
Lala menjauhkan wajahnya sambil tertawa geli. Kemudian ia mencari sesuatu di sekitarnya yang bisa membuat wajah Devan terlihat sempurna. Saat itu matanya tiba tiba saja menemukan satu buah pisang yang belum dimakan. Lala mengambilnya, ide licik pun sudah ada dalam pikirannya.
“Rasain nih,”
Lala membuka kulit pisangnya sambil menahan tawa, saking fokusnya membuka kulit pisang, Lala sampai tidak menyadari kalau Devan tersenyum menyeringai saat memejamkan matanya. Devan tidak benar benar menutup mata, dia sedikit mengintipnya tadi. Tapi ia terus berpura pura. Andai Lala tau sifat asli Devan yang bisa lebih licik dari lawannya mungkin Lala tidak akan berani mengerjainya.
“Om, udah siap nih?” tanya Lala setelah selesai membuka kulit pisang itu.
“Iya,” jawab Devan dengan singkat.
Lala memegang pisangnya dan mengarahkannya pada bibir Devan yang sedikit terbuka. Tapi secara tiba tiba situasinya malah dibalikkan. Devan membuka mata dan melempar pisangnya, kemudian menarik Lala hingga jatuh di pangkuannya.
Lala meneguk ludahnya saat Devan menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah ia lihat, belum lagi tangan Devan yang melingkar di pinggangnya. Lala melihat keadaan taman, khawatir ada yang melihatnya. Ia merasa tidak nyaman, alhasil Lala menggerakkan tubuhnya berusaha melepaskan tangan Devan.
“Makanya jangan jahil,” bisik Devan di telinga Lala.
Lala merinding, hembusan nafas Devan terasa sangat geli di telinganya. “Om, lepasin dong. Nanti aku dikira main sama om om,” gerutu Lala dengan kesal. Tangannya terus berusaha melepaskan tangan Devan dari pinggangnya. Tapi sayang, Devan tidak membiarkannya.
“Umur kita hanya beda sebelas tahun, panggil sayang aja daripada om om gitu,” ujar Devan dengan memandangi wajah cantik Lala.
Lala menghela napas, jika ia tidak bisa melepaskan secara baik baik maka terpaksa ia memakai cara lain. Lala langsung menggigit tangan Devan. Devan langsung mengaduh kesakitan dan melepaskan Lala. Lala tidak menyianyiakan kesempatatan, ia langsung melepaskan diri dan beranjak dari pangkuan Devan sambil tertawa puas.
“Sakit gak om?!” ledeknya.
“Ya sakit lah,” jawab Devan dengan ketus sambil mengelus tangannya yang digigit Lala.
“Kalau gitu selamat menikmati rasa sakit ya om. Aku mau pulang dulu. Makasih atas minumannya,”
Lala kembali berlari dan meninggalkan Devan sendirian disana. Setelah Lala pergi, Devan mengukir senyumnya. Meskipun ia sedikit kesakitan karena tangannya digigit, setidaknya ia mempunyai bekas gigitan Lala di tangannya. Aneh memang, bekas gigitan saja membuatnya senang.
__ADS_1
“Jika menggigit tangan aja sampai kek gini, apalagi menggigit yang lain,” Devan terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. ia memutuskan untuk pulang saja.
.
.
Setelah tiba di rumahnya, Lala langsung mandi dan membersihkan dirinya. Pakaiannya sudah sangat kotor karena siraman minuman tadi. Lala memejamkan matanya dan menyiramkan air pada wajahnya.
Wajahnya yang putih bersih membuatnya semakin terlihat lebih menggairahkan. Banyak laki laki yang sering datang ke rumahnya hanya untuk melamarnya, namun Lala menolak dengan alasan belum siap meninggalkan ibunya, apalagi umurnya juga masih muda. Tapi Lala juga tidak ingin membohongi dirinya sendiri, terkadang ia sangat ingin pacaran seperti anak remaja lainnya.
Tidak butuh waktu lama untuknya agar menyelesaikan mandi, hanya dalam lima belas menit saja Lala sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya dibaluti oleh handuk. Lala masuk ke dalam kamarnya dan memakai pakaiannya. Setelah ini Lala ingin pergi ke suatu tempat, ia juga sudah meminta izin pada ibunya tadi.
Lala tidak seperti gadis lainnya, jika biasanya mereka suka pakai make up, Lala lebih suka memakai bedak yang sederhana, yang penting bisa mencerahkan kulitnya. Lagi pula meskipun ia tidak menggunakan skincare atau make up wajahnya tetap saja masih putih.
Setelah selesai bersiap siap, Lala mengambil parfum kesukaaannya yang beraroma strawberry. Lala menyemprotkannya pada seluruh tubuhnya.
.
.
.
Devan merebahkan dirinya di kasur, ia sudah cukup lelah karena lari larian di pagi hari. Keringatnya bahkan sudah membasahi kaos polonya. Devan melihat ke langit langit kamarnya, bayangan wajah Lala masih terekam jelas. Ia tidak bisa melupakannya sejenak, bahkan debaran di dadanya terus meningkat saat mengingat Lala. Hal ini sama seperti dulu pada saat ia mulai menyukai mantan istrinya. Devan tersenyum tipis sambil menyentuh dadanya.
“Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Sejak awal aku sudah mulai tertarik sama dia,” batin Devan.
Ia terus memikirkan hal itu sampai tidak mendengar suara bel rumahnya yang berbunyi. Devan terlalu larut dalam pikirannya. Bel rumahnya terus berbunyi hingga akhirnya Devan sadar juga.
“Siapa sih yang datang hari ini, gangguin orang ngelamun aja,” decaknya.
__ADS_1
Tapi Devan tetap keluar dari kamarnya dan membuka pintu. Saat ia membuka pintunya yang ia lihat pertama kali adalah seorang wanita yang bertubuh tinggi dengan pakaian yang begitu terbuka tersenyum ke arahnya. Devan langsung memutar kedua bola matanya dengan malas. Jika ia tau dia yang datang sudah pasti Devan tidak membukakan pintu.
“Mau ngapain lagi kamu kesini?!” ketus Devan dengan nada yang tidak bersahabat.
Wanita itu langsung masuk begitu saja tanpa harus izin pada pemilik rumahnya. “Galak banget sih kamu, apa salahnya jika aku kesini. Lagian ini juga pernah jadi rumahku, kan.” Jawab Clarisa.
Wanita itu bernama Clarisa, wanita yang pernah dicintainya dan pernah menjadi miliknya di masa lalu. Sekarang wanita itu hanya mantan istrinya yang sudah lama tidak ditemuinya. Sekarang malah kembali lagi ke kehidupannya dengan datang ke rumahnya.
Clarisa berkeliling sambil terus melihat isi dalam rumah Devan. “Tidak ada yang berubah, semuanya sama seperti dulu.”
Devan berdecak malas menanggapi, ia hanya duduk di sofa dan membiarkan Clarisa melakukan sesukanya. “Jika sudah puas melihat lihat, pintu keluar masih disana!”
Clarisa terkekeh mendapat pengusiran dari Devan. Bukannya pergi ia malah mendudukkan dirinya di samping Devan. Clarisa memandangi wajah Devan dari samping, wajah Devan juga tidak berubah, masih sama tampannya seperti dulu. Ia jadi menyesal karena menyianyiakan Devan.
“Kamu masih sendiri Dev?” tanya Clarisa basa basi.
“Hmm,”
“Aku serius, kamu beneran masih sendiri kan sekarang?”
Devan tidak menjawab lagi, daripada ia meladeni wanita di sampingnya itu lebih baik ia melihat foto Lala yang sudah disimpannya. Devan tersenyum saat melihat foto Lala. Foto itu diambilnya tadi pagi saat mengikuti Lala. Clarisa yang ada di sampingnya cemberut karena merasa dicuekin. Clarisa mendekat dan melirik sedikit pada ponsel Devan. Ia penasaran dengan apa yang dilihat Devan sampai mengabaikannya seperti itu.
“Ast*ga Dev, sejak kapan selera kamu jadi anak kecil seperti itu, padahal kalau kamu mau kamu bisa balikan lagi sama aku yang jelas jelas sudah dewasa dan berpengalaman”
Devan menoleh dan tersenyum sinis. “Pengalaman selingkuh aja bangga kamu, kalau mau banggain diri mending kamu ke club dan pasang harga yang sesuai,”
Clarisa merasa tersinggung pada perkataan Devan yah meskipun memang itu kenyataannya. Clarisa menyelingkuhi Devan dan bermain bersama laki laki lain di saat Devan sibuk mengurus kantor.
Devan berdiri dan memandang Clarisa sekilas. “Kamu tidak akan tersesat di rumah ini, jadi cepatlah pergi! Rumahku sudah tidak mau menampungmu lagi,” setelah mengatakan itu Devan melangkah pergi ke dalam kamarnya dan meninggalkan Clarisa yang sangat kesal padanya.
__ADS_1