Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
31. Kesedihan Lala


__ADS_3

Salah satu tetangga Lala duduk di kasur itu, diamelakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Lala tadi. Lalu pandangannya kembali pada tetangga lainnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat sedih.


“Kita sudah kehilangannya,” ucapnya pada yang lainnya.


“Kami turut berduka cita ya neng,” sahut yang lainnya.


Lala tidak menghiraukan mereka, pandangannya sudah kosong. Bahkan apa yang dibicarakan tetangganya pun tidak ia dengar.


“Ibu ibu, lebih baik salah satu dari kita pergi ke rumah pak Rt. Lalu nanti kita ke masjid untuk menyiarkan berita ini,” usul wanita yang menggendong bayi itu.


“Saya disini saja ya bu, kasian neng Lala.” jawab wanita yang berutubuh gemuk.


“Baiklah, kalau gitu saya juga akan memanggil warga yang lainnya,”


Setelah beberapa orang itu pergi, ibu ibu yang tadi ingin menemaninya lansung duduk di sampingnya. Ia mengelus bahu Lala dengan sabarnya.


“Neng Lala yang sabar yah,” ucapnya.


 


Dua jam kemudian


Proses pemakaman Siti sudah selesai dilakukan, semua orang memberi ucapan duka pada Lala yang sedari tadi terus berjongkok di nisan ibunya dengan wajah yang kosong. Setelah mendoakan Siti mereka semua langsung pulang dan hanya meninggalkan Lala sendirian disana. Sebenarnya mereka juga sudah membujuk Lala untuk pulang akan tetapi Lala menolak. Lala mengatakan bawa ia masih ingin menemani ibunya.


Setelah semuanya pulang, Lala kembali menangis sendirian sambil mengusap nisan milik ibunya yang masih baru.


“Ibu, kenapa ibu harus ninggalin Lala secepat ini. Lala masih butuh ibu, kenapa ibu tega ninggalin Lala sendirian. Sekarang Lala gak punya siapa siapa lagi.” Lala kembali terisak dan meneteskan air matanya. Rasa sakitnya terus bertambah setiap kali melihat nama ibunya di batu nisan itu.


“Ibu, kemarin ibu masih tertidur di kasur yang empuk, sekarang ibu hanya tidur di tanah. Kemarin Lala masih memeluk tubuh ibu yang hangat, sekarang Lala hanya memeluk batu nisan ini. Kemarin ibu masih meminum obat dari Lala sekarang Lala hanya menabur bunga di atas nisan ibu.  Lala tidak janji untuk tidak menangisi kepergian ibu, tapi Lala akan berusaha menerimanya dan mengikhlaskannya. Semoga ibu tenang disana,”


Lala mengecup batu nisan itu sambil memejamkan matanya. Angin tiba tiba berhembus di sekitar pemakaman itu, seolah olah ada sesuatu disana. Lala menarik kembali wajahnya lalu melihat angin yang semakin menyejukkan. Anehnya lagi angin itu hanya ada di sekitar pemakaman ibunya.


Lala menarik kembali wajahnya lalu menoleh ke belakang, ia melihat ke sekitarnya.


“Kalau ibu masih ada disini, Lala hanya ingin bilang Lala sayang ibu,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Bayangan putih yang ada di samping nisan Siti hanya bisa tersenyum sambil menangis saat melihat Lala.


“Maafin ibu, La. Ibu tau ibu sudah berdosa karena memilih jalan ini. Semoga hidup kamu akan terus baik baik saja tanpa ibu. Ibu akan selalu mendoakanmu dari sini. Seandainya ibu bisa mengatakan ini, Nak Devan tidak bersalah La. Tapi ibu tidak bisa, selamat tinggal sayang”


Saat bayangan putih itu ingin menyentuh rambut Lala, tubuhnya langsung menghilang begitu saja.


Setelah beberapa menit, Lala mulai berdiri dan bangun. Ia memandang nisan itu untuk terakhir kalinya sebelum pulang. Ia tersenyum tipis lalu mulai melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan pemakaman.


.


.


.


Keesokan harinya, Devan benar benar membawa Clarisa pulang ke indonesia. Saat ini pesawat mereka baru saja mendarat di bandara. Aris dan Fitri segera turun duluan sesuai dengan perintah Devan sendiri. Mereka diperintahkan untuk menyiapkan semuanya termasuk mobil yang akan membawa mereka ke kantornya langsung.


Devan menolehkan kepalanya pada Clarisa yang masih tidur dan menyandar di bahunya. Devan tersenyum sinis, tanpa rasa kasihan sama sekali Devan langsung berdiri tanpa memindahkan kepala Clarisa. Akibatnya kepala Clarisa pun harus terjatuh pada kursinya Devan sehingga membuatnya terbangun.


Devan menatapnya dengan datar, “Cepat bangun! Kita sudah sampai. Sekarang juga kamu harus ikut aku ke kantor,” ucap Devan pada Clarisa yang masih setengah sadar dari tidurnya.


“Boleh gak aku istirahat dulu?! Kita cari hotel dulu sebelum ke kantor kamu,” ucap Clarisa dengan ekspresi wajah yang memelas.


Clarisa berharap Devan masih memberinya keringanan untuk istirahat terlebih dahulu. Sebab saat perjalanan di pesawat Clarisa terus merasakan mual yang begitu hebat. Dan itulah sebabnya sekarang tubuhnya terlihat lemas.


“Kamu pikir aku akan berbaik hati kepada kamu setelah apa yang kau lakukan? Tidak lagi Clarisa?! Mau kamu lemas atau sakit aku tidak peduli. Cepat bangun dan turun sekarang juga. Mobil kita sudah menunggu di luar,” gertak Devan pada Clarisa.


Akhirnya mau tidak mau Clarisa bangun juga. Ia tidak mau membuat Devan semakin marah lagi padanya. Meski rasa pusing di kepalanya masih ada, Clarisa memaksakan dirinya untuk bangun dan berjalan bersama Devan untuk turun dari pesawat.


Mereka berdua pun turun dari pesawat.


.


.


.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, Aris dan Fitri sudah kembali dengan membawa koper milik Devan dan koper yang berisi oleh oleh milik Devan.


“Pak, mobil sudah menunggu di luar,” ucap Aris pada Devan.


Devan mengangguk lalu menolehkan kepalanya pada Clarisa yang terus diam sedari tadi.


“Cepat ikuti aku!” ketus Devan pada Clarisa. Lalu Devan mulai melangkah semakin menjauh dari mereka. Clarisa langsung mengikuti Devan dengan langkahnya yang pelan.


Fitri hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa prihatin pada Clarisa tapi dia juga mensyukurinya sekaligus.


“Itulah akibatnya bertindak tanpa berpikir,” gumam Fitri yang didengar oleh Aris yang masih berdiri di sebelahnya.


“Kamu jangan seperti itu ya sayang,” ucap Aris dengan tiba tiba.


Fitri menolehkan kepalanya pada Aris yang tersenyum manis padanya. Seketika pipinya memerah.


“Apa sih pak, jangan malu maluin, deh.” Sebal Fitri  dengan mengerucutkan bibirnya.


Aris terkekeh, sekarang ia suda lega setelah kejadian di pantai waktu itu. Aris mengungkapkan rasa pada Fitri, dan ia juga menceritakan tentang hubungan Devan dengan Lala padanya. Hal itulah yang membuat Fitri minder untuk menyukai Devan lagi. Hingga pada akhirnya Fitri memberinya kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta lagi kepadanya. Dan Aris tidak akan menyianyiakan kesempatan itu.


.


.


Saat mobil yang Devan tumpangi sudah sampai di kantor, para wartawan yang sudah menunggu di kantornya langsung mengerubungi mobilnya sehingga Clarisa dan Devan tidak turun untuk sementara.


“Lihatlah Cla, ini semua karena ulah kamu! Mereka semua membuat berita miring tentang aku gara gara mulut kamu juga!”


 


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


__ADS_2