
Ceklek...
Bunyi suara pintu yang terbuka membuat beberapa suster dan dokter menengok kearah suara.
Sekarang mereka sedang melakukan cek kesehatan Clara secara berkala.
Clara tetap di rawat di dalam apartemen milik Kaylan dengan segala fasilitas yang lengkap tentunya.
Dokter Edward menatap wajah tuannya Kaylan yang terlihat begitu lesu,dengan pakaian yang sudah lusuh dan juga terdapat noda lipstik dibeberapa bagian.
Dokter Edward adalah penanggung jawab akan kesehatan wanita atasannya itu.
Beliau sebenarnya adalah dokter pribadi bagi keluarga Pramanta,tapi dibanding tugas menjaga kesehatan keluarga itu...Dokter Edward malah hanya sibuk mengurus urusan pribadi Kaylan,seperti melakukan cek kesehatan bagi para wanita yang ia pilih untuk tidur dengannya.
Dan sekarang ini beliau mempunyai tugas tambahan merawat gadis malang yang masuk kedalam penjara tuannya.
"Bagaimana keadaannya...?",tanya Kaylan berdiri menatap tubuh Clara yang masih terbaring lemah.
"Nona masih dalam keadaan lemah tuan...mungkin butuh waktu sedikit lebih lama agar nona bisa pulih sepenuhnya...",terang Dokter Edward.
Kaylan mengerutkan kening tidak suka mendengar penjelasan sang dokter.
Ia tidak suka jika wanita itu lama-lama terbaring sakit tanpa bisa ia sentuh!
Kaylan ingin wanita itu bangun dengan sehat dan bisa menguras rasa segala kegelisahan dihati dan fikirannya akibat gairahnya tak bisa tersalurkan dengan baik.
"Sembuhkan semua luka yang ada di tubuhnya,bahkan penyakit yang mungkin wanita itu miliki sejak dulu...aku tak ingin wanita pendampingku memiliki penyakit yang bisa menular.."
Kaylan sudah bertekad untuk mengurung wanita itu dalam dekapannya sampai ia puas,dan selama itu juga ia ingin Clara tetap dalam keadaan sehat dan bersih tentunya.
Untuk itu segala penyakit dan juga luka yang ada pada diri Clara harus hilang,ia tak ingin melihat bekas luka sedikitpun dari tubuh wanita itu,termasuk luka sayatan bekas percobaan bunuh diri tempo lalu.
Dokter Edward diam sejenak mendengar perintah tak terbantahkan dari tuannya itu,kemudian mencoba berucap menyanggah permintaan tuannya itu untuk pertama kali.
__ADS_1
"Ta..tapi maafkan saya tuan...sepertinya ada beberapa hal yang sulit untuk saya sembuhkan .."
Mata Kaylan menatap wajah sang dokter dengan kilatan ketidak sukaan.
Sang dokter yang merasa nyawanya dalam bahaya langsung menjelaskan asumsinya mencoba menyelematkan hidupnya.
"Ada beberapa luka ditubuh nona Clara yang sudah membekas tuan...dan itu sulit untuk dihilangkan..",jawabnya takut-takut.
"Apa maksudmu...?"
Selama ini Clara baik-baik saja...selama ia mengamati gadis itu Clara tetap terlihat sehat selain kebisuannya itu.
"Mungkin karena kejadiannya sudah lama,ada beberapa bekas luka yang terlihat dikulit nona dan membekas dengan sempurna ...dan itu sulit untuk dihilangkan tuan.."
"Apa masalahnya...? bukankah kau bisa menanganinya kalau hanya karena luka lama?"
Kalau hanya bekas luka bukankah luka itu akan sembuh dengan cepatnya ,lalu apa masalahnya?
"Tapi...luka yang nona Clara alami sangat parah tuan,itu seperti bekas luka yang menumpuk diatas luka lainnya.."
"Bagaimana bisa tuan tidak tahu..."
Luka yang Clara alami sangatlah mengerikan,itu bahkan bisa dilihat ataupun diraba dengan jelas.
Punggung Clara yang ada begitu banyak bekas sayatan dan kulit yang berwarna kehitam-hitaman bercampur warna putih pucat seperti kulit yang mengelupas menunjukan bahwa luka itu bukanlah luka ringan.
Jika diraba dengan tangan kosong itu terasa kasar dan sangat jelas..
Tapu bagaimana bisa tuannya Kaylan yang telah menghabiskan malam bersama gadis itu tidak mengetahui hal tersebut?
Mungkinkah karena Kaylan tidak memperhatikan sama sekali dan bahkan tidak perduli atau memang benar-benar tidak tahu...?
"Aku mau lihat...",ucapnya dengan suara bassnya.
__ADS_1
Dokter Edward sedikit terpaku saat mendengar keinginan tuannya itu,namun tak urung dokter itu menyuruh beberapa suster yang ia bawa untuk membuka balutan selimut yang menutupi tubuh Clara.
Kaylan dengan diam menunggu sampai suster itu memposisikan tubuh Clara dengan benar,posisi miring agar Kaylan bisa melihat dengan jelas punggung wanita itu.
Dokter Edward memalingkan muka saat baju milik Clara dibuka dengan hati-hati oleh suster.
Disisi lain Kaylan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat punggung Clara yang terdapat banyak bekas luka.
Banyak sekali sampai hampir terlihat seperti bukan punggung manusia.
Luka bekas sayatan,pukulan ,cambukan atau mungkin benda keras lainnya terukir disana seperti sebuah gambar mozaik .
Terlihat juga ada bekas luka yang cukup besar dibagian bahu sebelah kanan yang sudah menghitam,itu terlihat bukan bekas yang sudah lama.
Entah apa yang gadis itu alami sampai memiliki bekas luka sebanyak itu.
Saat sudah melihat semua itu entah mengapa Kaylan merasakan ada suatu gelenyar aneh.
Rasa marah dan juga benci bercampur menjadi satu,entah bagaimana ia harus mengekspresikannya.
Apakah ia marah pada Clara? karena wanita itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri?
Atau Kaylan marah pada dirinya yang telah melakukan kesalahan pada gadis malang itu?
Tapi yang pasti Kaylan merasa sedikit frustasi dan bersalah,ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas luka pada punggung Clara selam mereka bercinta.
Mungkin itu karena dirinya yang terlalu hanyut dalam sebuah kenikamatan yang Clara berikan padanya,membuat semua konsentrasinya hilang seketika.
Setelah dirasa cukup sang suster mengembalikan posisi Clara seperti semula.
Kaylan yang masih berkubang dengan fikirannya sendiri masih diam dengan tatapan menuju Clara.
Disana gadis itu terbaring tanpa bisa bergerak sama sekali,tubuhnya memang tinggi tapi tubuhnya yang kurus membuat gadis itu terlihat seperti sangat kecil di ranjang king sizenya.
__ADS_1
Suasana kembali mencekam,dengan Kaylan yang diam saja tanpa berkomentar apapun membuat ruangan itu sungguh terasa sangat berat.
Dokter Edward bahkan tak berari membuka suara jika keadaannya seperti ini.