flo?"
***
Flo jomblo 16 tahu, aku 21 tahu, kalian berapa lama?
__ADS_1