
“Permisi pak,” sapa Aris pada Devan.
“Maaf pak, tadi kami kesulitan mengejar bapak,” lanjut Fitri sambil menunduk dan bersiap untuk dimarahi oleh Devan..
Devan hanya mengangguk tanpa melihat ke arah mereka. Ia sibuk mengotak atik ponselnya. Ia sebenarnya masih kesal pada Xander yang menyuruh Aris untuk ikut. Padahal Devan ingin menyuruh Aris untuk mengawasi Lala dan memastikan siapa orang yang memberikan Lala boneka itu.
“Langsung duduk saja!” titahnya.
Aris dan Fitri menunduk lalu duduk duduk kursinya masing masing.
Selama perjalanan Devan hanya memejamkan matanya saja, dia tidak begitu menikmati perjalanan ini. Setiap ia harus ke luar negeri Devan selalu merasa tidak nyaman. Ia lebih merasa nyaman saat harus ke luar kota dari pada negeri. Itulah sebabnya begitu tiba di pesawat Devan terus memejamkan matanya.
Lain hal-nya dengan Aris dan Fitri, mereka berdua tidak hentinya mengobrol. mereka mengobrol banyak hal sampai kepala Devan pusing mendengarnya. Akan tetapi ia tidak menegurnya, kali ini Devan memilih diam saja.
Lama kelamaan Devan sudah tidak bisa menahan diri lagi, pada akhirnya Devan tertidur dengan nyenyak.
Setelah tujuh jam perjalanan akhirnya pesawat akan Landing, Devan menegakkan tubuhnya dan kembali memakai kacamata hitamnya. Saat pesawat sudah benar benar turun mereka langsung diberi intruksi untuk segera turun. Devan dan yang lainnya segera turun. Ketika turun. Dua orang bodyguard dari korea sudah datang menunggunya.
Mereka langsung menghampiri Devan kemudian menunduk dengan hormat.
“Selamat pagi, pak. Saya sudah diperintahkan Tuan Xander untuk menyiapkan mobil untuk bapak. Silakan bapak naik ke mobil warna merah itu. saya akan mengambilkan koper bapak terlebih dahulu,” sapa bodyguard itu pada Devan.
“Baiklah, kalau gitu saya tunggu di mobil. Jangan lupa siapkan mobil juga untuk mereka berdua,” jawab Devan sambil menunjuk ke arah Aris dan Fitri yang ada di belakangnya.
Bodyguard itu mengangguk, lalu keduanya berpencar untuk mengambil koper sementara yang satunya menyiapkan mobil untuk Aris dan Fitri.
“Kalian ikuti saja dia! Nanti kalian akan naik mobil yang sudah disiapkan juga!” perintah Devan pada keduanya..
“Baik pak,” jawab Aris dan Fitri secara bersamaan.
Setelah itu Devan berjalan duluan dan langsung menuju ke mobilnya. Devan tidak melihat lihat suasana sekitarnya. Ia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil pun ia hanya menyandarkan tubuhnya sambil menatap lurus ke depan. Lalu ia mengambil ponselnya yang sudah ia matikan selama di pesawat.
Devan menghidupkan ponselnya kembali setelah itu ia mengetik beberapa digit nomor lalu menghubunginya. Lama tak diangkat hingga akhirnya panggilannya tersambung.
__ADS_1
“Pa, aku udah sampai di Korea! Jadi jam berapa aku harus ketemu klien dan investor itu?” tanya Devan tanpa basa basi.
Xander yang berada di indonesia terkekeh pelan mendengar pertanyaan Devan.
“Sepertinya kamu semangat sekali ya, kamu gunakan hari ini sebagai waktu istirahat dulu. Pertemuannya besok bukan sekarang. Jadi kamu nikmati dulu suasana disana,” jawab Xander lagi.
Devan yang mendengar hal itu langsung berdecak kesal tapi ia tidak bicara apapun lagi.
“Ya sudah kalau gitu, aku mau langsung ke hotel,”
“Oke, goodluck boy,”
Setelah itu Devan kembali mematikan ponselnya. Ia menunggu supir yang diperintahkan untuk mengantarkannya ke hotel. Namun sebelum itu dia menoleh ke belakang untuk mencari bodyguard yang sedari tadi mengambil kopernya. Namun, ia tidak melihat tanda tanda kehadiran mereka. Akhirnya Devan hanya bisa pasrah di dalam mobil.
.
.
.
.
Mereka sudah tiba di hotel sejak tiga puluh menit yang lalu, sebelum pergi ke hotel mereka berhenti di sebuah Restoran korea yang terkenal. Devan membayarkan makanan untuk mereka sebagai rasa terima kasih karena mereka sudah mau dipaksa untuk ikut bersamanya.
Seharusnya Aris dan Fitri tidak perlu ikut dalam hal ini. Tapi karena itu Xander yang memerintah, maka Devan juga tidak bisa berbuat apa apa selain menerimanya.
Devan mengambil kunci kamar itu dari tangan Aris, lalu ia menatap ke arah Aris dan Fitri secara bergantian.
“Kalian sekamar?” tanya Devan dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Sontak Aris dan Fitri saling menatap satu sama lain lalu menggeleng dengan cepat.
“Enggak pak, kita kan beda pak. Masa harus sekamar. Nanti yang ada malah dikira bulan madu sama orang lain,” jawab Aris dan berhasil mendapat injakan di kakinya dari Fitri.
__ADS_1
“Memangnya pak Aris pikir saya mau sekamar gitu sama bapak?! Mending saya sama pak Devan kalau gitu,” ucap Fitri dengan blak blakan. Ia tidak tau saja, Devan langsung meneguk ludah karena perkataannya. Devan tiba tiba teringat dengan kejadian di kantor dimana Devan hampir mencium sekretarisnya itu.
Aris yang melihat wajah masam Devan langsung menyenggol lengan Fitri. Seketika Fitri pun tersadar dengan ucapannya.
“M-maksud saya mending saya di samping kamar pak Devan saja, gitu pak maksud saya.”
Aris berusaha menahan tawanya, ia merasa terhibur dengan kepolosan Fitri di depan atasannya itu. Jika saja yang ada di hadapannya ini bukan Devan mungkin Aris sudah meluncurkan tawanya.
Devan yang melihat interaksi antara Aris dengan Fitri merasa heran dengan mereka. Sejak kapan mereka dekat. Padahal selama ini Devan tidak pernah melihat kedekatan mereka. Devan pun mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula seandainya mereka dekat itu juga bukan urusannya.
“Kalau gitu saya duluan ke kamar! Kalian masuklah ke kamar kalian masing masing dan istirahat. Siang ini juga kalian masih tidak ada pekerjaan jadi gunakan waktu itu dengan baik. Bersenang senanglah!”
Setelah mengatakan hal itu Devan langsung meninggalkan mereka. Begitu pun dengan Fitri, ia menyeret kopernya dan melewati Aris begitu saja. Aris yang merasa dicuekin langsung menarik tangan Fitri,
“Mau kemana?” tanya Aris.
“Ke kamar,” jawab Fitri dengan cuek.
“Mau jalan jalan sama saya gak? Ini pak Devan memberi kita kebebasan.”
“Halah, pak Aris ini mau modus sama saya lagi,” balas Fitri.
Aris mendengus mendapat reaksi seperti itu dari Fitri.
“Ya sudah kalau tidak mau, selamat menikmati hari yang membosankan di hotel. Saya mau ke pantai mumpung ada disini. Saya juga mau nyobain kuliner yang ada di Korea. Karena kamu tidak mau yaudah saya sendirian aja,” Aris beranjak pergi dan meninggalkan Fitri sendirian.
Fitri menggigit bibirnya, ia mulai tergiur dengan ajakan Aris. Tanpa pikir panjang Fitri langsung mengejar dan menarik tangan Aris yang ,ulai menjauh.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa tinggalin jejak
__ADS_1
Selamat membaca