Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
14. Sebuah kejadian


__ADS_3

Lala kembali berjualan di pasar, ia melayani setiap pembeli yang datang ke lapaknya dengan baik. Selama sehari ia libur kemarin ternyata banyak yang menunggunya untuk membeli cabainya. Hari ini ia mendapatkan uang hasil penjualan yang lumayan.


Lala menyeka keringatnya yang mulai bercucuran karena gerah. Setelah melayani semua pembelinya Lala duduk dengan santai sambil membuka nasi bungkusnya.


Pagi ini Lala tidak sempat sarapan di rumah itulah sebabnya dia membeli nasi bungkus untuk sarapannya. Lala mulai menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya. Dia hanya memakan dengan menggunakan tangan.


Sambil lalu matanya melihat suasana pasar yang semakin ramai saja. Pandangannya tertuju pada pedagang baru yang juga menjual cabai di ujung lapak sana. Sedari tadi Lala memperhatikannya Lala merasa ada yang aneh.


Saat pedagang itu mulai menimbang cabai, yang Lala lihat adalah ia dengan sengaja mengurangi cabainya setelah ditimbang. Lala yakin orang itu melakukan kecurangan. Ia hanya menggelengkan kepalanya. pedagang seperti itu adalah pedagang yang biasanya mencari untung dengan cara kotor.


Saat Lala asik menikmati makanan tiba tiba pedagang yang tadi dilihatnya menghampirinya sambil menatapnya dengan sengit. Lala mengangkat wajahnya dan menatap ke arah pedagang wanita itu.


“Ada apa?” tanya Lala dengan ekspresi yang tidak ramah.


Pedagang wanita itu membalas tatapan Lala dengan tatapan tidak sukanya. Sepertinya dia menyadari kalau Lala melihat aksinya dari tadi.


“Aku tau kamu melihat apa yang aku lakukan tadi, awas aja kalau kamu sampe berani nyebarin ke orang orang!” ancamnya.


Lala menarik sudut bibirnya seolah mengejeknya. “Itu urusan kamu, aku juga tidak mau ikut campur. Tapi yang harus kamu tau adalah sebaik apapun kamu menyembunyikan bangkai suatu saat pasti akan tercium juga,” jawabnya.


“Aku pastikan tidak akan ada yang tau, kalau pun orang orang itu tau, ini pasti akan menjadi ulahmu! Dan aku tidak akan tinggal diam. Ngerti kamu!” gertak pedagang wanita itu lagi.


“Oh,” balas Lala dengan tidak menghiraukannya. Lala lebih memilih melanjutkan sarapannya daripada meladeni orang seperti itu. Yang ada dia hanya membuang buang waktu.


Pedagang itu berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya lalu pergi dengan perasaan dongkol pada Lala yang tidak mendengarkan perkataannya. Lala mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Jika pedagang itu berpikir Lala akan tunduk perkataannya maka dia salah. Lala tidak takut dengan siapapun di pasar ini. Hampir semua pedagang yang ada di pasar itu mengenali Lala. Dan mereka semua sangat baik padanya.


“Permisi neng,”


Saat Lala sudah menghabiskan sarapannya seorang pengemis tua datang ke lapaknya. Lala langsung menoleh.

__ADS_1


“Eh iya bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya Lala dengan ramah.


Pengemis wanita itu memegang perutnya sambil melihat bungkusan makanan yang dipegang Lala. “Itu bungkus makanannya boleh buat saya aja gak neng? Sepertinya tadi saya melihat neng menyisakan sayuran disana.


“Maaf bu, ini kan makanan sisa. Saya tidak bisa memberikan ibu makanan sisa. Tapi saya bisa memberi ibu uang untuk membeli makanan,” ucap Lala sambil mengeluarkan uang sepuluh ribu dalam dompetnya dan memberikannya pada pengemis tua itu.


“Ini bu, mohon diterima ya. Saya ikhlas memberikannya untuk ibu,” Lala tersenyum sambil memberikan uang itu.


Pengemis tua itu langsung menerimanya dengan senang hati. Wajahnya berbinar binar saat uang itu sudah ada di genggamannya. Pengemis itu melihat ke arah Lala dan tersenyum.


“Makasih banyak ya, nak. Semoga Allah selalu membalas kebaikanmu,” ujar pengemis itu pada Lala.


Lala mengangguk sambil melihat kepegian pengemis itu. Dalam hatinya dia bersyukur karena meskipun hidupnya sederhana setidaknya dia punya rumah dan uang untuk makan dan minum. Lala tidak tega melihat keadaan pengemis tadi yang sudah tidak seperti manusia lagi. Pakaiannya yang lusuh dan kondisi fisiknya yang kurus kering.


.


.


“Totalnya seratus lima puluh ribu, pak,” ucap pelayan yang mengantarkan pesanan Devan ke mejanya.


Devan mengangguk lalu memberikan dua lembar uang berwarna merah pada pelayan itu.


“Kembaliannya ambil kamu saja, itu tip dari saya,” jawab Devan.


“Terima kasih pak,” balas pelayan itu.


Setelah menerima makanannya, Devan bergegas ke mobilnya untuk menuju ke suatu tempat. Dia menjalankan mobilnya ke arah pasar yang biasanya Lala selalu berjualan disitu. Devan ingin menghabiskan makan siangnya bersama Lala. Setibanya ia di pasar, Devan mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Kali ini ia tidak mau sembarang parkir lagi karena takut diomeli pengunjung pasar lainnya.


Setelah menemukan tempat parkir yang pas, Devan langsung memarkirkan mobilnya dan segera turun dengan membawa makanan itu di tangannya.

__ADS_1


Devan menyebrang jalan lalu masuk ke dalam pasar masih dengan menggunakan pakaian kantornya. Devan berdesak desakan di dalam pasar demi bertemu gadis itu. Entah sihir apa yang Lala gunakan sampai bisa membuat seorang Devan melakukan itu.


Saat Devan sudah hampir sampai di lapak Lala, dari kejauhan Devan melihat dagangan Lala yang diobrak abrik oleh orang orang. Lala terlihat ketakutan dan memohon agar mereka berhenti. Bukannya semakin berhenti mereka malah semakin menjadi. Orang orang di sekitarnya bahkan tidak ada yang membantu


.


Devan mengepalkan tangannya dengan kuat, rahang kokohnya mengeras melihat Lala diperlakukan seperti itu. Tanpa berpikir panjang lagi Devan langsung menuju ke sana. Ia meletakkan makanannya dan langsung memukul mereka satu persatu.


“Berani-beraninya kalian melakukan itu pada dia,” geram Devan pada mereka dengan terus melayangkan pukulannya bertubi tubi.


“Heh, kamu siapa?! Ikut campur masalah kami. Kalau tidak tau apa apa jangan ikut campur dong,” protes salah satu laki laki yang baru saja dipukul Devan.


Devan melirik pada Lala yang tengah berlutut sambil menangis. Lalu kembali fokus pada orang orang itu. “kalau begitu sekarang katakan apa alasan kalian melakukan itu?” tanyanya dengan sorot matanya yang tajam.


“Dia berjualan dengan tidak jujur, dia mengurangi timbangan saat kami membeli cabainya tadi,” ujar salah satu laki laki yang berkumis tebal itu.


Devan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Dia bukan tipe orang seperti itu! Memangnya apa buktinya kalau dia mengurangi timbangan? Kalian bilang membeli cabainya kan. Sekarang mana cabai yang kalian beli? Kenapa tangan kalian kosong,” desak Devan yang membuat mereka terdiam seribu bahasa.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalin jejak ya biar makin semangat


Update tiap hari


TTD

__ADS_1


Devan Praditya Revanuel


Duda 30 tahun


__ADS_2