Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
13. Rapat kantor


__ADS_3

“Om, jangan kabur dong!” teriak Lala sambil berdiri.


Devan yang berlari langsung berbalik ke arah Lala dan tersenyum mengejek. “Kejar saya kalau kamu bisa,”.


Lala langsung mengejar Devan, mereka berdua kejar kejaran di pinggir pantai sambil tertawa. Banyak pasang mata yang menyaksikan mereka dan mengira keluarga bahagia. Saat fokus mengejar Devan, Lala tiba tiba saja terjatuh.


“Aduh,” ringisnya


Devan yang melihat itu langsung menghampiri Lala dengan ekspresi wajah yang khawatir. Devan menyentuh lutut Lala dan mencari luka yang mungkin menyakiti Lala. Namun yang ia temukan hanyalah senyum jahil Lala. Devan menatapnya dengan ekspresi bingungnya.


Namun itu tidak berlangsung lama karena setelahnya Lala mencoret wajahnya dengan pasir basah yang ia ambil tadi. Lala langsung tertawa setelah melihat wajah Devan yang sudah kotor.


.


“Sekarang udah adil, om,” ucapnya dengan mata yang menyipit karena tawanya.


Devan tidak membalas lagi, ia malah mendudukkan dirinya di samping Lala. Ia tak peduli lagi meskipun nantinya celananya kotor. Yang Devan pedulikan saat ini adalah senyuman dan kebahagiaan Lala ketika bersamanya. Devan sudah diberi kesempatan untuk mendekati Lala oleh Siti, itulah sebabnya dia tidak mau menyianyiakan waktu yang ada.


Tak terasa hari sudah mulai sore, mereka sudah di pantai selama tiga jam. Selama itu juga Devan benar benar membuat Lala terus tertawa. Mereka melakukan kegiatan yang menyenangkan hingga pada akhirnya Devan harus mengantar Lala pulang.


Dalam perjalanan pulang Devan sempat berhenti di pinggir jalan untuk membelikan bubur agar Lala bisa memberikanya pada ibunya nanti. Lala sudah menceritakan padanya dia harus memastikan ibunya untuk minum obat.


.


.


.


Keesokan harinya, hari sudah kembali senin. Ini artinya Devan harus menyibukkan dirinya di kantor lagi. Sejak tadi pagi ia terus ditelfon sekretarisnya untuk mengingatkannya tentang rapat siang nanti bersama sang ayah dan beberapa karyawan penting lainnya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Devan masih saja bermalas malasan di kasurnya. Devan memilih untuk bermain ponsel dan melihat hasil foto dengan Lala di ponselnya. Devan terus menggeser layarnya sampai tangannya berhenti di sebuah foto dimana Lala merentangkan tangan dan memejamkan matanya pada sore kemarin.


Devan tersenyum tipis, setiap foto Lala di ponselnya terlihat sangat cantik semua. Devan baru ingin menggeser layarnya lagi tapi tertunda karena sebuah panggilan masuk di ponselnya. Devan menghela nafasnya ketika membaca nama ayahnya di ponsel itu. Tanpa pikir panjang lagi Devan langsung mengangkatnya.


“Kenapa Pa?!” sapanya dengan suara yang sedikit serak seperti baru bangun tidur.


“Kenapa kenapa gigimu kenapa! Ini sudah jam tujuh Devan dan kamu belum ada di kantor. CEO macam apa kamu ini?!” tegur Xander dari suara di ponselnya.


Devan berdecak lalu menjawab, “Lagian rapatnya kan jam delapan masih ada waktu untukku bermalas malasan di rumah,”


“Pokoknya papa gak mau tau sekarang juga kamu harus berangkat ke kantor!


Panggilan pun terputus begitu saja. Devan yang tidak ingin membuang buang waktu lagi langsung bergegas mandi. Ia yakin jika ia tidak segera ke kantor maka Xander dan sekretarisnya akan terus mengganggunya. Saat ini Devan tidak punya pilihan lain selain menurut.


.


.


Saat Devan masuk ke dalam, pandangan semua orang mengarah kepadanya yang baru saja tiba. Apalagi Xander yang terus memberinya tatapan datar seperti mengintimidasinya. Devan tidak menghiraukannya, ia langsung duduk di kursinya sendiri dan menunggu rapat itu dibuka oleh Xander.


Xander berdeham kemudian memulai rapat pagi itu.


“Karena semuanya sudah berkumpul maka saya akan memulai rapat hari ini. Mengenai teknologi robot yang akan kita ciptakan untuk sebuah alat komunikasi. Seperti yang sudah saya katakan waktu itu, kalian harus sudah menyiapkan konsep dan ide kalian untuk rapat yang kita lakukan hari ini,”


Devan mengangguk sambil terus memperhatikan Xander.


“Untuk semuanya, saya persilahkan untuk maju ke depan dan menjelaskan sesuai yang kalian kerjakan, saya persilakan untuk Devan maju terlebih dahulu. Sebagai Ceo saya yakin dia sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kita,” tunjuk Xander pada Devan.


Semuanya langsung bertepuk tangan untuk Devan. Devan yang sudah ditunjuk oleh Xander langsung maju ke depan tanpa perlu membawa laptop. Devan sudah merancangnya dalam ingatannya. Ia maju dan menjelaskannya dengan sangat lancar meski tak membawa laptop. Semuanya mengangguk mengerti mendengar penjelasan Devan.

__ADS_1


Mereka sangat kagum dengan Devan yang selalu menguasai materinya saat rapat, bahkan setiap pertanyaan yang diajukan Xander dan yang lainnya Devan bisa menjawabnya dengan baik. Xander terlihat puas dengan apa yang disampaikan Devan. Meski terkadang Devan kelihatan tidak peduli dengan pekerjaannya akan tetapi Devan tidak pernah lalai dnegan tanggung jawabnya.


“Jadi hanya ini yang bisa saya sampaikan, konsep dan ide sudah saya jelaskan secara rinci dan saya berharap kalian semua memahami dengan apa yang saya maksud,” Devan mengedarkan pandangannya dan menatap semua orang satu persatu.


Xander tersenyum pada Devan, ia langsung berdiri dan bertepuk tangan diikuti yang lainnya. Devan langsung kembali ke tempatnya. Kemudian rapat dilanjutkan oleh yang lainnya. Devan sudah merasa lega karena sudah menyampaikan bagiannya.


Satu jam kemudian, rapat sudah selesai. Semuanya langsung keluar dan hanya menyisakan Xander dan Devan yang masih belum keluar.


“Papa bangga sama kamu, Devan, Kemampuanmu sudah makin meningkat. Hasil presentasi yang tadi kamu sampaikan benar benar bagus. Semua orang memujimu tadi,” ucap Xander sambil menatap ke arah Devan.


“Bukankah aku sudah pantas untuk menjadi direktur, pa?” Devan tersenyum dengan membanggakan dirinya.


Xander mendengus, “Kemampuanmu memang sudah pantas, tapi sikap semena menamu yang harus diubah,”


“Itu bisa dihilangkan kapan saja pa, asalkan dua keinginan Devan terpenuhi.”


“Memang apa keinginanmu itu?” Tanya Xander penasaran.


“Mendapatkan istri lagi dan menjadi direktur, aku sudah tidak sabar menunggu hari itu,” Devan tersenyum membayangkannya.


Xander memutar bola matanya dengan malas. “dulu aja bilangnya gak mau nikah lagi, sekarang malah ngebet lagi,”


Devan terkekeh dan menjulurkan tangannya pada Xander yang langsung disambutnya. Mereka berdiri seolah olah rekan bisnis. Ayah dan anak itu keluar dari ruangan rapat bersamaan sambil membahas pekerjaan mereka.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalkan jejak biar makin semangat

__ADS_1


Like kalian adalah penyemangatku


Update setiap Hari ya


__ADS_2