Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
22. Gara gara kotak


__ADS_3

“Mau jalan jalan sama saya gak? Ini pak Devan memberi kita kebebasan.”


“Halah, pak Aris ini mau m*dus sama saya lagi,” balas Fitri.


Aris mendengus mendapat reaksi seperti itu dari Fitri.


“Ya sudah kalau tidak mau, selamat menikmati hari yang membosankan di hotel. Saya mau ke pantai mumpung ada disini. Saya juga mau nyobain kuliner yang ada di Korea. Karena kamu tidak mau yaudah saya sendirian aja,” Aris beranjak pergi dan meninggalkan Fitri sendirian.


Fitri menggigit bibirnya, ia mulai tergiur dengan ajakan Aris. Tanpa pikir panjang Fitri langsung mengejar dan menarik tangan Aris yang mulai menjauh.


Aris menoleh ke belakang dan melihat tangannya yang dipegang oleh Fitri. Dalam hatinya dia bersorak senang karena akhirnya Fitri mencegahnya. Tapi Aris tetap mempertahankan ekspresi datarnya.


“Ada apa? kunci kamar sudah saya kasih kan. Saya mau pergi dulu,”


Fitri menahan tangan Aris lagi.


“Tunggu dulu, pak. Saya mau ikut bapak aja deh, tapi saya mau nyimpen koper dulu. Bapak mau kan nungguin saya?!” tanya Fitri dengan wajah yang penuh pengharapan.


Akhirnya Aris mengangguk, “Ya sudah silakan, saya tunggu di mobil ya.”


Setelah itu Aris berjalan meninggalkan Fitri, ia menuju ke luar dan meminta kunci mobil pada supir yang tadi membawanya ke hotel ini. Setelah selesai Aris langsung masuk ke dalam mobil dan menunggu Fitri. Sambil menunggu Fitri, Aris iseng membuka ponselnya. Lalu matanya tertuju pada sebuah pesan yang dikirimkan Devan. Aris langsung membuka dan membacanya.


“Aku titip oleh oleh untuk gadis remaja yang menurut kamu cocok dengan Lala. Nikmati dulu kencanmu dengan sekretarisku setelah itu baru lakukan perintahku,”


Aris langsung mendesah kasar, ia pikir Devan berbaik hati dengan memberikan waktu untuk bersantai padanya. Namun di balik semua ternyata ada niat terselubung yang baru saja Aris ketahui.


“Tapi masa aku harus nyari barang cewek sih?!” batinnya dalam hati.


Tak lama kemudian pintu mobil di sebelahnya terbuka. Fitri yang sudah menyimpan kopernya kini sudah ada di mobil dan duduk di samping Aris. Aris yang melihatnya seketika tersenyum menyeringai. Sepertinya dia sudah menemukan solusi untuk perintah Devan yang satu itu.


“Sudah siap?” tanya Aris basa basi.


Fitri menoleh sebentar dan memasang sabuk pengamannya. “Sudah pak,”

__ADS_1


Aris mengangguk dan menghidupkan mesin mobilnya, setelah itu mereka langsung meninggalkan hotel untuk pergi ke suatu tempat.


Selama perjalanan Fitri terus membuka ponselnya dan mengambil foto dirinya di dalam mobil. Sudah ratusan foto yang sudah ia simpan dalam galerinya namun tidak ada satu pun foto yang bisa membuatnya puas.


Itulah sebabnya dia terus mengambil pose yang bagus demi mendapatkan hasil foto. Aris yang melihatnya sedari tadi hanya bisa mendengus karena bosan melihatnya.


“Gak capek apa foto terus terusan?” tanya Aris sambil fokus menyetir.


“Enggak pak, lagian saya udah biasa seperti ini. Soalnya hasil fotonya mau di posting di sosme*d jadi harus bagus,” jawab Fitri sambil mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang dibuat seperti anak kecil.


Ckrek


Aris meliriknya sedikit sambil menggelengkan kepalanya, tapi dalam hatinya ia tidak menyangkal bahwa Fitri terlihat lebih cantik dengan gaya seperti itu.


Fitri langsung mengupload foto yang baru diambilnya di in*tagr*m miliknya. Setelah itu ia menyimpan kembali ponselnya di dalam tas miliknya.


“Kamu mau makan T*eokbo*ki gak? Sebelum ke pantai lebih baik kita cari makan dulu,” ajak Aris pada Fitri.


“T*eokbok*i apa itu?” tanya Fitri yang tidak mengerti.


.


Fitri tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Lagi pula ini juga pertama kalinya ia datang ke korea. Berbeda dengan Aris yang sudah terbiasa ke luar negeri bersama Devan, termasuk korea.


.


Sementara itu Devan membaringkan dirinya di kasur hotelnya. Ia membuka ponselnya dan membuka aplikasi chatnya untuk menghubungi Lala. Dua hari lalu setelah Devan berpamitan pada Lala, Devan juga mengajak Lala untuk ke toko ponsel. Devan membelikan Lala ponsel yang terbaru agar dia bisa menghubunginya setiap waktu.


Sebenarnya Lala juga punya ponsel, akan tetapi ponsel yang ia punya hanya ponsel jadul yang hanya bisa digunakan untuk telfon biasa saja. Itulah sebabnya Devan membelikannya ponsel walau Lala sendiri sudah menolak karena harganya yang terlalu mahal.


Devan membelikannya ponsel iph*ne keluaran terbaru yang bahkan harganya hampir mencapai dua puluh juta.


Devan membuka kancing kemejanya lalu menekan tombol video call pada Lala. Panggilannya mulai berdering, ia hanya menunggu Lala menjawab panggilannya saja. Sampai pada akhirnya layar ponselnya sudah menunjukkan wajah Lala. Senyum lebar langsung menghiasi bibirnya.

__ADS_1


“Hai,” sapa Devan pertama kali.


“Kak Devan, udah sampai di Korea ya?” tanya Lala langsung dari sebrang telfon.


Devan mengangguk lalu menekan tombol kamera belakang, Devan memperlihatkan setiap sudut kamarnya pada Lala dan kembali menunjukkan wajahnya.


“Aku lagi di hotel sekarang. Tapi disini gak enak?!” sahut Devan lagi.


“Loh kenapa? Kan kamarnya bagus itu kak.”


“Iya kamarnya bagus, tapi di sini gak ada kamu makanya jadi gak enak,” jawab Devan kembali sambil tertawa kecil.


Lala terkekeh pelan, saat ini ia masih ada di pasar dan menunggu dagangannya. Melihat wajah Devan di ponsel itu adalah hal pertama baginya. Ia sedikit gugup saat mau mengangkatnya tadi.


Lihatlah sekarang, Lala bahkan mengarahkan matanya pada kemeja Devan yang terbuka dan memamerkan dada bidangnya yang sangat mulus tidak seperti perkiraannya yang menganggap duda itu mempunyai banyak b*lu dada.


“Kamu lagi di pasar ya?” tanya Devan.


“Iya nih, kak.”


Devan mengangguk lalu tanpa sengaja matanya tertuju pada lapak Lala yang sudah berubah menjadi lebih bagus. Tidak hanya itu di atasnya juga ada sebuah kotak besar yang dihiasi dengan pita berwarna merah muda.


“Itu di belakangmu kotak apa La?” tanya Devan pada Lala.


Lala menoleh ke belakang dan mengarahkan ponselnya pada kotak yang ia temukan di meja lapaknya tadi pagi. “Gak tau juga kak, tiba tiba di mejaku udah ada ini tadi pagi. Aku juga belum membukanya. Tapi disitu udah ada namaku,” jawab Lala sambil memperlihatkan kotak itu pada Devan.


Devan yang mendengar hal itu langsung mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan emosinya. Sudah ia pastikan pengirim kotak itu adalah orang yang sama dengan yang memberi boneka itu.


“Buang saja kotak itu!” ucap Devan dengan penuh penekanan.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak ya


Komentar juga boleh hehe


__ADS_2