Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
12. Pantai


__ADS_3

Devan membukakan pintu mobil untuk Lala, mereka sudah berpamitan dengan Siti dan memutuskan untuk segera pergi. Setelah memastikan Lala duduk dengan nyaman, Devan menutup pintunya lagi. Baru setelah itu ia masuk juga dan bersiap untuk pergi.


Mobil Devan sudah keluar dari halaman rumah Lala, Devan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalan dari rumah Lala tidak terlalu luas.


Di dalam mobil, tak ada obrolan di antara mereka. Lala yang sibuk melihat ke luar jendela mobil sedangkan Devan juga fokus menyetir sampai mereka sudah tiba di jalan besar. Devan sesekali mencuri pandang ke arah Lala. Ia tersenyum ketika melihat gadis itu sekarang duduk di sampingnya.


Sejak mengobrol banyak hal dengan Siti tadi, Devan jadi mengetahui semua tentang Lala. Siti banyak menceritakan tentangnya. Devan mendengarkannya sambil menanggapi. Selain itu Devan juga menceritakan tentang dirinya seperti pekerjaannya dan kepribadiannya.


Bahkan setelah itu dengan mudahnya Siti memberikan kepercayaan kepadanya untuk menemani Lala. Padahal Devan sudah berpikir yang tidak tidak sebelumnya.


Devan yang merasa tidak nyaman dengan kesunyian memilih untuk menghidupkan musik di dalam mobilnya. Lagu kesempurnaan cinta milik Rizky Febian mengalun indah di mobilnya. Lala yang sedari tadi melihat keluar seketika mengalihkan pandangannya dan menoleh pada Devan.


“Saya pikir menghidupkan musik membuat kita tidak akan canggung,” ucap Devan seperti tau apa yang akan dikatakan Lala.


“Lagu yang bagus, om.” Lala tersenyum pada Devan dan menikmati lagunya.


Devan tidak menyangka jika senyum Lala semanis itu, ini adalah pertama kalinya ia mendapat senyuman dari Lala. Jantungnya bahkan semakin berdetak dengan kencang hanya karena senyuman lima detik itu. Apalagi Devan juga sempat mencicipi bibir mungil milik Lala.


“Berada, di pelukanmu, mengajarkanku, apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta”


Lala tiba tiba bersenandung kecil saat lagu itu tiba di bagian reff nya. Lala bahkan tidak ragu untuk menggerakkan tubuhnya di mobil Devan demi mengikuti alunan lagu itu. Devan yang juga tidak mau kalah langsung melanjutkan lagunya sambil melihat ke depan agar tetap fokus menyetir.


“Berdua bersamamu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta.”


Lala yang mendengar suara Devan langsung berhenti menyanyi, dan fokus mendengarkan nyanyian Devan. Lala sadar, suara Devan juga tidak kalah bagusnya. Bahkan suaranya jauh berbeda dengan ketika ngobrol biasa. Lala merasa takjub saja mendengarnya.


Mereka menikmati suasana di dalam mobil dengan bernyanyi bersama, bahkan sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Devan menghentikan mobilnya di sebuah pantai yang sangat ramai dengan pengunjung. Ia mencari tempat parkir terlebih dahulu sebelum turun dari mobil. Setelah menemukannya ia langsung memarkirkan mobilnya.


“Om, jadi ini kita ke pantai?” tanya Lala saat turun dari mobil.

__ADS_1


Devan mengangguk, “Ibumu bilang kamu ingin sekali pergi ke pantai tapi belum kesampaian. Jadi hari ini saya membawamu kesini.”


Lala mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya, banyak anak remaja yang seumuran dengannya menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarganya disana. Ada juga anak kecil yang bermain pasir dan membuat istana pasir.


Panasnya cuaca hari itu tidak membuat pengunjung pantai berhenti bermain air. Mereka terus menikmati pemandangan sambil berlari larian.


“Kamu suka?” tanya Devan yang mendapat anggukan langsung dari Lala.


“Suka banget, om. Makasih ya udah bawa aku kesini,” Lala tersenyum pada Devan.


Devan mengambil tangan Lala dan menggandengnya sambil berjalan menuju pinggir pantai. Lala tidak menolaknya, ia membiarkan saja tangannya digandeng Devan sambil mengikutinya. Devan terus membawa Lala sampai mereka tiba di pinggir pantai itu. Sandal mereka saja sudah basah karena sapuan air yang menuju ke arah mereka.


“Dingin banget, om. Padahal cuacanya panas loh,” ujar Lala saat merasakan air pantai itu menerpa kakinya.


“Lepasin aja sandalnya sekalian, nikmati saja apa yang kamu inginkan di pantai ini,” jawab Devan dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Lala.


Lala mengangguk, ia benar benar melepas sandalnya dan berdiri tanpa alas kaki. Kakinya benar benar dingin, Lala bersyukur karena Devan membawanya kesini. Dari dulu dia ingin berdiri tepi pantai seperti sekarang, hanya saja saat itu ia tidak punya kesempatan karena harus berjualan dan merawat ibunya.


“Tulis nama saya juga dong!” ujar Devan.


“Tulis sendiri aja, om. Nih pakai tangan seperti aku,” jawab Lala sambil mencontohkan seolah olah mengajari anak kecil.


Devan terkekeh melihat betapa menggemaskan gadis di hadapannya itu. Terkadang Devan sampai lupa jika gadis di hadapannya ini sudah berumur sembilan belas tahun. Tingkahnya yang seperti anak kecil membuat Lala sangat menggemaskan dan lucu baginya.


Lihatlah sekarang, rambut panjang Lala yang beterbangan karena angin menutupi sebagian wajahnya yang saat ini fokus menulis di pasar. Tangan Devan merapikan rambut Lala sehingga wajahnya tidak tertutupi lagi. Lala mengangkat wajahnya dan menatap Devan yang sedari tadi hanya memperhatikannya.


“Jangan mandangin aku mulu, om. Nanti jatuh cinta baru tau rasa,” ledek Lala pada Devan.


“Bukannya itu bagus, kalau saya sampe jodoh sama kamu kan kamu juga enak nantinya,” balas Devan.

__ADS_1


“Enak kenapa?”


“Ya enak aja La, saya kan ganteng terus saya duda lagi, jadi jika kamu nikah sama saya, saya jamin kamu tidak akan rugi,”


Seketika Lala tertawa dengan terbahak bahak sambil memandang Devan. Bagaimana bisa orang dewasa di sampingnya ini begitu percaya diri. Lala pikir Devan itu orangnya kaku. Ternyata ia salah, Devan benar benar di luar dugaannya.


Devan yang kesal karena ditertawakan tiba tiba mengambil air dengan tangannya lalu mencipratkannya pada Lala.


“Rasain nih,” ucap Devan sambil tertawa.


“Ih, kok om ngeselin sih,” Lala berhenti tertawa dan mengusap wajahnya yang basah karena Devan.


“Suruh siapa kamu menertawakan saya,” balas Devan.


Lala yang tidak terima pun langsung membalasnya pada Devan, Lala mengambil airnya berniat untuk menyiramkannya pada Devan, sayangnya Devan sudah kabur karena tau Lala akan balas dendam padanya.


“Om, jangan kabur dong!” teriak Lala sambil berdiri.


Devan yang berlari langsung berbalik ke arah Lala dan tersenyum mengejek. “Kejar saya kalau kamu bisa,”


Lala langsung mengejar Devan, mereka berdua kejar kejaran di pinggir pantai sambil tertawa. Banyak pasang mata yang menyaksikan mereka dan mengira keluarga bahagia. Saat fokus mengejar Devan, Lala tiba tiba saja terjatuh.


“Aduh,” ringisnya


Bersambung...


Ditunggu update selanjutnya ya


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak


Semangat


__ADS_2