
Siti tersenyum pada Devan, senyum yang tak pernah Devan sangka sangka. Sepertinya Siti sudah mulai terkesan pada Devan.
“Lala, kamu keluar sebentar ya. Ibu mau bicara sana nak Devan.”
“Soal apa bu?”
“Nanti juga kamu akan tau. Keluar dulu ya nak,”
Lala mengangguk dan menuruti perkataan Siti untuk keluar. Ia sangat penasaran pada apa yang akan ibunya katakan alhasil Lala memilih untuk berdiri di luar saja sambil mendengarkan.
Setelah memastikan Lala telah keluar, Siti kembali fokus pada Devan yang ada di depannya saat ini. Siti tidak berbicara apapun melainkan memperhatikan Devan dari atas sampai ke bawah. Devan merasa seperti diseleksi saja ketika ia ditatap Siti.
“Kamu beneran umur tiga puluh?” tanya Siti seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Devan sebelumnya. Bagaimana ia tidak berkata seperti itu, di matanya, saat ini Devan seperti pemuda yang baru umur dua puluh empat tahun. Tubuhnya yang atletis dan wajahnya yang tampan membuat Devan terlihat seperti masih muda. Itulah sebabnya Siti tidak yakin mengenai umur Devan.
Devan menghela nafasnya daripada ia menjawab dan Siti semakin tidak percaya lebih baik Devan menunjukkan buktinya saja. Devan merogoh kantong celananya dan mengambil dompetnya. Setelah itu ia mengambil ktp nya dan menunjukkannya pada Siti.
“Silakan dilihat, bu. Saya yakin ibu akan lebih percaya jika melihat ktp itu.” Jawab Devan.
Siti mengambil ktp dari tangan Devan dan mengeceknya sendiri. Ia menganggukkan kepalanya setelah melihat itu dan mengembalikannya pada Devan.
“Lalu bagaimana bisa kamu tau tentang Lala?! Saya yakin Lala tidak pernah memberi taumu alamat rumah. Bahkan dari yang saya liat kamu seperti sudah mengetahui jika saya sedang sakit,”
Devan sudah menduganya, pertanyaan ini pasti akan keluar begitu saja. Daripada ia harus repot repot mencari alasan lebih baik Devan mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya Devan menceritakan semuanya dari awal sampai akhirnya Devan menyuruh Aris untuk mencari tau Lala hanya dari plat nomor motor bututnya itu.
Siti diam dan mendengarkan semuanya, ia bisa tau Devan bukan orang biasa hanya dari ceritanya.
“Ibu, tenang saja. Saya tidak bermaksud buruk kok dengan mencari tau semua itu. Saya melakukannya karena saya penasaran dengan Lala.”
Lala yang mendengar semuanya juga terkejut, ternyata Devan mencari tau semua tentang dirinya sejak kejadian itu. Lala juga masih ingat Devan yang tiba tiba ada di pasar dan memperhatikannya dari kejauhan. Berarti itu bukan ketidaksengajaan, melainkan bagian dari rencana Devan sendiri.
Kalau begini caranya Lala semakin tidak menyukai Devan. Bagi Lala Devan tidak lebih dari seorang pengec*t. Ia hanya mengandalkan kekuasaannya untuk mendekatinya.
__ADS_1
Lala segera pergi dari situ, ia tidak mau lagi mendengar apa yang ibunya dan Devan bicarakan. Lala sudah terlanjur kesal. Akhirnya Lala hanya duduk di teras rumahnya saja. Lala duduk di kursi dan mengayunkan kakinya sambil lalu matanya melihat pemandangan langit biru yang terlihat cerah hari ini. Lala tersenyum kecil saat melihat gumpalan awan yang bergerak itu.
Lama ia memandangi awan, kursi di sampingnya tiba tiba bergerak. Lala menoleh sebentar dan kembali melihat langit lagi.
“Kamu suka langit?” tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar Siti dan menghampiri Lala.
“Langit itu indah, om. Aku rasa siapapun yang melihatnya pasti akan menyukainya,” jawab Lala dengan sedikit ketus.
“Sama seperti kamu, La. Saya yang melihatmu pertama kali saja sudah merasa tertarik sama kamu,” lanjut Devan sambil menatap langit juga.
Lala tidak menjawab lagi, ia lebih memilih menikmati langit biru siang itu daripada meladeni perkataan Devan yang menurutnya sangat tidak penting sekali untuk didengar.
“Saya sudah izin sama ibu kamu, saya mau mengajakmu jalan jalan! Ayo, bersiaplah. Saya akan membawamu ke tempat yang pasti kamu sangat sukai,” ajak Devan sambil menoleh pada Lala.
“Sepertinya om telah membicarakan banyak hal dengan ibuku,” Lala tidak mempedulikan ajakan Devan. Ia masih mempertahankan rasa kesal di hatinya pada Devan.
Devan mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Lala. Lalu ia teringat Lala disuruh keluar oleh siti untuk berbicara dengannya. Sekarang Devan bisa mengerti kenapa Lala bersikap seperti itu.
“Kamu marah sama saya karena mencari tau tentang kamu begitu bukan?! Kamu sepertinya juga menganggap saya laki laki angkuh seperti yang ada dalam pikiranmu. Padahal kamu belum mengenal saya sepenuhnya. Saran saya, cobalah kamu untuk mengenal seseorang dari dalam. Jangan hanya memandang dari luarnya saja. Saya minta maaf jika menurut kamu saya seperti itu,”
Devan beranjak dari kursi, sepertinya ia harus mengurungkan niatnya untuk mengaja Lala keluar. Suasana hati gadis itu sepertinya juga tidak bagus. Devan tidak akan memaksanya.
“Saya permisi, kalau gitu! Maaf kalau saya lancang masuk ke dalam rumahmu,”
Devan mengambil kunci mobilnya dan bersiap untuk masuk ke dalamnya. Sedangkan Lala hanya diam sambil mengarahkan pandangannya pada Devan. Lala tiba tiba saja merasa bersalah karena sikapnya hari ini pada Devan. Sepertinya Devan tersinggung karenanya. Saat Devan mau memasuki mobil. Lala langsung mengejar Devan dan memanggil namanya.
“Tunggu, om!” panggilnya pada Devan.
“Ada apa?” tanya Devan sambil menutup pintu mobilnya kembali.
“Aku mau minta maaf, karena sikapku hari ini sepertinya aku membuat om tersinggung. Maafin aku ya om,”
__ADS_1
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
Lala menundukkan kepalanya melihat tanah yang ia injak.
“Aku pikir om tersinggung karena langsung pergi begitu saja. Tapi aku sebenarnya tidak bermakud seperti itu kok. Aku hanya sedikit kesal saja,”
Devan tersenyum tipis, melihat Lala yang menunduk seperti itu membuatnya terlihat seperti habis memarahi anak kecil saja. Devan mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada kepala Lala. Ia mengusap rambut Lala dan mengacaknya sedikit dengan rasa gemasnya. Lala yang merasakan usapan lembut itu mengangkat kepalanya melihat kedua bola mata Devan yang meneduhkan itu.
“Saya tidak tersinggung kok, saya pergi bukan karena tersinggung. Saya hanya tidak mau membuat suasana hatimu memburuk karena kehadiran saya disini. Kamu tidak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu,”
“Tetap saja, aku harus minta maaf sama om. Maafin aku ya, om.” Lala mengucapkannya dengan tulus.
“Baiklah, saya maafkan. Bagaimana kalau permintaan maaf itu kamu sertai dengan mau saya ajak jalan jalan,”
“Mau kemana emangnya, om?”
“Rahasia, tapi saya yakin kamu pasti suka. Gimana? Mau gak?”
“Iya deh aku ikut, om. Aku mau pamit sama ibu dulu,”
Devan mengangguk dan membiarkan Lala untuk pamit.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa meninggalkan jejak
Like kalian penyemangatku
__ADS_1