Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
28. Flasback


__ADS_3

“Cepat tangani dia,” ucap Devan akan tetapi menggunakan bahasa Korea yang fasih.


Suster itu mengangguk lalu mendorong kursi roda itu dan membawanya ke salah satu ruang di rumah sakit itu. Devan mengikutinya dan menunggunya di luar saja. Ia merasa khawatir karena tiba tiba saja Clarisa seperti itu.


“Sebenarnya apa yang terjadi padanya?”


.


.


Setelah menunggu beberapa lama, dokter yang menangani Clarisa keluar dengan memakai jas putih dan stetoskop di tangannya. Devan berdiri dan langsung menanyakan kondisi Clarisa pada dokter itu.


“Dokter? Bagaimana kondisi teman saya?” tanyanya.


Dokter yang mempunyai name tag kim jeon kook itu melepaskan maskernya seraya menoleh ke arah Devan.


“Anda suaminya?” tanya dokter itu.


Devan mengangguk dengan ragu, demi Clarisa dia harus terpaksa mengaku menjadi suaminya.


Dokter itu melihat ke arah Devan lalu memberitaukan hasil pemeriksaannya.


“Istri anda mengalami pendarahan dari pahanya karena dia hamil. Untuk lebih jelasnya, anda bisa membawanya pada Dokter spesialis kandungan yang ada di lantai 4. Pemeriksaan saya menyatakan bahwa kandungannya masih selamat.,” jawab Dokter itu.


Devan yang mendengar Clarisa hamil, ia kaget bak di sambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa Clarisa hamil dan bagaimana ia melakukannya. Kini semua pertanyaan itu ada di kepalanya.


“Silakan bawa istri anda ke lantai 4, untuk memastikan lebih jauh lagi. Kalau gitu saya permisi,” lanjut Dokter itu dan segera pergi dari sana.


Devan tidak menunggu lebih lama lagi, ia langsung masuk ke ruangan Clarisa dengan raut wajah yang berapi api. Ia terlihat marah setelah mendengar berita itu. Saat Devan masuk ke dalam, Clarisa yang menyadari keberadaannya langsung menolehkan kepala. Kondisinya masih lemas sama seperti tadi.


“Devan...aku...”


Belum sempat Clarisa menyelesaikan perkataannya, Devan sudah berdiri di samping brankar yang ditempati Clarisa. Devan menatap Clarisa dengan tajam. Tidak ada perkataan darinya akan tetapi Clarisa tau bahwa Devan sangat marah padanya. Ia juga tidak menyangka dengan semua kejadian hari ini.


“Siapa yang menghamili kamu?” tanya Devan pada akhirnya.


Clarisa menggigit bibirnya, pada akhirnya kenyataan itu haus diketahui olehnya. Harusnya ini tidak terjadi padanya. Tapi karena kekasihnya mengetahui bahwa dia hamil karena perbuatannya, Clarisa disuruh untuk menggugurkan kandungannya. Dan dia pendarahan itu juga karena ulah kekasihnya. Kekasihnya itu mendorongnya sampai akhirnya Clarisa terjatuh. Kebetulan saat itu ia bertemu Devan di tempat yang sama ia bertemu kekasihnya. Sehingga Clarisa bisa masuk ke dalam mobil Devan.


“A-aku dihamili Angga, pacarku,” jawab Clarisa sambil matanya menatap ke arah lain.

__ADS_1


Devan menggelengkan kepalanya, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal dengan kuat. Ia sangat mengenal Angga, pacar Clarisa itu. Dia orang yang sama yang menjadi selingkuhan Clarisa dua tahun lalu. Devan tidak mnyangka ternyata hubungan mereka sampai sejauh ini.


“Oke, aku tidak berbuat apa apa sama kamu. Kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi jadi aku tidak berhak marah sama kamu. Lebih baik sekarang kita ke lantai 4. Dokter menyarankanmu untuk periksa kandungan disana,” Devan terus menatap Clarisa tanpa ekspresi.


Clarisa hanya menganggukkan kepalanya, ia bangun dan menjuntaikan kakinya ke lantai. Baru saja Clarisa menginjak lantai dan berdiri tubuhnya sudah hampir limbung. Devan yang melihatnya memilih untuk membantunya. Dia merangkul pinggang Clarisa agar bisa berjalan bersamanya.


“Gak usah geer,” ujarnya dengan ketus saat Clarisa tersenyum.


“Iya, Devan.” Jawab Clarisa.


Devan mengangguk lalu mereka keluar dari ruangan itu dengan berangkulan. Saat Devan keluar, Devan tidak menyadari jika gerak geriknya di foto oleh seseorang. Devan hanya fokus pada Clarisa.


Sesampainya di lantai empat, Devan mencari ruangan dokter kandungan. Ia terus merangkul Clarisa dengan tangan kanannya.


“Kayaknya disana deh, Van.” Tunjuk Clarisa dimana banyak wanita hamil yang berkumpul di depan ruangan.


“Masih kuat jalan?” tanya Devan dan menoleh pada Clarisa.


Clarisa mengangguk kecil, lalu mereka berjalan semakin mendekat pada ruangan itu. Setelah tiba di depan ruangan itu, Devan menyuruh Clarisa untuk duduk terlebih dahulu. Ia harus endaftar untuk mendapatkan nomor antrian.


“Itu bukannya Devan dari indonesia ya?”


“Mungkin lagi bulan madu. Eh tapi itu kan mantan istrinya bukan? Kok mereka bisa bareng lagi?


“Cepat foto, ini akan jadi berita terhangat untuk kita,”


Clarisa mendengar bisikan itu akan tetapi dia tak menghiraukannya, justru ia tersenyum menyeringai. Jika mereka sampai menyebarkan fotonya dengan Devan, maka kemungkinan besar ia akan diberitakan kembali dengan Devan.


“Aku akan mengakui anak ini sebagai anak Devan saja,” batinnya dalam hati.


Beberapa menit kemudian, Devan kembali dengan membawa nomor antrian. Bisik bisik itu juga sudah tidak terdengar lagi. Clarisa sangat mensyukurinya, setidaknya Devan tidak tau hal ini.


“Kita antrian nomor lima,” ucap Devan dan duduk di samping Clarisa.


“Makasih ya, Dev. Kamu udah banyak bantuin aku dari tadi, harusnya kan kamu menolak.” ucap Clarisa dengan memasang wajah yang tampak menyesal.


Devan tidak menjawab, ia memilih membuka ponselnya untuk mengabari gadis kesayangannya di Indonesia. Baru saja ia akan mengabari Lala, ponselnya sudah lowbat.


“Sh*ttt, bod*h banget kamu Van,” umpatnya pada dirinya sendiri ketika ponselnya mati.

__ADS_1


“Kenapa Dev?” tanya Clarisa yang penasaran.


Devan tidak menjawab, ia memilih mengantongi ponselnya kembali sambil menunggu nama Clarisa dipanggil.


Lima belas menit kemudian


“Ibu Clarisa, silakan masuk ke ruangan ya,” ucap suara dari dalam ruangan itu.


Devan membantu Clarisa berdiri lagi dan mereka berdua pun masuk ke dalam.


Dokter yang menangani adalah seorang wanita juga, setelah mempersilakan Clarisa untuk berbaring. Dokter itu langsung mengecek perut Clarisa untuk memeriksa janinnya. Devan hanya memperhatikannya, ia tidak tau harus melakukan apa. karena disini Devan hanya menemani Clarisa saja.


“Ibu mengalami benturan ya?” tanya Dokter itu setelah memeriksa perut Clarisa.


“Iya Dok, saya tidak sengaja terpeleset di kamar mandi,” jawab Clarisa dengan berbohong. Tidak mungkin juga ia mengatakan kalau didorong kekasihnya.


Doter itu mengangguk, “Kehamilan ibu masih muda. Biasanya jika terjadi benturan pasti langsung kegugura*. Tapi untungnya janin yang ada di perut ibu kuat. Jadi mereka baik baik saja dan tidak ada masalah apapun.” Jawab Dokter itu lagi sambil tersenyum.


Devan yang mendengar kata mereka dari mulut dokter, ia langsungbertanya.


“Dokter, bukankah Clarisa hanya mengandung satu bayi. Kenapa dokter bilang mereka?” tanya Devan.


Dokter wanita itu menoleh pada Devan dan tersenyum.


“Mungkin pada waktu diperiksa salah satunya masih belum terlihat, pak. Tapi hasil pemeriksaan saya tidak salah. Ibu Clarisa memang hamil dua bayi dan mereka kembar. Kandungan ibu Clarisa masih berumur 8 minggu, jadi sudah memasuki bulan ke dua,”


Clarisa menerbitkan senyumnya, lalu tersenyum pada Devan.


“Maaf, Dev. Aku akan membuatmu menjadi ayah  anak ini nanti,”


Flasback OFF


 


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


__ADS_2