Gadis Bisu Dan Pangeran

Gadis Bisu Dan Pangeran
Prolog


__ADS_3

Clara memekik kesakitan sembari memegangi kepalanya yang sudah berlumuran darah.


Batu-batu yang masih menghujani tubuhnya terus berjatuhan menimpa kulitnya yang sudah terdapat banyak bekas luka.


Suara anak-anak yang tertawa sembari berteriak memanggilnya terdengar sangat semangat.


Mengoloknya dan menyanyikan lagu dengan menggunakan namanya.


Tentu saja itu bukanlah sebuah lagu yang indah yang bisa dinyanyikan untuk lagu pengantar tidur ataupun sekedar lagu hiburan.


Lagu yang penuh ejekan dan cacian atas dirinya sudah biasa Clara dengar setiap hatinya.


Tapi anak itu tak bisa melawan ataupun berteriak meminta tolong atau berteriak kesakitan.


Sekitar sepuluh anak yang tak jauh dari umurnya sedang mengitari dirinya sembari dan melemparkan batu-batu kecil kearahnya.


Yang bisa dilakukannya hanya bisa menangkupkan badan melindungi diri.


Namun ternyata mereka tidak puas hanya dengan melempari batu saja,sebuah jambakan terasa sangat menyakitkan tatkala dua sampai tiga tangan menarik rambutnya.


Clara mendesis kesakitan sembari memegangi rambutnya sebisa mungkin.


"Clara anak sial..~Clara anak sial ~..."


Begitulah suara yang mereka nyanyikan setiap harinya.


Clara hanya bisa menahannya sampai mereka benar-benar merasa bosan dan pergi meninggalkannya.


"Apa yang kalian lakukan...! cepat pergi kalau tidak mau aku memukul kalian dengan tongkatku ini..!"


Teriak anak laki-laki berumur sekitar tujuh belas tahun itu,Teo mengangkat tubuh Clara yang masih terduduk ditanah itu.


Anak laki-laki dengan kulit bersih dan mata hitamnya menatap Clara sembari berdecak tidak suka.


"Ck...sudah kubilang lawan saja mereka...kau akan selalu seperti ini jika kau tidak mau melawan"


"Tapi mereka sangat banyak...aku tidak bisa",katanya dengan bahasa isyarat.


Teo hanya bisa mendesah kesal,semua ini memang bukan salah Clara,tapi Teo tetap merasa marah karena Clara tidak bisa melindungi diri sendiri.


"Lain kali lebih baik kau menghindarinya saja..jadi kau tidak perlu seperti ini lagi..keadaanmu sekarang sungguh mengkhawatirkan"


Clara tertawa mendengar ocehan Teo,ia senang Teo menghawatirkannya.


Di desa ini hanya Teo yang menganggapnya sebagai manusia yang layak untuk dihargai.


Desanya merupakan bagian kecil dari sebuah pulau yang jauh dari pulau lainnya.


Karena terletak di pinggir pantai,maka kebanyakan warga bermata pencaharian sebagai nelayan,salah satunya kakeknya yang tinggal bersamanya sedari kecil.


Kakeknya merupakan seorang nelayan kecil yang bahkan tidak memiliki kapal sendiri.

__ADS_1


Setiap harinya kakek akan menyewa dengan sebagian uang hasil dari tangkapan ikan,dan tentu saja sisanya untuk menyambung hidup setiap harinya.


Seperti hari ini,Clara yang hendak menunggu kakeknya pulang berlayar malah dihadang oleh anak-anak nakal di desanya.


Semua anak-anak memang tidak menyukainya karena dirinya bisu,selain itu Clara mempunyai kulit yang cenderung hitam dan rambutnya yang mengembang bergelombang membuat penampilannya semakin buruk.


Hanya saja mata yang dimiliki gadis itu sedikit istimewa,mata Clara yang biru dan jernih bagai laut sungguh menakjubkan.


Namun karena perbedaanya itulah anak-anak di desanya tidak ada yang mau berteman dengannya karena dirinya sangat berbeda.


Apalagi latar belakang kekuarga Clara yang tak punya apa-apa,membuat mereka bisa melakukan apapun untuk gadis malang itu.


Di desanya ia tarmasuk warga yang paling miskin,Clara yang hidup dengan kakeknya selalu mendapat perlakuan berbeda oleh warga sekitar.


Meski ia hanya anak berumur tujuh belas tahun,tapi semua orang di desanya memperlakukannya dengan buruk,mereka tak memandang Clara yang termasuk anak dibawah umur itu.


Usia remaja di desanya ditentukan oleh tetua desa,tetua desa akan mengumumkan kedewasaan seorang anak dari upacara kedewasaan,dan pada saat itu anak perempuan maupun laki-laki akan ditentukan jodohnya dan mereka akan menikah pada umur dua puluh dua tahun.


Tapi tentu saja Clara tidak akan pernah bisa melakukan upacara kedewasaan.


Jangankan membuat pesta,baju yang ia punyapun hanya lima setel saja.


Semuanya baju yang telah usang dan sobek sana-sini.


Clara harus mencuci dengan rajin bajunya sendiri jika tidak ingin memakai baju yang kotor terua menerus.


Suara bunyi perut Clara yang keras itu membuat Teo mengalihkan perhatiannya.


"Apa kau lapar?"


"Ayo ikut denganku...aku sudah membelikanmu makanan di sekokahku tadi"


"Apa itu makanan kota?"


Teo memandangi wajah berbinar Clara,gadis itu terlihat sangat antusias seperti biasanya.


"Iya..aku membelikanmu sosis dan minuman botol"


"Apa itu sosis...?"


"Itu seperti daging yang kau potong halus kemudian kau bentuk memanjang seperti teripang"


"Sepertinya sangat enak...! aku mau mencobanya...!"


Teo tertawa saat Clara berdiri dan menarik tanganya dengan semangat.


Padahal tubuh gadis itu penuh dengan luka,tapi dia masih bisa berdiri dan tersenyum seperti itu.


Teo sudah mengenal Clara dari ia kecil,keluarganya yang termasuk dari golongan orang elit di desanya selalu menentang dirinya bermain dengan Clara,takut Clara akan berpengaruh buruk untuknya.


Tapi entah mengapa Teo tak pernah tega,melihat bagaimana orang-orang di desanya menyiksa anak yang tidak bisa apa-apa itu.

__ADS_1


Dirinya mulai dekat dengan Clara sewaktu Clara menolongnya yang hampir tenggelam di laut.


Saat itu karena kakinya yang tiba-tiba keram saat bermain di laut dirinya hampir kehilangan nyawanya kalau tidak ada Clara.


"Duduklah...aku akan menyiapkan makanannya",ucapnya ketika telah sampai di sebuah tempat rahasia.


Itu adalah tempat dimana mereka biasa berbagi makanan tanpa ada yang mengetahuinya.


Teo harus diam-diam memberi makan Clara sepulang sekolah agar orang tuanya tidak curiga.


"Ini adalah sosis...dan ini minuman botol yang enak,katanya ini terbuat dari bahan yang alami"


Clara memandangi benda yang berbentuk panjang itu,kemudian mengendusnya.


"Baunya sangat enak...apa ini langsung dimakan?"


Teo segera mengambil sosis itu dari tangan Clara kemudian membuka plastik yang masih membungkusnya.


"Makanlah...",ucapya sembari menyodorkan sosis itu.


Clara langsung memakan sosis itu,matanya langsung melebar saat merasakan sensasi daging yang lembut dimulutnya.


Gadis itu mengangguk beberapa kali,maksudnya makanan itu sungguh enak!


"Kapal pengantar makanan dari kota tiba kemarin malam,dan disekokahku banyak sekali makanan baru yang sangat enak...beruntungnya aku masih bisa membawa pulang untukmu..."


"Terimakasih..."


Clara tersenyum senang,karena Teo dirinya bisa makan enak seperti yang lainnya.


Di rumah,ia hanya bisa makan satu atau dua kali saja,kakeknya jarang pulang karena selalu berlayar mencari ikan.


Clara jadi terbiasa mencari makan sendiri dan makan seadanya.


Teo mengusap rambut Clara dengan pelan,memandangi gadis yang sedang makan dengan lahapnya itu.


Dirinya senang melihat perkembangan Clara,gadis itu sudah banyak bisa menggunakan bahasa isyarat.


Setiap ada waktu luang Teo terus mengajari gadis itu bahasa isyarat dan juga menulis.


Di sekolah Teo selalu menjerumuskan dirinya kedalam perpustakaan,disana ia selalu belajar cara melakukan bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Clara.


Dan hasilnya tidaklah buruk,meskipun Clara tidak pernah sekolah tapi gadis itu bisa cepat tanggap dan paham apa yang diajarkannya.


Kau harus kuat...kau harus bisa mandiri sebelum aku pergi nanti...


.


.


...Hai para readers ku tersayannng...!!😚😚😚...

__ADS_1


...Jangan lupa dukung author terus,dengan cara klik favorite,like and coment biar author semangat lanjutin jalan ceritanyaπŸ˜†πŸ˜†...


...Aku sayang kalian!!!😘...


__ADS_2