
“Tunggu!”
Fitri memejamkan matanya sejenak lalu berbalik dan menatap Devan.
“Ada apa ya pak?” tanyanya dengan ragu ragu.
Devan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah Fitri.
Fitri yang melihat Devan semakin mendekat tiba tiba saja langsung merasa gugup. Hingga akhirnya Devan sudah tiba di hadapannya. Fitri bisa merasakan betapa dekatnya jaraknya dengan Devan. Ia juga bisa mencium aroma parfum yang dipakai Devan dan seketika itu juga jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
Devan tidak berkata apa apa, ia hanya memandangi wajah Fitri yang sedang gugup itu. Devan pun menundukkan wajahnya sehingga wajahnya kini ada di depan wajah Fitri. Entah apa yang Devan pikirkan sampai berani mendekatkan wajah seperti itu.
Mata elang Devan melirik pada bibir Fitri yang merah merekah itu. Perlahan Devan mengangkat tangannya dan mengusap bibir itu dengan tangannya.
Tubuh Fitri menegang saat tangan atasannya itu menyentuh bibirnya. Ia tak menyangka Devan berani memperlakukannya seperti itu. Devan terus mengusap bibir itu dengan begitu lembut sampai ia menurunkan tangannya dan memilih untuk merasakan bibir itu.
Devan ingin menciumnya. Ia sudah menginginkannya sejak Fitri masuk ke ruangannya tadi.
Devan semakin memajukan wajahnya, bibir Fitri dan Devan hampir bersentuhan. Hanya tinggal sedikit dorongan saja bibir mereka sudah menempel. Fitri bahkan sudah memejamkan matanya dan bersiap menerima ciuman itu.
Saat Devan akan mencium Fitri tiba tiba bayangan Lala terekam dalam pikirannya. Ia juga mengingat senyum pertama Lala yang diberikan kepadanya.
“Kalau gitu mulai sekarang aku manggilnya kak Devan ya?”
Kata kata itu juga muncul dalam pikirannya. Devan pun mengurungkan niatnya untuk mencium Fitri. Wajahnya kembali berubah menjadi datar. Devan merut*ki dirinya sendiri karena tindakannya tersebut. Seharusnya ia lebih menahan diri lagi. Terlebih ada nama Lala yang harus dijaganya dalam hati.
Devan memilih untuk membuka pintu ruangannya dan keluar dari sana meninggalkan sekretarisnya sendirian. Sedangkan Fitri, ia kembali membuka matanya saat merasa tidak ada tindakan apapun dari Devan. Fitri mengerucutkan bibirnya saat melihat Devan yang sudah menghilang dari ruangannya.
“Belum juga dicium, udah ngilang aja. Hancur hati dedek, Mas.” Ucapnya dengan dramatis.
.
.
__ADS_1
.
Devan melangkah menuju ke arah Rooftop kantornya, ia sudah cukup malas melihat berkas berkas yang masih menumpuk di mejanya. Saat ini ia hanya ingin menikmati angin sejuk saja. Namun pada saat ia tiba di Rooftop, ternyata disana tidak hanya ada dirinya. Melainkan juga Xander yang berdiri seolah olah ia mengetahui bahwa Devan akan kesana.
Devan melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana ayahnya berdiri.
“Sepertinya Papa menungguku disini?” tanya Devan saat sudah berdiri di dekat Xander.
Xander tidak menjawab melainkan terus melihat pemandangan yang terlihat dari rooftoop itu. Laki laki berumur itu seperti menahan beban yang berat di pundaknya. Devan yang melihatnya juga bisa merasakan perasaan Ayahnya. Akan tetapi ia memilih untuk diam dan tak berbicara lagi.
Lama Xander terdiam akhirnya ia membuka pembicaraan.
“Kamu sudah mendapat beritanya kan?” tanya Xander sambil melirik ke arah Devan.
Devan mengangguk. “Sudah, dan tentu saja aku terkejut kenapa kabarnya baru disampaikan sekarang. Kalau mendadak begini aku bingung bagaimana cara berpamitan,” jawab Devan.
“Berpamitan? Memangnya kamu mau berpamitan sama siapa? Kamu bahkan tidak punya prioritas lagi sekarang kecuali dirimu sendiri,” cibir Xander pada Devan.
Devan berdecak lalu mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. Ia mengotak atiknya sebentar kemudian menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Xander.
Xander langsung tertawa terpingkal pingkal melihat foto yang ditunjukkan Devan. Devan menarik kembali ponselnya saat Xander malah menertawainya. Ia menatap aneh Xander yang terus tertawa.
“Devan, Devan. Sebelum kamu menunjukkan foto itu papa juga sudah tau siapa dia,” ujar Xander setelah berhenti tertawa.
“Aris sudah memberitahukan semuanya tentang dia. Papa juga sudah tau kamu pernah ke rumahnya dan menemui ibunya. Benarkah begitu Devan?” tanya Xander sambil mengedipkan sebelah matanya.
Devan mendengus sambil menatap tajam Xander. “Papa menyuruh Aris untuk mengikutiku?!” tanyanya.
Xander mengangguk dan menghela nafasnya. “Lagian kalau tidak seperti itu kamu pasti tidak akan memberi tahu papa. Papa sebenarnya juga ingin mendengar kamu bercerita. Tapi sepertinya sifat mama kamu menurun ke kamu ya. Sama sama tidak suka berbagi cerita pada orang lain,” ujar Xander dengan senyum getirnya.
Devan terdiam, membicarakan tentang ibunya Devan tiba tiba merindukannya. Sudah lama ia tidak menjenguknya. Devan tidak kuat setiap kali melihat ibunya berteriak histeris di rumah sakit jiwa. Ya, ibunya mengalami gangguan jiwa yang mengharuskannya untuk dirawat di rumah sakit jiwa. Semua berawal dari Xander yang membawa seorang anak dari hasil selingkuhannya.
Orang yang berada di sampingnya ini tidak hanya ayahnya saja, tapi juga penyebab ibunya sakit jiwa.
__ADS_1
Xander yang melihat Devan terdiam langsung menghela nafasnya. Ia tiba tiba teringat pada masa lalunya yang begitu buruk.
“Maafin papa di masa lalu ya. Sampai saat ini papa masih tetap merasa bersalah sama kamu. Papa lah penyebab kita harus terpisah dari mama,” ucap Xander sambil tersenym pahit.
“It’s okay pa. No problem. Aku sudah melupakan semua kejadian itu. lagi pula tidak ada gunanya juga untuk mengingatnya. Mama juga sudah terlanjur sakit,” jawab Devan.
“Kalau begitu mari kita kembali pada topik awal. Kamu sudah siap untuk penerbangan ke korea dua hari lagi kan?”
“Emangnya papa memberiku pilihan?”
“Enggak juga sih, mau tidak mau kamu tetap harus pergi!”
Devan memutar bola matanya dengan malas. Hal itu membuat Xander terkekeh. Lalu mereka kembali melihat pemandangan yang terhampar di roooftoop itu.
.
.
.
Sesuai dengan janji pada ibunya, Lala tidak berjualan sampai sore hari ini. Jam dua siang dia sudah membereskan lapaknya. Beruntung hari ini semua cabainya sudah habis tak bersisa sedikit pun. Sebelum pulang Lala menghitung uang hasil penjualan hari ini. Dia tersenyum cerah saat uangnya sudah melebihi target penjualan hari ini.
“Ibu pasti senang kalau hari ini rejeki cabainya makin banyak,” gumam Lala dan mengantongi uangnya kembali.
Setelah selesai semuanya, Lala mengambil kunci motornya dan keluar dari pasar. Kemudian pergi ke parkiran motornya. Saat tiba di parkiran motor, lagi lagi Lala melihat sesuatu yang aneh. Kali ini tidak di lapaknya melainkan di motornya. Lala mendekati motornya dan menemukan sebuah surat disertai boneka beruang berwarna cokelat dengan ukuran kecil.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa meninggalkan jejak
Like dan komen adalah penyemangat.
__ADS_1
update setiap hari