
Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya, itulah sebabnya Lala siang ini pergi ke luar dengan pakaian yang rapi. Lala ingin membelikan hadiah serta kue ulang tahun untuk ibunya. Meski begitu, Lala tidak menggunakan uang hasil penjualan cabainya. Justru ia menggunakan uang tabungannya yang ia simpan sejak dulu dan hampir tidak pernah ia gunakan.
Saat ini Lala sudah berada di depan toko kue. Dengan uang tiga ratus ribu di tangannya Lala berharap bisa membuat ibunya senang hari ini.
Lala pun masuk ke dalam toko kue itu, di dalam ia disambut dengan pemandangan berbagai macam jenis kue. Lala yang baru pertama kali datang ke toko kue itu hanya menatap dengan kebingungan.
“Halo kak, ada yang bisa saya bantu?” tiba tiba seorang wanita muda yang Lala pikir adalah pegawai sedang menyapanya. Pegawai itu menghampiri Lala karena ia tau Lala sedang kebingungan.
“Saya mau beli kue ulang tahun kak,” jawab Lala dengan kikuk.
Wanita itu langsung tersenyum kemudian mengajak Lala untuk melihat kue yang sengaja dipajang. “Mau kue yang seperti apa kak?! Disini ada banyak rasa dan jenis kue yang bisa kakak pilih,” lanjut pegawai toko tersebut.
Lala melihat lihat kuenya, semuanya tampak menarik di matanya. Hanya saja ia sadar itu semua pasti mahal. Lala yakin uangnya tidak akan cukup jika ia memilih salah satunya.
“Untuk yang harga dua ratus ribu ada gak kak? Ini untuk ulang tahun ibu saya. Saya khawatir uangnya tidak cukup,” jawab Lala sambil memandang pegawai itu.
“Tenang saja kak, kakak datang ke toko kami adalah keputusan yang paling tepat. Dengan uang dua ratus ribu kakak bisa dapat kue yang lumayan besar seperti ini.” tunjuk pegawai itu pada kue yang berukuran lumayan besar dengan bentuk love dan taburan cokelat dan permen di atasnya. Lala tersenyum cerah, kue itu sangat menarik baginya. Ia yakin ibunya pasti akan menyukainya.
“Saya mau kue itu kak,” putusnya pada akhirnya.
“Baik kak, untuk ucapannya ditulis dulu ya kak.”
Lala mengangguk, ia mengikuti apa yang dikatakan pegawai itu. Setelah menuliskannya, Lala kembali dan menyerahkannya. “Tunggu sebentar ya kak,” ujar pegawai tersebut.
Lala mengangguk sambil tersenyum, ia melihat uang yang dipegangnya. Ia bersyukur setidaknya masih ada sisa seratus ribu untuk membeli hadiah. Namun Lala masih bingung memikirkan hadiah apa yang akan diberikan ibunya.
Beberapa menit ia diam sambil memikirkan hal itu. Sampai pada akhirnya pegawai yang tadi melayaninya kembali dengan membawa kuenya yang sudah dibungkus dengan rapi.
“Kak, ini kuenya sudah siap,” ucap pegawai itu pada Lala.
Lala langsung berdiri dan mengambil kuenya baru setelah itu ia memberikan uangnya.
“Terima kasih ya kak.”
“Sama-sama kak.”
Setelah berhasil membeli kue, Lala kembali mengendarai motornya dan melanjutkan perjalanannya. Sebenarnya ia juga masih bingung untuk membeli apa, meskipun begitu Lala terus menyusuri jalanan sambil melihat lihat siapa tau ia menemukan sesuatu yang menarik.
Saat dalam perjalan Lala melewati sebuah pasar dimana dalam pasar tersebut banyak pedagang yang menjual sarung. Lala memelankan laju motornya, sepertinya ia tau harus membeli apa. Pada akhirnya ia berhenti di pasar itu juga. Lala berniat untuk membelikan sarung saja, ibunya sangat menyukai sarung.
.
__ADS_1
.
Satu jam kemudian, Lala sudah kembali ke rumah dengan membawa kue dan hadiah untuk ibunya nanti. Lala turun dari motornya dengan hati hati khawatir kuenya rusak. Setelah itu Lala membawa kuenya masuk ke dalam rumah. Lala berjalan pelan pelan agar kedatangannya tidak diketahui oleh ibunya.
“Semoga saja ibu suka dengan kue ini,” Lala meletakkan kuenya di atas meja. ia harus menyiapkan kuenya terlebih dahulu sebelum membawanya ke kamar ibunya. Lala memasang lilin kecil di atas kuenya kemudian menghidupkan korek api dan mengarahkan pada sumbu lilinnya.
“Akhirnya siap juga,” Lala sangat puas dengan hasilnya.
Sebelum ia mulai melakukan rencananya, Lala ingin mengecek ibunya dulu. Biasanya kalau siang siang seperti ini ibunya pasti tidur. Dengan perlahan lahan Lala melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar ibunya. Ia membuka pintunya sedikit dan mengintip apakah ibunya benar benar tidur.
Lala tersenyum saat apa yang dilihatnya sesuai dengan dugaannya. Ibunya benar benar tidur. Ini sudah saatnya ia masuk dan memberi kejutan untuk ibunya. Lala kembali ke dapur dan mengambil kue beserta hadiahnya yang sudah ia bungkus dengan rapi. Ia membawanya dengan hati hati ke kamar ibunya.
Saat tiba di depan pintu kamar ibunya, Lala mulai mendorong kecil pintunya hingga terbuka sedikit demi sedikit. Lala masuk sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
“Happy birthday to you...happy birthday to you....”
Siti membuka matanya secara perlahan, nyanyian Lala berhasil membuatnya terbangun. Siti langsung mengarahkan pandangannya pada Lala yang memegang kue sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Lala tersenyum saat melihat raut wajah kebingungan dari ibunya. Ia yakin saat ini ibunya lupa dengan tanggal hari ini.
“Selamat ulang tahun ibu,” ucapnya setelah selesai menyanyikan lagu ulang tahun.
Siti mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. “hari ini tanggal berapa La?” tanyanya.
“22 Juni bu, ini kan hari ulang tahun ibu,” jawab Lala sambil terkekeh.
Lala membantu ibunya untuk bangun dan bersandar dengan bantal di punggungnya. Kemudian ia mengangkat kuenya agar segera ditiup. “Sebelum ibu meniupnya, ibu harus memejamkan mata dulu dan berharap sesuatu,”
Siti mengangguk dan tersenyum, setelah itu memejamkan mata sesuai permintaan Lala. Setelah selesai ia kembali membuka mata. Matanya menatap Lala dengan lembut. Sampai akhirnya Siti dikejutkan dengan Lala yang tiba tiba mencium kakinya.
“Selamat ulang tahun ibu, Lala berharap ibu cepat sembuh dan panjang umur. Lala masih ingin merasakan mencium surga Lala yang tepat berada di kaki ibu.”
Siti sangat terharu dengan apa yang dilakukan Lala. Ia meneteskan air matanya tidak bisa menahan rasa haru, melihat Lala seperti ini ia sangat merasa bangga dengan putrinya itu.
“Bangun sayang,” ucapnya seraya menghapus air matanya.
Lala bangun dan kembali menatap wajah sang ibu yang telah melahirkannya.
“Lala juga punya hadiah untuk ibu,”
Lala memberikan bingkisan yang berisi sarung itu pada ibunya. Siti langsung menerimanya dan menarik Lala ke dalam pelukannya. Lala pun membalas pelukan dengan tak kalah eratnya.
“Lala, ibu tidak tau harus berkata apa hari ini. Ibu benar benar sangat bahagia nak. Kamu selalu membuat ibu terharu. Ibu tidak bisa memberikan apapun pada kamu. Tapi ibu punya ridho untukmu nak. Ibu akan selalu meridhoimu sepanjang masa. Doa ibu akan selalu bersamamu. Semoga Allah juga selalu meridhoi nak,” Siti mengucapkannya sambil mengecup puncak kepala Lala berkali kali.
__ADS_1
“Lala sayang ibu,”
.
.
.
Devan kembali ke kamarnya, ia sudah cukup kesal karena kedatangan Clarisa tadi. Namun kekesalannya tidak berlangsung lama karena tiba tiba sekali Devan teringat Lala. Ia penasaran setelah lari pagi tadi lala melakukan aktivitas apa di rumahnya. Sebenarnya sejak awal Devan ingin sekali datang ke rumah Lala dan bertemu dengan ibunya. Akan tetapi ia masih khawatir karena pertemuannya dengan Lala hanya satu kali.
“Lebih baik aku datang sekarang saja,”
Devan memutuskan untuk mandi dan berniat untuk pergi ke rumah Lala.
.
.
Mobil Devan sudah memasuki halaman rumah Lala yang tidak terlalu luas. Ia pun turun dari mobilnya. Dengan pakaian yang tidak seperti biasanya Devan nekat mendatangi rumah Lala. Ia tidak peduli jika nanti Lala akan mengusirnya. Setidaknya ia harus usaha dulu. Apalagi ini juga bersangkutan dengan perjanjian dengan ayahnya.
Dengan membawa buah buahan di tangannya Devan bersiap mengetuk pintu rumah Lala. Tiga kali ia mengetuk pintu dan menunggu pintu itu terbuka dengan membelakangi pintu, Devan melihat lihat halaman rumah Lala yang begitu bersih dan penuh dengan bunga bunga.
“Sepertinya dia sangat menyukai bunga,” gumam Devan.
Cklek
Tiba tiba saja pintunya terbuka, Lala membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Yang ia lihat adalah seorang laki laki yang lumayan tinggi dengan pakaian layaknya anak muda. Kemeja yang digulung lengan sampai dan celana jeans hitam.
“Mau cari siapa mas?” tanya Lala akhirnya.
Devan yang mendengar suara Lala langsung menoleh dan saat itu juga mereka saling berpandangan. Devan tersenyum menyeringai saat Lala melihatnya.
“Mau cari kamu,”
Lala membulatkan matanya melihat siapa yang datang.
“Om ngapain ada disini?”
Bersambung...
Ditunggu ya update selanjutnya
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Like kalian penyemangatku