
“Kamu sudah tau tempatnya?” tanya Devan sambil membuka berkas yang ia bawa.
“Sudah pak, jarak dari hotel kita menuju ke sana hanya butuh waktu 45 menit.” jawab Aris dengan pandangan lurus ke depan karena harus fokus menyetir.
Devan mengangguk, ia tidak bicara lagi. Devan hanya fokus pada berkas yang dipegangnya. Dia membacanya dengan teliti agar tidak ada kesalahan sedikit pun.
Saat Devan sibuk membaca berkas itu, tiba tiba saja ponselnya berdering. Devan terpaksa menutup berkasnya terlebih dahulu dan mengangkat telfon itu.
“Devan, kamu sudah sampai di mana? ini aku udah di tempat lho.”
Devan mengernyitkan keningnya mendengar suara itu, ia menurunkan ponselnya dari telinganya dan mengecek nomornya. Setelah melihatnya ternyata itu nomor baru. Tapi kenapa Devan merasa tidak asing dengan pemilik suara itu.
“Halo, Devan. Jawab dulu bisa gak sih! Ini aku Clarisa, mantan istri kamu. Sekaligus klien yang akan kamu temui hari ini,” lanjut suara di balik telfon itu.
Sekarang Devan mengerti, ternyata suara itu adalah milik Clarisa. Pantas saja jika dia merasa tidak asing. Devan mengembalikan ekspresi wajah datarnya lalu menjawab.
“Gak usah menghayal kamu! Klien ku itu pak Andi bukan kamu. Lagian kamu kan model bagaimana bisa kamu jadi klien perusahaanku,” jawab Devan pada akhirnya.
Clarisa terkekeh di balik telfon itu, ia duduk di Restoran dengan menyilangkan kakinya sehingga paha mulusnya terpampang dengan nyata dan menarik perhatian lelaki di dalam sana.
“Kamu tau Devan, Andi itu sepupuku. Dia hari ini sedang tidak bisa hadir jadi menyuruh aku untuk menggantikannya karena dia tau aku juga kenal sama kamu.” Jawab Clarisa.
“Dan satu lagi, aku memang model, tapi bukan berarti aku tidak memahami seluk beluk perusahaan. Sepertinya kamu lupa ya aku ini dari keluarga mana,” lanjut Clarisa lagi.
Devan tidak mempedulikannya lagi, ia langsung memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Clarisa adalah orang yang paling dihindarinya, tapi sekarang ia harus bertemu dengannya lagi. Moodnya semakin memburuk setelah mendengar berita itu.
Aris yang menyetir mobil hanya bisa meliriknya dari spion. Dia sangat tau apa yang dirasakan Devan.
Tak terasa waktu 45 menit sudah mereka lewati, Aris memarikirkan mobilnya di Restoran yang paling mewah di Korea. Restoran yang biasanya hanya dimasuki oleh kalangan atas sepertinya. Terbukti dengan pakaian mewah yang mereka kenakan. Tidak hanya penduduk Korea yang makan disana, akan tetapi banyak juga dari kalangan turis asing dan orang indonesia yang sedang berlibur.
Aris dan Devan turun dari mobil secara bersamaan. Dengan jas mewah yang mereka pakai dan wajah yang lumayan tampan membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian. Terutama bagi wanita Korea yang berkulit putih itu.
__ADS_1
Devan dan Aris mengabaikan tatapan memuja mereka, mereka langsung melangkah ke dalam Restoran dengan Aris yang berjalan di belakang Devan.
“Dia tampan sekali,”
“Aku pernah melihatnya di berita, itu putranya Direktur Xander dari indonesia,”
“Mereka berdua tampan sekali,”
“Oppa, aku ingin memilikimu,”
Kira kira begitulah apa yang dikatakan mereka jika diartikan pada bahasa indonesia.
Devan mengecek kembali ponselnya untuk memastikan meja nomor berapa yang harus ia datangi. Setelah melihatnya, ia berjalan menuju ke tempatnya dengan Aris yang terus mengekorinya.
Dari kejauhan Clarisa sudah melambaikan tangan pada Devan agar ia menoleh ke arahnya. Devan tidak memasang ekspresi apapun di wajahnya. Tanpa Clarisa melambaikan tangan dia juga sudah mengetahui tempatnya. Sebenarnya Devan malas untuk menemui Clarisa, akan tetapi Devan harus mengutamakan sikap profesionalnya dalam bekerja.
“Hai, Devan. Akhirnya kamu sampai juga,” sapa Clarisa dengan memberikan senyum terbaiknya.
Devan hanya mengangguk lalu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Clarisa. Sementara Aris, ia menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
Devan menoleh ke arah Aris yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Samakan saja denganmu,” jawab Devan dengan singkat.
Clarisa mengangguk, lalu ia mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Setelah pelayan itu menghampirinya Clarisa mengatakan semua pesanannya pada pelayan itu.Devan hanya memperhatikannya dalam diam, selera makan mantan istrinya ternyata masih belum berubah.
Clarisa masih menyukai semua makanan yang berbahan dasar udang.
“Baik, ada lagi yang mau ditambah?” tanya pelayan itu setelah menulis semua pesanannya.
“Itu saja dulu mbak,” jawab Clarisa.
__ADS_1
Pelayan itu mengangguk lalu pergi
Setelah itu Clarisa kembali memandang ke arah Devan.
“Baik mbak Clarisa, jadi untuk kontrak kerjanya lebih baik dibahas sekarang ya. Pak Devan tidak punya banyak waktu lagi. Jadi bisakah anda mengambil surat kontrak itu?” ucap Aris mewakili Devan yang sedari tadi diam.
“Bukankah lebih baik kita makan terlebih dahulu, bukankah begitu Devan?” Clarisa melontarkan pertanyaan itu lagi pada Devan.
“Apa yang dikatakan Aris benar, aku tidak bisa lama lama. Sebentar lagi aku juga harus menemui investor dari korea,” jawab Devan dengan ekspresi datarnya.
Clarisa mengangguk, padahal ia hanya ingin berlama lama dengan Devan. Tapi sepertinya rencananya gagal. Terpaksa ia mengambil kontrak kerja yang diberikan sepupunya pada Devan. Begitu pula dengan Devan, ia juga memberikan surat kontraknya pada Clarisa.
“Silakan dibaca terlebih dulu,” ujar Devan sambil menyodorkan surat kontraknya
.
.
Lala hari ini tidak berjualan ke pasar, di luar hujan sangat deras dan menghalanginya utnuk pergi ke pasar. Alhasil Lala hanya diam di rumah. Ia memilih untuk membereskan rumahnya. Mulai dari kamar miliknya sampai ke kamar ibunya. Lala masuk ke dalam kamar Siti dengan perlahan lahan, ia takut membangunkan ibunya yang sedang tidur nyenyak sehabis minum obat.
Lala mengambil kemoceng lalu membersihkan laci yang berada di samping tempat tidur ibunya. Saat Lala membersihkan laci laci itu Lala melihat sesuatu berwarna putih yang seperti surat di dalam laci itu. ia melihat ke arah ibunya, lalu kembali menurunkan pandangannya pada kertas itu.
Lala yang penasaran dengan kertas itu langsung membuka lacinya, ia juga melakukannya dnegan pelan pelan. Lala mengambilnya sehingga kertas yang ternyata dibungkus dengan amplos yang berlabel nama rumah sakit di kotanya itu.
“Rumah sakit? apa ini hasil pemeriksaan ibu waktu dibawa Kak Devan ke rumah sakit?” ucapnya dalam hati. Lala tidak langsung membukanya, ia tertarik pada nama rumah sakit itu. Lala merasa tidak asing dengan nama rumah sakit itu.
“Bukankah ini juga rumah sakit ayah dulu?”
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa like+komentar
Biar makin semangat nulis