
"Apa yang harus kita lakukan? dia belum mati juga"
"Bagaimana kalau kita buang saja ke laut? itu lebih efisien..."
"Jangan...sepertinya dia cukup berguna,tubuhnya juga bagus"
Sayup-sayup suara tiga orang dewass terdengar ditelinganya.
Clara mengerjapkan matanya berkali-kali berusaha agar tetap sadar,tapi makanan yang dimakannya benar-benar membuat seluruh badanya lemas tak berdaya.
Racun yang mereka berikan sungguh sangat ampuh,padahal ia hanya memakan nasi itu sedikit,bagaimana jika ia sudah makan banyak?
Mungkin saat ini Clara sudah mati.
Kenapa mereka jahat sekali padaku...?
Setelah bisa membuka matanya dengan segenap kemampuannya,Clara bisa melihat tiga lelaki tengah menatapnya dengan tatapan yang menjijikan.
Ada tetua desa dan juga antek-anteknya..
"Bukankah lebih baik kita bersenang-senang dulu...? kita bisa memanfaatkan situasi saat ini",kata Pak Badrun.
"Boleh juga...apalagi dia masih muda..hahaha...pasti sangat menyenangkan!"
Tidak...!jangan sentuh aku...!!
Clara menyeret badannya diatas pasir,ia berusaha sangat keras untuk bisa pergi dari ketiga orang jahat tersebut.
Ketiga pria dewasa itu tertawa saat melihat Clara melata seperti kadal,usaha yang dilakukan gadis itu sungguh sia-sia.
Sudah banyak keringat yang keluar dari dahinya,tapi sepertinya usahanya tidak membuahkan hasil.
Clara hanya bisa bergeser sekitar satu meter,tak jauh dari tempat mereka berada.
"Usahamu sia-sia anak muda...apa kau fikir bisa kabur dari kami? terima saja takdirmu ini...kau hanyalah anak pembawa sial di desa ini jadi kami harus segera menyingkirkanmu..."
Clara mendesis saat rambutnya dijambak dengan begitu kasar,sungguh ia merasa kesakitan sekarang.
"Lebih baik kau terima saja dengan apa yang kami lakukan,kami melakukannya demi kebaikan bersama...kau akan tenang setelah mati..dan desa ini akan tentram jika kau tidak ada...",ucap Pak Harun.
Clara menggelengkan kepalanya pertanda penolakan.
Tidak...aku tidak mau mati ...! aku harus bertemu dengan Teo,kami sudah membuat nanji ..!
Gadis itu menangis dengan begitu pilu,tidak ada yang bisa ia lakukan selain melampiaskan kesedihanya saat ini.
Dengan segala keberanian,Clara meludahi wajah Pak Harun saat lelaki tua itu mulai menyentuh bajunya.
Ia tak sudi jika harus disentuh dengan para kepar*t itu,lebih baik ia mati saja!
"Dasar anak tidak tahu diuntung! aku sudah berbaik hati tidak membunuhmu langsung!! "
Plaakk...!!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras terasa begitu menyakitkan dipipinya,Clara hanya bisa menahan semua pukulan itu dengan memejamkan mata.
Air matanya yang mengalir deras tak bisa membuat ketiga pria tua itu berbelas kasih dengannya.
**Sakit...sakit sekali...! apa aku akan mati sekarang?
Mungkin jika aku mati akan lebih baik...aku tidak lagi merasa kesepian,tidak akan ada lagi warga yang merundungku...
Teo...maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku,aku tidak bisa menunggumu**...
Setelah itu Clara kehilangan kesadarannya,terakhir kali yang ia rasakan hanyalah tamparan yang keras bahkan tendangan-tendangan di badan dan perutnya yang tiada henti.
***
Sepi...
Apa aku sudah mati...?
Pandangannya gelap gulita,tidak ada pencahayaan sama sekali.
Juga tak ada suara apapun selain suara ombak yang tenang...
Tapi perlahan terdengar suara rintihan-rintihan kecil..Clara mendengar seseorang mulai menangis.
Siapa...?!
Clara ingin berlari dan mencari sumber suara,tapi ia tak bisa,badanya terasa berat seperti ada kayu besar yang menindihnya.
Keningnya mengerut saat tiba-tiba rasa sakit di punggungnya kembali terasa,kemudian menjalar kesemua tubuhnya.
Tapi dugaanya salah,Clara menahan giginya saat merasa sakit yang teramat sangat dibagian kakinya.
Dirabanya sesuatu yang menancap di kakinya,itu seperti sebuah jarum yang besar.
Kemudian dirasakannya sesuatu yang basah dan lembek dimana mana menyelimuti sekujur tubuhnya.
Apa ini...?
Itu seperti bau lumpur tapi banyak ranting-ranting disekitarnya.
Suara rintihan itu terdengar lagi,kali ini lebih keras bahkan suara itu berubah menjadi sebuah permintaan tolong.
"Tolong...tolong...ada orang disini...! tolong aku...!",begitulah suara itu terdegar.
Tak lama kemudian sebuah cahaya terdengar bersamaan dengan suara mesin,itu sangat keras dengan suara orang-orang bersamanya.
Clara menyipitkan mata saat sebuah senter menyoroti dirinya,seorang lelaki paruh baya terlihat turun dari atas mesin beroda itu kemudian berjalan menghampirinya.
"Apa ada orang lain lagi disini?",tanyanya.
Clara hanya mengangguk sembari mengacungkan tangannya kearah suara rintihan itu terdengar.
Beberapa orang berbaju oren turun berpencar mencari entah apa itu.
__ADS_1
Tapi setelah melihat anak kecil yang diangkat dari balik tumpukan ranting Clara sedikit mengerti keadaan.
Dilihatnya penampilannya sendiri,banyak luka di badannya,Clara juga tidak tahu sekarang dia ada dimana.
Bukankah aku ada dirumah tadi...? apa yang terjadi...?
Ingatan yang terakhir kali ia ingat adalah saat dirinya di pukuli habis-habisan oleh para orang tua biad*b itu.
Clara diam saja saat diabawa menggunakan mesin itu,disampingnya ada beberapa orang yang penampilannya sama persis berantakan dan mengenaskan,bahkan ada yang mengalami luka sangat parah melebihi dirinya.
Setiap jalan yang ia lewati terlihat hancur,banyak rumah yang hancur dimana-mana,desanya kini rata tak menyisakan apapun.
Dari pengamatannya itu saja Clara sudah tahu...desanya telah terkena bencana tsunami.
Buktinya terlihat dimana-mana...
Sampainya mereka di sebuah pengungsian Clara melihat banyak korban berjatuhan,suara tangisan orang-orang yang kehilangan terdengar sangat pilu.
Tangis kesakitan,tangis kehilangan dan bercampur jadi satu.
Jadi aku selamat...?
Clara merasa lega ia bisa selamat dari para perangkat desa yang lakn*t itu,tapi ia juga bingung dengan keadaannga sekarang.
Bagaimana dengan kakek...?
Apakah kakeknya itu selamat dan masih hidup? atau...
Kakeknya berangkat berlayar tadi malam,besar kemungkinan kakeknya bisa selamat.
Clara mulai meneteskan air matanya saat terungat kakeknya itu.
Meski kakeknya sangat jahat,tapi kakek Danu lah yang merawatnya dari ia kecil,kakek Danu yang tetap memberinya makan disamping para warga yang menyiksanya.
Setidaknya kakeknya itu mau melihat wajah seorang pembawa sial sampai ia tumbuh menjadi remaja.
Clara menangis dipojokan tanpa ada yang bisa mengetahuinya,orang-orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing.
Para timsar mulai berdatangan membawa mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya.
Banyak korban yang berjatuhan mulai berdatangan,meski lukanya juga parah tapi sepertinya tak ada yang mengetahui.
Lukanya tertutup lumpur yang sudah mengering,tak ada yang bisa melihatnya dengan cahaya yang sangat minim itu.
Malam ini sekali lagi Clara harus menahan rasa sakit ditubuhnya.
Ia takut meminta pertolongan,fikirnya apakah orang-orang itu mau menolongnya?
Karena selama sisa hidupnya tak ada yang mau menolongnya selain Teo.
.
...Terimakasih sudah membaca novelku...!!😆😆 ...
__ADS_1
...Aku sayang kaliannn..🤗🤗🥰...