
“Ibu pasti senang kalau hari ini rejeki cabainya makin banyak,” gumam Lala dan mengantongi uangnya kembali.
Setelah selesai semuanya, Lala mengambil kunci motornya dan keluar dari pasar. Kemudian pergi ke parkiran motornya. Saat tiba di parkiran motor, lagi lagi Lala melihat sesuatu yang aneh. Kali ini tidak di lapaknya melainkan di motornya. Lala mendekati motornya dan menemukan sebuah surat disertai boneka beruang berwarna cokelat dengan ukuran kecil.
Lagi lagi Lala mendapat sesuatu dari orang yang Lala tidak tau siapa dia. Bahkan si pemberi hadiah tidak meninggalkan jejak apapun. Lala menoleh ke kanan dan kirinya lalu membuka surat itu. Kali ini Lala tidak menemukan sebuah tulisan di kertas itu. Lala hanya menemukan sebuah foto dimana foto itu Lala masih menggunakan seragam sekolahnya.
Ia semakin bingung dengan semua itu, Lala merasa orang itu sudah mengetahui semua tentangnya. Sementara dia tidak tau apa apa tentangnya. Lala membalikkan foto tersebut sehingga tulisan di belakang foto itu menarik perhatiannya.
“Aku kangen sama kamu, La.”
Itulah isi tulisannya dengan meninggalkan sedikit tanda tangan di bagian bawahnya.
“Aku tidak tau siapa kamu, tapi makasih hadiahnya,” ucap Lala sambil melihat ke sekelilingnya.
Lala tersenyum tipis lalu menaruh boneka itu dengan baik di atas motornya. Ia akan membawa pulang boneka itu. sayang sekali jika boneka itu harus dibuang. Apalagi Lala juga sangat menyukainya.
Sedangkan dari kejauhan, seorang laki laki yang menggunakan tudung jaket dan masker hitam menatap ke arahnya. Laki laki itu tersenyum lega saat Lala menyukai hadiah pemberiannya. Dia terus mengawasi Lala dari kejauhan sampai gadis itu benar benar hilang dari pandangannya.
Setelah memastikan Lala sudah pulang, ia kembali menyelinap ke pasar dengan membawa sesuatu di tangannya. Kali ini dia membawa sebuah kotak yang paling spesial menurutnya. Ia sangat yakin Lala pasti akan menyukainya. Karena pasar sudah sangat sepi, Laki laki itu dengan mudahnya masuk ke dalam dan menyimpan kotak itu di lapak Lala.
Sebelum meninggalkan kotak itu, ia memastikan agar kotak itu tertutupi agar tidak ada yang mengambilnya selain Lala.
“Semoga kamu suka ya La,” ucap Laki laki itu sebelum pergi.
Setelah semuanya selesaikan dilakukan laki laki itu pergi meninggalkan pasar.
.
.
__ADS_1
.
Lala baru sampai di rumahnya, ia turun dari motornya kemudian membawa boneka itu bersamanya. Saat ia akan masuk, Lala baru menyadari jika di halaman rumahnya ada mobil Devan. Ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya.
Benar saja, di dalam sudah ada Devan yang sedang menunggunya. Yang lebih mengherankan lagi ibunya duduk di luar dengan kursi roda yang dipakainya.
“Lala, kamu sudah pulang nak?” sapa Siti saat melihat Lala.
Lala melirik pad Devan yang tersenyum padanya.
“Sebenarnya ini ada apa? Kenapa ibu tiba tiba pakai kursi roda. Kalian habis dari mana?!” selidik Lala dan mengambil tempat di samping Devan.
Devan tidak langsung menjawab, matanya hanya tertuju pada boneka yang dibawa Lala. Ia penasaran dari mana Lala mendapatkan boneka itu. Siti yang menyadari arah mata Devan langsung tersenyum tipis. Kemudian ia menjawab.
“Ibu hanya dibawa ke rumah sakit saja sana Nak, Devan,” jawab Siti.
“Ibu, Lala pernah mengajak ibu ke rumah sakit tapi ibu menolak. Kenapa sekarang ibu tiba tiba mau ke rumah sakit, apa ini karena kak Devan yang mengajak?” tanya Lala sambil melirik ke arah Devan.
Lala mendekat pada Siti dan berlutut di bawah kursi rodanya sambil menatap wajahnya. “Maafin Lala ya bu, harusnya Lala cepat cepat pulang dari pasar dan menemani ibu.” Ucapnya dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Siti mengangguk lalu menoleh pada Devan. “Berterima kasihlah sama Nak Devan yang sudah membawa ibu. Andai nak Devan tidak datang ibu juga tidak tau bagaimana nasib ibu,”
Devan tersenyum pada Siti. “Saya bersyukur datang di waktu yang tepat. Karena sebenarnya kedatangan saya kesini untuk berpamitan pada ibu dan Lala. Tapi saya malah menemukan ibu tak sadarkan diri,”
Lala yang mendengar kata pamit dari mulut Devan langsung terkejut. Batinnya terus bertanya tanya mengenai alasan Devan yang ingin pamit dengannya. Bahkan di depan ibunya saja Devan juga berpamitan. Lala dan Devan saling menatap satu sama lain sampai akhirnya Devan mengambil boneka beruang itu dari tangan Lala.
“Bonekanya bagus. Kamu dapat dari mana?” tanya Devan dengan menekankan setiap
pertanyaannya.
__ADS_1
Devan tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya dengan nada seperti itu. Ia yakin Lala tidak mungkin membeli boneka untuk dirinya sendiri. Satu satunya yang ia pikirkan adalah siapa yang memberikan boneka itu padanya.
Devan bukan tidak pernah muda karena tidak mengetahui semua itu. Justru karena ia pernah mengalami semua itu dia merasa curiga mengenai boneka yang dibawa Lala itu. Devan berpikir jika boneka itu merupakan pemberian seseorang. Jika benar begitu Devan akan sangat cemburu dan ragu untuk meninggalkan Lala selama beberapa hari ke depan.
“Oh itu boneka dari seseorang, tapi aku gak tau itu siapa yang ngasih. Tiba tiba aja ada di motorku,” jawab Lala sambil melihat bonekanya yang sudah ada di tangan Devan.
Devan mengangguk dengan wajah yang tanpa ekspresi. Lalu ia mengembalikan boneka itu pada Lala. Lala pun mengambilnya lalu kembali teringat dengan apa yang dipikirkannya tadi.
“Kalau gak salah dengar, tadi aku dengar kak Devan mau pamit. Emangnya kakak mau kemana?” tanya Lala.
“Iya Devan, sebenarnya kamu mau kemana. Baru aja kamu mengenal ibu kok sekarang malah pamit,” sahut Siti yang juga penasaran.
Devan tidak menjawab, pikirannya masih fokus pada boneka Lala. Ia perlu mencari tau semua tentangnya. Devan tidak mau kehilangan kesempatan sebelum berjuang. Apalagi sepertinya orang itu melakukan pergerakan dengan mendekati Lala secara diam diam. Devan tidak akan membiarkannya.
Lala yang melihat Devan melamun langsung melambaikan tangannya di depan wajahnya. Sampai akhirnya Devan tersadar.
“Eh iya, ada apa La?” tanya Devan secara tiba tiba.
“Kak Devan ngelamunin apa sih!” kesal Lala pada Devan.
“Bukan apa apa kok. Oh iya tadi ibu sama Lala bicara apa?”
Lala dan Siti saling bertatapan selama beberapa detik sebelum akhirnya Lala mengulang pertanyaannya.
“Kak Devan mau pamit kemana?
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak
Like kalian penyemangatku.