Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
30. Kemarahan Devan


__ADS_3

Devan tersenyum sinis, dia menoleh ke kanan dan kirinya. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Devan langsung masuk ke kamar Clarisa dan mengunci pintunya.


Clarisa tersenyum saat Devan mengunci kamarnya.


“Kamu mau jengukin anak kita, Devan?!” ucapnya sambil mengelus bahu Devan dengan jari jari lentiknya.


Devan masih diam, dia hanya melihat apa yang Clarisa lakukan padanya.


“Maaf ya, Devan. Aku terpaksa berbohong dengan berita itu. Kalau aku mengaku aku hamil dengan kekasihku mungkin karirku sebagai model akan hancur begitu saja,” lanjut Clarisa lagi sambil mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Devan yang semakin terlihat tampan di matanya.


“Sudah?”


Clarisa mengangkat sebelah alisnya dengan bingung, karena tiba tiba saja Devan menatapnya dengan tajam ditambah lagi ekspresi wajah yang sangat datar di wajahnya.


“Kamu kenapa?” tanya Clarisa dengan hati-hati.


Devan tidak menjawab, tangannya langsung saja mencekik leher Clarisa dan mendorongnya sampai ke tembok. Clarisa membulatkan matanya saat tangan besar Devan mencekiknya sehingga hampir tidak bisa bernafas.


“Seharusnya aku tidak pernah ketemu sama kamu lagi, Clarisa. Kamu hanya wanita sial*n yang akan selalu menghancurkan hidupmu. Mungkin aku bisa memaafkanmu di masa lalu. Tapi tidak sekarang. Berani-beraninya kamu menggunakan namaku demi kepentingan dirimu sendiri?” Devan semakin mengeratkan tangannya di leher Clarisa dengan mata yang berapi-api.


Clarisa berusaha melepaskan tangan Devan, akan tetapi hal itu tidak dibiarkan oleh Devan.


“L-eppa-sin De..van, A..ku.. gak.. bisa...nafas,” rintihnya sabil menatap Devan dengan penuh permohonan. Wajahnya sudah sangat pucat karena sulit untuk bernafas.


Devan terus menatapnya dengan bengis seolah olah dia melampiaskan kemarahannya pada Clarisa.


“Aku tidak akan melepasmu lagi, Clarisa. Dalam artian kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu buat hari ini. Malam ini juga aku akan membawamu ke Indonesia,” balas Devan lalu mengendurkan tangannya dari leher Clarisa. Ia sudah isa melihat Clarisa sudah tidak berdaya lagi.


Clarisa langsung terbstuk-batuk saat Devan melepaskan tangannya.


“Cepat bereskan barang-barangmu! Sebelum aku menyeretmu dengan kasar!” titah Devan dengan ekspresi yang sama menakutkan di mata Clarisa.


“T-tapi Dev...”

__ADS_1


“INI PERINTAHKU CLARISA! JANGAN MEMBANTAH DAN CEPAT LAKUKAN! bentak Devan dengan suaranya yang menggelegar dalam kamar itu.


Clarisa mengangguk dengan takut takut, ia tidak pernah melihat Devan semarah ini sebelumnya. Sepertinya keputusannya kali ini terlalu terburu buru sampai Clarisa lupa siapa Devan sebenarnya. Devan tidak mempedulkan apapun dan siapapun saat dia marah. Emosinya sangat tidak terkontrol jika ia marah.


Dengan lunglai Clarisa berjalan menuju ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. Ia tidak mau membuat Devan semakin marah lagi dengannya. Clarisa tidak tau nanti nasibnya harus bagaimana saat di indonesia.


.


.


.


Lala menangisi Devan sampai ketiduran, ia terbangun di siang hari dengan kondisi wajah yang sembab dan mata yang bengkak. Lala melirik pada ponselnya yang tergeletak di kasurnya. Ia mengambilnya dan mengecek ponselnya. Saat Lala membuka ponselnya hal yang pertama ia lihat adalah jumlah panggilan tak terjawab dan lima puluh pesan dari Devan.


Lala hampir saja membuka pesan itu, namun ia teringat dengan berita itu lagi sehingga Lala mengurungkan niatnya.


“Sudahlah La, dari awal harusnya kamu tidak membuka hati untuk dia. Seharusnya kamu lebih berhati-hati, apalagi dia orang kaya,” ucap Lala dalam hatinya.


Lala turun dari kasurnya lalu ia melihat ke jam dinding yang sudah menuju pada angka dua belas. Lala melihat ke luar jendelanya, hujan yang turun dari tadi pagi sekarang sudah berhenti. Ia memilih untuk keluar dari kamarnya.


Saat Lala baru saja keluar dari kamarnya, Lala mendengar suara pecahan kaca dari kamar ibunya. Lala menghentikan langkahnya saat mendengar suara itu.


“IBU!!!!”


Lala segera berlari menuju kamar ibunya dengan wajah yang panik. Saat tiba disana langsung saja ia membuka pintu kamar itu dengan terburu buru. Namun sepertinya ia terlambat, saat Lala masuk ke dalam kamar ibunya ia melihat ibunya yang sudah tidak sadarkan diri dengan busa di mulutnya.


Lala menutup mulutnya dengan tatapan tak percayanya, air matanya langsung meleleh saat melihat itu. ia langsung mendekati Siti dan menggoyangkan tubuhnya.


“Ibu, ibu bangun bu! Jangan tinggalin Lala, bu. Ibu bangun!!!!”


Lala mengambil tangan Siti dengan cepat lalu mengecek denyut nadinya, nafasnya tercekat saat ia merasa tidak ada lagi detak denyut nadi di tangan ibunya. Lala diam mematung untuk beberapa saat, lalu menolehkan kepalanya pada wajah Siti yang sudah pucat dengan busa di mulutnya.


Tanpa berkata apapun lagi Lala langsung memeluk tubuh Siti dan menangis dengan histeris. Lala tidak peduli jika semua tetangganya harus mendengar suara tangisannya. Lala tidak bisa menahan dirinya, hari ini ia harus kehilangan ibunya.

__ADS_1


“Ibu, Lala belum selesai menjaga ibu. Kenapa ibu harus ninggalin Lala,” Lala terus menggoyang tubuh kaku itu berharap Siti akan membuka matanya. Namun ia tidak mendapat respon apapun. Lala semakin histeris dengan suara tangisannya yang kencang. Air mata yang sudah habis karena menangisi Devan kini keluar dengan derasnya karena kehilangan sosok ibu dalam hidupnya.


Tiba tiba, tanpa diduga beberapa tetangga yang kebetulan lewat di rumahnya masuk ke rumah Lala saat mendengar suara tangisannya. Mereka berbondong bondong menuju ke arah kamar Siti dan menemukan Lala yang menangis sambil memeluk ibunya.


“Neng Lala, aduh ini kenapa neng? Bu siti kenapa?” tanya salah satu ibu ibu itu.


Lala menolehkan kepalanya sebentar dan menjawab dengan sisa sisa air matanya. “Ibu udah pergi, bu. Aku tidak mau ibu pergi, tolong bantu Lala bu,”


Salah satu tetangga Lala duduk di kasur itu, diamelakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Lala tadi. Lalu pandangannya kembali pada tetangga lainnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat sedih.


“Kita sudah kehilangannya,” ucapnya pada yang lainnya.


“Kami turut berduka cita ya neng,” sahut yang lainnya.


Lala tidak menghiraukan mereka, pandangannya sudah kosong. Bahkan apa yang dibicarakan tetangganya pun tidak ia dengar.


“Ibu ibu, lebih baik salah satu dari kita pergi ke rumah pak Rt. Lalu nanti kita ke masjid untuk menyiarkan berita ini,” usul wanita yang menggendong bayi itu.


“Saya disini saja ya bu, kasian neng Lala.” jawab wanita yang berutubuh gemuk.


“Baiklah, kalau gitu saya juga akan memanggil warga yang lainnya,”


Setelah beberapa orang itu pergi, ibu ibu yang tadi ingin menemaninya lansung duduk di sampingnya. Ia mengelus bahu Lala dengan sabarnya.


“Neng Lala yang sabar yah,” ucapnya.


 


 


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa like+komentar


 


__ADS_2