
tak ingin mengambil pusing masalah yang ada,anya dan damar pun bersikap tak perduli lalu kembali ke pekerjaan masing masing terutama anya yang kini mengerjakan tugas sekolah miliknya.
damar hanya duduk di atas sofa sambil memperhatikan anya yang tengah mengerjakan soal soal.
"ini gimana sih?"gumam anya kebingungan karena tak memahami soalnya.
"begini..."damar yang paham pun membantu menjelaskan caranya pada anya.
"wuah mudah,tak kusangka kau yang hantu ternyata mengerti mapel mtk"ucap anya.
"idih gini gini gue belum mati kali makanya punya sedikit ingatan bagus,apalagi ingatan gue udah balik"ucap damar yang langsung menutup mulutnya.
"serius? udah balik ingatannya?"tanya anya memastikan.
"belum"ucap damar menggelengkan kepalanya.
"jawab yang jujur"ucap anya dengan nada bicara yang tak lagi bersahabat.
jujur anya benci dibohongi,karena itu mengingatkannya pada ayah kandungnya Stefano yang berbohong dan mengingkari janji untuk selalu bersama anya.
"iya,sorry gue baru kasih tau"ucap damar menunduk.
"baguslah kalau begitu lo udah bisa kembali kan?"tanya anya.
"belum,gue gak pernah bisa kembali ke raga gue karena jiwa gue selalu di tolak ketika mencoba masuk"ucap damar dengan kepala tertunduk.
"hahh mungkin gue bisa bantu?"tanya anya.
"enggak,itu bahaya lebih baik gue gak kembali ke raga ketimbang lo dalam bahaya"ucap damar langsung menolak.
"a-apa maksud lo?"bingung anya.
damar pun menghela nafas panjang sebelum ia memulai ceritanya "lo ingat kamar beraura paling negatif yang sempat lo lewati?"tanya damar dibalas anggukan oleh anya.
"tunggu sebentar... jangan bilang.... disana tempat raga lo berada?"tanya anya yang dibalas anggukan oleh damar.
"dan lo harus ingat perkataan lenza,lo gak boleh ikut campur bahaya nyawa lo bakal lebih terancam dari sekarang"ucap damar.
"tapi nyawaku sekarang gak lagi terancam damar!"kesal anya sedikit menaikkan suaranya satu oktaf.
"lo gak ngerti! ini gak seperti lo tolong makhluk tak kasat mata lain ini beda! lo bakal dalam bahaya atau bahkan nyawa lo sendiri pun bakalan melayang!"ucap damar yang juga menaikkan suaranya sambil memegang kedua bahu anya.
"tolong ngerti,hidup lo masih panjang selesaikan masalah lo saat ini dulu jangan ambil pusing masalah gue"ucap damar.
"oke.. gue udah ngerti kok"ucap anya tersenyum manis.
"gue pergi dulu cari makan"ucap anya membereskan peralatan sekolahnya kemudian ia pergi keluar ruangan.
tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya,anya benci! benci ketika dia dibentak tapi ia lebih benci lagi ketika dirinya menjadi tak berguna untuk membantu orang lain.
"kamar itu kan?"gumam anya.
' fighting lo pasti bisa bantu,apapun yang terjadi lo harus bantu sama seperti lo mau membantu makhluk makhluk tak kasat mata yang lainnya 'batin anya dan berjalan ke depan ruangan beraura negatif.
__ADS_1
tangannya terulur memegang gagang pintu,tiba tiba ia merasakan sebuah flashback akan terjadi.
namun saat hampir flashback di mulai ada sesuatu yang langsung menarik nya kembali,ketika ia membuka mata dirinya dihadapkan oleh tatapan tajam damar.
"udah gue duga lo emang gak bisa dikasih tau"ucap damar dengan dingin.
"please biar gue lihat aja bentar"ucap anya memohon.
"enggak"ucap damar sembari menarik tangan anya menjauhi kamar tersebut.
karena tarikan damar cukup kuat sampai di taman depan rumah sakit,kini anya jadi meringis kesakitan.
"sorry"ucap damar melepaskan genggaman tangannya dari tangan anya dan mengusap pergelangan tangan anya yang memerah.
"duduk"ucap damar sembari duduk di kursi taman,anya pun ikut duduk tepat disebelah kanan damar.
"kenapa lo mau tau banget?"tanya damar membuat anya yang tadinya masih melamun langsung tersentak kaget.
"hahh?"bingung anya.
"kenapa lo mau tau banget?"tanya damar mengulang pertanyaannya.
"gue pengen bantu lo"ucap anya menunduk.
"lihat gue"ucap damar memaksa wajah anya untuk terangkat dan menatap wajahnya.
"ingat ini,gue akan minta bantuan lo kalau emang menurut gue lo bisa dan masalahnya gak besar tapi masalah ini besar bukan sebuah masalah yang bisa kamu sepele kan ini menyangkut nyawa,kamu tau kan apa itu nyawa?"tanya damar di akhir ucapannya yang dibalas anggukan oleh anya.
"lalu apa masalahnya?"bingung anya.
"gue gak akan pernah ngerti kalau lo gak pernah jelasin!"bentak anya kesal.
"arti sebuah nyawa itu penting kan?"tanya damar.
"iya,jadi apa masalahnya jelasin jangan berbelit belit"ucap anya.
"arti sebuah nyawa itu penting,dan disini nyawa lo yang akan terkorban berada dalam bahaya yang bahkan bisa merenggut kehidupan lo sampai... mungkin lo akan tiada dan di saat itu lo akan kehilangan seluruh keluarga lo,lo akan jadi hantu kaya gue,peter,chris,william,lenza atau bahkan jiwa lo malah dimusnahkan dalam kekacauan nanti dan waktu kau menyelamatkan ku lalu terjebak pada hal hal yang gue sebutkan tadi maka menyesal pun udah gak guna"ucap damar dengan sorot mata tajam .
"gue tau,nyawa gue dimanapun akan selalu jadi taruhan kalau membantu makhluk tak kasat mata"ucap anya.
"lo gak ngerti! ini bahkan lebih bahaya! NYAWA KELUARGA LO BAKAL TERLIBAT JUGA!!!"bentak damar.
"gu-gue..."tampak keraguan muncul di hati anya ketika mendengar bahwa keluarganya akan terseret juga.
"pertanyaan gue,lo siap bantu gue? tapi konsekuensinya lo harus siap dengan apa yang gue sebutkan sebelumnya atau lo biarin aja dan selesaikan masalah lo?dengan gue yang akan bantu lo"ucap damar.
"gu-gue yakin!"ucap anya.
"lo ragu,jangan dipaksain siapapun juga gak akan pernah mau kalau keluarganya yang terkena imbas abaikan aja kita selesaikan masalah awal biar masalah pribadi gue biar diselesaikan gue sendiri lo nggak perlu ikut campur"ucap damar mengusap kepala anya pelan kemudian berlalu pergi dari sana.
' a-aku harus gimana? 'batin anya bertanya tanya, pilihan apa yang harus ia pilih ia masih ragu.
ia ingin membantu damar kembali ke kehidupannya mengingat sudah lumayan banyak damar membantu anya meski hanya persoalan kecil namun hal itu berimbas sangat besar dalam hidup anya.
__ADS_1
"gue gak tau harus gimana"perlahan air mata kembali berjatuhan dari mata anya.
"anak ayah bisa,kuat,hebat ayah percaya kamu bisa"tiba tiba jiwa stefano muncul dihadapan anya.
"a-hiks ayah"unya kembali menangis semakin keras.
"ayah hiks a-aku harus gimana?"tanya anya menangis.
"anak ayah kuat,apapun. yang terjadi dan apapun pilihanmu ayah akan selalu dukung dari atas sana jangan pernah sedih"ucap stefano sembari mengusap air mata yang berjatuhan di pipi anya.
"hiks anya gak tau harus gimana hiks co-coba aja hiks ada a-ayah"ucap anya.
"terima om adnan dengan hatimu,dia orang yang baik dia yang akan menggantikan ayah bertanggung jawab atasmu,tolong damar dia anak yang baik kamu harus berani mengambil resiko,anak ayah pemberani gak akan pernah takut"ucap stefano.
"tapi..tapi ke-keluarga hiks"tak sanggup lagi anya mengatakan lanjutan perkataannya.
"kamu harus percaya kuasa sang pencipta,jika kamu berlaku baik menolong orang lain maka apa yang kamu miliki akan dilindungi sebaik baiknya kamu menolong orang lain"ucap stefano tersenyum manis dengan tangan yang terulur mengusap kepala anya.
"ayah..."anya pun menghambur memeluk jiwa stefano.
"pilihan ada ditanganmu ayah juga gak bisa memaksamu mengikuti perkataan ayah,apapun pilihan yang kamu ambil ayah akan dukung dan bantu kamu"ucap stefano membalas pelukan anya.
tak lama jiwa stefano melebur menjadi serpihan cahaya yang kemudian menghilang,anya kembali terisak saat sekelebat memori kebersamaannya dengan stefano terputar jelas di otaknya.
"Cengeng"cibir damar dari arah belakang.
"hiks ba-hiks-cot"ucap anya sesenggukan.
"udah jangan nangis lo cuma harus jalanin hidup lo seperti biasa,maaf gue udah bentak lo"ucap damar sembari membawa tubuh anya ke dalam pelukannya dan mengusap punggung anya yang bergetar karena menangis.
"aduh mas istrinya kok dibikin nangis"tiba tiba seorang wanita dengan suaminya muncul di samping kursi.
"ehh e-enggak kok bu a-a itu istri sa-saya baru aja keguguran"ucap damar asal.
"astaghfirullah turut berduka cita semoga istrinya tabbah melewati ujian ini dan segera diberikan momongan"ucap si suami.
"makasih bu"jawab damar.
"hiks go-hiks-blok hiks"gumam anya sembari mencubit kuat pinggang damar.
"ya sudah kami permisi ya"ucap si istri sembari berjalan masuk ke dalam rs bersama suaminya.
"aww"ringis damar ketika merasakan cubitan anya yang semakin menguat.
"makan hiks tuh keguguran hiks"ucap anya melepaskan pelukan mereka.
tampak matanya anya sembab dan hidungnya memerah karena menangis.
"jangan cubut cubit dong sakit nih"ucap damar kesal.
"han-hiks-tu mana bisa sakit"ucap anya.
"kan gue lagi pake mode manusia"ucap damar.
__ADS_1
"hiks pantes bapak ibu itu bisa hiks lihat lo ta-tadinya gue pikir me-mereka hiks indihome"ucap anya yang sedikit tersendat sendat.
"udah jangan nangis,angin malam gak baik buat lo ayo masuk"ucap damar membawa anya masuk kembali ke rs.