
Devan segera tiba di kantor, ia memarkirkan mobilnya dengan terburu buru. Setelah itu ia keluar dan berlarian di lobi kantor. Ia tak peduli meskipun penampilannya sudah berantakan. Seluruh karyawannya pun melihatnya dengan tatapan penasaran, karena tak biasanya ia seperti itu.
Devan langsung masuk ke dalam lift, ia yakin saat ini ayahnya sudah menunggunya di ruangannya. Devan langsung mengambil nafas yang banyak karena kelelahan saat berlarian tadi. Keringatnya bahkan sudah membasahi jas mahalnya. Sambil menunggu lift terbuka, Devan tiba tiba teringat dengan rasa manis di bibir Lala yang masih terasa di bibirnya.
Devan menggelengkan kepalanya, ini bukan saatnya memikirkan itu. Yang saat ini harus ia pikirkan adalah bagaimana cara menghadapi pria tua yang nyatanya adalah ayahnya. Devan yakin ayahnya tidak hanya sekedar memberinya ancaman, ia sangat mengenal sifat ayahnya karena sifat otoriter pun menurun darinya.
Liftnya pun berhenti dan terbuka, Devan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kemarahan ayahnya yang sebentar lagi akan meledak. Dengan langkahnya yang lebar, ia masuk ke dalam ruangannya. Ia langsung saja membuka pintu ruangannya. Benar saja dugaannya, ayahnya sudah menunggunya dan menatapnya dengan tajam seolah olah Devan telah melakukan kesalahan besar.
Xander Maheswari, pria paruh baya yang usianya sudah memasuki usia enam puluh tahun, ia adalah direktur utama dalam perusahaan Maheswari X,Group, perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi, menciptakan dan mengembangkan sesuatu yang berbau teknologi seperti robot dan komputer dan lain lainnya. Dia merupakan ayah kandung dari Devan Praditya Revanuel yang saat ini berdiri mematung di ruangan dengan wajah yang tegang.
“Bagus Devan, kamu meninggalkan kantor hanya karena urusan yang gak penting. Memang ini sikap yang harus diambil calon direktur,” sindir Xander.
Devan tidak menjawab, karena percuma saja jika dia menjawab nanti yang ada dia dikira sedang mengelak. Lebih baik ia diam saja mencari keamanan dirinya sendiri.
“Kenapa diam? Baru sadar kalau kelakuanmu salah?” Xander menyerangnya lagi dengan pertanyaan.
Mau tak mau Devan harus angkat bicara, Devan melepaskan jas nya dan menyimpannya di sofa yang ada di ruangannya itu. “Aku sudah dewasa Pa, jadi apa yang aku lakukan itu tidak ada hubungannya dengan papa.”
Xander mendengus melihat sifat angkuh putranya saat bicara dengannya. Kenapa juga dia harus memiliki putra yang seperti dia. Harusnya ia sudah mulai menikmati masa tuanya dengan bersantai di rumah. Tapi kenyataannya dia tetap harus mengurus perusahaan dan memantau kelakuan putranya yang masih suka semena mena di kantor.
“Ini bukan hanya tentang sikap kamu Devan, ini juga tentang bagaimana profesional kamu dalam bekerja, terlebih jabatan kamu sebagai Ceo. Harusnya kamu memberi contoh yang baik pada semua karyawanmu, sedangkan kamu apa? Malah meninggalkan kantor tanpa alasan yang jelas.”
“Pa, aku meninggalkan kantor bukan tanpa alasan, aku....”
__ADS_1
“Kamu mencari gadis itu bukan? Gadis remaja yang menarik perhatianmu sampai kamu menyuruh Aris untuk menyelidikinya,” Xander memotongnya sebelum Devan mengarang sebuah alasan.
“Papa tau dari mana?” tanya Devan dengan penasaran.
“Kamu lupa siapa yang memperkerjakan Aris sehingga dia datang ke perusahaanmu?!”
Devan mengangguk, kadang ia lupa jika Aris tidak hanya bekerja padanya tapi juga pada Xander. Sudah pasti ayahnya tau dari dia. Devan tidak berkutik lagi, ia juga sedang malas berdebat. Lagi pula ini hanya masalah sepele baginya, tidak perlu ia bicara dengan nada tinggi untuk membela diri. Tapi tunggu, sepertinya Devan melupakan sesuatu. Devan mencoba untuk mengingatnya, ia rasa ia pernah melakukan perjanjian dengan ayahnya. Ah ia, perjanjian itu.
Devan kembali menatap ke arah Xander dan tersenyum dengan penuh arti, sehingga Xander keheranan dengan perubahan ekspresi putranya itu.
“Aku rasa Papa sudah mulai lupa dengan perjanjian kita, jadi aku ingin mengingatkan lagi tentang perjanjian kita.”
“Apa?”
“Papa pernah bilang, jika aku berhasil mendapat istri lagi maka jabatan direktur itu akan langsung diberikan tanpa harus repot repot mengurus semuanya. Bukankah begitu papa tersayang?!” Devan tertawa geli setelah mengatakannya, bisa bisanya ia kepikiran sekarang.
Devan berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya tentu ada hubungannya pa, karena gadis itu yang akan jadi calon istriku,” ucapnya dengan percaya diri.
‘APA!!!”
.
__ADS_1
.
.
Sore hari, Lala bersiap siap untuk pulang dari pasar, seharian ini moodnya terasa memburuk hanya karena ulah om om yang tadi pagi menciumnya itu.
Entah ia harus senang atau sedih karena ciuman pertamanya sudah diambil. Yang jelas ia tidak berani untuk mengatakannya pada ibunya. Bisa bisa ibunya syok jika tau anak gadisnya dicium orang asing. Lala segera membereskan tempat berjualannya dan segera pulang. Ia ingin segera istirahat karena tubuhnya benar benar lelah.
Dalam waktu dua puluh menit saja Lala sudah sampai di rumahnya, ia segera masuk ke dalam rumah dan melakukan aktivitasnya seperti biasa, yaitu membuatkan ibunya bubur, minum obat dan membantunya untuk mandi. Lala juga meminta izin untuk libur berjualan untuk hari esoknya, tentu saja Siti sangat menyetujuinya, ia sudah lama menyuruh Lala untuk libur selama beberapa hari agar tidak berjualan, namun Lala menolaknya.
Malam ini, Lala duduk di teras rumahnya sambil menikmati teh hangat yang ia buat untuk dirinya. Matanya memandang ke atas melihat langit malam yang penuh dengan bintang bintang yang ditemani bulan purnama. Lala tersenyum, ia ingat dulu sewaktu kecil ayahnya pernah membawanya ke puncak hanya untuk melihat bintang kesukaannya. Lala tiba tiba merindukan momen itu lagi.
“Lala melihat bintang itu lagi yah, bintangnya sangat indah dibandingkan bintang yang lainnya. Tapi seindah apapun bintang itu tidak bisa mengalahkan indahnya wajah ayah saat tersenyum”
Lala tersenyum sendu, kenangan bersama ayahnya terputar lagi dalam ingatannya. Ia sangat merindukannya, kenangan bersama ayahnya sangat tidak bisa ia lupakan. Tanpa sadar air matanya menetes dengan sendirinya.
“Lala harus jadi anak kuat ya sayang, nanti kalau ayah sudah tidak ada Lala harus bisa mandiri dan menjaga ibu dengan baik.”
Lala mengingatnya lagi, sebelum menghembuskan napas terakhirnya ayahnya sempat membisikkan hal itu padanya. Ia tidak pernah melupakan kata kata itu. Selama ini ia selalu memotivasi dirinya dengan pesan ayahnya tersebut. Lala sadar ia tidak berbuat banyak selain melaksanakan pesan ayahnya dengan baik.
Malam ini Lala benar benar melepaskan air matanya sambil menatap indahnya langit pada malam hari itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi gadis yang kuat seperti yang ayahnya katakan, ia harus menjadi gadis yang tidak mudah ditindas oleh siapapun, termasuk laki laki yang sudah mengambil ciuman yang harusnya ia berikan kepada suaminya. Lala tidak akan melupakan wajah laki laki itu.
Lala menghapus air matanya dan kembali tersenyum, biarkan malam ini dia menikmati malam yang sesungguhnya. Lala tidak ingin tidur cepat, lagi pula besok ia libur berjualan.
__ADS_1
Lala menyeruput tehnya dengan hati yang sudah tenang.
“Langit, jika engkau bisa menyampaikan sebuah pesan. Bolehkan aku menitip sebuah pesan untukmu. Katakan saja padanya jika bintang kecilnya sangat merindukan bulan. Bintang kecilnya sudah mulai bersinar seperti apa yang bulan berikan. Katakan langit, bintang sangat merindukan cahaya bulan itu.”