
Di depan wajahnya. Sampai akhirnya Devan tersadar.
“Eh iya, ada apa La?” tanya Devan secara tiba tiba.
“Kak Devan ngelamunin apa sih!” kesal Lala pada Devan.
“Bukan apa apa kok. Oh iya tadi ibu sama Lala bicara apa?”
Lala dan Siti saling bertatapan selama beberapa detik sebelum akhirnya Lala mengulang pertanyaannya.
“Kak Devan mau pamit kemana?
Lala mengangguk setelah mendapat pertanyaan itu lagi dari bibir Lala. Tapi ia tidak langsung menjawabnya. Setelah beberaps detik baru lah Devan menjawab sambil melihat ke arah Lala dan Siti seca bergantian.
“Sebenarnya, dua hari lagi aku akan pergi korea untuk bertemu klien disana. Dan mungkin selama seminggu ke depan aku tidak menemui dulu. Itulah sebabnya hari ini aku datang.” Jawab Devan dengan disertai helaan nafas yang terlihat lega saat menceritakannya.
Sedangkan Lala yang mendengar itu mendadak terdiam. Matanya masih memandang memandang Devan tapi tidak dengan pikirannya. Entah kenapa Lala merasa keberatan dengan kepergian Devan untuk ke korea. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin menahan Devan untuk tidak pergi. Entahlah dia sendiri bahkan bingung kenapa berpikir seperti itu.
Siti yang melihat Lala melamun langsung menepuk bahu Lala dengan pelan sehingga sang empunya tersadar dan menoleh.
“Jangan melamun, Nak. Jawab saja perkataan Nak Devan. Kalau kamu mau membicarakan apapun bicarakan saja dengannya. Mumpung dia masih ada disini,” ujar Siti sambil tersenyum pada Lala.
Lala mengangguk dan kembali fokus lalu menjawab.
“Memangnya Kak Devan harus banget pergi kesana ya?” tanyanya.
Devan mengangkat tangannya dan mengelus rambut Lala dengan lembut. “Iya, aku sebenarnya juga tidak mau kesana. Tapi ini semua rencana papa sebelum aku menjadi direktur. Aku harus benar benar menurutinya.” jawab Devan pada Lala. Ia tau gadis di hadapannya ini sedang meragukannya. Seperti tidak mau ditinggal olehnya.
“Kalau kak Devan sudah yakin Lala juga tidak bisa melarang. Lagi pula ini memang pekerjaan kakak. Aku hanya mau berpesan sama kakak untuk hati-hati disana dan segera pulang,” lanjut Lala lagi.
Devan mengangguk lalu menurunan tangannya dari rambut Lala. Lalu tanpa sadar Devan malah mendekatkan wajahnya pada wajah Lala dan mencium kening Lala dengan begitu lembut. Seolah itu adalah ciuman pertama bagi Devan.
__ADS_1
Siti yang melihat itu langsung membulatkan matanya karena terkejut dengan perlakuan Devan pada putrinya. Ia juga melihat ke arah Lala yang memejamkan matanya karena ciuman itu. bibir Siti ingin berkata sesuatu tapi lidahnya terasa kelu karena masih syok dengan kejadian itu.
Selang beberapa menit Devan kembali memundurkan wajahnya. Lala juga ikut membuka matanya kembali. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
“Tunggu aku pulang ya, nanti aku bawain oleh oleh buat kamu,” ucap Devan.
“Boleh request oleh oleh enggak kak?!” tanya Lala dan tiba tiba menyengir. Padahal baru saja dia merasa galau karena akan ditinggal Devan.
“Ssstttt Lala, gak boleh gitu ah. Devan ke korea Cuma buat kerja,” tegur Siti pada Lala.
Devan menggelengkan kepalanya pada Siti.
“Gpp kok bu, lagian ini juga saya yang nawarin. Jadi kamu mau apa La?” tanya Devan sambil melihat ke arah Lala.
Lala tidak langsung menjawab, dalam hatinya dia merasa senang karena Devan mengiyakan permintaannya. Padahal ia hanya bercanda. Namun siapa sangka Devan malah mengiyakan. Lala berpikir sebentar karena bingung dengan apa yang diinginkannya. Lama ia berpikir, sampai akhirnya Lala tersenyum cerah. Ia kembali melihat wajah Devan dengan senyum yang terukir di wajahnya.
“Aku tidak mau nitip apa apa selain kakak pulang dengan selamat,” jawab Lala.
Devan benar benar tidak menduga jawaban dari Lala, ia pikir Lala akan meminta barang barang yang sangat diinginkannya dari korea. Namun Devan tidak heran lagi, Lala benar benar gadis sederhana. Jadi apapun yang ia katakan dan lakukan sangat sulit untuk ditebak.
Dua hari kemudian
Hari ini adalah hari keberangkatakan Devan ke Korea, pagi pagi sekali Devan sudha bersiap siap dan pergi menuju bandara bersama sekretarisnya dan Aris, orang kepercayaannya. Mereka berdua yang akan menemani Devan untuk ke korea.
Setibanya di bandara, Aris langsung turun dari mobil dengan kopernya yang dibawakan oleh bodyguard Xander yang sudah menunggunya disana. Dengan langkah tegapnya Devan melangkah masuk ke dalam bandara itu. Aris dan Fitri buru buru untuk mengikutinya. Langkah Devan yang membuat mereka kehilangan jejak Devan.
Devan berhenti melangkah saat merasa tidak ada yang mengikutinya. Ia menoleh ke belakang dan melihat hanya ada bodyguardnya saja yang berdiri di belakangnya. Devan membuka kaca mata hitamnya dan melihat ke arah mereka.
“Di mana mereka?” tanya Devan dengan nada dinginnya.
“Sepertinya mereka ketinggalan kita, Tuan.” Jawab salah satu bodyguard itu.
__ADS_1
Devan menghela nafasnya dengan berat. Ia memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Sebentar lagi pesawat akan segera lepas landas. Jika ia harus menunggu mereka Devan khawatir akan terlambat. Lalu matanya kembali tertuju pada bodyguardnya itu.
“Salah satu dari kalian susul dan suruh mereka untuk segera lebih cepat. Saya akan menunggunya di dalam pesawat nanti,” perintahnya pada Bodyguard itu.
Bodyguard itu mengangguk dan menunduk hormat pada Devan. Setelah itu Devan kembali melangkah bersama bodyguardnya yang lain.
Setelah melalui pemeriksaan dan pengecekan lainnya, Devan sudah siap masuk ke dalam pesawat. Ia kembali menoleh ke belakang untuk memeriksa keberadaan Aris dan Fitri yang masih belum muncul juga.
Namun pandangannya terfokus pada seorang laki laki yang menggandeng tangan wanita dan menuju ke arahnya. Devan bisa melihatnya dengan jelas bahwa itu adalah Aris dan Fitri. Ia mendengus ketika melihat keduanya yang seperti sepasang kekasih. Lalu Devan masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursinya.
Beberapa menit setelah Devan duduk, Aris dan Fitri datang bersamaan. Mereka celingak celinguk mencari keberadaan Devan. Setelah menemukannya mereka langsung bergegas untuk menghampiri Devan. Kebetulan kursi mereka dekat dengan Devan.
“Permisi pak,” sapa Aris pada Devan.
“Maaf pak, tadi kami kesulitan mengejar bapak,” lanjut Fitri sambil menunduk dan bersiap untuk dimarahi oleh Devan.
Devan hanya mengangguk tanpa melihat ke arah mereka. Ia sibuk mengotak atik ponselnya. Ia sebenarnya masih kesal pada Xander yang menyuruh Aris untuk ikut. Padahal Devan ingin menyuruh Aris untuk mengawasi Lala dan memastikan siapa orang yang memberikan Lala boneka itu.
“Langsung duduk saja!” titahnya.
Aris dan Fitri menunduk lalu duduk duduk kursinya masing masing.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa meninggalkan jejak
Terima kasih
__ADS_1