Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
17. Hadiah misterius


__ADS_3

Pagi ini, Lala menyuapi Siti untuk makan bubur yang baru dibelinya. Keadaan Siti kembali melemah lagi. Wajahnya semakin pucat dan batuk yang tak kunjung berhenti. Lala menyuapinya dengan lembut. Ia mengusap bibir Siti yang belepotan karena bubur. Lala terus tersenyum pada Siti, dia berusaha memberikan energi positif pada ibunya dengan memberikan senyumannya.


Setelah buburnya habis, Lala mengambilkan air minum dan membantu ibunya untuk minum. Sebenarnya ia ingin membawa ibunya untuk ke puskesmas terdekat karena ingin memastikan sakit yang diderita oleh ibunya. Tapi setiap kali Lala mengajaknya, Siti selalu menolak dengan keras. Entah apa yang membuat ibunya menolak Lala juga mengerti. Ia merasa ibunya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Setelah selesai minum, Lala meletakkan kembali gelas itu di samping tempat tidur Siti. Lalu ia membaringkan tubuh Siti kembali dan menyelimutinya.


“Ibu, istirahat ya. Lala janji hari ini akan pulang cepat. Doakan Lala ya bu semoga hari ini cabai kita terjual habis,” ucap Lala sambil mencium kening Siti.


Siti mengangguk lemah, tangannya terulur dan menyentuh rambut Lala.


“Terima kasih ya nak. Kalau nanti kamu bertemu nak Devan tolong sampaikan salam ibu padanya ya,” jawab Siti dengan suaranya yang lemah.


Lala mengangguk kecil kemudian berpamitan untuk segera pergi. Setelah Siti mengizinkannya Lala pun segera pergi ke pasar.


.


.


Seperti biasa, setelah tiba di pasar Lala langsung mengangkat cabai itu di punggungnya. Ia membawanya masuk ke dalam dan berjalan menuju ke lapaknya sendiri. Saat tiba di lapaknya, alangkah terkejutnya Lala saat melihat lapaknya sudah berubah. Lapaknya yang harusnya meja kayu yang hampir reot kini berubah menjadi baru. Tidak hanya itu, Lala juga melihat tempatnya sudah dalam keadaan bersih ditambah dengan sebuah kertas yang ada di letakkan di atas meja itu.


Lala menurunkan cabai yang ada di punggungnya, lalu mengambil keras itu. ia membuka lipatannya dan mulai membaca isinya.


“Dear Lala, gadis manis penjual cabai di pasar. Rasanya sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum. tapi kemarin aku bisa melihat senyummu dengan begitu puas. Meski senyum itu tidak diberikan untukku. Tapi setidaknya aku bahagia karena kamu mulai bahagia. Maaf ya, La. Aku belum bisa muncul di depanmu. Aku terlalu pengec*t untuk mengakui sesuatu di depanmu.”


“Aku memberikanmu meja baru dan membersihkan tempatmu sebagai bentuk rasa peduliku padamu. Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu. Dan aku juga berharap laki laki yang bersamamu itu bukan pasanganmu. Tunggu aku ya, La. A.L.V.”


Setelah membaca suratnya Lala langsung menoleh ke sekelilingnya. Tidak ada satu pun yang mencurigakan.


“Sebenarnya ini siapa?! Dia sepertinya tau banget tentang aku,” gumamnya dalam hati.


Lala menggelengkan kepalanya lalu menyimpan surat itu di saku bajunya. Ia akan memikirkannya nanti. Sekarang Lala harus menyiapkan semua cabainya dulu. Lala mengambil sebungkus plastik besar cabainya dan menuangkannya di atas meja yang sudah ia lapisin dengan kain itu.


Baru saja ia akan duduk tapi beberapa pelanggannya sudah datang.

__ADS_1


“Neng, ibu mau cabainya lima kilo ya,”


“Saya juga neng tapi tiga kilo aja,”


Lala mengurungkan niatnya untuk duduk dan melayani mereka.


“Sebentar ya bu,” ucapnya yang diangguki oleh mereka.


Dengan sigap Lala mengambil plastik dan memasukkan cabai ke dalamnya, setelah dirasa cukup Lala pun menimbangnya. Lala memastikan timbangannya itu benar. Tidak kurang juga tidak lebih. Kalau pun lebih sedikit Lala tetap tidak menguranginya.  Ia menganggapnya sebagai rezeki mereka.


Setelah semuanya selesai ditimbang Lala langsung menyerahkannya pada ibu ibu tersebut.


“Ini ya bu. Ini yang lima kilo dan ini yang tiga kilo,”


“Iya neng, makasih ya. Aduh tau gitu teh saya kemarin gak beli di sebelah. Di sana isinya dikit terus mahal lagi. Kayak gak sesuai timbangan gitu neng,” ujar ibu ibu yang Lala belum pernah melihatnya.


“Emang kemarin beli dimana bu?” tanya Lala yang penasaran.


“Itu loh neng, beli di ujung sana tuh. Kayaknya dia pedagang baru gitu soalnya saya berkali kali ke pasar ini tidak pernah melihat dia,” jawab ibu ibu itu sambil menunjuk ke arah pedagang wanita yang kemarin sempat bermasalah dengannya.


“Saya hanya menyarankan saja bu,” jawab pelanggan Lala sambil tersenyum.


Setelah berbincang bincang sedikit mereka pun pamit pergi. Lala hanya menggelengkan kepalanya. lalu matanya tertuju pada pedagang yang kemarin itu. Saat mata Lala bertubrukan dengannya wanita itu langsung mengalihkan tatapannya dari Lala. Lala mengangkat bahunya dengan tidak acuh.


.


.


.


Sementara itu, Devan di ruangannya tidak bisa pergi kemana mana. Hari ini ada banyak berkas yang menunggu persetujuan dan tanda tangan darinya. Ia bahkan mengabaikan jam makan siangnya dan fokus membaca seluruh isi berkas tersebut. Devan tidak mau ada kesalahan sedikit pun di dalamnya. Itulah sebabnya dia dijuluki sebagai perfect bos oleh karyawan lainnya. Terutama oleh Aris dan Sekretatisnya.


Suara ketukan pintu tiba tiba mengalihkan perhatian Devan. Devan mengangkat kepalanya dan meletakkan berkasnya begitu saja.

__ADS_1


“Masuk!” ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Pintu ruangannya pun terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian ketatnya. Blezer warna hitam disertai dengan rok pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Wanita itu adalah Fitri, sekretaris yang bekerja dengannya selama dua tahun ini.


“Permisi pak,” sapanya pada Devan.


“Ada apa?” tanya Devan tanpa basa basi.


Fitri maju semakin mendekat dengan membawa map di tangannya. Lalu ia meletakkannya di meja Devan.


“Pak Xander memerintahkan saya untuk memberi berkas itu pada bapak. Beliau berpesan agar bapak mempelajari berkas itu karena dua hari lagi kita akan pergi ke Korea untuk bertemu klien penting disana dan juga investor yang akan menanam saham di perusahaan kita,” ucap Fitri dengan panjang lebar.


Devan yang mendengar itu langsung menegakkan tubuhnya.


“Ini beneran harus ke sana?! Kok mendadak banget ngasih tau saya!” balas Devan sambil menatap Fitri dengan tajam.


Fitri yang ditatap seperti itu langsung gelagapan. Padahal ini bukan salahnya tapi kenapa harus ia yang diintimidasi Devan. Fitri mencoba tersenyum dan menjawab pertanyaan Devan.


“Maaf pak, kalau soal itu saya kurang tau. Saya juga baru diperintahkan sama pak Xander dan segera memberi tahu bapak. Kalau begitu saya permisi ya pak,” pamit Fitri lalu berbalik dan menuju ke arah pintu untuk keluar. Saat tangannya memegang gagang pintu suara Devan tiba tiba menghentikannya.


“Tunggu!”


Fitri memejamkan matanya sejenak lalu berbalik dan menatap Devan.


“Ada apa ya pak?” tanyanya dengan ragu ragu.


 


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa meninggalkan jejak

__ADS_1


Like kalian adalah penyemangat


 


__ADS_2