Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
23. Aris dan Fitri


__ADS_3

“Itu di belakangmu kotak apa La?” tanya Devan pada Lala.


Lala menoleh ke belakang dan mengarahkan ponselnya pada kotak yang ia temukan di meja lapaknya tadi pagi. “Gak tau juga kak, tiba tiba di mejaku udah ada ini tadi pagi. Aku juga belum membukanya. Tapi disitu udah ada namaku,” jawab Lala sambil memperlihatkan kotak itu pada Devan.


Devan yang mendengar hal itu langsung mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan emosinya. Sudah ia pastikan pengirim kotak itu adalah orang yang sama dengan yang memberi boneka itu.


“Buang saja kotak itu!” ucap Devan dengan penuh penekanan.


Lala yang mendengar hal itu dari Devan langsung menggelengkan kepalanya


.


“Itu kan kotak emang buatku kak. Kenapa aku harus membuangnya?!” jawab Lala.


Devan semakin tidak senang dengan apa yang dikatakan Lala. Wajahnya sudah menunjukkan emosi yang tinggi. Devan tidak peduli jika ia harus memperlihatkan emosinyadi depan Lala. Yang tepenting sekarang adalah bagaimana caranya mengendalikan emosinya itu.


Lala menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang tak dapat diartikan, dia tidak tau kenapa Devan tiba tiba marah dan malah langsung menyuruhnya utnuk membuang kotak itu. Baru saja Lala akan buka suara, seorang pelanggannya datang menghampirinya.


“Neng. Saya mau cabainya ya dua kilo.” Ucap pelanggannya itu.


Lala langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum lalu menaruh ponselnya dengan sembarangan.


“Sebentar ya bu,” ucap Lala.


Tangannya dengan cekatan mengambil cabai dan membungkusnya dengan plastik. Devan yang melihatnya dari layar ponselnya hanya menghela nafas. Seharusnya ia tidak berkata seperti itu pada Lala. Apalagi Lala sepertinya tidak tau apa apa. Devan yang merasa tidak nyaman sendiri memilih untuk memutuskan sambungan telfon.


“Ini bu cabainya, harga seperti biasa ya,” ucap Lala sambil memberikan cabai yang sudah dibungkusnya dengan rapi.


Pelanggannya itu langsung memberinya uang. “Terima kasih ya neng, kalau gitu saya permisi dulu.”


Lala mengangguk lalu kembali duduk dan mengambil ponselnya kembali. Namun yang ia lihat bukan wajah Devan lagi melainkan walpaper fotonya. Ia mencoba untuk menghubungi kembali nomor Devan, namun yang ia dengar hanyalah suara operator yang menyatakan bahwa nomor Devan sedang tidak aktif.


“Kak Devan kenapa ya? Kok tiba tiba aneh gitu?” gumamnya dalam hati.


.


.


Di tempat lain, Fitri dan Aris terlihat menikmati makanan T*eokbo*ki yang dijual dalam warung di pinggir jalan. Aris mengambil T*teokbok*i miliknya dengan sumpit lalu menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya saat makanan itu sudah ada di mulutnya.

__ADS_1


“Hmm rasanya makin enak,” ucap Aris.


Fitri yang juga sudah merasakannya langsung mengangguk setuju.


“Benar pak, baru kali ini saya makan makanan seperti ini. Selain empuk di lidah, bumbunya juga terasa enak,” balas Fitri sambil menyuapkan satu T*eokbok*i lagi ke dalam mulutnya.


Aris menoleh sedikit pada Fitri, bibir Fitri yang belepotan dengan bumbu itu langsung diusapnya dengan tangannya. Ia membersihkannya secara perlahan dan membuat Fitri mengurungkan niatnya untuk memakan T*eokbokki itu lagi. Fitri malah fokus memandangi wajah Aris yang kini sudah berada di samping pipinya.


“Makan jangan belepotan dong! Kayak anak kecil aja kamu,” ujar Aris setelah membersihkan bibir Fitri. Aris tidak menyadari gara gara perbuatannya Fitri harus merasakan debaran yang sangat kencang di dalam dadanya. Dan itu adalah hal kedua yang ia rasakan setelah kejadian hampir dicium Devan kemarin. Alhasil Fitri hanya bisa tersenyum canggung.


“Makasih pak,” ucapnya.


Aris mengangguk dan menghabiskan makanannya.


Lima belas menit kemudian, Aris dan Fitri sudah dalam perjalanan menuju ke pantai. Mereka sudah menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk mencoba makanan yang paling enak di Korea. Saat dalam perjalanan, Aris membuka kaca mobilnya sehingga menerbangkan rambut panjang milik Fitri. Rambut yang tergerai indah itu beterbangan karena angin.


“Ini masih jauh, pak?” tanya Fitri sambil merapikan rambutnya yang hampir menutupi seluruh wajahnya.


Aris menoleh sebentar dan tersenyum tipis. “Sebentar lagi kita sampai,” jawabnya lalu kembali fokus melihat ke depan.


“Andai pak Devan ikut, mungkin saya tambah seneng lagi,” ujar Fitri dengan tiba tiba.


Aris menggelengkan kepalanya dengan tangan yang memegang sudut bibirnya.


“Kamu masih menyukai pak Devan?’ tanya Aris dengan iseng.


“Bisa dibilang begitu, pak. Kemarin pak Devan hampir mencium saya tapi sayangnya gagal. Pak Devan langsung pergi begitu saja,”


“Ada beberapa alasan yang mungkin pak Devan punya sampai tidak jadi menciummu,” lanjut Aris lagi dengan senyum penuh arti.


“Memangnya pak Aris tau?” Fitri terus menatap wajah Aris karena rasa penasarannya.


“Saya orang kepercayaan jadi mana mungkin saya tidak tau tentang pak Devan,” jawab Aris.


“Boleh saya tau alasannya pak?” tanya Fitri lagi.


Aris menoleh lagi, ia tidak menjawab pertanyaan Fitri. Aris hanya diam sampai akhirnya Fitri kembali duduk dan melihat ke luar jendela.


“Saya akan memberitahumu setelah kamu membantu saya malam ini,”

__ADS_1


.


.


Aris dan Fitri sudah tiba di pantai, mereka tiba di waktu yang tepat karena pada saat itu matahari mulai tenggelam. Mereka menikmati sunset sambil duduk di atas pasir. Duduk dengan tenang menikmati keindahan matahari yang mulai tenggelam itu.


Fitri memejamkan matanya saat hembusan angin menerpanya. Aris yang sedari tadi ada di sampingnya terus memperhatikannya. Diam diam Aris mengambil ponselnya dan memotret wajah Fitri dari samping. Ia tersenyum ketika melihat hasilnya lalu menyimpan kembali ponselnya.


Saat Fitri kembali membuka matanya, Aris dengan cepat mengalihkan pandangannya pada matahari lagi. Kali ini Fitri lah yang mencuri pandang ke arahnya.


“Pak Aris, saya boleh nanya sesuatu?” tanya Fitri.


“Mau nanya apa?” balas Aris tanpa harus menoleh pada Fitri.


“Selama ini kan saya gak pernah melihat bapak berurusan dengan wanita. Jujur saya penasaran sebenarnya pak Aris punya pasangan atau tidak?!”


Aris tidak langsung menjawab, pandangannya pun masih lurus melihat ke arah pantai itu. Lalu menolehkan kepalanya menghadap Fitri.


“Sebenarnya saya sedang menyukai seseorang, hanya saja saya masih belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya,” jawab Aris dengan jujur.


“Kenapa tidak berani?” tanya Fitri lagi.


Aris tersenyum tipis kemudian mengubah posisinya dengan duduk menyamping sehingga benar benar menghadap Fitri.


“Karena saya sadar, dia akan menolak saya jika saya mengungkapkan rasa.”


Fitri mengangguk kecil, tangannya tiba tiba menyentuh tangan Aris. Ia mengelusnya sebentar.


“Menurut saya, bapak katakan langsung saja. Pak Aris tidak akan tau jawabannya jika hanya bersikap seperti itu. Saya yakin dia tidak berani menolak laki laki tampan seperti bapak.” ucap Fitri dengan senyum manisnya.


“Jadi kamu tidak menolak saya?”


“Hah?”


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalin jejak

__ADS_1


__ADS_2