
Tiba tiba saja pintunya terbuka, Lala membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Yang ia lihat adalah seorang laki laki yang lumayan tinggi dengan pakaian layaknya anak muda. Kemeja yang digulung lengan sampai dan celana jeans hitam.
“Mau cari siapa mas?” tanya Lala akhirnya.
Devan yang mendengar suara Lala langsung menoleh dan saat itu juga mereka saling berpandangan. Devan tersenyum menyeringai saat Lala melihatnya.
“Mau cari kamu,” Lala membulatkan matanya melihat siapa yang datang.
“Om ngapain ada disini?”
Deva maju semakin mendekat pada Lala yang berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arahnya. Lalu mata Devan memperhatikan penampilan Lala yang tidak seperti biasanya. Lala menggunakan gaun selutut yang terbuka di area bahunya. Sekali melihatnya saja Devan sudah bisa mengatakan kalau Lala benar benar cantik. Devan kemudian memberikan rantang buahnya itu pada Lala.
“Saya mau bertemu calon mertua,” ucap Devan dengan serius.
“Kenapa om malah datang ke rumahku?!”
Devan menggelengkan kepalanya, pada saat mereka bicara Devan mendengar suara wanita yang batuk batuk dari dalam rumah Lala. Devan yakin itu adalah ibu Lala yang sakit itu. Devan sudah mengetahui semua tentang Lala hingga memberanikan diri untuk datang ke rumahnya meskipun belum terlalu lama kenal.
Lala yang mendengar suara batuk ibunya langsung meninggalkan Devan di depan pintu rumahnya. Lala khawatir terjadi sesuatu pada ibunya jadi dia menyusul ibunya ke dalam kamar.
Lala langsung masuk ke dalam dan menemukan ibunya yang tengah memakan kue ulang tahunnya. Lala bernafas lega setelah melihatnya.
“Ibu, apa ibu baik baik saja? Lala dengar tadi ibu batuk batuk lagi.” ujar Lala sambil duduk di samping ibunya.
Siti menggeleng pelan sambil memakan kuenya kembali. “Siapa yang datang nak? Kenapa kamu malah disini. Temui dulu sana tamunya,” titah Siti dengan lembut.
“Ibu tenang saja, itu hanya tamu tidak pent.....”
“Halo ibu mertua,” Devan tiba tiba muncul di balik pintu kamar Siti dan mengejutkan Siti dan Lala yang berada disana.
Devan sangat bosan menunggu di luar, apalagi Lala seperti melupakan keberadaannya jadi dia memutuskan untuk masuk saja. Lagi pula dia kan tamu, jadi sudah sehausnya tamu ada di dalam rumah. Bukan malah hanya berdiri di depan pintu saja. Maka dari itu Devan masuk dan mencari kamar ibunya Lala.
Siti dan Lala saling berpandangan satu sama lain. Lala menggigit bibir bawahnya merasa gugup karena tiba tiba saja Devan masuk. Lala takut dengan reaksi ibunya nanti. Dalam hatinya Lala merutuki Devan karena sudah bersikap tidak sopan dengan masuk tanpa izin darinya.
__ADS_1
“Ini siapa La?” tanya Siti pada Lala.
Devan tau Lala sedang panik dan tidak bisa menjawab, akhirnya Devan lah yang angkat bicara.
“Saya Devan bu, umur tiga puluh tahun. Status saya adalah duda. Saya bekerja sebagai ceo di perusahaan papa saya. Dan yang paling penting sekarang saya akan segera menjadi menantu ibu dan suami dari Lala.” Jawab Devan dengan santai.
Lala langsung tercengang mendengar jawaban Devan. Bagaimana bisa ia mengatakan itu. Lala bahkan baru tau sekarang jika om om menyebalkan itu namanya Devan. Lala memberanikan diri untuk melihat ekspresi ibunya.
“Kamu pacaran sama dia, La?” tanya Siti sambil menatap tajam Lala yang tidak berkutik.
“E-Enggak kok bu, Lala saja baru kenal sama dia.” Jawab Lala dengan sedikit terbata bata.
Devan tertawa dalam hatinya, melihat kegugupan Lala sangat menyenangkan. Gadis itu jadi lebih manis ketika sedang gugup.
“Anak saya tidak mengakui kamu. Jadi sebenarnya kamu siapa?” Siti kembali menatap wajah Devan yang terus memperhatikan Lala.
Devan lelah berdiri di depan itu, ia masuk saja ke dalam tanpa permisi. Ia tidak peduli meskipun mata Lala melotot padanya karena sikap tidak sopannya. Begitu pun dengan Siti, sedari tadi ia memang melihat Devan dengan tatapan aneh.
Lala mencoba mengingat itu, beberapa detik kemudian.
“JADI OM SI PEMILIK MOBIL ANGKUH ITU!!!!”
Siti dan Devan kompak menutup telinga mereka, suara Lala benar benar sangat keras sekali. Seketika Lala langsung menutup mulutnya saat ibunya menatap tajam ke arahnya.
“Maaf bu, Lala hanya kaget saja. Ternyata om ini yang mobilnya Lala tabrak,” Lala menggaruk kepalanya yang tak gatal demi menghilangkan kegugupannya saat ditatap ibunya.
“Saya datang kesini bukan untuk niat main main bu. Saya hanya ingin lebih mengenal ibu dan Lala lebih dalam lagi. Saya tidak ingin mengajak anak gadis orang berkenalan tanpa mengenal orang tuanya terlebih. Apalagi gadis itu yang seperti Lala. Saya yakin ibu pasti sangat mengkhawatirkannya karena dia putri satu satunya ibu.” Devan melirik ke arah Lala sambil melempar senyum tulus.
“Baik, apapun itu saya menghargai niat baik kamu. Saya jadi merasa bersalah karena anak saya telah menabrak mobil kamu, kalau begitu saya mewakili anak saya, saya minta maaf karena kesalahannya dia harus menabrak mobilmu”
Lala menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Ibu, ngapain sih minta maaf! Lala kan gak salah. Orang om nya aja yang nyetirnya gak bener pake ngerem mendadak lagi,” Lala tidak terima karena dirinya merasa tak bersalah. Tapi protesnya hanya mendapat cubitan maut di pinggangnya.
__ADS_1
“Ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap seperti itu, Lala.” Tegur Siti dan berhasil membuat Lala terdiam.
Siti kembali memandang ke arah Devan, “Bisa saya simpulkan kamu menyukai anak saya, seperti itu?” tanya Siti.
“Itulah tujuan kedatangan saya kemari. Saya minta izin untuk mendekati anak ibu. Dengan begitu saya bisa memastikan lebih lanjut tentang apa yang saya rasakan,”
Siti mengangguk. “bagaimana kalau saya tidak mengizinkan?”
“Saya tidak akan menyerah.” jawab Devan langsung.
Lala yang melihat itu hanya mendengus dalam hatinya. Selain ia terkejut dengan siapa Devan sebenarnya, Lala juga tidak menyangka saja jika Devan mengatakan tentang rasa pada ibunya. Seolah olah Devan memang beneran menyukainya.
“Dia kan duda ya, pasti banyak bulu dadanya tuh di dalam sana seperti duda di sebelah,” mata Lala berhenti di dada Devan. Ia jadi ngeri sendiri membayangkannya.
Siti tersenyum pada Devan, senyum yang tak pernah Devan sangka sangka. Sepertinya Siti sudah mulai terkesan pada Devan.
“Lala, kamu keluar sebentar ya. Ibu mau bicara sana nak Devan.”
“Soal apa bu?”
“Nanti juga kamu akan tau. Keluar dulu ya nak,”
Lala mengangguk dan menuruti perkataan Siti untuk keluar. Ia sangat penasaran pada apa yang akan ibunya katakan alhasil Lala memilih untuk berdiri di luar saja sambil mendengarkan.
Bersambung ...
Ehemmm ciee nungguin update ya
Tenang aja update tiap hari kok
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1