Gadis Bisu Dan Pangeran

Gadis Bisu Dan Pangeran
Harapan Yang Pupus


__ADS_3

Malam yang penuh dengan bulan purnama itu tak terlihat menyenangkan sama sekali.


Biasanya Clara sangat senang memandangnya karena bulan itu terlihat sangat cantik dan terang.


Di rumahnya tak ada penerangan sama sekali selain obor kecil yang terbuat dari bambu yang diberi kain dan minyak kelapa.


Maka dari itu ia sangat suka malam yang penuh dengan bulan purnama seperti ini.


Tapi sepertinya kali ini berbeda,Clara tak bisa merasakan kebahagian pada malam purnama kali ini.


Teo yang masih memeluknya erat membuat hatinya terasa semakin sakit dan sakit.


Semakin lelaki itu mengeratkan pelukannya luka dihatinya semakin parah.


"Tunggu aku...aku akan menjemputmu,aku janji",ucapnya lirih ditelinga Clara.


Suara deburan ombak yang keras membuat kedua anak itu diam menikmati waktu yang begitu menyakitkan ini.


"Kau akan menungguku kan...? aku akan datang kepadamu suatu saat nanti,dimana tidak ada yang akan mencegah kita bersama...terutama keluargaku...jadi kumohon maafkan aku..."


Clara menghentikan tangisannya,ia menatap Teo yang tengah menatapnya dengan mata yang sayu.


"Apa kau benar-benar akan kembali...? kau akan menjemputku?"


"Aku akan menjemputmu...aku janji..."


"Berapa lama...?"


"Aku tidak tahu...",jawabnya lirih.


"Tapi aku akan benar-benar menjemputmu...aku tidak bisa membiarkan orang yang aku sayangi menderita disini sendirian...",ucap Teo.


Clara menggigit bibirnya kuat-kuat,rasanya ia ingin menangis dengan puas dalam pelukan lelaki itu.


Teo teman masa kecilnya ternyata juga menyimpan rasa kepadanya,tapi kenapa dia baru mengatakannya sekarang? disaat dia akan pergi jauh dan entah kapan akan kembali...


"Pergilah...."


Teo menatap Clara yang menunduk,gadis itu seperti tak mau menatapnya.


"Pergilah dan kejar cita-citamu...aku...disini akan baik-baik saja..."


Setelah mengatakannya pada Teo...Clara langsung berdiri dan menjauhi lelaki itu,Clara berdiri cukup jauh dari tempat Teo berada.


Angin malam yang bersiuk-siuk menyibakan gaun merah miliknya,Clara melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.


Ia ingin berpisah seperti itu,tak ada pelukan atau tangisan perpisahan,cukup dengan jarak yang jauh yang ia butuhkan.


Bukan tanpa alasan dirinya melakukan itu,merasakan sakit yang teramat pada punggungnya lagi Clara memilih menjauh dari Teo sekarang juga,sebelum dirinya mengeluh dan membuat lelaki itu khawatir.


Karena Clara gahu Teo pasti belum tahu dirinya terluka,karena tempat itu tidak ada pencahayaan sama sekali selain terangnya bulan purnama.

__ADS_1


Teo yang melihat Clara seperti itu hanya bisa menahan semua rasa yang tak karuan di dadanya,ia ingin berlari dan memeluk Clara sebelum dirinya benar-benar pergi.


Tapi sepertinya Clara sengaja menjaga jarak dengannya,gadis itu tak mau ucapan mendengarkan kata perpisahan untuk yang terakhir kalinya.


Dengan berat hati untuk melangkah,Teo berbalik dan mulai meninggalkan Clara yang masih berdiri menatapnya.


Sesekali lelaki itu melihat kebelakang,memastikan Clara baik-baik saja,tapi ternyata pemandangannya tetap sama,Clara masih ada di tempatnya.


***


Suara burung yang berkicau dengan riangnya membuat gadis bermata biru itu membuka matanya.


Clara memegang kepalanya yang terasa sangat sakit akibat sisa menangis semalam.


Rasa perih dan linu di sekujur tubuhnya mulai merajalela,rasa sakit mulai menggerogoti tubuhnya perlahan.


Darahnya yang menetes diatas batu sudah mulai mengering,Clara memandangi bajunya hang susah banyak sobek di beberapa bagian.


Apa yang harus kulakukan...


Suara perut yang nyaring terdengar mengalahkan suara ombak,tadi malam dirinya tak sempat makan dan pagi ini ia sudah merasa sangat kelaparan.


Apa aku bisa pulang kerumah...? Tapi aku takut bertemu preman-preman itu lagi...


Kakeknya mengatakan akan pergi berlayar tadi malam,rumah pasti tidak ada orang,tapi Clara takut bertemu orang-orang itu di jalan.


Tapi dirinya juga sangat lapar,ia tak bisa berdiam diri terus disana,dirumah juga ada ikan yang belum ia makan semalam,apalagi nanti di balai akan ada pembagian sembako.


Jawabannya tentu tidak...


Dengan langkah yang terseok-seok Clara berusaha melangkahkan kakinya.


Namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah kardus tergeletak diatas batu,itu gardus yang sangat besar.


Apa itu...


Tidak ada seorang disini selain dirinya,Clara mengedarkan pandangannya melihat sekeliling,tapi benar-benar tidak ada siapa-siapa.


Dengan keberanian yang ada Clara berjalan mendekati kardus itu,dan seketika matanya terbelalak saat melihat isi yang ada didalamnya.


Sosis yang sangat banyak dan juga beberapa mie isntan terdapat disana.


Clara menangis saat membaca note yang tertinggal di dalamnya,Teo meninggalkan semua makanan itu untuk dirinya.


Laki-laki itu menepati janjinya akan memberikannya makanan kota yang sangat banyak hari ini.


Tapi apa yang bisa Clara lakukan,ia bahkan tak bisa mengucapkan terimakasih untuk anak itu.


***


Ini harum sekali...

__ADS_1


Dibolak-balikannya sosis itu diatas api yang ia buat sendiri,harumnya sangat menggugah selera sampai-sampai Clara meneteskan air liurnya tak tahan.


Setelah matang,segera ia makan sosis itu dan melahapnya dengan penuh rasa syukur.


Tapi kenikmatannya tak bertahan lama setelah mendengar seseorang mulai menggedor rumahnya dengan begitu keras.


"Hei Clara...! kau ada di rumah atau tidak...!"


Brak...brak ..brak...!


Clara mengintip dari balik kayu yang bolong,ia takut itu adalah orang-orang yang berniat menyakitinya.


Tapi dirinya langsung bisa bernafas lega melihat itu hanyalah tetua desa,Pak Harun namanya.


Perlahan Clara membuka pintunya,ia melihat Pak Harun datang bersama dua perangkat desa lainnya,dengan membawa sebuah kantong yang cukuo besat disana.


"Nak Clara...kenapa kau tidak datang hari ini ke balai? ini adalah bagian sembako dari kota untukmu,ambilah..."


Clara menatap takut-takut kepada ketiga pria paruh baya di depannya itu,mereka semua aneh.


Selama ini dirinya selalu dikucilkan dan hanya diberi bagian paling sedikit saat pembagian sembako dilakukan,tapi kenapa sekarang mereka berbaik hati dan malah mengirimkan sembako itu sendiri?


Aku tidak mau...


Clara menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Ambil saja...bapak sudah berbaik hati datang kesini untuk mengantarkan bagianmu",ucapnya menyodorkan sembako itu.


"Baiklah..kalau begitu bapak pergi dulu..salam juga sama kakekmu nanti"


Tanpa diduganya ketiga perangkat desa itu langsung pergi meninggalkannya.


Clara hanya bisa menerima pemberian mereka,sejujurnya ada rasa senang dihatinya saat ini.


**Apa mereka sudah berubah? apa mereka sudah bisa menerimaku di desa ini...?


Sembakonya juga sangat banyak...! aku akan langsung memasaknya kemudian memakannya bersama sosis nanti...pasti rasanya sangat enak**...


Clara masuk kedalam rumah dengan hati yang gembira,dan benar saja ia langsung memasak beras itu.


Clara segera makan nasi itu tanpa pikir panjang,ia makan satu suap dua suap bersama sosis sebagai lauknya.


Ini enak...tapi kenapa rasanya sedikit aneh?


Ada sedikit rasa pahit dilidahnya..Clara mengecek apakah sosisnya gosong ?


Tapi sosisnya baik-baik saja karena ia memanggangnya dengan penuh kehati-hatian.


Lalu apa...?


Tak lama kemudian Clara merasa mual,ia pusing dan juga tenggorokannya merasa sangat panas...

__ADS_1


Clara terjatuh ditanah mencoba meraih sesuatu yang bisa digunakan sebagai pegangan,tapi naas tubuhnya tak bisa bergerak lagi dan akhirnya ia tak sadarkan diri.


__ADS_2