Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
7. Perkelahian


__ADS_3

Karena hari ini Lala libur untuk berjualan, akhirnya ia memutuskan untuk lari pagi. Sudah lama ia tidak berolahraga karena kesibukannya berjualan. Pada akhirnya pagi pagi sekali dia sudah berlari dengan membawa handuk kecil di pundaknya.


Lala berlarian kecil sambil menikmati udara segar di pagi hari. Meskipun sendirian ia tetap bisa menikmati. Lala tidak punya banyak teman selama di rumah, ia sadar selama ini ia selalu dijauhi oleh mereka karena berjualan cabai di pasar. Tapi Lala tidak mempedulikannya, selama ia hidup dngan baik bersamanya Lala tidak masalah meskipun tidak punya teman.


Lala terus berlari sambil sesekali tersenyum pada orang yang menyapanya. Kaki kecilnya terus berlari sampai ke jalan besar. Ia bahkan tidak sadar jika sedari tadi ada yang terus mengikutinya berlari. Siapa lagi kalau bukan Devan, yang masih penasaran dengan kehidupan Lala.


Setelah membicarakan perjanjian kemarin akhirnya Devan diperbolehkan untuk melakukan tujuannya dengan syarat, Devan tidak boleh meninggalkan perusahaan apapun yang terjadi. Untung hari ini adalah weekend jadi Devan tidak perlu ke kantor.


Devan terus mengikuti Lala diam diam, sambil lalu dia mengambil foto dengan ponselnya. Devan tidak ingin menyianyiakan wajah cantik itu. Setidaknya ia harus memiliki beberapa foto di ponselnya untuk ia lihat setiap hari.


“Sebenarnya dia mau lari ke mana lagi sih!,” Devan mulai ngos ngosan karena terlalu lama berlari.


Tapi ia tidak menyerah begitu saja, Devan tetap mengikuti Lala sampai akhirnya ia berhenti di taman kota yang lumayan ramai karena weekend.


Lala tersenyum cerah saat melihat taman itu, ia sangat menyukai tempat itu. Dari sekian banyak taman yang ada di kotanya, hanya di situlah taman yang paling luas dan banyak diunjungi orang orang. Lala mengelap keringatnya sebentar kemudian lanjut berlari, ia pergi ke tempat ayunan yang selalu menjadi kesukaannya ketika ada di taman itu. Lala langsung duduk di salah satu ayunan tesebut.


Devan yang melihat Lala duduk sendirian disana berniat untuk menghampirinya, tapi sebelum itu dia pergi untuk membelikan minuman. Ia membeli dua botol air mineral untuk Lala dan dirinya sendiri. Pada saat Devan akan menghampiri Lala, terjadi sesuatu yang tidak pernah ia duga.


“Eh ada si biang Lala nih disini,” ucap salah satu gadis yang seumuran dengan Lala.


“Hai gadis miskin, kok kamu berani banget sih datang ke taman. Harusnya kan tempat kamu itu di pasar yang kumuh, bukan di sini. Merusak pemandangan aja deh,” sahut yang lainnya. Mereka berjumlah lima orang dan semuanya kompak menertawakan Lala yang sedari tadi hanya diam dan menatap mereka dengan wajah datar.


“Dia gak jawab guys, ternyata selain miskin dia juga mulai bisu ya.” Gadis bertubuh gempal langsung mendorong Lala dari ayunan itu hingga Lala terjerembab di tanah dan berakhir dengan tawa mereka lagi. Lala tidak bereaksi apapun, ia kembali berdiri dan duduk dengan tenang.


“Okta, kok kamu jahat banget sih! Kenapa Lala harus didorong bukankah lebih baik jika kita memperlakukannya dengan baik. Iya kan La?”


Gadis bertubuh tinggi itu langsung mendekat pada Lala dengan membawa minumannya, entah apa yang akan ia lakukan Lala memilih untuk tidak menghiraukannya. Biarkan saja mereka bersenang senang dengan mengejeknya. Tapi tiba tiba Lala merasakan guyuran air yang sengaja disiram untuknya oleh si gadis bertubuh tinggi itu.


“Ups maaf, gak sengaja La.” Gadis itu langsung berpura pura merasa bersalah.


“Nis, jangan dimandiin dong. Biarin aja dia bau,” ejek yang lainnya.

__ADS_1


“Eh sembarangan aja, mana sudi aku mandiin dia. Itu tidak sengaja tumpah kok,” ucapnya sambil tersenyum mengejek pada Lala.


“Nanti dia nangis loh,” ucap yang bertubuh gempal.


Lala memejamkan matanya berusaha menahan amarah yang sedari tadi ia bendung, ia bukan tidak ingin melawan mereka. Lala hanya ingin melihat sejauh mana teman temannya itu mengganggunya. Mereka semua pernah menjadi teman Lala sewaktu ia sekolah, tapi itu tidak berlangsung lama karena setelah ayahnya tiada, dan ia menjadi miskin, ia sudah mulai dijauhi mereka. Bahkan mereka sering kali membullynya.


Devan yang melihat Lala dipermalukan seperti itu merasa tidak tega, ia pun menghampirinya berniat menolong Lala. Namun yang ia lihat malah sebaliknya.


Lala melepaskan handuk kecil yang sedari tadi ada di bahunya, lalu menatap tajam mereka satu persatu. “Kalian pikir aku diam karena aku takut? Kalau kalian berpikir begitu maka kalian salah. Aku bukanlah Lala yang dulu, yang selalu diam saat ditindas,” ucapnya.


“Wih, memangnya kamu bisa melawan apa? Coba aja kalau bisa,” balas Okta si gadis gemuk.


Anis pun juga ikut menimpali, “Paling dia hanya ingin merengek bukan melawan,”


“Daripada ada di sini mending kamu urusin aja ibu kamu di rumah yang lagi sekarat.” Okta menambahkannya lagi.


Sudah cukup, Lala mungkin masih bisa bersabar jika mereka menghina dirinya, tapi tidak dengan ibunya. Dengan gerakan cepat Lala langsung menghempaskan wajah mereka satu persatu dengan handuk kecil miliknya. Tidak hanya itu Lala bahkan menampar wajah mereka sehingga mereka mengaduh kesakitan.


Anis menggeram, ia tidak terima dipermalukan seperti itu. Ia mengangkat tangannya bersiap menampar Lala. Tapi, sebelum tangan itu mendapat di pipi Lala, sebuah tangan memegangnya dengan erat.


Devan datang tepat waktu, sedari tadi ia sudah merasa emosi dengan kelakuan mereka. Devan mencengkram lengan gadis itu dengan kuat hingga Anis kesakitan.


“Lebih baik kalian segera pergi dari sini dan jangan ganggu Lala lagi!,” tegas Devan sambil menatap tajam ke arah mereka berlima.


“Memangnya om siapa? Datang datang sok jadi pahlawan.” Sahut Anis sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Devan.


Devan pun melepaskannya. Anis langsung mengelus tangannya yang memerah gara gara Devan.


“Kalian tidak perlu tau siapa saya, bocah ingusan seperti kalian harusnya belajar bukan malah menghina orang lain seperti ini,”


Anis dan teman teman lainnya mendengus tidak suka, setelah digertak Devan mereka memilih untuk pergi. Devan langsung melirik ke arah Lala yang masih dikuasai rasa emosi karena ulah mereka. Devan menyodorkan air mineralnya pada Lala sehingga Lala mau tak mau melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Makasih,” ucap Lala dan mengambil air yang diberikan Devan.


“Lain kali kalau mereka seperti itu kamu langsung lawan saja. Mereka seperti itu karena mereka mengira kamu tidak berdaya,” Devan ikut duduk di ayunan sebelah Lala.


Lala membuka botol airnya dan meneguknya, setelah itu ia kembali fokus pada Devan. “Lalu bagaimana dengan om yang waktu itu mencuri ciuman pertamaku. Kira kira apa yang harus aku lakukan untuk membalasnya?”


“Waktu itu saya tidak sengaja, lagian gara gara kamu juga kan yang terus menghalang halangi saya,” Devan malah membalikkan fakta.


“Sengaja atau tidak om harus tetap dapat pelajaran agar tidak mengulanginya lagi,”


Lala tiba tiba berdiri dengan pandangan matanya yang tertuju pada aset masa depan Devan yang terbungkus dengan celananya itu. Devan yang menyadari arah pandangan Devan langsung menutupnya dengan tangannya.


“Dari pada kamu membalas dengan yang lain, bukankah lebih adil jika kamu juga mencium bibirku?”


“Oke.” Jawab Lala dengan cepat.


Devan membelalakkan matanya tak percaya, ia pikir gadis itu akan marah. Ini malah sebaiknya.


Devan pun mulai memejamkan matanya sambil menunggu ciuman dari Lala. Sedangkan Lala dia hanya tersenyum jahil. Lala menundukkan wajahnya hingga setara dengan wajah Devan.


“Jangan membuka mata sebelum aku selesai melakukannya, kalau tidak aset masa depan om yang ku tendang,” ancam Lala.


“Iya, cepatlah,”


Lala menjauhkan wajahnya sambil tertawa geli. Kemudian ia mencari sesuatu di sekitarnya yang bisa membuat wajah Devan terlihat sempurna. Saat itu matanya tiba tiba saja menemukan satu buah pisang yang belum dimakan. Lala mengambilnya, ide licik pun sudah ada dalam pikirannya.


“Rasain nih,”


Bersambung.....


Ditunggu update selanjutnya ya

__ADS_1


__ADS_2