Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
32. Ketegasan Devan


__ADS_3

“Itulah akibatnya bertindak tanpa berpikir,” gumam Fitri yang didengar oleh Aris yang masih berdiri di sebelahnya.


“Kamu jangan seperti itu ya sayang,” ucap Aris dengan tiba tiba.


Fitri menolehkan kepalanya pada Aris yang tersenyum manis padanya. Seketika pipinya memerah.


“Apa sih pak, jangan malu maluin, deh.” Sebal Fitri  dengan mengerucutkan bibirnya.


Aris terkekeh, sekarang ia suda lega setelah kejadian di pantai waktu itu. Aris mengungkapkan rasa pada Fitri, dan ia juga menceritakan tentang hubungan Devan dengan Lala padanya. Hal itulah yang membuat Fitri minder untuk menyukai Devan lagi. Hingga pada akhirnya Fitri memberinya kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta lagi kepadanya. Dan Aris tidak akan menyianyiakan kesempatan itu.


.


.


Saat mobil yang Devan tumpangi sudah sampai di kantor, para wartawan yang sudah menunggu di kantornya langsung mengerubungi mobilnya sehingga Clarisa dan Devan tidak turun untuk sementara.


“Lihatlah Cla, ini semua karena ulah kamu! Mereka semua membuat berita miring tentang aku gara gara mulut kamu juga!.


Clarisa tak bergeming, wajahnya semakin memucat saat melihat jumlah wartawan itu yang sangat banyak. Ia merasa gugup karena sepertinya Devan akan menyuruhnya untuk melakukan klarifikasi tentangnya. Clarisa menggeleng kecil, jika ia melakukan klarifikasi itu sama saja dia menghancurkan karirnya sendiri. Dan Clarisa tidak mau itu. Sepertinya ia harus mencari cara untuk kabur dan menyelamatkan harga dirinya.


Tapi sepertinya Devan bisa menebak pikirannya, “Jangan mencoba coba untuk kabur dariku, Clarisa. Aku tidak segan untuk melakukan hal yang kasar padamu,” ketus Devan sambil memandang ke luar jendelanya.


“Pak...Pak Devan...tolong keluar sebentar pak,”


“Pak, bagaimana tanggapan bapak tentang berita itu?”


“Bisakah bapak memberi kami penjelasan?”


“Pak, apakah di dalam mobil itu adalah Clarisa model ternama itu?”


Banyak sekali pertanyaan yang terlontar dari mulut mereka padahal Devan saja masih belum turun dari mobil. Sementara Aris dan Fitri mereka sudah sampai di kantor lebih dulu daripada mereka. Devan menyuruh Aris untuk menghubungi bodyguard agar menghalau semua wartawan ini.


Sampai akhirnya, Aris kembali bersama lima orang bodyguard. Mereka berlima langsung menghampiri mobil Devan.

__ADS_1


“Mari, pak.” ucap salah satu dari mereka pada Devan yang ada di dalam mobil.


Devan mengangguk lalu menoleh pada Clarisa.


“Cepat turun!” perintahnya.


“Tapi Dev...”


“Jangan menguji kesabaranku lagi Clarisa!” bentak Devan dengan suara kerasnya.


Tanpa berkata apapun lagi Devan langsung turun dari mobil dengan diikuti Clarisa setelahnya.


Para bodyguard itu dengan sigap berdiri di kanan dan kiri Devan sambil menghalau para wartawan yang mencoba untuk semakin mendekat. Saat melihat Clarisa turun dari mobil Devan, mereka semakin berdesakan dan mendorong bodyguard itu untuk menghampiri Clarisa.


“Nona Clarisa, apa benar apa yang dikatakan anda dalam wawancara di Korea itu?”


Clarisa dan Devan terus berjalan dengan diiringi Bodyguard itu, mereka tidak menghiraukan pertanyaan wartawan yang terus membabi buta. Untung Aris berhasil membawa bodyguardnya kemari, jika tidak Devan yakin semua wartawan itu akan tetap menunggunya di luar mobil. Sampai akhirnya mereka sudah masuk ke dalam kantor dan wartawan itu tidak lagi mengejar mereka karena dihadang oleh beberapa bodyguard dan satpam yang bertugas disana.


Saat Devan dan Clarisa masuk ke dalam, pandangan semua karyawan langsung mengarah kepada mereka berdua. Devan yang pertama kali menyadari langsung menatap tajam mereka dengan pandangan yang menusuk.


Sontak saja mereka langsung menundukkan kepala dan kembali menyibukkan diri lagi. Mereka tidak berani lagi melihat ke arah Devan.


Devan lanjut berjalan, kali ini ia masuk ke dalam lift dengan Clarisa yang terus mengikutinya. Devan menekan angka sembilan untuk menuju ke lantai itu. Selama di dalam lift, Devan terus mengawasi gerak gerik Clarisa.


“Sebentar lagi kita akan bertemu papaku. Aku gak mau tau, kamu harus jelasin semuanya pada papa dengan sejelas jelasnya. Aku bisa saja menuntutmu dengan pencemaran nama baik karena ulahmu ini. Tapi aku masih berbaik hati padamu. Jadi, jangan  sia siakan kesempatan ini,” ucap Devan dengan wajah yang datar.


Clarisa menggertakkan giginya dengan perasaan yang dongkol, ia tak berdaya namun ia masih ingin melawan ini. Clarisa masih tidak rela jika reputasinya sebagai model harus hancur karena pengakuannya hari ini.


“Dev, apa tidak ada cara lain agar kau mau memaafkanku? Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku sebagai model. Aku mohon, Devan. Cobalah kamu pikir baik baik,” bujuk Clarisa pada Devan.


Akan tetapi Devan tidak bergeming, dia tidak mempedulikan Clarisa berkata apa. Clarisa yang merasa dicuekin merasa sebal dengan Devan.


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Devan kembali berjalan dan meninggalkan Clarisa yang masih mematung di lift. Devan terus melangkahkan kakinya sampai pada akhirnya dia menyadari Clarisa tidak mengikutinya. Devan mendesah pelan lalu menoleh ke belakang untuk melihat Clarisa.


“Sudahlah Cla, jangan mempersulit keadaan. Kalau saja kamu tidak melakukan hal itu mungkin kamu tidak akan berada di sini. Cepatlah!! Papa sudah menunggu di dalam ruangannya.”


Clarisa yang masih lemas hanya bisa mendengus lalu menyusul langkah Devan. Saat tiba di depan pintu ruangan Xander, Clarisa terlihat ragu untuk masuk ke dalam. Terakhir kali ia pergi kesini adalah saat dia protes dengan apa yang Xander lakukan padanya dulu karena mengkhianati Devan.


Devan membuka pintu dan mulai masuk ke dalam ruangan itu, lalu ia memberikan kode pada Clarisa dengan matanya agar segera masuk ke dalam. Mau tidak mau Clarisa pun ikut masuk ke dalam.


Saat Clarisa masuk, Xander yang sudah menunggu kedatangan mereka langsung membalikkan kursinya sehingga ia bisa menatap Devan dan Clarisa secara langsung. Pertama, Xander melihat ke arah Devan yang bersikap tenang meskipun dengan skandal yang dibuatnya kemarin. Lalu pandangan Xnader berpindah pada Clarisa yang terus berusaha mengalihkan pandangannya.


Xander tersenyum tipis lalu secara tiba tiba dia bertepuk tangan dengan keras sambil menggelengkan kepalanya.


“Wow, ini dia yang ditunggu tunggu! Akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu pada akhirnya sekarang kita bertemu lagi Clarisa,” ujar Xander sambil menyeringai ke arah Clarisa.


Clarisa pun akhirnya memberanikan diri untuk menatap Xander.


“Ya, senang bertemu anda kembali, papa mertua,” balas Clarisa seolah menantan Xander dengan memanggilnya papa mertua.


“Oh Clarisa, rupanya kamu masih sama seperti dulu ya. Wanita yang tidak tau diri, sama seperti mendiang ibumu juga,” balas Xander.


Wajah Clarisa memerah saat Xander membawa nama ibunya dalam permasalahannya ini.


“Diamlah! Anda tidak berhak mengatakan itu.”


Xander terkekeh pelan lalu maju dan mendekati Clarisa. Xander melihat penampilan Clarisa dari atas sampai ke bawah lalu berdecak.


“Lalu apa hak kamu mengakui Devan sebagai anak kamu padahal bukan?!”


 


Bersambung


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa like+komenta


__ADS_2